Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Darah Di Dalam Istana Kaca: "Memoar kelam, Penebusan Pelindung."

Darah Di Dalam Istana Kaca: "Memoar kelam, Penebusan Pelindung."

ghulamrk | Bersambung
Jumlah kata
46.8K
Popular
100
Subscribe
18
Novel / Darah Di Dalam Istana Kaca: "Memoar kelam, Penebusan Pelindung."
Darah Di Dalam Istana Kaca: "Memoar kelam, Penebusan Pelindung."

Darah Di Dalam Istana Kaca: "Memoar kelam, Penebusan Pelindung."

ghulamrk| Bersambung
Jumlah Kata
46.8K
Popular
100
Subscribe
18
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeKarya Kompetisi21+Thriller
Darah di Dalam Istana Kaca adalah sebuah narasi tentang keruntuhan moral, konspirasi kekuasaan, dan penebusan berdarah seorang pria yang berdiri di ambang kegelapan sebuah instansi kepolisian. Kisah ini berpusat pada Danu Prakasa, seorang mantan inspektur dua polisi—lulusan terbaik Akademi Kepolisian, Danu adalah mantan polisi dengan insting detektif yang kuat, ia hidup dalam pengasingan batin setelah muak dengan busuknya institusi hukum yang selama ini membesarkannya. Kehidupannya yang dingin berubah menjadi api yang membara saat ia bertemu dengan Alika, seorang wanita yang hancur setelah kematian adiknya, Astri Kemala. ​Astri bukan sekadar korban pemerkosaan dan pembunuhan biasa. Ia adalah tumbal dari sebuah mega skandal bernama Proyek Istana Kaca—sebuah "Negara di dalam Negara" yang dibangun oleh sekelompok elit dan oligarki kaya yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan semua sistem yang ada. Di bawah perlindungan arsitek strategi Bambang Suroso (B.S.) dan tokoh kunci politik Raden Yuda (R.Y.). Istana Kaca adalah simbol kebobrokan birokrasi Indonesia; sebuah skandal pencucian uang dan penghapusan jejak korupsi yang melibatkan jajaran tinggi kepolisian, jaksa, dan menteri strategis. Astri dilenyapkan karena ia memegang bukti digital mengenai "Algoritma Suap, rencana-rencana pembangunan Istana Kaca, dan orang-orang penting yang terlibat didalamnya." yang mampu meruntuhkan seluruh struktur kekuasaan di negeri itu.​ Fokus kisah ini akan mengikuti transformasi Danu dari seorang Inspektur dua Polisi yang kalah menjadi pembalas dendam yang beringas. Danu tidak lagi bertarung dengan aturan hukum yang telah dibeli; ia menggunakan kekerasan taktis, intimidasi psikologis, dan kekuatan fisiknya untuk menghancurkan musuh-musuhnya satu per satu. Di tengah misinya, gairah cinta Danu terhadap Alika meledak sebagai bentuk Eros—sebuah perlawanan akan hidup terhadap kematian yang disebarkan para oligarki. Bagi Danu, mencintai Alika dengan keberingasan dan kelembutan adalah caranya tetap menjadi manusia di tengah perburuan iblis.​ Kisah ini memuncak pada pembongkaran keterlibatan R.Y. dan B.S. yang ternyata merupakan psikopat yang menikmati penderitaan Astri sebagai ritual loyalitas kelompok. Danu menyeret mereka dari puncak kekuasaan menuju kehinaan abadi di penjara isolasi Nusa Kambangan, sementara tersangka lain berakhir di depan regu tembak.​ Setelah kemenangan berdarah itu, cerita beralih ke masa depan (2032-2037), di mana Danu dan Alika membangun Institut Paramita Astri untuk memerangi akar pemikiran patriarki dan birokrasi kolot. Meskipun dihadang oleh kelompok radikal dan sisa-sisa pengikut rezim lama, Danu tetap berdiri sebagai benteng terakhir—pria yang gairah hidup dan kemarahannya tidak pernah padam, memastikan bahwa cahaya yang ditinggalkan Astri akan terus membakar setiap kaca yang mencoba menyembunyikan kebenaran.
Bagian 1

Bandung, 22 Maret 2025

​Hujan di Bandung tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya bersembunyi di balik awan kelabu yang menyelimuti Puncak Ciumbuleuit, menunggu waktu yang tepat untuk tumpah dan membasuh aspal Jalan Braga. Aroma kopi yang beradu dengan bau tanah basah biasanya menenangkan bagi sebagian orang, namun bagi Inspektur Polisi Dua (Ipda) Danu Prakasa, aroma itu hanya mengingatkannya pada satu hal: sisa waktu yang terus berdetak.

​Danu duduk di sudut sebuah bar tersembunyi di area Braga. Lampu neon redup berwarna biru dan jingga memantul di permukaan gelas wiski yang belum ia sentuh sejak tiga puluh menit lalu. Di usianya yang ke-29, Danu memiliki tatapan yang terlalu tajam untuk seseorang yang sedang bersantai. Rambutnya dipangkas rapi khas perwira, rahangnya tegas, dan kemeja flanel yang ia kenakan gagal menyembunyikan postur tubuhnya yang tegap hasil tempaan empat tahun di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.

​Bagi Danu, kelulusannya setahun lalu bukan sekadar akhir dari pendidikan militeristik yang melelahkan. Itu adalah gerbang. Ia tidak ingin menjadi polisi rata-rata yang menghabiskan tiga puluh tahun kariernya hanya untuk menunggu kenaikan pangkat reguler. Ia ingin melesat. Ia ingin kursi di Mabes Polri, dan ia tahu, di instansi tempatnya mengabdi, prestasi adalah mata uang paling berharga.

​Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada kerumunan di dekat panggung live music.

​Seorang wanita, tampak berusia akhir dua puluhan, sedang mencoba berdiri dari kursinya dengan sempoyongan. Gaun satin hitamnya sedikit berantakan di bagian bahu. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Namanya belum Danu ketahui, namun aura kehancuran yang terpancar darinya begitu kontras dengan kecantikannya yang mencolok.

​Di samping wanita itu, dua pria dengan jaket kulit mengkilap mulai mendekat. Salah satunya meletakkan tangan di pinggang si wanita, membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu mencoba menepisnya dengan gerakan lambat dan tidak bertenaga.

​"Ayo, Mbak. Kita cari tempat yang lebih privat. Kamu sudah terlalu mabuk," ucap pria berjaket kulit itu. Suaranya serak, penuh maksud tersembunyi.

​Wanita itu—Alika Kemala—hanya menggumam tidak jelas. Matanya setengah terpejam, kepalanya terkulai. Ia hampir terjatuh jika pria itu tidak segera merangkulnya dengan kasar.

​Danu menghela napas. Sebenarnya, ini bukan urusannya. Ia sedang tidak bertugas. Namun, insting yang ditanamkan selama bertahun-tahun di Akpol tidak bisa mati begitu saja. Ia berdiri, merapikan letak dompet di saku belakangnya, dan berjalan menghampiri mereka.

​"Lepaskan dia," suara Danu datar, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Kedua pria itu menoleh. Yang bertubuh lebih besar menyeringai. "Jangan ikut campur, Bro. Ini urusan pertemanan."

​"Teman tidak membiarkan temannya hampir jatuh ke lantai dengan tangan di tempat yang salah," balas Danu. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, masuk ke ruang personal pria itu. "Saya tidak suka mengulang kata-kata saya. Lepaskan dia, atau kita selesaikan ini di luar dengan cara yang tidak akan kalian sukai."

​Pria itu melihat tatapan mata Danu—dingin, terkendali, dan mematikan. Ada sesuatu dalam cara Danu berdiri yang menandakan bahwa ia tahu cara mematahkan tulang dalam hitungan detik. Tanpa kata, kedua pria itu mendengus dan melangkah pergi, meninggalkan wanita itu, dia Alika yang hampir merosot ke lantai.

​Danu dengan sigap menangkap lengan Alika. Aroma alkohol bercampur parfum bunga melati yang kuat menusuk penciumannya. Alika mendongak, matanya yang sayu menatap Danu tanpa fokus.

​"Astri? Kamu Astri Kemala...?" gumam Alika lirih sebelum matanya benar-benar terpejam dan tubuhnya lemas sepenuhnya di pelukan Danu.

​Danu mengernyit. "Astri Kemala?" Nama itu terasa akrab. Sebagai perwira muda yang terobsesi pada kasus-kasus besar, Danu sering menghabiskan waktu di ruang arsip Polrestabes Bandung, membaca berkas-berkas yang telah ditutup hanya untuk membedah pola pikir para penyidik senior.

​Ia membantu Alika berjalan keluar menuju parkiran. Udara malam Bandung yang menusuk tulang segera menyambut mereka. Danu memasukkan Alika ke kursi penumpang depan mobil SUV hitamnya. Sebelum menutup pintu, ia mengambil tas kecil Alika yang terjatuh untuk mencari identitas.

​Di dalam dompet kulit yang sudah mulai mengelupas di bagian pinggirnya, Danu menemukan sebuah KTP.

​Alika Kemala. 28 tahun. Alamat: Komp. Griya Bunisugih, Blok F No. 2B, Buah Batu, Bandung.

​Jantung Danu berdegup sedikit lebih kencang. "Kemala?" Ia segera teringat sebuah berkas kasus dari tahun 2021. Kasus pembunuhan dan pemerkosaan seorang mahasiswi muda 19 tahun bernama Astri Kemala, mahasiswi jurusan psikologi semester empat. Kasus itu ditutup tanpa tersangka setelah enam bulan penyelidikan yang buntu. Kasus yang dianggap sebagai "noda" bagi beberapa senior di kantornya karena kegagalan mereka mengamankan bukti kunci.

​Danu menatap wanita di sampingnya. Jadi ini adalah kakak dari gadis itu. Wanita yang selama empat tahun ini hidup dalam bayang-bayang keadilan yang tak kunjung datang.

"Kamu adalah kunci saya," gumam Danu pada dirinya sendiri sambil menyalakan mesin mobil.

​Pukul 06.00 WIB.

​Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui kaca depan mobil yang mulai berembun. Danu tidak membawanya ke hotel atau rumah wanita itu karena ia tidak tahu alamat pastinya di kompleks Buah Batu yang luas. Ia memarkirkan mobilnya di sebuah area terbuka yang aman di dataran tinggi Bandung, tempat ia bisa mengawasi kota sambil menunggu wanita itu sadar.

​Danu sendiri terjaga sepanjang malam, menyandarkan kepalanya di kursi pengemudi sambil membolak-balik foto digital berkas kasus Astri Kemala di ponselnya yang ia dapatkan secara ilegal dari server kantor.

​Gerakan di kursi samping membuyarkan lamunannya. Alika mengerang, tangannya memegang dahi yang terasa seperti dihantam palu godam. Ia mengerjap-ngerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya pagi. Begitu ia menyadari dirinya berada di dalam mobil asing bersama seorang pria yang tidak ia kenal, kepanikannya meledak.

​"Siapa kamu?!" Alika berteriak, suaranya parau. Ia segera memeriksa pakaiannya, meraba tubuhnya sendiri dengan panik. "Apa yang kamu lakukan padaku?! Kurang ajar!"

​Ia mencoba membuka pintu mobil, namun Danu telah mengaktifkan child lock.

​"Buka pintunya! Tolong! Penculikan!" Alika mulai memukul kaca mobil dan mencoba menyerang Danu dengan tasnya.

​Danu menangkap kedua pergelangan tangan Alika dengan satu tangan, menjepitnya dengan kuat namun tidak sampai menyakiti. "Tenang, Alika! Lihat saya!"

​Alika terengah-engah, matanya merah karena amarah dan sisa alkohol. "Jangan sebut namaku! Kamu pria bejat yang memanfaatkan orang mabuk, kan? Kamu mau apa? Uang? Atau kamu sudah... kamu sudah melakukannya?!"

​"Saya Ipda Danu Prakasa," suara Danu berat dan tenang, kontras dengan ledakan emosi Alika. "Saya polisi. Dan demi Tuhan, saya punya selera yang lebih baik daripada menyentuh wanita yang bahkan tidak bisa menyebutkan namanya sendiri tadi malam."

​Danu melepaskan tangan Alika. Alika terdiam, meski napasnya masih memburu. Ia melihat lencana kewenangan yang sengaja diletakkan Danu di atas dasbor. Logam perak itu berkilau tertimpa cahaya matahari.

​"Polisi?" Alika tertawa sumbang, sebuah tawa yang sarat akan kepahitan. "Hebat sekali. Jadi sekarang polisi di Bandung beralih profesi jadi penjemput orang mabuk? Atau ini taktik baru untuk memeras warga?"

​"Saya menyelamatkanmu dari dua orang yang hampir membawamu pergi dari bar," Danu memperbaiki posisi duduknya. "Dan saya tidak butuh ucapan terima kasihmu. Yang saya butuhkan adalah kerja samamu."

​Alika merapikan rambutnya yang kusut dengan kasar, berusaha mengumpulkan kembali martabatnya yang tersisa. "Kerja sama apa? Saya tidak punya urusan dengan polisi. Polisi adalah alasan kenapa hidup keluarga saya hancur."

​Danu menatap lurus ke depan, ke arah pemandangan kota Bandung yang mulai tertutup polusi pagi. "Astri Kemala. Mahasiswa Psikologi. Semester tiga. Tewas di sebuah hotel di wilayah Dago, empat tahun lalu. Tidak ada sidik jari, tidak ada rekaman CCTV yang jelas, dan kasusnya dihentikan oleh Kompol Hendra karena 'kurangnya bukti'."

​Suasana di dalam mobil mendadak senyap.

Alika membeku. Nama adiknya disebut seperti sebuah mantra yang menyakitkan. Luka yang selama empat tahun ini ia coba tutupi dengan alkohol dan kerja keras, mendadak menganga lebar kembali.

​"Kenapa..." suara Alika bergetar, kali ini bukan karena marah, tapi karena rasa sakit yang dalam. "Kenapa kamu mengungkit itu? Kamu mau menyiksa saya lagi? Mau bilang kalau adik saya memang pantas mati karena dia 'main' ke tempat yang salah? Itu kan yang dikatakan teman-temanmu dulu?"

​Danu menoleh, menatap Alika dengan intensitas yang membuat wanita itu merasa telanjang. "Saya baru lulus Akpol setahun lalu. Saya tidak terlibat dalam kegagalan senior-senior saya. Tapi saya sudah membaca berkasnya. Semuanya. Dan saya tahu ada yang salah dengan penutupan kasus itu. Ada prosedur yang dilompati. Ada saksi yang tidak pernah dipanggil." ucap Danu.

"Entah ini kebetulan atau apa, saya bisa beretemu denganmu disini." tambahnya.

​Alika menatap Danu, mencari kebohongan di mata pria itu. "Lalu apa urusannya denganmu? Kamu polisi baru yang ingin jadi pahlawan?"

​Danu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak ambisius sekaligus jujur. "Saya bukan pahlawan, Alika. Saya ingin jabatan. Saya ingin naik pangkat lebih cepat dari siapapun di angkatan saya. Dan memecahkan kasus cold case yang memalukan bagi institusi adalah cara tercepat untuk mendapatkan perhatian atasan di Jakarta."

​Alika tertegun. Ia tidak menyangka akan mendengar pengakuan sebrutal itu. Pria di hadapannya tidak menjanjikan keadilan demi moralitas, melainkan demi ambisi pribadi. Namun anehnya, kejujuran itu justru terasa lebih bisa dipercaya daripada janji-janji manis polisi yang dulu menangani kasus adiknya.

​"Kamu ingin memanfaatkan kematian adikku untuk kariermu?" tanya Alika lirih.

​"Saya ingin memberikan apa yang kamu cari selama empat tahun ini: sebuah nama. Seorang tersangka. Dan sebagai imbalannya, saya mendapatkan nama besar saya," Danu mendekat, suaranya mengecil namun penuh penekanan. "Bantu saya membuka kembali luka itu, Alika. Berikan saya detail yang tidak ada di berkas polisi. Berikan saya perspektif seorang kakak."

​Alika memalingkan wajah, air mata mulai mengalir di pipinya yang tirus. Selama empat tahun, ia merasa berteriak di ruang hampa. Kini, seorang pria muda yang penuh ambisi datang menawarkan kesepakatan dari neraka.

​"Kenapa aku harus percaya padamu?"

​Danu menghidupkan mesin mobil, membuka kunci pintu, dan menatap Alika untuk terakhir kalinya sebelum ia mulai melaju. "Karena saya adalah satu-satunya orang di kota ini yang cukup gila untuk melawan perintah senior demi sebuah kebenaran yang menguntungkan saya. Dan karena kamu... kamu sudah hampir mati karena putus asa, Alika. Pilihannya adalah mati perlahan dengan alkohol, atau ikut saya mencari bajingan yang membunuh Astri, adikmu."

​Mobil SUV itu meluncur membelah kabut pagi Bandung, membawa dua jiwa yang berbeda kepentingan namun terikat pada satu nama yang sama.

Danu tahu, ini adalah awal dari pertaruhan kariernya. Jika ia gagal, ia akan didepak dari kepolisian. Jika ia berhasil, ia akan menjadi legenda.

​Namun baginya, risiko adalah bahan bakar. Dan di sampingnya, Alika Kemala mulai menyadari bahwa pagi ini, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia merasa memiliki alasan untuk tetap sadar.

Dunia bagi Inspektur Polisi Dua (Ipda) Danu Prakasa adalah sebuah papan catur raksasa yang sudah ia pelajari setiap langkahnya sejak ia masih mengenakan seragam taruna di Semarang.

​Danu adalah produk terbaik dari Akademi Kepolisian—angkatan yang masih memiliki bau aspal panas Lapangan Bhayangkara di kulit mereka. Namun, berbeda dengan rekan-rekannya yang puas dengan penempatan di satuan lalu lintas atau staf administrasi, Danu memiliki rasa lapar yang berbeda. Di usianya yang ke-29, ia merasa waktu adalah musuh. Ia lulus lebih lambat dari jalur reguler karena sempat menyelesaikan gelar sarjana hukumnya terlebih dahulu, dan keterlambatan itu ia tebus dengan ambisi yang membakar.

​Bagi Danu, seragam cokelat dengan garis perak satu di bahu itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah alat.

​"Pangkat adalah satu-satunya bahasa yang didengar di instansi ini, Danu. Kalau kamu tidak punya suara yang keras, kamu hanya akan jadi debu di bawah meja komandan," suara instruktur Akpol-nya dulu sering terngiang di kepalanya.

​Danu baru enam bulan berdinas di Polrestabes Bandung, namun ia sudah merasa muak dengan rutinitas "aman" yang dijalani senior-seniornya. Ia melihat kepolisian bukan sebagai pengabdian buta, melainkan sebagai sebuah tangga mekanis. Untuk naik ke atas, ia membutuhkan satu hal: kasus besar. Kasus yang tidak hanya akan menaikkan pangkatnya secara luar biasa, tapi juga akan membuat namanya bergema hingga ke Trunojoyo, Jakarta.

​Danu menginjak gas, memacu mobilnya menuruni bukit Dago menuju pusat kota. Di dalam kepalanya, papan catur itu sudah mulai bergerak. Ia tahu, dengan membawa Alika, ia baru saja mengumumkan perang terhadap senior-seniornya sendiri. Namun bagi Danu Prakasa, tidak ada kemenangan tanpa pertumpahan darah—atau setidaknya, kehancuran karier orang lain.

​Bandung 2025 baru saja dimulai bagi mereka berdua. Sebuah kota yang indah dari jauh, namun busuk jika kau berani menggali cukup dalam. Dan Danu baru saja mulai menggali.

Lanjut membaca
Lanjut membaca