

Richie mengacungkan pistolnya tepat di depan kepala seseorang yang tertangkap basah sedang mengintainya. Di sebuah lorong gang yang sempit di sebuah kota.
"Katakan siapa yang telah mengutus mu membuntutiku? Pasti Delon, bukan?" Gertak Richie dengan sorong mata tajamnya.
Richie Baldwin adalah CEO rumah sakit. Tapi siapa yang tahu bahwa ia juga seorang mafia yang kejam. Tak segan membunuh lawannya tanpa ampun. Di ruang rahasia ia juga memproduksi obat-obat ilegal.
Sementara Delon adalah musuh bebuyutan yang menguasai dunia farmasi. Tetapi dari bisnisnya itu terselubung bisnis gelap yang lain yaitu produksi narkoba.
Keduanya saling ingin menghancurkan bisnis hitam masing-masing. Saling mencari tahu dimana mereka menjalankan bisnis hitam tersebut.
"Cepat katakan...!!!" Richie semakin mendekatkan pistolnya di kepala tawanannya. Dan pria itu hanya menggeleng.
"Sungguh, anjing yang setia" desis Richie dengan wajah sinis kemudian memukulkan gagang pistolnya di pelipis pria itu..
Plaaakkkkk
"Aaarrrgggg" erang pria itu sambil merintih. Darah segar seketika mengucur dari pelipis pria itu.
"Katakan dimana markas Delon? Jawab aku cepat" ucapan Richie makin meninggi. Habis sudah kesabarannya. Ia menendang pria itu hingga jatuh tersungkur.
"Jadi kau lebih memilih mati ketimbang buka mulut. Aku akan memberi kesempatan hidup untukmu. Kau hanya perlu memberi tahuku dimana markas Delon berada." Ucap Richie mencoba bernegosiasi. Akan tetapi pria itu tetap menggelengkan kepala.
Richie kembali mengacungkan pistolnya. Dan menembak tepat di kepalanya, dan pria itu tewas seketika dengan bersimbah darah.
Dooooorrrrrrr
Di ujung lorong seorang gadis tak sengaja menyaksikan kejadian itu. Ia baru saja pulang dari bekerja. Ia memang terbiasa melewati jalan tersebut. Jalan yang memang tergolong sepi tapi mempunyai rute tercepat menuju rumah Evelyn. Ya, gadis itu bernama Evelyn.
"Haaahhh" Evelyn duduk terjatuh. Ia reflek menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar. Tapi sayang empat orang yang berpakaian hitam itu menyadari kehadiran Evelyn dan menoleh ke arahnya.
Evelyn yang ketakutan segera berlari dan mencari tempat persembunyian. Ia bersembunyi di balik tong yang berjajar di pinggir jalan. Ia sangat berharap segerombolan mafia itu tak bisa menemukannya.
Richie yang menyadari gadis itu kabur menyuruh orang kepercayaannya untuk mengejarnya.
"Harry cari gadis itu. Siapa tau dia bagian dari mereka" perintah Richie.
"Baik tuan" jawab Harry dan cepat pergi mencari gadis yang kabur tadi.
Evelyn berjongkok di balik tong-tong yang berkarat. Ia mengatur nafasnya agar lebih tenang dan ketika mendengar suara kaki mendekat ia menutup mulutnya agar desah suaranya tak terdengar.
Akan tetapi Evelyn tidak tahu yang ia hadapi adalah mafia, tentu saja tak kan sulit untuk menemukan persembunyian gadis biasa sepertinya.
Dari arah belakang Harry sudah mengacungkan pistolnya. Evelyn yang menyadari kalau persembunyiannya telah diketahui berteriak saat melihat ujung pistol mengarah padanya.
Harry dengan cepat membungkam mulut gadis itu agar tidak menimbulkan kegaduhan. Ia berusaha terus meronta tetapi tenaganya tak sebanding dengan pria berbaju hitam itu.
Harry menyeret tubuh gadis itu menghadap tuannya. Dia mengikat tangan Evelyn ke belakang dan menutup mulut Evelyn dengan dasi yang diikatkan ke belakang pula agar dia tidak bisa berteriak.
Terduduk dengan terikat dan air matanya yang mulai mengalir deras. Wajahnya terlihat sangat ketakutan melihat orang-orang berbaju hitam sambil menggenggam pistol di tangannya.
Richie mulai mendekat dan jongkok di depan Evelyn. Tatapannya begitu tajam dan sangat dingin. Evelyn pun tak berani menatap mata pria itu barang sedikit pun. Tatapan ya saja seolah sudah menginterogasinya.
Richie mencengkram rahang Evelyn mengangkatnya ke atas hingga mau tak mau Evelyn harus menatap pria kejam itu.
Deg
Dua netra pun kini saling bertemu dalan satu garis lurus. Untuk sesaat waktu seperti terhenti, Richie merasa tatapan gadis itu yang begitu teduh dan polos. Namun setelah itu ia pun kembali tersadar.
"Siapa yang mengutus mu? Apa kau bagian dari mereka?" masih dengan nada datar Richie mencoba menginterogasi gadis itu.
Evelyn mencoba menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tahu apa yang dikatakan pria itu. Nasibnya saja yang sedang sial menyaksikan kejadian keji barusan. Seandainya dia tidak melewati jalanan itu pasti ia tidak akan mengalami ini semua.
"Ciihhh. Apa kau ingin berakhir seperti orang itu?" Richie mainkan pistolnya kemudian menunjuk ke pria yang sudah tewas bersimbah darah itu.
Evelyn terus menggelengkan kepalanya dengan begitu ketakutan. Ia terus berusaha memberontak akan tetapi ikatan di tangannya sangat kuat.
Semakin memberontak tubuhnya terasa semakin sakit. Ia terus mengerang sambil menangis berharap pria itu memberikan belas kasihnya kepada Evelyn.
Tapi hal itu tak akan mungkin, membunuh orang saja seperti membunuh seekor nyamuk.
Di tengah-tengah interogasinya tiba-tiba terdengar suara sirine. Khawatir kalau itu adalah polisi Richie menyudahi interogasinya.
"Shit.." desis Richie.
"Ayoo kita pergi. Harry urus mayat itu" perintah Richie.
"Bagaimana dengan gadis ini Tuan?" tanya Harry menunjuk pada Evelyn.
"Bawa saja. Siapa tau dia bagian dari mereka" jawab Richie lalu pergi menuju mobil.
Dua orang bodyguard mengurus mayat pria malang tadi memasukan ke dalam karung. Lalu Harry membawa Evelyn ke dalam mobil.
Mobil berjalan menuju salah satu pelabuhan dan berhenti disana.
Mereka menaiki Speedboat dengan membawa serta Evelyn bersamanya. Saat Speedboat berada di tengah laut tiba-tiba saja mesin di matikan. Evelyn tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang itu.
Dua bodyguard membuang mayat di dalam karung itu menceburkan ke dalam laut. Karung itu telah diberi pemberat sehingga mayat itu tenggelam dan tak akan mungkin bisa mengambang.
Evelyn terbelalak menyaksikan semua itu. Betapa dia sedang bersama orang-orang yang sangat kejam. Dia semakin ketakutan bagaimana caranya bisa lari dari kekejaman mereka.
Richie memerintahkan untuk membuka ikatan yang menutup mulut Evelyn. Karena sekuat apa pun ia berteriak tak akan ada yang mendengar karena saat ini sedang berada di tengah laut. Harry pun membuka ikatan itu.
"Tolong lepaskan aku. Aku mohon" ucap Evelyn seketika tanpa basa basi.
"Siapa yang mengutus mu? Apa itu Delon? Jawab aku!" tanya Richie.
"Aku tidak tau apa-apa. Siapa Delon aku tidak tau" jawab Evelyn dengan nada cemas.
"Lalu kenapa kau ada disana? Di tengah malam seperti ini" Richie masih tidak percaya.
"Aku baru saja pulang kerja. Aku memang terbiasa lewat jalan itu. Aku mohon lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan memberi tahu siapapun. Aku janji..!" Evelyn terus memohon agar dibiarkan kembali.
Drrttt ddrrtttt
Ponsel Richie berbunyi ternyata telepon dari Jasmine wanita yang terus mengejar cintanya.
"Hhmmm" Richie menjawab telepon itu dengan singkat.
"Richie. Besok jangan lupa datang ke pesta ulang tahunku ya!!" Pinta Jasmine.
"Kenapa? Harus ya aku datang ke sana?. Kau tahu aku tidak suka pesta basa-basi seperti itu. Buang-buang waktuku" jawab Richie.
"Kau harus datang bersama seorang wanita dan aku akan berhenti mengharap cintamu. Kalau kau tidak datang, itu berarti kau menerimaku" ucap Jasmine menantang seorang mafia yang memang belum punya kekasih.
"Apa? tantangan macam apa itu. Konyol sekali". ucap Richie sambil menggeleng pelan.
"Pokoknya harus datang atau kau akan menjadi kekasihku. Daahh bye" Jasmine menutup sambungan tanpa basa basi.
Tantangan macam apa ini. Bagaimana mungkin tantangan seperti itu untuk seorang mafia. Ia biasa tertantang dengan perkelahian dan kekerasan. Konyol sekali.
Namun tatapan mata Richie kemudian terarah pada gadis yang ada di hadapannya itu. Sepertinya ia mendapatkan sebuah ide...