Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Arbiter Triad

Arbiter Triad

Xavien | Bersambung
Jumlah kata
66.4K
Popular
231
Subscribe
83
Novel / Arbiter Triad
Arbiter Triad

Arbiter Triad

Xavien| Bersambung
Jumlah Kata
66.4K
Popular
231
Subscribe
83
Sinopsis
18+PerkotaanAksiDewaMafiaBalas Dendam
Akibat pertempuran darah yang dilakukan oleh sang Dewa Pembantaian—Altar, jiwanya dipaksa memasuki tubuh manusia fana yang sudah mati akibat termakan trik murahan dari musuhnya. Pria itu bernama Zaltar Danuarta, Dragon Head triad paling berkuasa di Negeri Karn. ​Tenggelam dalam ingatan pahit serta takdir Zaltar yang berakhir konyol, Altar berpikir bahwa zaman yang buruk ini tidak pernah berubah; pengkhianatan selalu menjadi senjata terkejam. Terperangkap dalam tubuh lemah yang tanpa kekuatan kultivasi, Altar berencana untuk menguasai benua sebagai bentuk pembalasan dendam atas semua penghinaan yang ia terima. Kini, ia harus memulai penaklukkannya dari triad Gerbang Bayangan.
Bab 1

"Dewa Pembantaian, Altar! Sebaiknya jangan pernah kau bermimpi untuk melangkah ke alam surgawi sebelum dosa-dosamu tertebus!"

Suara Dewa Langit sebagai Dewa Tertinggi menggelegar seperti guntur.

Sontak setelah itu, dalam sekejap, tubuh Zaltar terpental dan jiwanya dicabut paksa dari tubuh abadi yang ia miliki untuk dibuang ke dunia manusia.

Dewa Pembantaian.

Itulah julukan Altar di zaman kuno.

Dosa-dosa atas ikut campurnya ia terhadap banyaknya pertempuran berdarah di dunia manusia menjadi alasan para dewa menjatuhkan hukuman.

Padahal Altar telah memohon banding, memohon kesempatan kedua. Namun bagi para dewa, itu hanya sandiwara murahan yang ia mainkan.

Oleh karena itu, tanpa belas kasih, belasan dewa menyegel tubuh kekalnya dan mengusir jiwanya ke dunia manusia, memaksanya hidup dalam tubuh fana di era modern.

***

Benua Umbra. Negeri Karn.

Altar membuka mata, lalu perlahan duduk sambil menatap sekeliling.

Belum sempat dia mencari tahu di mana dirinya terdampar, rasa nyeri tiba-tiba menyambar dari kepala hingga ke seluruh tubuh, membuat napasnya tercekat.

Pada detik yang sama, ingatan pemilik tubuh asli menghantam benaknya seperti gelombang pasang, memaksanya menerima semuanya tanpa pilihan.

Dia mengerutkan kening, ekspresinya menggelap.

Menjengkelkan. Benar-benar menjengkelkan.

Dia adalah Dewa Pembantaian, bagaimana bisa dia merasuki tubuh fana yang bahkan lebih lemah dari serangga peliharaannya?!

Pemilik tubuh ini bernama Zaltar Danuarta, adalah manusia yang memiliki nama yang hampir sama dengannya.

Di kehidupannya yang lalu, dia adalah Dragon Head triad Gerbang Bayangan, sosok yang disegani dan menguasai Negeri Karn di balik bayangan.

Namun karena satu kelengahan bodoh, dia terjebak dalam siasat kotor dan berakhir tenggelam di laut bahkan sebelum memulai pertarungan. Itu adalah kematian yang sangat konyol.

Mengetahui itu, dia hampir ingin menyemburkan darah saking kesalnya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin Triad bisa dijebak sebegitu mudah?

Altar mengusap wajahnya—atau lebih tepatnya, wajah Zaltar sebelum mendengus.

"Sialan. Lemah. Rapuh. Bikin mood jelek," gumamnya.

Dia kemudian merasakan hampa, karena di dalam tubuh manusia fana yang ringkih ini, saluran spiritualnya sepi, sunyi dan tak berdaya.

Ternyata, tak hanya membuangnya ke tubuh lain, Dewa Langit bangsat itu juga mengambil semua energinya!

Saat dia memaksakan diri untuk berdiri, suara seorang pria tua memasuki pendengarannya:

"Sudah lebih dari dua hari kamu tidak sadarkan diri. Lebih baik kamu beristirahat sampai pagi."

Kakek itu lantas memberikannya secangkir air yang langsung dia terima tanpa merasa sungkan.

Altar menggenggam gelas kecil itu sambil melihat pantulannya yang asing.

Sedetik kemudian… PRANG!!!

Dengan sengaja Altar menjatuhkan gelas itu dan mulai tertawa, "Hahaha, lucu sekali!"

"Pada akhirnya zaman ini dan zaman kuno tidak ada bedanya. Bahkan kami berdua memiliki nasib serupa," tuturnya.

Altar menggerutu saat mengingat taruhan yang dilakukan oleh Dewa Waktu dan Dewa Langit pada benuanya.

Sudah lebih dari satu hari satu malam dia tidak sadarkan diri. Sekarang langit sudah kembali gelap dengan hari yang sudah berganti.

Setelah sedikit memahami situasinya yang rumit, dia termenung diam dengan kepala tertunduk sampai suara langkah kaki yang mendekat kembali menyadarkannya.

"Aku sama sekali tidak memahami situasimu, tapi apa pun yang terjadi aku berharap kamu bisa secepatnya pulih," ucap kakek itu.

"Memangnya kau tahu siapa aku?" Dengan penuh kesombongan dia sengaja mengetesnya dengan pertanyaan.

Lalu kakek itu menjawab sambil tersenyum, "Tentu saja kamu adalah Zaltar, Dragon Head dari triad Gerbang Bayangan."

Keningnya makin mengerut saat mendengar jawaban tersebut. Lantas menyahut, "Sok tahu sekali dirimu!"

Di dalam pikirannya, hanya terdapat memori atau kenangan pahit yang begitu menyayat hati, terasa sangat sakit seperti dihujam oleh pedang. Jantung berdebar keras tak wajar seolah baru saja meminum sebuah racun. Ini bukan karena sakit akibat luka bakar di tubuhnya, tetapi karena hal lain.

"Apa yang terjadi pada jiwa busuk fana ini?" Dia mendekapkan tangan ke dada untuk menahan gelombang rasa sakit emosional yang aneh. "Empati? Perasaan menjijikkan yang sebelumnya tidak pernah aku miliki," batinnya mendesis, mengutuk sisa-sisa kemanusiaan Zaltar yang menjangkiti dirinya.

"Hei, apa kau melihat seseorang yang lain di dekat lautan itu?"

"Tidak ada. Aku secara kebetulan melihat lalu menyelamatkanmu saat itu," jawab si kakek.

Dia pun segera melepas satu persatu perban yang membebat tubuhnya itu termasuk di bagian wajah. Terlihat sangat jelas luka bakar itu nampak sangat buruk baginya.

"Jika aku masih bisa menggunakan kekuatanku, maka luka seperti ini akan pulih dengan cepat. Namun, sekarang aku bukanlah siapa-siapa selain manusia fana yang bernama Zaltar," akunya.

Benar, sekarang dia adalah Zaltar. Bukan, Altar lagi.

"Kamu bilang apa barusan?"

"Tidak ada." Dewa itu berbalik, melangkah ke pintu tanpa menoleh ke belakang. Dia pergi.

Malam ini belum terlalu larut, Zaltar atau lebih tepatnya sang dewa berencana untuk pergi ke salah satu tempat yang diketahui oleh si pemilik tubuh ini—Zaltar.

Di dalam ingatannya, terdapat sebuah gedung tinggi dan puluhan ruangan yang mewah. Namun, sayangnya sang dewa justru tersesat.

Di suatu sudut kota Bulan, bagian tenggara. Sosok yang dulunya adalah Dewa, kini berdiri telanjang dada, luka bakarnya terlihat menonjol dan mengerikan. Dia menatap kebingungan di jalanan, merasakan kehinaan.

Sadar ada seseorang di dalam gang kecil yang berada tepat di sampingnya, Zaltar pun menoleh.

"HANTU!!" Secara spontan, dua pria di sana langsung berteriak, mata mereka terbelalak melihat penampilan mengerikan itu.

Dengan langkah cepat Zaltar menghampiri mereka. Dia mencengkeram kerah kedua pria itu sambil menatapnya tajam.

Kemudian bertanya, "Di mana tempat yang disebut Gerbang Bayangan?" Suara berat dan seraknya menambah kengerian. Kedua pria itu langsung pingsan, tak mampu menahan intimidasi dari sosok yang mereka sangka adalah hantu yang terbakar.

Merasa sangat kesal, dia segera mengambil tindakan kasar dengan membanting tubuh mereka berdua ke jalanan hingga mereka pun terpaksa bangun dalam kondisi sangat terkejut.

"Di mana tempat Gerbang Bayangan berada?" Sekali lagi dia mengulangi pertanyaannya.

Dua saudara kembar itu saling berpelukan dengan penuh ketakutan.

"Markas utama Gerbang Bayangan adalah kota ini," jawab mereka bersamaan hingga suaranya pun gemetar.

Lelaki kembar yang bernama Rio dan Tio ini mengatakan bahwa kota Bulan adalah markas utama Gerbang Bayangan yang berarti kota ini adalah salah satu kekuasaan yang dimiliki oleh Zaltar.

"Kalau begitu di mana rumah Zaltar?"

"Rumah? Di-dia tidak pernah mengatakan di mana rumahnya. Ha-hanya saja ada satu gedung pencakar langit yang sering dikunjungi oleh bos Zaltar," ungkap Rio tergagap. Nyaris saja kandung kemihnya bocor.

"Oh, tunjukkan di mana itu."

Mereka berdua lekas menuruti permintaannya. Sampailah mereka di depan sebuah gedung Skyfall. Terdapat dua penjaga bertubuh kekar yang sempat menghalanginya, tetapi Rio dan Tio dengan sigap menahan dua penjaga itu walaupun secara susah payah.

Rio dan Tio melakukan itu bukan secara sukarela melainkan karena tidak ingin menanggung apa akibatnya bila melawan orang yang mereka takuti itu.

***

Kota Bulan, wilayah bagian utara. Di sebuah pondok kecil.

"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan mayat orang itu?!" teriak Lawrence memprotes ketidakbecusan bawahannya. Dia menggebrak meja dengan kasar, tatapannya yang tajam membuat semua orang di dalam pondok itu tidak berani angkat bicara lagi.

"Tuan Lawrence! Ada berita dari gedung Skyfall!" Seorang pria berjas hitam datang dari luar pondok.

"Kali ini apa lagi?!" Lawrence menyahutnya kasar sambil memelototi orang itu.

"Se-seorang pria dengan luka bakar muncul dan memaksa masuk ke gedung bahkan ke dalam ruangan bos," jawabnya dengan sedikit tergagap.

Lawrence mengerutkan kening. Dia cukup terkejut karena mendapati berita buruk secara beruntun pada malam ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca