

Dunia ini tidak pernah lahir dengan kehendak.
Ia tidak menginginkan apa pun. Tidak mencipta dengan tujuan. Tidak menghukum dengan niat.
Dunia hanya ada, terus mengalir, bertumbuh, runtuh, lalu membentuk dirinya kembali dalam keseimbangan yang tidak pernah benar-benar diam. Gunung muncul dan hilang, hutan tumbuh dan lapuk, air mengalir lalu mengering.
Semua terjadi bukan karena keputusan, melainkan karena hukum.Namun hukum membutuhkan sosok, seorang atau sesuatu, untuk menjadi penjaga.Pada masa ketika manusia belum mengenal api sebagai milik mereka, ketika para roh masih melintasi ruang tanpa nama, dunia membentuk sebuah fungsi. Bukan makhluk, bukan dewa, bukan pula roh seperti yang kelak dikenal manusia. Ia adalah simpul. Titik temu antara yang tampak dan yang tak terlihat.
Sebuah kesadaran yang lahir bukan dari keinginan, melainkan dari kebutuhan.Namanya kelak disebut oleh manusia sebagai Puyang Balau.Ia berjalan di antara dunia roh dan dunia manusia, bahkan sebelum kedua dunia itu benar-benar terpisah. Ia bukan penguasa, melainkan pengamat. Bukan seorang hakim, melainkan seorang penyeimbang. Setiap roh yang tersesat, setiap arus energi yang menyimpang, setiap celah yang berpotensi merusak batas, ia tutup tanpa emosi. Tanpa penilaian. Tanpa pertanyaan.
Selama ribuan tahun, atau mungkin lebih lama dari ukuran waktu manusia, semuanya berjalan sebagaimana mestinya.Hingga dunia melakukan sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam keseimbangannya sendiri.
Seorang anak manusia menembus batas.Ia tidak dipanggil. Tidak dipilih. Tidak dikorbankan. Ia hanya tersesat, atau mungkin bagi dunia, ia adalah kesalahan yang terlalu kecil untuk dihitung.
Anak itu melangkah ke wilayah roh tanpa mantra, tanpa perlindungan, tanpa kesadaran bahwa tempat itu seharusnya mustahil baginya. Namun ia tidak hancur; dunia roh tidak menolaknya.
Puyang Balau mengamatinya. Anak itu berjalan di antara roh-roh kecil yang melayang seperti embun cahaya. Ia melihat mereka bukan dengan mata yang mengerti, tetapi dengan rasa ingin tahu yang murni. Tidak ada ketakutan. Tidak ada hasrat menguasai. Hanya keheranan yang jujur.Bagi sistem dunia, ini adalah kecacatan.
Bagi Puyang Balau, ini adalah pertanyaan pertama yang tidak bisa ia jawab dengan menutup celah.Ia bisa menghapus anak itu. Mengembalikannya ke tempat asalnya, atau memadamkan eksistensinya seperti riak kecil di air tenang. Dunia tidak akan terganggu. Keseimbangan akan pulih.Namun untuk pertama kalinya, ia tidak bertindak. Ia menunggu. Anak itu kembali lagi dan lagi.
Dunia roh dan dunia manusia tidak lagi benar-benar tertutup baginya. Seolah hukum dunia lupa menuliskan namanya. Ia tumbuh di antara dua ruang, mempelajari bahasa roh tanpa diajari, memahami keheningan tanpa diminta. Dan di dunia roh, ia menemukan sesuatu yang bahkan Puyang Balau tidak perhitungkan.Ia menemukan cinta.Roh itu bukan roh besar. Bukan penjaga. Bukan pula entitas agung. Ia murni lahir dari unsur alam yang belum ternoda oleh kehendak. Hubungan mereka tidak menuntut dunia untuk berubah. Mereka hanya ada, saling memilih tanpa menantang hukum.
Namun dunia tidak dibangun untuk kompromi semacam itu.Dari hubungan yang tidak seharusnya terjadi, lahirlah keturunan. Keturunan pertama manusia yang membawa darah roh, dan awal dari sebuah cerita baru.Mereka bukan jembatan yang sempurna. Mereka adalah retakan yang hidup. Manusia setengah roh ini adalah kesalahan dalam hukum dunia. Tubuh mereka mampu menampung energi yang seharusnya merobek manusia biasa. Jiwa mereka mendengar bisikan yang tidak seharusnya dipahami. Dengan keberadaan mereka, batas antara dua dunia tidak runtuh, namun mulai menipis.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia diciptakan, Puyang Balau merasakan sesuatu yang bukan bagian dari fungsinya.Rasa bersalah, rasa marah, keputusasaan.Ia menyadari bahwa apa yang terjadi adalah karena pilihan yang ia buat. Ia tidak lagi sekadar menjalankan hukum. Ia telah memberi kesempatan pada retaknya hukum dunia.
Dunia merespons.
Gerbang yang sebelumnya stabil mulai bergetar. Roh-roh kecil menjadi gelisah. Energi yang selama ini mengalir tenang mulai beriak. Dan di dalam diri sang penjaga, sesuatu yang lama tak bernama mulai tumbuh.Emosi dan amarah.Ia mempertanyakan keputusannya. Ia mempertanyakan manusia. Ia mempertanyakan dirinya sendiri. Setiap pertanyaan yang tidak seharusnya ada itu menambah beban pada kesadarannya. Dunia tidak menghukumnya, namun keseimbangan menuntut harga.
Di titik itulah Puyang Balau retak.Retakan itu tidak meledak. Tidak terlihat. Ia terjadi di dalam, pada kesadaran yang selama ini utuh. Dari retakan itu, sesuatu terlepas.Bukan kegelapan; itu adalah bagian dari dirinya, sisi yang menjaga keseimbangan dunia, keseimbangan itu terjatuh ke dunia.Ia jatuh ke dunia, dan kelak bagian dari Puyang Balau yang terjatuh kedua akan disebut oleh manusia sebagai Batu Mahasa.
Batu Mahasa menjadi gerbang dunia manusia dan dunia roh, menggantikan sosok Puyang Balau sebagai penjaga dunia. Bukan sebuah artefak; ia tidak berbicara, ia tidak memihak. Ia adalah hukum yang membeku menjadi saksi dunia, menjaga agar dunia tidak jatuh terlalu jauh ke salah satu sisi.
Bagian dari kemarahan dan emosi Puyang Balau, sebelumnya tidak dikenal, kini menemukan tempat. Rasa kehilangan berubah menjadi kebencian yang perlahan terarah. Ia tidak lagi melihat manusia sebagai bagian dari sistem, melainkan sebagai sumber kekacauan.
Manusia pada masa yang akan datang menyebutnya leluhur jahat. Tapi sesungguhnya ia tidak jahat. Ia adalah penjaga yang kehilangan separuh dirinya.Saat dunia kehilangan sosok penjaga yang sesungguhnya, roh-roh mulai kehilangan arah, kehilangan sosok yang ditakuti, kehilangan bagian dari hukum dunia itu sendiri.
Sementara itu, dunia tidak tinggal diam. Tanpa penjaga yang utuh, tanpa keseimbangan yang lengkap, sistem baru terbentuk secara alami. Roh-roh yang tidak mau kehilangan arah mulai memilih manusia. Bukan secara acak, melainkan melalui resonansi sifat. Mereka yang mampu menerima akan bertahan. Mereka yang memaksa akan hancur.
Kontrak pun lahir.Bukan sebagai hadiah, melainkan kesepakatan. Roh meminjamkan aspek keberadaannya, bukan kekuatan mentah, tetapi cara pandang, kecenderungan, dan elemen dasar dari eksistensi mereka. Manusia yang dipilih harus menanggung konsekuensi dari sifat roh tersebut.
Beberapa mampu menahan satu kontrak seumur hidup. Beberapa, yang darahnya lebih dekat dengan retakan awal dunia, mampu menahan lebih dari satu, namun dengan harga yang lebih berat.
Di balik itu semua, ada suara.Bukan suara Puyang Balau.Bukan pula suara roh.Ia adalah gema keseimbangan dunia yang kehilangan wadahnya. Ia tidak memberi perintah. Ia hanya mengingatkan. Hadir dalam mimpi, firasat, dan bisikan samar yang hanya bisa didengar oleh mereka yang hatinya retak.Ribuan tahun berlalu.Legenda menjadi mitos. Mitos menjadi dongeng. Dongeng menjadi bisikan yang hanya dipercayai oleh para shaman tua dan roh-roh yang belum melupakan asal-usulnya.
Dan di suatu masa ketika dunia manusia kembali rapuh, ketika kota-kota besar runtuh dan peradaban dibangun ulang di atas sisa-sisa lama, garis keturunan itu kembali mendekati pusat panggung.Seorang pewaris roh lahir.Tidak sebagai jawaban.Melainkan sebagai kemungkinan.
Di bawah tanah Kalimantan, di tempat di mana Batu Mahasa tertanam sebagai paku keseimbangan dunia, kesadaran lama yang retak mulai bergerak.Bukan untuk menghancurkan.Melainkan untuk menuntut.
Dan dunia yang tidak pernah berkehendak bersiap menerima konsekuensi dari pilihan yang pernah dibiarkannya terjadi.Ini bukan akhir.Ini adalah awal dari ingatan dunia yang perlahan bangun kembali.