

Hujan turun sejak sore dan tak menunjukkan tanda akan berhenti. Kota tenggelam dalam cahaya lampu yang memantul di aspal basah, menciptakan kilau dingin yang menipu mata. Di atas gedung parkir bertingkat, seorang pria berdiri diam, nyaris menyatu dengan malam. Jaket hitamnya basah, rambutnya lepek, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh perhitungan.
Namanya Raka Pratama.
Nama itu pernah tercatat sebagai prajurit terbaik. Kini, ia hanyalah kesalahan yang sengaja dihapus.
Ia berlutut perlahan, membuka tas kecil di sampingnya, memastikan setiap peralatan berada di tempatnya. Senapan laras panjang terpasang dengan peredam suara. Satu peluru di kamar, tiga di magazen. Cukup. Raka tak pernah membawa lebih dari yang ia butuhkan. Setiap peluru memiliki tujuan, dan setiap tujuan membawa konsekuensi.
Dari balik teropong, ia mengamati pintu masuk hotel mewah di seberang jalan. Bangunan itu berdiri angkuh, seolah kebal terhadap dosa-dosa yang kerap berlangsung di dalamnya. Di sanalah targetnya berada—seorang pejabat yang pernah berdiri di belakang meja rapat, berbicara tentang patriotisme, sambil menjual nyawa anak buahnya demi menjaga jabatan.
Ingatan Raka melayang ke malam tiga tahun lalu. Operasi yang seharusnya bersih berubah menjadi jebakan. Perintah berubah di menit terakhir. Jalur evakuasi ditutup. Komunikasi diputus. Satu per satu rekan-rekannya gugur, sementara ia lolos dengan tubuh penuh luka dan hati yang hancur. Keesokan harinya, media menyebut mereka tewas akibat kesalahan prosedur. Nama Raka dicantumkan sebagai tersangka utama.
Sejak itu, ia belajar satu hal: kebenaran tidak selalu diselamatkan oleh hukum.
Pintu hotel terbuka. Target muncul. Tubuhnya gempal, wajahnya santai, seolah dunia tak pernah menuntut pertanggungjawaban darinya. Raka menahan napas, menyesuaikan bidikan. Dalam sepersekian detik, ia ragu. Bukan karena takut, tetapi karena lelah. Lelah menjadi bayangan. Lelah menanggung dosa yang seharusnya bukan miliknya.
Namun wajah rekan-rekannya kembali terlintas.
Pelatuk ditekan.
Suara letusan teredam hujan. Kaca pecah. Tubuh itu tersentak lalu roboh. Teriakan pecah di sekitar hotel. Pengawal berlarian. Lampu-lampu menyala panik. Namun Raka sudah bergerak, membongkar senapan, menyimpannya kembali, lalu berlari menuruni tangga darurat.
Di lantai bawah, dua pria bersenjata muncul dari balik mobil. Raka tak memberi waktu. Ia menghantam pergelangan tangan yang pertama, menjatuhkan pistolnya, lalu menendang lutut yang kedua hingga terdengar bunyi retakan. Gerakannya cepat, senyap, dan kejam—bukan karena kebencian, melainkan karena keharusan.
Ia menghilang ke gang sempit, napasnya berat. Di sana, ia berhenti, bersandar pada dinding lembap. Tangannya bergetar hebat. Raka memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengucap istigfar lirih. Ia tahu, setiap langkah yang ia ambil semakin menjauhkannya dari ampunan—atau justru mendekatkannya pada kebenaran yang sesungguhnya.
“Ya Allah,” bisiknya, hampir tak terdengar oleh hujan, “jika Engkau murka, aku terima. Tapi jangan biarkan kebatilan menang tanpa perlawanan.”
Sirene mulai mendekat. Raka membuka matanya. Wajahnya kembali dingin, keras, dan tak terbaca. Ia menarik tudung kepalanya, lalu melangkah pergi, menyatu dengan kota yang tak pernah peduli siapa yang benar dan siapa yang salah.
Di balik jendela gedung tinggi, seseorang mengamati rekaman kamera pengawas. Pria itu tersenyum tipis. Ia mengenal gaya bergerak itu. Ia mengenal bayangan itu.
“Raka Pratama,” gumamnya.
“Kau ternyata masih hidup.”
Dan malam itu, permainan lama yang belum selesai kembali dimulai.
Raka tiba di tempat persembunyiannya menjelang subuh. Sebuah rumah tua di pinggir kota, nyaris roboh, terlupakan oleh pembangunan dan ingatan manusia. Ia menyukai tempat itu justru karena kesunyiannya. Tak ada tetangga yang peduli, tak ada kamera yang bekerja, dan tak ada doa yang dilantunkan—kecuali doa-doa sunyi dari seorang pria yang mencoba bertahan.
Ia menutup pintu perlahan, melepaskan jaket basahnya, lalu duduk di kursi kayu yang sudah rapuh. Lampu redup menyala. Di dinding, tergantung foto lama: tujuh pria berseragam tempur, berdiri dengan senyum tipis, penuh keyakinan. Raka berdiri di tengah.
Enam di antaranya telah mati.
Raka menatap foto itu lama. Dadanya terasa sesak, seperti dihimpit beban yang tak pernah benar-benar pergi. Ia meraih botol air, membasuh wajahnya, lalu menunaikan salat dengan gerakan pelan dan tertib. Di setiap sujudnya, ia berusaha menyerahkan beban yang tak sanggup lagi ia pikul sendiri.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Ponsel hitam di meja bergetar. Nomor tak dikenal.
Raka menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanyanya dingin.
Suara di seberang sana tenang, nyaris santai.
“Kau membuat keributan besar malam ini.”
Raka berdiri. Tangannya refleks mendekati senjata di pinggang.
“Siapa kau?”
Sebuah tawa pendek terdengar.
“Seseorang yang dulu percaya kau mati. Dan seseorang yang kini tahu… kita punya musuh yang sama.”
Raka terdiam. Ada sesuatu dalam suara itu—terlalu familiar.
“Bicara terus,” katanya.
“Targetmu hanyalah pion,” lanjut suara itu. “Kematian pejabat itu tak akan menghentikan permainan. Justru sekarang, mereka akan bergerak lebih cepat.”
Raka menutup matanya sesaat. Ia sudah menduga.
“Jika kau tahu sebanyak itu,” ucapnya, “kenapa baru sekarang muncul?”
Hening beberapa detik.
“Karena sekarang mereka juga tahu kau masih hidup.”
Sambungan terputus.
Raka menurunkan ponselnya perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar terancam. Bukan oleh senjata, bukan oleh aparat, tetapi oleh fakta bahwa bayangan yang ia jalani mulai terlihat oleh terlalu banyak mata.
Ia membuka laptop tua di sudut ruangan, menyalakan jaringan terenkripsi, dan mulai memeriksa berita. Wajah targetnya terpampang di layar, diberi judul “Pejabat Tewas dalam Dugaan Serangan Teroris.”
Raka tersenyum pahit.
Selalu teroris. Selalu kambing hitam.
Namun di bagian bawah layar, sebuah berita kecil menarik perhatiannya: satu saksi hilang, seorang mantan analis intelijen yang pernah terlibat dalam operasi tiga tahun lalu. Nama itu membuat jantung Raka berdetak lebih cepat.
Alya Nirmala.
Perempuan itu satu-satunya yang pernah berani mempertanyakan laporan resmi. Satu-satunya yang mencoba mencari kebenaran sebelum tiba-tiba menghilang.
“Jadi kau masih hidup juga,” gumam Raka.
Ia menutup laptop, mengemasi perlengkapan, dan mengenakan jaketnya kembali. Malam mungkin telah berlalu, tetapi perburuan belum selesai. Kali ini, bukan hanya tentang balas dendam. Ini tentang menghentikan lingkaran kebohongan sebelum menelan lebih banyak nyawa.
Raka melangkah keluar rumah tua itu saat matahari mulai naik. Di wajahnya tak ada lagi keraguan—hanya tekad yang mengeras.
Ia bukan lagi sekadar bayangan.
Ia adalah saksi yang kembali.
Dan kebenaran, cepat atau lambat, akan dipaksa keluar dari persembunyiannya.
Raka tiba di Jakarta sebelum malam benar-benar turun. Kota ini tak banyak berubah—tetap bising, tetap penuh lampu, tetap menyimpan rahasia di balik gedung-gedung tinggi. Namun baginya, Jakarta selalu terasa seperti medan perang yang belum pernah benar-benar ditinggalkan.
Ia menyewa motor tua, mengenakan helm kusam, dan menyusuri jalanan tanpa tujuan mencolok. Nama Alya Nirmala terus terngiang di kepalanya. Dulu, perempuan itu dikenal sebagai analis intelijen yang terlalu jujur. Terlalu banyak bertanya. Terlalu berani menentang laporan resmi. Dan di dunia tempat Raka pernah hidup, sifat-sifat itu adalah tiket menuju penghilangan.
Menurut informasi terakhir, Alya terlihat di kawasan Pelabuhan Tua—wilayah kumuh yang jarang dijamah aparat, tapi sering digunakan sebagai titik transit orang-orang yang ingin lenyap dari peta.
Raka memarkir motor di gang sempit, lalu berjalan kaki. Bau laut bercampur sampah menusuk hidung. Lampu-lampu redup bergoyang tertiup angin. Nalurinya berteriak—ia tidak sendirian.
Sebuah suara langkah terdengar di belakangnya.
Raka berbalik cepat.
“Jangan bergerak.”
Seorang perempuan berdiri sekitar lima meter darinya, pistol kecil terarah tepat ke dadanya. Tudung jaket menutupi sebagian wajahnya, tapi mata itu—Raka mengenalnya.
“Alya,” ucap Raka pelan.
Perempuan itu terkejut sesaat, namun senjatanya tak turun.
“Kau seharusnya mati,” katanya dingin.
“Begitu juga kau,” jawab Raka.
Hening menegang di antara mereka. Angin membawa suara ombak yang menghantam dermaga. Akhirnya, Alya menurunkan pistolnya sedikit, meski jarinya masih di pelatuk.
“Mereka memburumu,” katanya. “Setelah kejadian di hotel, semua nama lama dibuka. Termasuk aku.”
“Siapa ‘mereka’?” tanya Raka.
Alya tertawa pahit.
“Orang-orang yang dulu kau lindungi. Orang-orang yang bersumpah demi negara.”
Sebelum Raka sempat bertanya lagi, suara mesin mendekat. Lampu mobil menyapu dermaga.
“Berlari,” desis Alya.
Terlambat.
Tiga pria turun dari mobil hitam. Senjata terangkat. Tanpa aba-aba, tembakan dilepaskan. Raka menarik Alya ke balik kontainer besi. Peluru menghantam logam, memekakkan telinga.
“Kau bawa masalah ke mana-mana,” teriak Alya.
“Dan kau masih berdiri di dekatku,” balas Raka sambil tersenyum tipis.
Ia mengintip celah, menghitung gerakan musuh. Dua di kiri, satu di kanan. Raka mengambil batu kecil, melemparkannya ke arah berlawanan. Saat perhatian teralihkan, ia bergerak cepat—satu tembakan ke bahu, satu hantaman ke rahang, dan satu pria terakhir tumbang setelah Raka menyergapnya dari belakang.
Hening kembali menyelimuti dermaga.
Alya menatap Raka dengan napas terengah.
“Kau masih sama,” katanya pelan. “Selalu melangkah ke api.”
Raka menatap mayat di tanah, lalu menoleh padanya.
“Dan kau masih mencari kebenaran, meski tahu harganya.”
Alya mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku jaketnya.
“Ini semua data operasi itu. Perintah asli. Nama-nama di atasnya. Jika ini sampai ke publik… negara akan gemetar.”
Raka menerima flashdisk itu dengan tangan berat.
“Kenapa kau memberikannya padaku?”
Alya menatapnya lama.
“Karena kau satu-satunya yang masih hidup… dan cukup gila untuk menyelesaikannya.”
Sirene terdengar dari kejauhan.
Raka mengangguk pelan.
“Kalau begitu, kita tidak punya banyak waktu.”
Mereka berlari meninggalkan dermaga, menyatu dengan gelap. Di belakang mereka, kekuatan besar mulai bergerak. Dan di tangan Raka kini tersimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada peluru—kebenaran.
Perang ini tak lagi tentang masa lalu.
Ini tentang masa depan yang belum sempat diselamatkan.