

"BRUM... BRUMMM!"
Mikail melaju di jalanan dengan sepeda motornya.
Lampu kota Flame City memantul di aspal basah, terpotong-potong oleh hujan gerimis yang datang tanpa suara. Mesin motor berdengung rendah, stabil—seperti detak jantung yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kematian.
Basah di jaketnya belum mengering sempurna, sekarang malah ditimpa hujan lagi.
Bekas luka sayatan di lengan kiri luka di paha yang semula membuatnya pincang, sedikit lagi sembuh dan meninggalkan bekas guratan yang tidak akan hilang. Ia terus melakukan motornya sambil sedikit mengenang apa yang terjadi sebelumnya. Sudah dicobanya untuk menolak tapi kenangan itu muncul seperti baru beberapa saat lalu kejadian itu lewat. Ia masih bisa mencium bau darah yang merah tua. Bau mesiu masih melekat di rambut, di sarung tangan, di setiap tarikan napasnya sendiri.
Ia tidak menoleh ke belakang, tak terbendung karena bayangan-bayangan lainnya muncul sendiri di pikirannya.
Markas bawah tanah itu terbakar sempurna.
Api meranggas dinding beton bertulang, menjilat pilar-pilar raksasa yang sebelumnya menopang kekuasaan tiga klan terbesar dunia hitam Flame City. Bendera Dragon, Tiger, dan Snake—yang dulu berkibar dengan angkuh—lenyap menjadi kain hitam terbakar, jatuh satu per satu seperti kulit mati.
Selama puluhan tahun, klan-klan itu mengendalikan narkotika, perdagangan manusia, senjata ilegal, dan pembunuhan kontrak. Polisi suap. Politisi takut. Tentara pura-pura tidak tahu. Semua tunduk pada satu hukum: uang dan teror.
Kini tinggal abu.
Mikail masih sangat ingat, ketika ia berdiri di pusat kehancuran, tubuhnya disinari kilatan api dan ledakan yang belum sepenuhnya reda.
Napasnya tenang.Terlalu tenang.
Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada adrenalin yang menggelegak. Hanya kehampaan yang dingin, profesional—seperti setelah menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Satu per satu petinggi Klan Dragon, Klan Tiger, dan Klan Snake telah tumbang. Sebagian mati di tangannya. Sebagian lain mati karena saling mengkhianati, saling menembak dalam kepanikan ketika rantai komando runtuh.
Tidak ada duel kehormatan.
Tidak ada negosiasi.
Tidak ada permohonan terakhir.
Hanya peluru.
Tepat.
Cepat.
Mematikan.
Sisa anggota klan melarikan diri seperti tikus terbakar. Ada yang kabur ke luar negeri dengan paspor palsu. Ada yang menghilang ke kota-kota mati di perbatasan. Ada pula yang menyewa identitas baru, mencukur masa lalu, berharap satu nama akan dilupakan. Kitaro! Mereka salah.
Mikail terus melaju dengan motornya, menuju. markas.
Lagi-lagi kenangan lalu membuntutinya...
-Seraut wajah itu muncul, tanpa izin.Muncul begitu saja—Sandra, tersenyum lelah di balik asap amunisi, rambutnya diikat asal, mata masih berkilat meski kelelahan.
—Sandra, berteriak memanggil namanya ketika hujan peluru menghantam lorong sempit.
—Sandra, tergeletak di lantai beton, mata terbuka, kosong, darah membentuk genangan gelap di bawah kepalanya.
Mikail memalingkan wajah.
Ia hanya berteriak memanggil namanya saat itu, ia tidak menangis, tapi ia memilih berlutut, siapa tahu ada keajaiban. Tapi semua nihil, sehingga sesuatu di dalam dadanya runtuh—perlahan, tak terdengar, namun fatal. Seperti bangunan yang fondasinya patah tanpa suara.
Kali yang lain... kenangan itu menerobos masuk lagi, ketika ia meletakkan bahan bakar tambahan di pusat data, ruang arsip, brankas di markas Klan Dragon. Api menyala lebih besar. Server meledak. Dokumen terbakar menjadi abu terbang.
Tidak satu pun rahasia klan akan selamat.
Lalu ia pergi.
Meninggalkan identitas Kitaro di antara puing dan darah. Malam itu, seorang pria mati dan seorang agen lama kembali hidup.
Kitaro hilang yang tersisa adalah Mikail Setiawan. Agen bayangan. Operatif non-resmi.
Aset terakhir di bawah komando Chief Gumawang—pria yang bahkan negara pun pura-pura tidak mengenalnya jika terjadi kejadian terburuk yang tidak diinginkan.
----
"BRUMMMMMMM!"
Motor melaju lebih cepat.
Lampu merah diterobos. Jalan tikus diambil. Mikail tahu kota ini seperti denyut nadi sendiri. Gang sempit. Terowongan bawah rel. Flyover tua yang jarang terpantau kamera publik.
Namun sesuatu terasa salah.
Instingnya—yang selama belasan tahun menyelamatkannya dari maut—berdering.
Pelan. Tajam.
"BRUMM... BRUUM... BRUMMM!"
Dari spion motor, pantulan cahaya muncul.
Satu motor.
Dua.
Tiga.
Penunggang berjaket hitam. Helm full-face tanpa tanda. Jarak mereka menjaga—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Formasi.
Profesional.
"BROOMMM!"
Mikail menambah kecepatan sedikit, berpura-pura normal.
Dari ujung spion, kilatan logam terlihat di tangan salah satu pengendara.
Senjata.
Di belakang itu… sebuah van hitam, kaca gelap, tanpa plat jelas.
Mikail menghela napas pendek.
Jadi mereka tidak menunggu sampai ia tiba di markas.
"CIITT... BROOOMM!"
Ia memutar belokan tajam ke jalan samping.
Motor-motor itu mengikutinya.
Van ikut membelok.
Tidak ada lagi ilusi kebetulan.
"DOR... CLANGG!"
Peluru pertama menghantam aspal di samping bannya.
"BROOMMMMM!"
Mikail memutar gas penuh.
Motor meraung, jarum kecepatan menari gila di batas merah. Mesin menjerit seolah akan meledak kapan saja. Angin menghantam dadanya seperti tembok tak terlihat, mendorong napas keluar dari paru-paru. Setiap tarikan terasa mentah, berbau darah dan asap.
Jalanan menyempit.
Lampu kota tak lagi berbentuk—hanya garis-garis abstrak yang berkelok, pecah oleh bayangan gedung dan kilatan hujan tipis. Aspal basah memantulkan cahaya lampu jalan seperti pisau cair.
“SWIIINGG!”
Satu motor muncul dari kanan—bukan mencoba menyalip, tapi memotong garis. Manuver profesional. Pengendara itu menurunkan badan, lutut hampir menggesek aspal, memaksa Mikail mempersempit ruang geraknya.
“SSSRTTT!”
Benturan awal tak bisa dihindari. Setang mereka saling mencium. Getaran keras merambat ke pergelangan tangan Mikail, hampir membuat jemarinya terlepas dari gas.
“CITT... CRICITTTT!"
Ban mereka berdecit bersamaan. Bau karet terbakar memenuhi udara.
Mikail membiarkan mereka sejajar—sengaja. Ia menggeser berat badan, menahan satu detik terlalu lama, membaca ritme lawan.
"SRRTTT... DRRRKK!"
Detik itu hampir membuatnya kehilangan kontrol ketika motor keduanya kembali menghantam.
"DUKKK!'
Lalu—ia menendang. Bukan tendangan liar tapi presisi.
Kaki kirinya menghantam batang kemudi, bukan stang. Logam penyambung itu derakkannya rendah—suara yang tak salut tapi mematikan.
“SRRTT... DUARR.. PRAKK... BRRUGH!”
Motor lawan tak langsung jatuh. Justru oleng brutal, menghantam trotoar, memantul, lalu tubuh pengendara terpelanting. Ia menghantam tiang lampu dengan bahu terlebih dahulu.
Suara tulang patah terdengar jelas—namun bahkan setelah jatuh, pria itu masih bergerak, meraih pistol sebelum akhirnya terdiam.
Belum selesai.
“DOR—DOR—DORR!”
Tembakan beruntun menyusul dari belakang. Kali ini lebih rapat. Lebih terkontrol. Bukan tembakan panik.
Peluru menghantam aspal di samping roda—terlalu dekat.
“CRAT... PRANG! NGUING! NGUING!”
Kaca toko meledak. Alarm meraung serentak, menciptakan simfoni kacau yang menelan suara mesin dan teriakan. Pecahan kaca berhamburan, sebagian mengiris lengan Mikail menembus jaket.
Dari kiri—
“ROOOAARRR!”
Van hitam melesat maju, bukan sekadar memepet—menyentak. Bumper baja menyentuh pannier motor Mikail.
“DUKK!”
Tubuhnya terguncang. Setang goyah. Mikail nyaris kehilangan kendali. Van itu tidak mencoba menghantam sekali—ia mendorong, memaksa Mikail keluar jalur ke trotoar sempit yang penuh tiang dan parkiran mobil.
Dari jendela van, moncong senjata muncul.
“DORRR! DOR... UGH!”
Peluru menghantam motor. Satu tembus fairing, satu lagi menyambar betisnya—menggurat panas tajam yang membuat kakinya hampir mati rasa.
Mikail menggeram.
Tidak ada waktu.
"SRRTTT!"
Ia menarik pistol dari holster magnetik—gerakan refleks yang telah dilakukan ribuan kali. Satu tangan di gas, satu mengarah ke bawah, ke depan.
Bukan dua tembakan.
Empat.
“DOR! DOR! DOR! DORR!”
"CLANG... CLANG... KLANG!"
Tiga peluru menghantam bodi van—memantul. Baja berlapis. Sial.
"DOR... DAB!"
Tembakan keempat menghantam ban depan—namun ban tidak langsung pecah. Run-flat.
Van tetap melaju.
“Sial…”
"BRUUMMM!"
Mikail menarik gas penuh. Mesin motor meraung kesakitan. Ia membelok tajam ke kanan, tiang lampu melintas sejengkal dari wajahnya. Van mencoba ikut, tapi terlalu besar.
"DORRR!"
Saat sudut terbuka sepersekian detik, Mikail melepas satu tembakan lagi—kali ini rendah, ke rim.
“CIITTT—!”
Run-flat menyerah.
“BRAAKK!... SRRRTTT... BRAARRR!”
Van itu baru kehilangan kendali setelah hampir lima puluh meter. Ia membelok brutal, oleng dan hilang kendali, terguling sekali—belum berhenti. Tubuh baja menghantam mobil parkir, mengangkatnya seperti mainan, tapi Van terus bergerak menggesek jalanan.
"DORRR!"
Mikail menembak sekali lagi, ketika Van itu masih bergerak
“CIITTT… DUAARR...!"
Ban depan van yang lain meledak dengan suara mendidih, kendaraan besar itu kejang, setir mengunci, lalu berputar liar.
"BRAAKK… BLAARRR... WROSH!”
Van menabrak pembatas beton, berguling beberapa kali; tubuh baja berderik, jendela meledak. Api menyembur dari kap mesin — semburan oranye memantul di kaca toko, menerangi wajah-wajah yang muncul dari balik jendela, terpesona dan ketakutan.
Bunyi dentuman keras mengirimkan gelombang ke aspal—
“THUD! THUD!"
Seperti tinju besar yang memukul malam. Sisa-sisa serpihan beterbangan; potongan logam menari di udara. Asap bensin membakar hidung, rasa panas menderu. Sebuah bola api kecil mengulum bagian samping van yang terguling, lalu merayap ke selokan.
Mikail ingin berhenti menyelesaikan, siapa tahu penumpang Van masihan dan yang hidup.
Tapi suara baru merobek malam.
"WHUP—WHUP—WHUP—WHUP."
Langit bergetar.
Bukan sirene.
Bukan kendaraan darat.
Baling-baling.
Mikail mendongak, jantungnya mengencang.
Apakah yang dilihat?
Bersambung...