

Langit di atas Ibu Kota Kerajaan Astina berwarna jingga pekat, namun bukan karena keindahan senja yang puitis. Itu adalah pantulan dari ribuan lampion sutra yang digantung di sepanjang tembok istana kediaman Raden Wirya, sang Tumenggung Sangganingarta pemegang pundi-pundi kerajaan. Aroma daging rusa panggang yang dibumbui rempah mahal dari negeri seberang tercium hingga radius satu mil, menembus gang-gang sempit yang becek, berbau sampah busuk, dan dipenuhi lalat.
Di alun-alun kota, di balik barikade prajurit yang memegang tombak dengan angkuh dan baju zirah yang mengkilap, ribuan rakyat jelata berdesakan hingga nyaris tak bisa bernapas. Wajah-wajah mereka pucat pasi, kulit kering membungkus tulang pipi yang menonjol akibat pagebluk kelaparan yang telah berlangsung berbulan-bulan. Harapan adalah satu-satunya hal yang membuat mereka tetap berdiri, meski kaki mereka gemetar karena lemas.
"Mundur! Mundur kalian, tikus-tikus kotor! Jangan kotori jalanan ini dengan kaki kumal kalian!" teriak seorang Lurah Prajurit penjaga sambil menghentakkan gagang tombak kayunya ke tanah, debu beterbangan di antara kerumunan yang ketakutan.
Hari itu adalah pembagian jatah gandum "sedekah" sang Tumenggung dalam rangka perayaan hari kelahirannya yang ke-50. Namun, ketika karung-karung gandum kasar itu dibuka, harapan yang membubung seketika hancur berkeping-keping. Yang keluar bukanlah bulir emas yang bersih dan bergizi, melainkan gundukan gandum abu-abu yang sudah berjamur, berbau apek, dan dipenuhi kutu hitam yang merayap. Suara isak tangis seorang ibu pecah di tengah kerumunan saat melihat anak kecilnya yang kurus kering mulai batuk-batuk hebat setelah mencoba mengunyah butiran busuk itu karena tak kuasa menahan lapar.
"Ini sampah! Ini pakan ternak! Bagaimana kami bisa memberikan ini kepada keluarga kami?!" teriak seorang pemuda dengan sisa tenaga terakhirnya, namun suaranya segera dibungkam oleh cambukan pecut pengawal yang mendarat tepat di punggungnya, meninggalkan bekas merah yang berdarah.
Sementara itu, di balik tembok tinggi kediaman sang pejabat yang dilapisi cat emas, realitas yang sepenuhnya berbeda tercipta dengan begitu anggun sekaligus mengerikan. Lantai marmer putih yang didatangkan dari pegunungan jauh mengkilap sempurna, memantulkan cahaya lilin kristal yang tak terhitung jumlahnya. Musik kecapi dan seruling mengalun lembut, membuai telinga para bangsawan yang mengenakan jubah sutra halus dengan sulaman benang perak.
Raden Wirya, sang Tumenggung Sangganingarta—pria tambun dengan perut membuncit dan jemari yang penuh dengan cincin permata berbagai warna—berdiri di tengah aula dengan wajah kemerahan karena pengaruh alkohol. Ia memegang cawan emas bertahtakan rubi berisi anggur merah yang harganya setara dengan pajak satu desa selama satu tahun penuh.
"Mari bersulang, rekan-reanku!" seru Wirya, suaranya parau dan berat karena terlalu banyak tertawa. "Untuk Astina yang makmur bagi kita semua, dan untuk kesetiaan kalian yang tak tergoyahkan kepada pundi-pundi ini!"
Para tamu undangan, yang terdiri dari para Adipati culas, pejabat-pejabat penjilat, dan syahbandar-syahbandar monopoli, mengangkat cawan mereka tinggi-tinggi dengan gelak tawa yang membahana. Mereka tidak peduli bahwa di luar sana, hanya terpisah beberapa meter dari tembok istana, rakyat sedang meregang nyawa di atas tanah yang dingin. Bagi mereka, kemiskinan hanyalah angka-angka yang bisa dihapus dari prasasti, dan penderitaan rakyat adalah tumbal yang diperlukan agar mereka tetap bisa berdansa di atas kemewahan.
Di pojok aula, seorang dayang muda yang gemetar karena kelelahan tanpa sengaja menumpahkan setetes anggur ke selop kulit buaya milik Wirya. Seketika, musik seolah berhenti bagi gadis itu. Tanpa peringatan, sang Tumenggung memutar tubuhnya dan menendang perut dayang itu dengan keras hingga ia tersungkur dan mengerang kesakitan.
"Hama tetaplah hama. Berani sekali kau mengotori pemberian raja ini dengan kecerobohanmu," gumam Wirya sambil mengelap selopnya dengan kain sutra putih yang kemudian ia buang ke lantai seolah itu adalah sampah. Ia tidak menyadari, bahwa jauh di atas sana, di kegelapan dahan pohon beringin tua yang berbatasan dengan tembok belakang rumahnya, sepasang mata sedang mengamati. Mata yang tidak berkedip, tajam seperti mata elang, dingin, dan penuh dengan perhitungan maut yang presisi.
Kegelapan di balik tembok kediaman Raden Wirya adalah benteng yang dingin, hidup, dan berbahaya. Seseorang yang tubuhnya seolah ditenun dari serat malam menyatu sempurna dengan bayangan dan lumpur lembab. Namanya Bara Mahesa, namun dunia kriminal dan militer mengenalnya sebagai "Malaikat Maut Hutan Larangan"—mantan Jenderal yang kini menjadi hantu bagi para tiran.
Bara tidak bergerak sedikit pun, bahkan saat seekor serangga merayap di keningnya. Jantungnya berdetak lambat, frekuensinya diatur oleh teknik pernapasan kuno yang ia pelajari di pengasingan—sebuah irama yang membekukan emosi membara yang bergolak di dalam dadanya. Melalui celah sempit di antara dua bata granit yang sengaja ia longgarkan beberapa malam sebelumnya, ia menyaksikan setiap detik kekejaman Raden Wirya.
Gandum busuk untuk rakyat, anggur surga untuk penjahat.
Pikiran itu berkelebat di benak Bara sedingin kilat di malam badai. Setiap tendangan Wirya kepada dayang itu terasa seperti tendangan kepada harga diri kerajaan yang pernah ia bela dengan nyawanya. Di dalam istana ini, anggur merah mengalir ke selop kulit buaya, sementara di luar sana, seorang ibu menangisi anaknya yang memakan jamur gandum.
"Kau terlalu pongah dalam singgasana kertasmu, Wirya," bisik Bara, suaranya nyaris menyerupai desis angin yang lewat di sela-sela dedaunan. "Kematian cepat adalah sebuah kemewahan yang hanya diberikan kepada mereka yang terhormat. Dan kau... kau sudah lama menukar kehormatanmu dengan emas."
Bara mulai menggeser posisinya dengan kecepatan yang tidak wajar namun tanpa menimbulkan riak suara. Gerakannya selembut lumut yang tumbuh di batu kali. Ia menekan telapak tangan ke tanah yang lembab, merasakan getaran halus dari ribuan makhluk melata yang ia kendalikan melalui frekuensi batin. Di bawah kakinya, di dalam lubang-lubang tanah, ribuan ular berbisa sedang menggeliat, menunggu siulan maut dari sang majikan.
Ia menghitung irama patroli dengan ketelitian seorang arsitek. Langkah kaki prajurit di sisi barat yang memakai sepatu besi berdentum setiap dua detik, sementara penjaga di sisi timur memiliki langkah yang lebih ringan namun tidak teratur. Ada jendela waktu tepat 12 detik saat kedua patroli itu membelakangi satu sama lain di area tengah tembok.
Bara mulai bergerak tepat saat detik pertama dimulai. Ia meluncur rendah ke tanah, tubuhnya nyaris tak berjarak dengan bumi. Tangannya yang kuat meraih celah batu granit yang kasar, menarik tubuhnya ke atas dengan kekuatan otot yang explosif namun terkendali. Ia menempel di dinding seperti reptil, menyatu dengan tekstur batu yang berlumut.
Dalam hitungan detik kedelapan, ia sudah mencapai puncak tembok. Seorang penjaga melewati posisinya tepat di bawah, hanya berjarak lima langkah. Bara bisa mencium bau keringat dan sisa arak dari nafas penjaga itu. Pria itu terlalu bosan, terlalu lelah, dan terlalu meremehkan kegelapan untuk menyadari bahwa maut sedang berjongkok hanya beberapa meter darinya.
Bara tidak melompat masuk seperti pencuri amatir. Ia merayap di sepanjang tepian atap yang sempit, menuju bangunan belakang yang paling terisolasi: bangsal penyimpanan anggur dan dokumen pribadi sang Tumenggung. Tujuannya bukan emas atau permata yang menghiasi aula depan. Ia mencari bukti fisik yang lebih tajam dari pedang mana pun—sebuah gulungan rahasia berkode "Yasa Tirta".
Itu adalah muslihat licik pembangunan saluran air yang selama ini dipromisikan Wirya kepada Raja sebagai proyek kemakmuran, padahal sebenarnya itu adalah sarana untuk mengeringkan lahan pertanian ribuan rakyat jelata secara paksa. Tanah-tanah yang kering itu nantinya akan dibeli dengan harga murah oleh para Adipati untuk dijadikan perkebunan tebu dan tembakau pribadi.
Di dalam aula yang bising, Raden Wirya kini duduk di kursi jati berukir naga, mencondongkan tubuhnya ke arah Tuan Balaputra, seorang Patih rendahan yang memiliki reputasi sebagai lidah berbisa di pengadilan.
"Gandum itu, Raden Wirya... Jatah subsidi yang berjamur itu, sebagian besar sudah tersebar di pasar-pasar gelap sesuai rencana," bisik Balaputra dengan seringai licik.
Wirya tertawa kecil, suara seraknya terdengar seperti suara gesekan parutan besi. "Tentu saja berjamur, Balaputra! Itu gandum sisa lumbung darurat dari perang lima tahun lalu yang sudah hampir busuk. Apakah kau pikir aku akan membuang hasil panen terbaik tahun ini kepada tikus-tikus jalanan itu? Tidak. Kita simpan yang terbaik di gudang pribadi kita. Biarkan mereka makan sampah agar mereka hanya punya cukup energi untuk bernapas, tapi tidak cukup energi untuk memegang senjata dan memberontak. Saat mereka benar-benar sekarat, barulah kita jual gandum segar kita dengan harga dua puluh kali lipat. Mereka akan berlutut mencium kaki kita demi satu genggam bulir gandum."
Rencana itu sangat kejam, begitu sistematis hingga membuat Balaputra sendiri merasa ngeri, meski ia segera menutupinya dengan tawa penjilat. Wirya sangat percaya diri. Dengan tembok setinggi tiga meter, ratusan prajurit bersenjata, dan perlindungan dari para bangsawan, ia merasa dirinya adalah tuhan kecil di Astina. Ia tidak menyadari bahwa di ruang bawah tanahnya sendiri, bayangan sedang menari.
Bara telah berhasil menembus gudang bawah tanah yang pengap melalui saluran ventilasi yang sempit dan berkarat, sebuah jalur yang seharusnya mustahil dilewati oleh tubuh pria dewasa jika bukan karena teknik perenggangan tulang yang dikuasainya. Dengan bantuan penglihatan tajam yang ia dapatkan dari konsumsi rutin ramuan "Mata Elang"—sebuah eliksir terlarang dari pegunungan utara yang membuat pupil matanya melebar dan bersinar kehijauan dalam gelap—setiap detail di gudang itu kini terpampang nyata. Kegelapan pekat gudang itu baginya tampak seterang senja, memperlihatkan debu-debu yang menari di udara dan jejak-jejak tikus di lantai batu.
Di sudut ruangan yang paling gelap, tersembunyi di balik tumpukan karung gandum sisa yang berjamur, ia menemukan sasarannya: sebuah kotak kayu jati berukir naga yang tampak sangat kontras dengan sekelilingnya yang kumuh. Naga yang terukir di permukaannya seolah sedang melilit rahasia-rahasia busuk sang pejabat, dengan sisik-sisik kayu yang dihaluskan sedemikian rupa hingga mengkilap meski tanpa cahaya. Kotak itu dikunci oleh sebuah gembok besi hitam yang berat dan kokoh, hasil tempaan pandai besi terbaik istana yang dirancang untuk menahan kapak sekalipun.
Bara tidak menggunakan kekerasan yang akan menimbulkan suara gaduh. Dengan jari-jari yang stabil meski detak jantungnya terpacu, ia mengeluarkan sebilah kawat baja tipis yang ujungnya telah dimodifikasi. Dengan satu gerakan terampil dan penuh kesabaran, ia memanipulasi mekanisme internal gembok tersebut. Klik. Suara kecil itu terasa sangat nyaring di telinga Bara yang sensitif. Gembok besi itu terbuka tanpa suara, seolah-olah menyerah pada keahlian sang penyusup.
Di dalamnya, tidak ada perhiasan berkilauan, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi rencana Bara: beberapa gulungan perkamen tua yang diikat dengan tali sutra hitam. Di bagian tengah gulungan utama, terdapat stempel lilin merah tebal bergambar kepala singa yang sedang mengaum—lambang resmi kekuasaan Tumenggung Sangganingarta. Aroma wangi dupa mahal yang menempel pada perkamen itu tercium sekilas, sebuah pengingat bahwa dokumen ini baru saja berpindah tangan dari meja mewah Wirya ke tangan dingin seorang pemberontak.
Bara membuka gulungan itu perlahan, membiarkan matanya yang bersinar hijau memindai baris demi baris tulisan tangan yang rapi namun mematikan. Isinya bukan hanya sekadar deretan angka anggaran atau pembukuan pajak yang dimanipulasi; perkamen ini adalah sebuah peta kematian. Di sana tertera daftar panjang nama yang dikelompokkan berdasarkan wilayah pengaruh. Ada nama para pemimpin desa yang menolak menyerahkan lahan ulayat mereka, cendekiawan muda yang tulisan-tulisannya mulai membakar semangat perlawanan di pasar-pasar, hingga para mantan perwira militer yang masih memiliki integritas dan vokal menentang ketidakadilan proyek Yasa Tirta.
Setiap nama diikuti dengan catatan detail mengenai kebiasaan mereka, siapa anggota keluarga yang bisa dijadikan sandera, dan lokasi persembunyian yang dianggap aman. Di samping setiap nama tersebut, terdapat sebuah tanda silang merah yang digambar dengan kasar, disertai dengan tanggal kematian yang telah direncanakan secara rahasia—beberapa di antaranya terjadwal dalam hitungan hari ke depan. Ini adalah bukti bahwa Raden Wirya tidak hanya ingin mencuri tanah rakyat, tetapi juga ingin menghapus siapa pun yang berpotensi menjadi kerikil dalam sepatunya.
"Ekstirpasi," gumam Bara dingin, suaranya nyaris menyerupai gesekan logam di tengah kesunyian gudang yang mencekam. Matanya berkilat dengan kemarahan yang membeku di tengah kegelapan. Istilah itu biasanya digunakan dalam pertanian untuk mencabut gulma hingga ke akar-akarnya agar tidak tumbuh kembali, namun di tangan seorang tiran seperti Wirya, istilah itu bermakna pembersihan etis dan politik yang berdarah. Ini bukan sekadar tindakan korupsi biasa atau keserakahan yang bisa dimaafkan dengan denda; ini adalah sebuah skema pembunuhan massal yang terorganisir dengan sangat sistematis untuk membungkam kebenaran selamanya.
Implikasinya jelas: Wirya sedang mempersiapkan sebuah kediktatoran yang absolut, di mana tidak ada lagi suara sumbang yang diizinkan untuk bergema di Kerajaan Astina. Setiap tanda silang merah di perkamen itu adalah nyawa manusia yang telah dianggap sebagai gulma oleh sang Tumenggung, sebuah realitas yang membuat darah Bara mendidih meski wajahnya tetap setenang permukaan telaga di tengah malam.
Secara mengejutkan, kesunyian itu pecah oleh gema yang tidak diinginkan. Suara langkah kaki yang berat, hasil dari hentakan sepatu bot militer di atas lantai batu, terdengar mendekat. Bunyi itu disertai dengan denting logam yang ritmis—suara pedang panjang yang beradu dengan zirah pelat dada saat penggunanya berjalan dengan tergesa. Seorang Lurah Prajurit, dengan wajah yang tegang dan keringat bercucuran, membuka pintu kayu jati gudang itu dengan hentakan kasar yang membuat engselnya menjerit. Ia memegang sebuah obor kayu yang apinya menari-nari liar, ditiup angin malam yang masuk melalui pintu yang terbuka lebar, menciptakan siluet yang bergetar di dinding batu yang lembab.
Prajurit itu berhenti sejenak, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Kegelapan di depannya seolah-olah menjadi dinding padat yang menolak ditembus oleh cahaya kuning obornya. "Siapa di sana?! Aku mendengar suara besi beradu!" teriak prajurit itu dengan nada yang dipaksakan untuk terdengar berani, meski matanya terus bergerak gelisah, mencoba menembus kabut kegelapan di balik tumpukan tong anggur. Ia mengarahkan obornya ke sudut-sudut ruangan, membuat bayangan dari pilar-pilar batu tampak seperti raksasa yang sedang mengintai, sementara hawa dingin dari dalam gudang seolah menusuk tulang rusuknya, mengingatkannya bahwa ada sesuatu yang tidak beres di tempat penyimpanan pribadi sang Tumenggung ini.
Bara tidak melarikan diri. Ia justru menyelinap lebih dalam ke balik tong-tong kayu besar yang berisi anggur berusia puluhan tahun, membiarkan kegelapan yang pekat menelan sosoknya sepenuhnya. Saat prajurit itu melangkah maju dengan penuh curiga, Bara menarik napas dalam-dalam dan melepaskan satu siulan frekuensi rendah yang nyaris tak terdengar oleh telinga manusia, namun menggetarkan naluri murni binatang.
Seketika, dari celah-celah ubin lantai yang lembab dan sela-sela kayu yang lapuk, suara desisan halus mulai memenuhi ruangan. Ratusan ular sanca hijau kecil dan kobra tanah mulai keluar merayap, menutupi lantai gudang seperti permadani hidup yang mematikan. Prajurit itu mematung, obor di tangannya gemetar hebat saat melihat ribuan sisik ular mengkilap di bawah cahaya api, melingkari kaki zirah besinya.
Bara Mahesa kemudian muncul dari balik bayangan tong besar. Ia berdiri tegak, jubah hitamnya yang terbuat dari kulit binatang buas berkibar perlahan meski tak ada angin. Wajahnya yang tegas, dengan bekas luka melintang di pipi, tampak sangat mengerikan di bawah cahaya obor yang bergoyang.
"Beritahu tuanmu yang rakus itu," suara Bara terdengar sangat rendah namun memiliki resonansi yang seolah menggetarkan dinding batu gudang tersebut. "Malam ini, neraca keadilan mulai bergerak. Dan hutang darah yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun... kini saatnya ditagih dengan bunga yang mematikan."
Sebelum prajurit yang ketakutan itu sempat membuka mulut untuk berteriak minta tolong, Bara sudah melesat dengan kecepatan kilat, menghilang kembali ke dalam gelapnya saluran air bawah tanah yang labirin. Ia meninggalkan sebuah jejak permanen di dinding gudang: sebuah simbol burung hantu dengan satu mata tertutup yang digambar menggunakan getah pohon hitam yang tak bisa dihapus—lambang resmi "Sanca Hitam", perlawanan yang akan segera membakar tatanan busuk Kerajaan Astina hingga menjadi abu.