Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lelaki Yang Ditolak Bumi

Lelaki Yang Ditolak Bumi

Best Siallagan | Tamat
Jumlah kata
36.0K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Lelaki Yang Ditolak Bumi
Lelaki Yang Ditolak Bumi

Lelaki Yang Ditolak Bumi

Best Siallagan| Tamat
Jumlah Kata
36.0K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
HorrorHorrorDunia GaibMayatPertualangan
"Bagi Ararya, hidup adalah sebuah permainan yang ia tulis sendiri aturannya. Ia merasa berkuasa, hingga sebuah Sabtu sore membawanya pada sesosok wanita misterius dan seteguk sirup yang mengubah garis takdirnya. Ia terbangun di tepi sungai, mencium bau anyir yang akrab, dan menemukan hal paling mengerikan yang pernah dilihat mata manusia: jasadnya sendiri yang membusuk di antara akar pohon. Kini, Arya terjebak dalam kutukan yang paling pedih-ia tidak bisa mati, namun ia tak lagi punya tempat di dunia. Di bawah pengawasan seorang gadis kecil yang mengenal setiap dosanya sepuluh tahun lalu, Arya harus menyusuri arus penyesalan yang lebih dalam dari sungai mana pun. Karena di hadapan langit dan bumi, ada dosa yang terlalu berat untuk sekadar dimaafkan dengan air mata."
Sabtu Sore

Barangkali Tuhan memang sedang bosan, atau mungkin Iblis sedang punya selera humor yang buruk, maka dipilihlah Sabtu sore ini untuk memulai segalanya.

Di rumah, Sekar adalah sejenis patung yang rajin berdoa. Ia perempuan baik-baik, tipe perempuan yang membuat laki-laki merasa berdosa hanya dengan cara bernapas di dekatnya. Ia duduk di hadapanku, mengiris apel dengan presisi seorang algojo. Setiap bunyi krak dari apel yang terbelah terasa seperti sindiran langsung ke tulang rusukku.

“Kau mau ke mana lagi, Arya?” tanyanya. Ia tidak menatapku. Matanya tertuju pada pisau.

“Keluar. Mencari udara,” jawabku. Kalimat standar bagi suami yang sedang mencari alasan untuk berkhianat.

“Udara di luar itu beracun. Kau sudah punya banyak oksigen di rumah ini, tapi kau selalu merasa sesak, bukan?”

Aku tidak menjawab. Memang benar, rumah ini penuh dengan oksigen, tapi juga penuh dengan bau dupa dan gumam doa yang membuatku merasa seperti jenazah yang sedang dipersiapkan untuk liang lahat. Aku adalah lelaki yang lebih suka bau bensin, bau parfum murah di leher wanita asing, dan bau keringat dari ambisi-ambisi yang tak kesampaian.

Aku berdiri. Kursi itu berderit, memprotes berat badanku yang penuh dengan kebohongan. “Kau urus saja jalanmu ke surga, Sekar. Biarkan aku mencari jalanku sendiri, sekalipun itu menuju lubang selokan.”

Sekar hanya mengangguk pelan. Ia tidak marah. Ia adalah perempuan yang sudah menyerahkan suaminya kepada nasib, dan itu adalah jenis penghinaan yang paling tinggi.

Aku pergi.

Kota di hari Sabtu sore adalah sebuah kepanikan yang terorganisir. Semua orang merasa harus pergi ke suatu tempat agar tidak terlihat kesepian. Aku mengemudi tanpa arah, hanya ingin menjauh dari aroma kesalehan Sekar.

Lalu aku melihatnya.

Di trotoar, di antara kerumunan orang-orang yang wajahnya terlihat seperti fotokopi rusak, ada seorang wanita. Ia mengenakan terusan hitam. Ia berjalan seolah kakinya tidak menyentuh aspal. Tapi bukan cara berjalannya yang membuatku mengerem mendadak hingga mobil di belakangku memaki lewat klakson.

Ada tahi lalat di bawah matanya. Persis di tempat yang sama dengan milik seorang gadis yang sepuluh tahun lalu kutitipkan di dasar sungai.

Gadis itu seharusnya sudah jadi lumpur atau sekadar kenangan buruk yang berhasil kupadamkan dengan beberapa botol bir.

Namun, wanita di trotoar itu adalah replika yang terlalu sempurna.

Ia menoleh ke arahku. Tidak ada benci di matanya. Hanya sebuah undangan. Sebuah tarikan magnetis yang membuatku memutar kemudi seolah-olah tanganku bukan lagi milikku sendiri.

Aku mengikutinya. Ia membawaku melewati pasar yang pengap, lalu ke sebuah gang yang sepertinya baru saja tercipta dari retakan dinding kota. Di ujung gang itu berdiri sebuah rumah tua. Bukan rumah, lebih seperti sebuah ingatan yang tertinggal.

Ia masuk ke sana. Aku, dengan segala kebodohan laki-laki yang didorong oleh rasa penasaran dan rasa bersalah, melangkah masuk ke dalam jebakan itu.

Di dalam, suasananya redup. Bau sirup frambos yang terlalu manis menusuk hidungku. Di ruang tengah, tidak ada wanita itu. Hanya ada seorang anak perempuan kecil yang duduk di atas kursi kayu tinggi. Kakinya yang mungil berayun-ayun, memukul-mukul kaki kursi.

“Ayah belum pulang,” katanya tiba-tiba. Ia tidak menatapku. Ia sedang sibuk mengaduk cairan merah di dalam gelas besar.

“Aku tidak mencari ayahmu,” kataku, mencoba terdengar berwibawa meski lututku sedikit bergetar. “Aku mencari wanita yang baru saja masuk ke sini.”

Anak itu berhenti mengaduk. Ia menatapku. Matanya terlalu tua untuk wajah sekecil itu. “Wanita bertahi lalat itu? Oh, ia sedang di belakang. Menyiapkan tempat tidur untukmu.”

Aku mengernyit. “Tempat tidur?”

“Iya. Katanya, kau sudah terlalu lama tidak tidur nyenyak. Sejak kejadian di sungai itu, bukan? Kau selalu terjaga, Ararya. Menunggu air sungai berhenti mengalir di telingamu.”

Aku terpaku. Anak ini tahu namaku. Ia tahu tentang sungai itu. “Siapa kau?”

“Aku? Aku adalah apa yang kau tinggalkan. Aku adalah hutang yang tidak pernah kau bayar bunga-bunganya,” ia turun dari kursi, membawa gelas berisi cairan merah itu ke arahku.

“Minumlah. Ayahku selalu bilang, seorang bajingan harus punya keberanian untuk meminum dosanya sendiri.”

Ia menyodorkan gelas itu. Cairannya terlihat kental, merahnya terlalu pekat, seperti darah yang dicampur gula.

“Minum, Arya. Wanita itu sudah menunggumu di balik pintu sana. Ia ingin menunjukkan padamu, bahwa kematian itu sebenarnya hanya sebuah perpindahan dari satu kamar yang membosankan ke kamar lain yang lebih pengap.”

Aku meraih gelas itu. Ada dorongan aneh yang tak bisa kulawan. Seperti sebuah naskah yang sudah ditulis oleh pengarang lain, dan aku hanyalah aktor bayaran yang terpaksa mematuhinya. Aku meminumnya.

Rasanya manis. Sangat manis. Namun setelah manis itu lewat di tenggorokanku, yang tertinggal adalah rasa amis. Amis yang sangat tajam. Amis air sungai yang tersumbat jasad manusia.

Lalu, kepalaku terasa ringan. Dunia di sekitarku mulai melengkung. Dinding-dinding rumah itu mencair, berubah menjadi lumpur hitam. Anak perempuan itu tersenyum, dan di bawah matanya, tiba-tiba muncul sebuah tahi lalat yang sama.

“Selamat tidur, Arya,” bisiknya. “Jangan khawatir, kau tidak akan mati dua kali. Karena kematian yang pertama ini saja, akan berlangsung selamanya.”

Pandanganku gelap. Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, aku mendengar suara air sungai itu mengalir dengan sangat kencang, tepat di dalam kepalaku.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca