Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Umbrella Murders

The Umbrella Murders

R. Ryuna | Bersambung
Jumlah kata
59.1K
Popular
163
Subscribe
51
Novel / The Umbrella Murders
The Umbrella Murders

The Umbrella Murders

R. Ryuna| Bersambung
Jumlah Kata
59.1K
Popular
163
Subscribe
51
Sinopsis
18+PerkotaanAksiDetektifThrillerPsikopat
Setelah gagal menjadi anggota kepolisian, Evan Narendra memutuskan untuk membuka kantor detektif swasta dengan fokus menangani kasus-kasus orang hilang. Saat kantornya hampir bangkrut, Mina Humaira datang dengan satu permintaan untuk mencari adiknya yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Kasus yang Evan kira akan sederhana itu, justru menyeretnya pada sesuatu yang jauh lebih besar setelah penemuan mayat dalam wadah dengan payung terbuka menutupinya. Saat pola pembunuhan terulang setiap hujan turun, Evan mulai menyadari sesuatu, bahwa itu bukan sekadar tindakan menghilangkan nyawa, melainkan ada sesuatu yang sedang pelaku cari.
Prolog

07 Desember 2024

Gadis itu berjalan dengan cepat di bawah hujan yang mengguyur. Sesekali dia menoleh ke belakang dengan ekspresi panik masih tercetak di wajahnya. Matanya menatap sekeliling dengan liar.

Tidak ada siapa pun di belakangnya, tapi dia tahu itu hanya kebohongan. Otaknya memerintahkan agar dia berjalan semakin cepat.

Dia berjalan tanpa ketenangan dan menoleh lagi. Kali ini dia melihatnya. Sosok itu sudah berada di belakangnya. Dia terkejar dengan begitu mudah.

Suara jeritannya terdengar tepat beberapa detik sebelum dia memutuskan untuk berlari. Sudah tidak dia pedulikan lagi sandal yang entah terlepas di mana, atau payungnya yang beberapa kali membentur bangunan di sekitar gang sempit yang dia lalui. Napasnya terengah-engah. Dia sudah tidak peduli pada apa pun lagi selain ingin lari dari sosok di belakangnya.

Pikiran gadis itu semakin berkecamuk. Dia harus secepatnya meninggalkan tempat itu. Dia harus secepatnya lolos dari kejaran sosok tadi. Tidak peduli bagaimana pun caranya.

Malam itu hujan turun sangat deras, jalanan sepi, area perumahan tampak hening, bahkan toko-toko sudah tutup. Lebih parah lagi, ponselnya jatuh entah di mana. Semua keadaan ini, seolah-olah mendukung aksi sosok itu.

Dia mulai merutuki keadaan. Merutuki hujan yang turun, serta udara dingin yang membuat orang-orang enggan keluar rumah.

Dia menoleh sekali lagi. Sosok itu entah ada di mana saat ini, tapi dia tahu apa yang diinginkan olehnya. Dia semakin frustrasi. Dia tahu sosok itu selalu ada di belakangnya, mempermainkan kewarasannya.

Setelah pertemuan dan percakapan mereka beberapa menit sebelumnya, yang tidak dia duga akan berakhir seperti ini, dia tahu sedang diburu olehnya. Sosok itu mempermainkannya, membuatnya tidak memiliki waktu untuk merasa tenang. Bahkan tidak memberinya kesempatan selain terus berlari menghindari sosok itu.

Dia ingin bersembunyi, tapi di mana?

Sosok itu pasti akan menemukannya dengan mudah, seperti anjing pemburu yang mengendus bau korbannya. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Dia mulai putus asa. Rasa sesal mulai menggerogoti pikirannya. Dia mulai berandai-andai.

Seandainya dia tidak keluar malam secara diam-diam. Seandainya dia tidak berbohong. Seandainya dia lebih mendengarkan nasihat kakaknya sore itu. Seandainya ponselnya tidak hilang. Seandainya ada seseorang yang bisa dia pintai pertolongan. Seandainya. Seandainya. Seandainya!

Dia semakin lelah. Pikirannya tidak fokus. Dadanya terasa sesak. Air mata membuat penglihatannya buram. Tubuhnya tersandung batu, payungnya terlempar dan dia tersungkur ke tanah.

Suara langkah kaki membuatnya tidak berani mengaduh kesakitan, tubuhnya seolah membeku. Lalu, jerit tangisnya terdengar semakin putus asa saat melihat sosok yang mengejarnya sudah berada tidak jauh darinya.

Di tengah rasa sakit dan ketakutan yang menggerogoti, dia mencoba untuk bangkit, tapi tenaganya mengkhianatinya. Dia ambruk lagi. Kali ini dia mencoba merangkak, menjauhi sosok yang sudah berada tepat di depannya sebisanya.

Dia menatap matanya yang gelap, penuh sesuatu yang tidak dia mengerti. Entah itu kesedihan, kemarahan, kekecewaan, atau mungkin dendam. Semua tampak menyatu, membuatnya mulai memohon ampun.

Sosok itu memosisikan diri agar sejajar dengannya, membuat gadis itu semakin menggigil ketakutan, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Saat sosok itu membelai rambutnya, dia tidak bisa untuk tidak menangis lagi.

“Tolong ... jangan lakukan ini padaku.” Suaranya terdengar sangat lirih di antara riuhnya suara hujan.

Sosok itu menempatkan jari telunjuk di bibirnya, suatu isyarat agar dia diam. Lalu, sosok itu membawanya ke dalam pelukan, mendekapnya dengan begitu erat.

Untuk beberapa detik, gadis itu tidak mencoba untuk berontak. Tidak berani.

Namun itu tidak berlangsung lama. Tepat saat tangan sosok itu melingkar di lehernya, panik kembali menyerangnya.

Dia menggelengkan kepalanya dengan kencang. Tangannya meraih bahu sosok itu. Dia meminta ampun, meminta maaf, dan segala kalimat permohonan dia ucapkan dengan putus asa.

Namun sungguh, hal itu tidak berguna sama sekali. Tidak ada satu pun dari upayanya yang berhasil meluluhkan sosok di depannya. Tidak satu pun!

Sosok itu semakin menekankan tangannya di leher gadis itu, membuatnya semakin meronta dalam kesia-siaan. Lalu di menit-menit berikutnya, tubuh itu terkulai, napasnya terhenti.

Hujan turun semakin deras, udara semakin dingin. Sosok itu menatap payung hitam yang terbuka tidak jauh dari mereka, lalu dia mendekap gadis itu lagi.

Dia mendongak dan mulai memejamkan mata, membiarkan tetes hujan mengenai wajahnya. Ada sesuatu yang ganjil pada ekspresinya itu. Sesuatu yang terlalu gila untuk dikatakan ketenangan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca