

Bab 1: Akuisisi
Koridor lantai dua SMA Negeri 45 membentang panjang seperti lorong waktu. Cat dindingnya sudah tidak lagi putih, melainkan abu-abu kusam dengan bekas goresan dan noda yang tidak pernah benar-benar dibersihkan. Jendela-jendela besar di sisi kiri menghadap ke lapangan olahraga, sementara sisi kanan dipenuhi pintu kelas dengan nomor yang mulai pudar. Setiap pagi, koridor itu menjadi jalur utama ribuan langkah, ribuan cerita, dan ribuan keluhan yang tidak pernah tercatat.
Alex berjalan menyusuri koridor itu dengan langkah tenang. Ia tidak terburu-buru. Ia selalu datang lebih awal, bukan karena rajin, tetapi karena ia lebih suka mengamati sekolah sebelum keramaian benar-benar menelan semuanya. Di jam-jam seperti ini, sekolah masih terasa jujur—belum penuh topeng, belum penuh suara palsu.
Ia baru saja melewati papan pengumuman ketika suara itu menghantam telinganya.
“Sekolah kita bakal diakuisisi perusahaan besar!”
Kalimat itu diucapkan dengan nada setengah berteriak, penuh sensasi, seperti seseorang yang baru saja menemukan rahasia besar dan tidak sabar menyebarkannya. Alex berhenti. Langkahnya terputus di tengah koridor, sementara arus siswa lain terus bergerak di sekelilingnya.
*Diakuisisi.*
Kata itu terasa asing di tempat ini. Terlalu dewasa. Terlalu dingin.
Alex menoleh ke arah suara. Seorang siswa berdiri di dekat tangga darurat, dikelilingi beberapa temannya. Wajah mereka bersinar, campuran antara penasaran dan kegembiraan.
“Serius?”
“Iya, bokap gue kerja di properti.”
“Katanya tanah sekolah ini mahal banget.”
“Wah, berarti sekolah kita bakal naik kelas!”
Alex tidak ikut mendekat. Ia berdiri beberapa langkah di belakang, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak terlibat. Di kepalanya, kata itu terus bergema. Akuisisi bukan sekadar kerja sama. Akuisisi berarti pengambilalihan. Berarti ada yang kehilangan kendali.
Ia melanjutkan berjalan menuju kelas. Namun, sesuatu telah berubah. Koridor yang biasa terasa netral kini terasa seperti ruang yang sedang diukur, dihitung, dan dinilai. Setiap dinding, setiap jendela, setiap sudut terasa seperti angka dalam laporan keuangan.
Di dalam kelas, pelajaran berlangsung seperti biasa. Guru menjelaskan, spidol menari di papan tulis, dan siswa mencatat setengah hati. Alex duduk di bangku belakang, memandang lurus ke depan, tapi pikirannya melayang.
Ia teringat percakapan ayahnya di rumah. Tentang perusahaan kecil yang dibeli perusahaan besar. Tentang janji efisiensi dan kemajuan. Tentang karyawan lama yang akhirnya tersingkir satu per satu. Semua dibungkus dengan kata *perubahan*.
Bel istirahat berbunyi. Alex langsung berdiri. Ia tidak menuju kantin, tidak mengikuti teman-temannya. Kakinya bergerak otomatis menuju perpustakaan.
Perpustakaan sekolah adalah ruang yang nyaris terlupakan. Rak-rak tinggi berisi buku lama, sebagian sampulnya menguning. Bau kertas tua bercampur dengan pendingin ruangan yang berdengung pelan. Alex duduk di depan komputer tua di pojok ruangan dan menyalakannya dengan sabar.
Ia mengetik nama sekolahnya.
Lalu menambahkan kata: *akuisisi*.
Hasil pencarian muncul perlahan. Artikel berita lokal. Forum diskusi. Potongan laporan investasi. Alex membuka satu per satu.
Judul-judulnya membuat tenggorokannya kering.
*“Sekolah Negeri di Pusat Kota Masuk Radar Investor”*
*“Pendidikan sebagai Aset: Model Baru Pengelolaan Sekolah”*
Ia membaca dengan saksama. Dari artikel-artikel itu, gambaran besar mulai terbentuk. Lokasi SMA Negeri 45 dianggap terlalu strategis untuk dibiarkan “tidak produktif”. Lahan luas di tengah kota. Akses jalan utama. Dekat pusat bisnis. Semua itu adalah daya tarik besar bagi perusahaan.
Dua perusahaan sedang bersaing.
Yang pertama adalah perusahaan properti raksasa. Mereka ingin membangun pusat bisnis pendidikan: gedung bertingkat, ruang konferensi, parkir luas, dan fasilitas komersial.
Yang kedua adalah perusahaan teknologi pendidikan. Mereka ingin menjadikan sekolah sebagai percontohan sekolah industri: kurikulum diarahkan ke pasar kerja, kerja sama langsung dengan korporasi, dan sistem berbasis keuntungan.
Alex terus membaca sampai menemukan bagian yang membuat tangannya mengepal.
Lapangan olahraga akan dialihfungsikan.
Program seni akan dikurangi karena “tidak memiliki nilai ekonomi langsung”.
Sekolah akan dikelola dengan prinsip efisiensi dan profitabilitas.
Ia menutup layar perlahan.
Lapangan olahraga. Tempat siswa tertawa tanpa memikirkan nilai. Tempat pelarian dari tekanan. Program seni. Tempat beberapa siswa bertahan hidup secara mental.
Semua itu kini hanya dianggap *beban*.
Saat Alex kembali ke kelas, suasana telah berubah drastis. Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Beberapa siswa terlihat antusias, membicarakan gedung baru dan fasilitas modern. Yang lain terlihat bingung dan takut.
Nara duduk dengan punggung tegang. Matanya menatap kosong ke depan.
“Kamu sudah tahu semuanya?” tanyanya pelan saat Alex duduk.
Alex mengangguk. “Ruang seni akan dipangkas.”
Nara menunduk. Tangannya mengepal di atas meja. “Kalau itu hilang… aku nggak tahu harus ke mana lagi.”
Guru masuk, tapi kelas sulit dikendalikan. Fokus siswa terpecah. Bahkan guru tampak gelisah, seolah ia sendiri baru mengetahui bahwa tempat ia mengajar sedang dipertaruhkan.
Di bangku depan, Raka tertawa kecil. “Ini zaman modern,” katanya santai. “Sekolah juga harus ikut pasar.”
Alex mendengar kalimat itu dengan jelas. Ia menatap punggung Raka dan merasakan kemarahan yang sunyi. Pasar tidak pernah peduli pada siapa yang tertinggal.
Sepulang sekolah, Alex berjalan ke lapangan olahraga. Matahari sore menggantung rendah, memantulkan cahaya jingga di gedung-gedung kota. Beberapa siswa masih bermain basket. Tawa mereka menggema, bebas, tanpa beban.
Alex duduk di bangku panjang di pinggir lapangan. Catnya mengelupas, kayunya retak, tapi bangku itu penuh kenangan. Ia mengeluarkan buku catatan kecil dan mulai menulis.
Ia menulis tentang sekolah sebagai ruang hidup.
Ia menulis tentang siswa sebagai manusia, bukan aset.
Ia menulis tentang perusahaan yang melihat masa depan sebagai grafik.
Semakin ia menulis, semakin jelas satu hal: keputusan ini dibuat tanpa siswa. Tanpa suara mereka yang menghabiskan hidupnya di sini.
Jika sekolah menjadi bisnis, maka siswa hanyalah komponen.
Alex menutup buku catatannya. Langit mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu. Ia berdiri dan menatap lapangan itu lama, mencoba menghafal setiap detailnya.
Ia tidak tahu bagaimana caranya melawan. Ia bukan siapa-siapa. Tapi ia tahu satu hal yang lebih penting daripada kekuasaan.
Jika ia diam, sekolah ini akan hilang sebelum ada yang sempat membelanya.
Hari itu, di bawah langit kota yang semakin gelap, Alex membuat keputusan.
Akuisisi ini tidak boleh terjadi tanpa perlawanan.
Dan inilah awalnya.
Angin wa sore bertiup pelan. Alex menatap lapangan itu lama, mencoba mengingat setiap detail—garis lapangan, ring basket yang sedikit miring, suara tawa yang menggema.
Ia sadar, jika ia diam, semuanya akan berjalan tanpa perlawanan.
Alex menutup buku catatannya. Dadanya terasa berat, tapi pikirannya jernih. Ia tidak tahu bagaimana caranya melawan keputusan besar ini. Ia bukan siapa-siapa. Tapi ia tahu satu hal: jika tidak ada yang mulai, maka tidak akan ada yang berubah.
Hari itu, di bawah langit kota yang perlahan gelap, Alex mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya dan sekolahnya.
Akuisisi ini bukan akhir.
Ini adalah awal.