Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Niskala: Segel Merah di Tanah Jawa

Niskala: Segel Merah di Tanah Jawa

Manhattan Cafe | Bersambung
Jumlah kata
50.9K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Niskala: Segel Merah di Tanah Jawa
Niskala: Segel Merah di Tanah Jawa

Niskala: Segel Merah di Tanah Jawa

Manhattan Cafe| Bersambung
Jumlah Kata
50.9K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
PerkotaanAksiMonsterDunia GaibSpiritual
Di balik gemerlap lampu neon Jakarta dan deru mesin kemacetan, terdapat dunia yang disebut Niskala—sebuah dimensi paralel yang dihuni oleh "Kutukan". Kutukan ini bukan hantu biasa; mereka adalah manifestasi dari emosi negatif, dendam, dan mitos urban yang mengakar kuat di tanah Nusantara. Selama berabad-abad, keberadaan mereka ditekan oleh para praktisi kebatinan yang kini bergerak di bawah bayang-bayang organisasi rahasia pemerintah bernama Biro Pusat Metafisika (BPM). ​Bimo Kusuma, seorang mahasiswa teknik tingkat akhir yang hanya ingin lulus dan mendapat pekerjaan stabil, mendapati dunianya hancur saat ia selamat dari sebuah kecelakaan maut yang mustahil. Kecelakaan itu memicu bangkitnya "Mata Kesadaran" dan melepaskan segel pada kalung peninggalan kakeknya—sebuah wadah bagi Jagad, roh prajurit kuno yang arogan namun sakti. ​ Kini, Bimo tidak hanya harus berurusan dengan revisi skripsi yang menumpuk, tetapi juga dengan teror Genderuwo Kelas Tinggi di lorong kampus, persaingan berdarah antar klan pemilik pusaka, serta kehadiran gadis-gadis pengguna ilmu kanuragan yang mulai memasuki hidupnya dengan berbagai kepentingan. ​Dalam perjalanannya mencari 7 Pecahan Keris Niskala, Bimo menyadari bahwa batas antara kebaikan dan kejahatan di dunia mistis Indonesia tidaklah hitam-putih. Di antara aksi pertarungan yang memacu adrenalin dan momen-momen hangat di warung kopi pinggir jalan, Bimo harus memilih: menjadi mangsa dari takdirnya, atau berdiri sebagai puncak kekuasaan yang mengatur keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib Nusantara.
Bab 1: Sisa Kopi dan Bau Melati

​Jakarta di bulan Oktober adalah perpaduan antara aspal yang membara dan polusi yang seolah bisa dikunyah.

Bagi Bimo Kusuma, kota ini tidak lebih dari sekadar labirin beton yang menuntut biaya sewa kos tepat waktu.

Duduk di sudut kantin teknik yang hampir kosong, Bimo menatap nanar pada dasar gelas plastiknya.

Di sana hanya tersisa ampas kopi hitam—jenis kopi murah yang rasanya lebih mirip tanah sengketa daripada kafein.

​"Kalau sampai skripsi ini nggak kelar bulan depan, fiks, gue jadi tumbal proyek MRT aja," gumamnya serak.

​Bimo mengusap wajahnya yang kuyu. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 22.15 WIB. Kampus sudah sepi.

Hanya ada satu-dua mahasiswa abadi yang masih mendekam di lab, atau mereka yang memang tidak punya tempat pulang.

Bimo bangkit, menyampirkan tas ranselnya yang terasa seberat beban hidup, lalu melangkah menuju parkiran gedung belakang yang terkenal memiliki penerangan paling pelit se-fakultas.

​Langkah kakinya bergema di selasar yang lembap. Angin malam berembus, namun tidak membawa kesegaran.

Sebaliknya, udara terasa pekat, seolah-olah ia sedang berjalan menembus lapisan jelly yang tak kasat mata. Bimo berhenti sejenak.

Hidungnya menangkap sesuatu yang janggal.

​Di tengah aroma knalpot dan debu yang biasa, terselip sebuah ambu—aroma—yang sangat tajam. Bau bunga melati.

Namun, ini bukan melati pengantin yang segar. Ini adalah bau melati yang sudah membusuk di atas nisan, bercampur dengan anyir besi yang berkarat.

​"Siapa sih yang pakai parfum begini malam-malam? Selera mistis banget," gerutu Bimo, mencoba memaksakan humor untuk menutupi bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang

​Ia terus berjalan menuju motor bebek tuanya yang terparkir sendirian di bawah pohon angsana.

Namun, saat ia merogoh saku untuk mengambil kunci, gerakannya membeku. Di pantulan kaca spion motornya, Bimo melihat sesuatu di belakang bahunya.

​Bukan manusia.

​Itu adalah sesosok figur yang tinggi menjulang, hampir mencapai tiga meter.

Kulitnya berwarna abu-abu pucat dengan tekstur seperti kulit pohon yang mengelupas.

Makhluk itu tidak memiliki wajah yang simetris; hanya ada satu lubang besar di tengah yang terus-menerus meneteskan cairan kental berwarna hitam.

Yang paling mengerikan adalah lengannya yang panjang hingga menyentuh aspal, dengan kuku-kuku yang tampak seperti bilah keris berkarat.

​Bimo memejamkan mata rapat-rapat. 'Gue cuma halusinasi. Ini pasti efek kurang tidur dan kebanyakan asupan sianida di kopi tadi,' batinnya meyakinkan diri.

​Ia menghitung sampai tiga, lalu membuka mata. Makhluk itu masih di sana. Bahkan sekarang, lubang di wajahnya itu mengeluarkan suara—sebuah desisan yang terdengar seperti ribuan serangga yang merayap di dalam dinding.

​"Lapar... dingin..."

​Suara itu tidak datang dari telinga Bimo, melainkan langsung bergema di dalam batok kepalanya.

Ini bukan sekadar penampakan. Ini adalah Niskala yang bermanifestasi atau sedang muncul ke permukaan.

​Tiba-tiba, suhu di parkiran itu turun drastis. Napas Bimo berubah menjadi uap putih.

Makhluk itu mengangkat lengannya yang panjang, bersiap untuk merobek punggung Bimo.

Di saat genting itu, sebuah getaran hebat muncul dari balik kaos oblong Bimo.

Kalung warisan mendiang kakeknya—sebuah lempengan logam usang dengan ukiran sungsang yang selama ini dianggapnya sebagai barang rongsokan—mendadak terasa membara.

​"Bocah bodoh! Kalau mau mati jangan di tempat sampah begini! Mengotori harga diri garis keturunan saja!"

​Sebuah suara bariton yang dalam dan penuh keangkuhan meledak di pikiran Bimo.

Bersamaan dengan itu, sebuah kekuatan asing menyentak jantung Bimo, memaksanya untuk melompat ke samping tepat saat kuku makhluk itu menghujam aspal hingga retak.

​Bimo terguling, debu parkiran memenuhi mulutnya.

"Siapa... siapa itu?" teriaknya panik.

​"Fokus pada Pamor-mu, Bimo! Makhluk ini hanyalah ampas emosi dari mahasiswa yang gagal ujian. Jangan biarkan dia menelan Hawa Murni-mu!" suara itu kembali memerintah.

​Bimo berdiri dengan gemetar. Ia melihat makhluk itu—yang kini ia kenali sebagai sebuah Kutukan—mulai merayap ke arahnya dengan gerakan yang tidak manusiawi.

Di saat itulah, seorang gadis muncul dari balik pilar beton.

​Gadis itu mengenakan jaket hoodie hitam, namun tangannya memegang seuntai tasbih yang terbuat dari kayu jati tua.

Wajahnya cantik namun jatmika, penuh ketenangan yang tidak selaras dengan usianya.

​"Jangan bergerak, Mahasiswa," ucap gadis itu dingin. Suaranya tegas, seperti perintah seorang jenderal.

​Gadis itu merentalkan kedua tangannya.

"Pagar Ghaib: Baris Songo!"

​Seketika, garis-garis cahaya keemasan muncul di atas aspal, membentuk pola geometris yang mengurung makhluk abu-abu tersebut.

Kutukan itu meraung, suaranya membuat kaca-kaca jendela gedung di dekat mereka bergetar hebat.

​Bimo hanya bisa melongo. Pikirannya yang biasanya logis sebagai mahasiswa teknik mendadak mati total.

"Ini... ini cosplay atau syuting film horor?"

​Gadis itu melirik Bimo dengan tatapan merendahkan.

"Kalau ini film, kamu sudah jadi pemeran figuran yang mati di menit pertama. Menjauh dari sana! Kamu punya Pamor yang terlalu terang, itu sama saja seperti menyalakan lampu neon di depan laron. Kamu mengundang mereka semua!"

​Kutukan itu, yang merasa terdesak, menghantam pagar cahaya itu dengan membabi buta.

Pagar itu mulai retak. Gadis itu tampak berkeringat, napasnya memburu terengah-engah.

Tampaknya, ia meremehkan kekuatan Kutukan yang lahir di lingkungan penuh tekanan mental seperti kampus ini.

​"Sial, ini bukan kelas teri. Ini sudah masuk tingkat Madya," gumam gadis itu.

​Bimo merasa kalungnya semakin panas, seolah-olah logam itu ingin menyatu dengan kulit dadanya. Suara bariton di kepalanya tertawa mengejek.

"Gadis kecil itu mencoba menahan bendungan dengan lidi. Hei, bocah. Mau meminjam kekuatanku? Bayarannya sederhana... biarkan aku mencicipi sedikit rasa takutmu."

​Bimo menelan ludah. Ia melihat gadis itu terhuyung saat makhluk itu berhasil memecahkan pagar gaib dan melompat menerjang.

Tanpa berpikir panjang, didorong oleh insting bertahan hidup yang primordial, Bimo berlari ke arah gadis itu.

​"Woy, awas!"

​Bimo memeluk bahu gadis itu dan menggulingkan mereka berdua tepat saat serangan Kutukan itu menghantam pilar beton hingga hancur berkeping-keping.

Mereka jatuh di atas tanah yang keras. Bau harum dari rambut gadis itu—perpaduan antara sampo bayi dan sedikit wangi dupa—sempat singgah di indra penciuman Bimo sebelum rasa sakit di punggungnya mendominasi.

​"Kamu... kamu gila ya?!" teriak gadis itu, wajahnya memerah karena terkejut dan marah.

​"Sama-sama! Tadi itu namanya menyelamatkan nyawa, tahu!" balas Bimo tidak mau kalah, meskipun kakinya masih lemas.

​Makhluk itu kembali berbalik, lubang di wajahnya melebar seolah-olah sedang tersenyum.

Namun, sebelum makhluk itu bisa menyerang lagi, kalung di leher Bimo mengeluarkan cahaya merah redup yang pekat.

Sebuah tekanan udara yang sangat berat mendadak menyelimuti parkiran tersebut, membuat Kutukan itu berhenti bergerak, seolah-olah ia baru saja melihat predator yang jauh lebih tinggi di rantai makanan.

​"Cukup main-mainnya," suara dari kalung itu kini terdengar nyata di udara, bukan lagi di kepala Bimo. "Sudah lama aku tidak mencium bau darah Niskala."

​Bimo menatap tangannya yang mulai diselimuti oleh uap hitam keunguan.

Di saat itulah ia sadar, hidupnya yang membosankan sebagai mahasiswa teknik baru saja berakhir secara tragis, dan digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

​Gadis di sampingnya menatap Bimo dengan mata terbelalak. "Energi itu... kamu... siapa sebenarnya kamu?"

​Bimo menatapnya, lalu menatap makhluk mengerikan di depannya, lalu kembali ke sisa kopi di gelasnya yang kini terjatuh di tanah.

​"Gue? Gue cuma mahasiswa yang telat bayar UKT," jawab Bimo pendek, sesaat sebelum ledakan energi merah menghantam segalanya menjadi gelap.

Lanjut membaca
Lanjut membaca