

Sinar mentari pagi berhasil menembus dinding kaca kamarku yang tertutupi gorden berwarna silver. Silau cahayanya membuatku terbangun dan menggeliat di ranjang yang cukup besar untuk dua orang dewasa. Dominasi warna abu dan putih terlihat di mana-mana. Mulai dari seprai abu gelap bergaris hitam, karpet abu yang terlihat nyaman dan lemari baju bergaya klasik. Harum musk khas laki-laki memenuhi kamar yang begitu nyaman.
Aku menoleh ke samping, menatap punggung mulus perempuan yang telah dihiasi kissmark hasil karyaku semalam. Ana tertidur membelakangiku. Nafasnya pelan dan teratur. Lalu mataku tertuju pada dasi kerja yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Kain Panjang itu masih hangat di kulit pucatnya. Kubalik tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Dadaku tetiba terasa sesak saat melihat jejak airmata yang mengering di mata sembab dan pipinya. Dengan ragu, aku mengangkat tangan untuk menghapus sisa air mata itu dengan ibu jari.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu,” bisikku, suaraku serak seperti habis berteriak lama.
Aku tertawa karena menyadari bahwa kata-kataku terasa seperti kebohongan, bahkan di telingaku sendiri. Aku terlalu sering menyakitinya. Semalam saja aku kembali tersulut emosi karna mengetahui ia mengemasi pakaian ke dalam koper. Ia ingin pergi dari rumah ini tanpa izinku. Aku yang kalap memaksanya bercinta untuk kesekian kalinya, meski ia memohon dengan airmata…
Bercinta ya? Lebih tepatnya aku memperkosanya...
Aku melihat kembali pergelangan tangannya. Bekas merah tipis melingkar di sana. Jari-jariku gemetar saat menyentuhnya pelan, seperti mencoba menghapus sesuatu yang tidak mungkin hilang dalam sekejap mata. Bekas merah itu seperti menamparku pada sebuah kenyataan bahwa apa yang kulakukan padanya semalam tak bisa dimaafkan.
“Maaf…” kali ini hampir tidak bersuara.
Aku menarik selimut menutupi tubuhnya sampai bahu, lalu berbaring di sampingnya. Tidak menyentuh langsung, namun menyisakan jarak kecil. Memberinya ruang untuk melindungi diriku sendiri dari penolakan saat dia bangun nanti.
Tanganku terulur membelai pipi lalu ke bibir ranumnya yang menjadi candu. Kumajukan wajah hendak memberikan ciuman selamat pagi, namun jarinya bergerak. Lalu nafasnya berubah sedikit lebih dalam. Aku membeku, menyiapkan diri untuk menerima penolakan dan kebencian darinya.
Dan benar saja. Saat matanya terbuka perlahan, ia tersentak dan refleks menjauh dariku. Berusaha duduk tegak namun memekik kesakitan karena perbuatanku semalam yang cukup kasar tanpa pemanasan. Airmata jatuh kembali saat menyadari apa yang telah terjadi. Dengan tangan gemetar, ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
“Kenapa kau melakukannya lagi?” suaranya patah. Tangannya mencengkeram selimut lebih erat, seolah itu satu-satunya hal yang memberinya kekuatan agar tidak runtuh. Meski di mataku ia terlihat begitu hancur dan kacau.
“Aku tak ingin kehilanganmu…”kataku akhirnya hampir berbisik. “Maaf…aku kembali menyakitimu.”
“Kau sudah berjanji…” isaknya pilu dengan airmata yang jatuh lebih deras. “Kau sudah berjanji akan melepaskanku…”
Aku menutup mata sebentar. Ada rasa marah, takut dan sesuatu yang masih belum bisa kunamai. Saat aku membuka mata, ia semakin menjauh, duduk di ujung ranjang.
“Maafkan aku…aku tidak bisa kehilangan dirimu, Ana…”
Kehilangan bagiku seperti lubang hitam yang mengerikan tanpa dasar. Aku sudah terlalu sering jatuh ke sana. Ibu dulu pergi begitu cepat menjadikan rumah yang hangat berubah kosong hampa tanpa kehangatan.
Lalu istri pertamaku, Kirana. Juga anakku yang belum sempat kupeluk. Waktu itu aku belajar, jika aku mencintai terlalu dalam, aku akan ditinggalkan, aku akan kehilangan. Tapi ternyata aku kembali melakukannya, terjebak di lubang yang sama saat bersama Ana.
Aku tidak mau kehilangan lagi! Tidak, bagi siapapun yang sudah berhasil masuk ke dalam hidupku!
Ketakutan itu berubah menjadi sisi gelap yang membuatku ingin menahan, mengikat dan memastikan mereka yang kusayangi tidak bisa pergi. Bahkan kalau mereka mau…
“Tolong…tetaplah tinggal di sini,” pintaku dengan nada memohon.
Kata-kata itu terasa memalukan karena menunjukkan kelemahan yang selama ini tersimpan rapi begitu dalam. Tapi juga melegakan karena ungkapan paling jujur yang pernah kuucapkan.
Ana menggeleng kuat-kuat masih dengan tangisan pilunya yang membuat dadaku diremas.
Sisi gelapku mulai mendominasi. Otakku mencoba mencari cara paling kejam untuk memastikan aku tidak akan kehilangan lagi. Memastikan Ana tetap berada di sisiku.
“Bagaimana caranya agar kau tetap di sisiku?” tanyaku sembari menatapnya tajam. “Apa aku harus memotong kakimu agar tidak bisa lari?”
Dia bergidik ketakutan dan hendak melarikan diri kala tubuhku semakin mendekat. Namun aku lebih sigap dengan menangkap lengannya, menarik lehernya dengan cepat. Lalu memagut bibir itu dengan kasar untuk meredam teriakan dan permohonnya, tak lupa sentuhan di setiap inchi kulit tubuhnya yang kucumbui semalam.
Tangannya memukul-mukul dadaku, berusaha memberontak, berusaha melepaskan diri. Namun semua percuma. Karena pada akhirnya dia kembali berada di bawah tubuhku, berada dalam kendaliku.
*****
Aku lupa kapan terakhir kalinya masa kecilku berhenti, atau mungkin lebih tepatnya, kapan masa kecil itu direnggut dariku. Aku juga lupa kapan terakhir kali ayah memelukku. Yang kuingat hanya pagi yang dingin. Lantai rumah terasa keras di telapak kakiku yang masih kecil. Suara jam dinding di ruang kerja ayah berdetak pelan, tapi entah kenapa terdengar seperti hitungan mundur menuju kesalahan berikutnya.
Dan tentu saja… suara ayah, mulai dari bentakan, perintah hingga harapannya yang terlalu berat untuk bahu ringkihku.
Hari itu aku terlambat pulang sekolah karena bermain sepak bola dengan teman-teman sekelas. Pak Arman, supir yang mengantar jemputku sekolah berkali-kali memintaku untuk segera pulang karena guru les Bahasa Inggris sudah datang ke rumah. Tapi aku mengabaikan karena untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, aku tertawa tanpa beban. Tanpa takut salah. Tanpa takut dinilai.
Begitu pulang, aku gemetar ketakutan mendapati ayah yang sudah berdiri di ruang tamu dengan wajah menahan amarah. Tatapannya tajam, dingin seolah ingin menelanku hidup-hidup.
“Dari mana saja kamu?!”
Aku menunduk. Nafasku masih tersengal habis berlari. Seragam SD-ku kotor karena tanah. Sepatuku penuh debu lapangan.
“Kamu tahu jam berapa sekarang?!”
“Maaf… Yah. Tadi-”
“Tidak ada tadi!” potongnya cepat disertai bentakan buatku tersentak kaget. “Sebagai penerus, kamu itu bisanya main saja! Anak ayah yang laki-kaki itu cuma kamu saja! Kamu itu harus bisa memanage waktu!”
Kalimat itu dan selalu kalimat itu yang ayah semburkan padaku. Dadaku sesak namun kutelan semuanya.
“Iya, Yah,” jawabku pelan. “Maaf…Elang berjanji tidak akan mengulangi lagi.”
“Push up lima puluh!”
Aku menelan ludah pahit. Aku masih capek karena pertandingan sepak bola tadi di sekolah, tapi aku tetap melakukannya. Karena memprotes akan menambah jumlah hukuman.
*****
Hari-hariku diisi jadwal yang lebih padat daripada orang dewasa: sekolah terbaik, les privat, pelatihan kepemimpinan, bahasa asing, bela diri. Tidak ada ruang untuk bermain. Tidak boleh ada kata capek. Bagi ayah laki-laki harus kuat, tidak boleh lemah, tidak boleh salah.
Aku tumbuh dengan aturan, bukan pelukan kasih sayang. Aku dibesarkan dengan perintah, bukan pertanyaan. Bagi Ayah, dunia akan menghancurkan siapapun yang lemah. Dan sialnya, akulah kelinci percobaan untuk membuktikan teorinya.
Kadang aku iri saat melihat anak-anak lain tertawa di luar pagar rumah. Mereka berlari tanpa beban. Mereka pulang dengan baju kotor, namun wajahnya bahagia. Aku hanya menonton dari jendela lantai dua dengan diam-diam. Lalu kembali ke meja belajar.
Dari semua kenangan masa kecilku yang suram dan kelam, ada secercah cahaya yang membuatku tersenyum menghadapi dunia. Ibu, satu-satunya orang yang bisa membuatku bisa menghirup udara dengan bebas. Satu-satunya alasan rumah itu terasa hangat dan penuh cinta. Ia cukup pendiam, tapi selalu menenangkanku dengan pelukan dan kata-kata cinta. Saat ayah menghukumku push-up lima puluh kali karena diam-diam membaca komik, ibu yang mengoleskan obat ke tanganku yang kram. Saat ayah menghukumku berdiri berjam-jam karena ketahuan menonton film kartun saat les Bahasa Inggris, ibu yang menyuapiku makan. Ibu tak pernah melawan ayah secara terang-terangan karena memperlakukanku sedemikian keras, tapi kehadirannya menjadi perisai yang menahan sebagian luka. Ia memandangku berbeda, baginya aku tetaplah anak kecil yang butuh pelukan, kasih sayang dan perhatian.
Aku duduk di bangku SMP ketika pertama kali menyadari satu kebenaran pahit bahwa uang tidak bisa membeli kehidupan. Aku pikir ibu akan selalu ada untukku. Aku pikir ibu akan selalu di sampingku. Tapi ternyata aku salah.
Ibuku yang cantik, bahkan ketika sedang sakit. Hari itu tubuhnya mulai melemah. Ia memanggilku ke kamarnya.
“Elang, anakku… kemarilah,” katanya dengan suara lemah.
Aku duduk di sampingnya, menyisir rambutku dengan jari-jarinya yang mulai kurus. Jari-jari hangat penuh cinta yang kurindukan. Kucium jemari itu dengan penuh kasih sayang.
“Kau sudah sebesar ini, sayang. Sebentar lagi pasti ayah kalah tinggi,” ibu berusaha tertawa di tengah rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.
Bisa jadi ini karena sering bermain basket sehingga tinggiku melampaui teman-teman sekelas.
“Elang capek?” tanyanya lembut.
Aku ingin mengatakan iya. Aku sangat capek. Tapi entah kenapa yang kuberikan sebagai jawaban hanyalah gelengan kepala.
Ibu memelukku erat. Pelukan yang kurasakan seperti oksigen.
“Tidak apa-apa capek,” bisiknya. “Kamu tetaplah anak-anak, sayang.”
Dalam dekapannya, aku bisa menjadi anak kecil seutuhnya, meski hanya sementara.
*****
Beberapa hari kemudian, sakit ibu semakin parah dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Aku ingin sekali menemani ibu, memeluknya, memindah rasa sakitnya padaku jika perlu, tapi ayah melarang keras.
“Fokus belajar, sebentar lagi kamu ujian.”
“Tapi…yah-”
“Ayah tidak ingin nilaimu turun!” tegasnya.
Aku mengangguk pasrah.
“Iya, yah…”
Pintu di tutup. Aku Kembali duduk di meja belajar. Buku IPA terbuka di depanku. Pulpen di tanganku bergerak, tapi aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kutulis. Huruf-huruf di buku mulai kabur.
Di kepalaku hanya ada tentang ibu. Aku menggigit bibir keras saat kesedihan datang tanpa diundang. Laki-laki tidak boleh menangis. Aku tahu itu. Tapi malam itu… Aku gagal. Air mataku jatuh pelan ke halaman buku. Satu.Lalu satu lagi. Aku cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan.
Aku merindukan ibu. Rindu caranya memanggil namaku pelan. Rindu sentuhan tangannya di rambutku. Rindu suaranya. Semuanya!
Setelah ujian, dan mendapatkan nilai yang hampir sempurna, ayah memperbolehkanku menjenguk ibu. Kamar rumah sakit itu selalu berbau antiseptic dan berwarna putih. Mesin-mesin berdengung pelan, tapi suara yang paling kutakuti adalah napas ibu yang semakin hari semakin melemah.
Ayah berkata semuanya akan baik-baik saja. Dokter terbaik sudah didatangkan. Obat paling mahal sudah dicoba. Ruangan VIP itu dibayar tanpa berpikir dua kali. Tapi kanker tidak peduli pada status, kekuasaan, atau jumlah nol di rekening kami.
Aku duduk di samping ranjang ibu setiap hari sepulang sekolah. Seragam SMP-ku sering kali masih kusut, tasku tergeletak di lantai. Aku tidak peduli pada pelajaran, jadwal, atau tuntutan ayah.
Karena di ruangan itu… hanya ada ibu.
Tangannya kurus. Kulitnya pucat. Tapi saat dia menggenggam tanganku, rasanya hangat. Satu-satunya kehangatan yang tidak pernah menuntut apa pun dariku.
“Ibu cepat sembuh ya…” pintaku dalam harap dan doa.
“Elang…” suaranya pelan, nyaris hilang.
Aku mendekatkan telingaku.
“Jaga Intan.”
Nama itu disebutnya dengan napas tersendat. Adikku, yang masih terlalu kecil untuk mengerti arti perpisahan. Yang masih percaya bahwa ibu hanya sedang lelah dan akan segera pulang.
Aku mengangguk cepat. Terlalu cepat.
“Iya, Bu. Aku akan menjaga Intan,” kataku, meski suaraku bergetar.
Ibu tersenyum. Senyum lemah, tapi penuh cinta. Senyum yang selama ini menjadi tempatku pulang, bahkan ketika ayah terlalu sibuk membentukku menjadi seseorang yang tidak pernah kuinginkan.
“Kamu anak yang kuat,” katanya. “Jangan jadi seperti ayahmu yang lupa caranya merasakan.”
Aku mengangguk pelan.
“Tapi jangan juga membencinya. Ayah menyayangimu, namun cintanya memang dingin dan keras.”
Lalu ibu pun bercerita bahwa dulu perusahaan keluarga ayah pernah jatuh karena persaingan bisnis yang tidak sehat. Ayah saat itu masih terlalu kecil untuk memahami bagaimana ayahnya, yakni kakekku duduk berjam-jam menatap kertas utang, istrinya menjual perhiasannya satu persatu, rumah mereka disita bank hingga harus tinggal di kontrakan kumuh. Dengan kerja keras dan pantang menyerah, ayah berhasil mengembalikan kejayaan keluarganya dengan mendirikan perusahaan kuliner yang saat ini digelutinya.
“Ayah tidak ingin kamu mengalami pahit kehidupan yang pernah dirasakannya saat kecil.”
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada semua tuntutan ayah.
*****
Pagi itu ibu meninggal, hujan turun deras. Aku berdiri di lorong rumah sakit, menatap lampu-lampu putih yang terasa terlalu terang. Ayah berdiri tegak, wajahnya kaku. Intan menangis dalam pelukan pengasuhnya, memanggil nama ibu berulang kali.
Dan aku?
Aku menangis tanpa sedu sedan, tanpa isakan. Aku merasa… kosong. Di hari itulah aku kehilangan cinta pertamaku, Perempuan yang mencintaiku tanpa syarat.
Pemakaman itu sepi. Hanya suara tanah basah yang jatuh perlahan mengubur Perempuan yang sangat kusayangi. Satu per satu. Seperti hitungan mundur. Setiap bunyinya terasa memukul dadaku.
Aku berdiri kaku di depan makam ibu. Ayah sudah pergi lebih dulu. Tidak ada air mata. Tidak ada doa panjang. Tapi aku tahu di antara kami semua, ayah yang paling terluka. Ibu adalah cinta pertamanya sejak bangku SMA. Ibu adalah sosok yang membuatnya lupa sejenak akan lelahnya bekerja. Ibu adalah rumah…
Aku berjongkok. Tanganku menyentuh nisan yang masih bersih, namanya terukir rapi.
“Bu…”
Suaraku pecah sebelum sempat kutahan.
“Aku nggak tahu caranya hidup tanpa Ibu.”
Angin berembus pelan. Daun-daun bergerak, seolah menjawab.
Aku mengingat wajah ibu saat terakhir kali menggenggam tanganku. Suaranya. Permintaannya untuk menjaga Intan.
“Aku janji,” bisikku pelan. “Aku akan menjaga Intan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.”
Mataku panas. Tapi aku tidak menangis.
“Aku akan kuat. Lebih kuat dari siapa pun. Aku akan menjaga keluarga kita.”
Tanganku mengepal.
“Kalau harus jadi orang jahat… aku siap.”
Dan di depan makam itu, aku mengubur dua hal sekaligus,Ibuku dan versi diriku yang masih percaya pada kelembutan. Sejak hari itu pula, aku berhenti berharap pada keajaiban dan berhenti menggantungkan hatiku pada sesuatu yang bisa hilang.
Setelah ibu pergi, rumah kami menjadi lebih sunyi. Ayah tidak berubah menjadi lebih lembut. Seolah kehilangan ibu membuatnya yakin bahwa dunia memang tidak memberi belas kasihan, dan aku harus lebih siap menghadapinya.
Aku berhenti menangis sejak hari itu. Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menangis. Sepertinya airmataku sudah kering. Hatiku sudah mati.
Intan… dia masih sangat kecil saat itu. Dengan mata besar dan hidung mancung yang mirip sekali dengan ibu. Bisa dibilang Intan adalah replika ibu dalam versi anak kecil. Ia sering memanggil nama ibu di malam hari , dengan suara yang hampir tak terdengar. Aku mendengarnya dari kamarku, dan setiap kali itu terjadi, dadaku terasa diremas.
Aku tidak tahu bagaimana cara menjadi kakak. Tidak ada yang mengajarkanku karena hari-hariku sudah disibukkan dengan tuntutan dari ayah. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak boleh membiarkan Intan tumbuh sendirian seperti yang kurasakan.
Aku mulai duduk di samping tempat tidurnya setiap malam. Kadang kami tidak bicara apa-apa. Aku hanya ada di sana. Kadang ia bertanya kapan ibu pulang, dan aku tidak pernah punya jawaban. Jadi aku hanya berkata, “kak Elang ada di sini.”
Itu janji pertamaku padanya.
Ayah tidak menyukai kelembutan. Ia menganggapku mulai melemah karena Intan. Pernah suatu kali aku dihukum karena membelanya, karena aku mengambil kesalahan yang seharusnya jatuh padanya. Intan tidak sengaja memecahkan guci mahal kesayangan ibu. Tanganku memar, punggungku perih, tapi Intan aman. Dan entah kenapa, rasa sakit itu terasa layak.
“Ayah boleh memukulku, menyiksaku. Tapi jangan Intan. Dia kenangan dari ibu yang masih tersisa!”
Ayah terdiam, mungkin sejak saat itu, aku tahu peranku.
Setiap malam, setelah Intan tertidur, aku duduk sendirian dan mengingat wajah ibu. Suaranya. Permintaannya. “Jaga Intan.”
Janji itu terukir dalam diriku, lebih dalam dari rasa takut pada ayah, lebih kuat dari lelah yang menumpuk.
Aku berjanji pada diriku sendiri, apa pun yang terjadi, aku tidak akan gagal lagi. Aku sudah kehilangan ibu. Aku tidak akan kehilangan Intan juga.
Masa kecilku mungkin hilang oleh keadaan, tapi dari sana aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan ayah, kekuatan bukan hanya soal bertahan, tapi soal melindungi.
Dan sampai hari ini, janji itu masih hidup di dadaku.
***
Ketika aku menginjak bangku SMA, ayah berhenti menyebutku "anak". Ia memanggilku Elang, tanpa nada hangat.
"Kamu akan ikut aku ke yayasan," katanya saat kami sarapan bersama. "Sudah saatnya kamu belajar tentang citra."
Yayasan kelurga kami berdiri megah di pusat kota. Plakat marmer di dinding depan bertuliskan nama mendiang ibu, Mutiara Rahayu. Setiap kali melewatinya, dadaku terasa sesak. Aku belajar untuk tidak menatap terlalu lama.
Ayah mengajakku menghadiri peresmian sekolah, pembagian beasiswa, penandatanganan dengan guru-guru honorer di sana. Orang-orang tersenyum menyalami dengan mata berbinar.
"Keluarga Dirgantara memang berhati malaikat," puji mereka.
Ayah hanya tersenyum tipis, aku pun menirunya. Senyum palsu yang dipaksakan demi formalitas semata.
"Sekolah ini akan menggunakan produk kita sebagai pemasok utama," kata salah satu direksi. "Program makan bergizi gratis akan mencantumkan logo perusahaan."
Entah kenapa saat itu aku mulai paham, kami menolong bukan karena kami peduli, tapi karena menguntungkan.
Yayasan menjadi wadah indah dari perusahaan kami yang bergerak di industri makanan dan minuman terbesar di Indonesia. Dari susu, mie instan, bumbu siap saji, makanan ringan sampai tepung terigu. Masyarakat melihat kami sebagai penyelamat dan mulai membeli produk-produk kami karena ingin ikut berkontribusi menolong orang-orang yang kurang mampu. Lalu grafik penjualan terus naik.
"Inilah simbiosis," kata ayah.
Sejak hari itu aku belajar tersenyum di kamera wartawan. Belajar memilih kata-kata yang tepat untuk media. Belajar menyebut angka bantuan dengan suara datar.
Ayah menepuk pundakku saat kami berdua sudah masuk ke dalam mobil.
"Kamu cepat belajar," katanya. "Ayah bangga."
Itulah satu-satunya pujian yang pernah aku dapat. Namun dengan memakai topeng kepalsuan di depan banyak orang.