Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Diperbudak nafsu

Diperbudak nafsu

ya_liea | Bersambung
Jumlah kata
86.1K
Popular
4.0K
Subscribe
564
Novel / Diperbudak nafsu
Diperbudak nafsu

Diperbudak nafsu

ya_liea| Bersambung
Jumlah Kata
86.1K
Popular
4.0K
Subscribe
564
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+HaremBadboy
​Konten 21 + DI PERBUDAK NAFSU: menjadi brondong Tante kaya ​Jakarta bagi Dewangga bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal menyerahkan harga diri. Saat dompetnya jatuh di tangan Sandra (49), ia tak menyangka bahwa identitasnya sebagai pemuda desa yang perkasa akan menjadi tiket menuju ranjang kemewahan. Sandra wanita matang, kaya raya yang haus akan sentuha. memberinya tawaran yang mustahil ditolak "Jadilah milikku dan puaskan aku. maka kemewahan seluruh kota ini akan menjadi milikmu." ​Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, Dewangga belajar bahwa tubuhnya adalah komoditas. Namun, permainan api ini menjadi di luar kendali saat Jemima (20), putri tunggal Sandra yang liar dan haus kasih sayang, menemukan "mainan" baru ibunya. Jemima tak hanya menginginkan cinta Dewangga, ia menginginkan obsesi yang menghancurkan. ​Situasi semakin panas ketika rahasia gelap terkuak: Jian Ayu, wanita yang memungut Dewangga dari jalanan, ternyata adalah wanita simpanan Bastian, suami Sandra. ​Kini Dewangga terjebak dalam labirin nafsu yang mematikan. Menjadi pemuas dahaga sang ibu, sekaligus menjadi pelarian gila sang anak. Di rumah megah keluarga Bastian tidak ada ruang untuk kesetiaan hanya ada keringat, desah rahasia, dan pengkhianatan yang berujung pada maut. ​"Saat gairah bicara, akal sehat hanya akan menjadi sampah."
Bab 1 interupsi di VVIP

​ INTERUPSI DI VVIP

​“Sentuh aku, Dewangga. Mendekatlah, cium aku…”

​Suara Sandra terdengar pelan dan serak. Di dalam ruang VVIP Aureum Club yang kedap suara, Dewangga merasa bisikan itu seolah dipantulkan kembali oleh dinding, terdengar jauh lebih dekat dan menekan.

Lampu kristal yang diredupkan menjatuhkan cahaya keemasan pucat di atas sofa beludru, tempat Dewangga duduk terpojok tanpa ruang untuk mundur.

​Tubuh Sandra sudah condong terlalu dekat. Dewangga merasa kehadiran wanita itu mendominasi, membuat jarak personalnya lenyap seketika. Hidungnya menangkap aroma alkohol mahal yang tajam, bercampur wangi parfum eksklusif yang terasa terlalu kuat bagi Dewangga di ruang sempit itu. Ia melihat kancing blus Sandra terbuka sebagian, memberi kesan intim yang membuat Dewangga mengalihkan pandangan dengan gelisah.

​“Bu Sandra… sadar, Bu. Tolong kendalikan diri,” ucap Dewangga pelan.

​Nada suaranya tidak sepenuhnya menolak, tapi juga tidak menerima. Dewangga menyadari dirinya sedang berada di wilayah abu-abu di antara sopan santun, ketakutan, dan realitas hidup yang menekannya.

​Meskipun di luar klub berdetak dengan musik elektronik yang bergema keras, Dewangga merasa di dalam ruangan VVIP ini hanya ada isolasi sempurna. Dunianya terasa terputus. Yang tersisa di mata Dewangga hanyalah sofa beludru gelap, pantulan cahaya kristal, dan kenyataan bahwa ia terjebak dalam situasi yang tidak seimbang.

​Sandra tertawa pendek, tawa seseorang yang mabuk namun tetap sadar betul akan posisinya.

​“Diamlah,” kata Sandra ringan, tapi tajam. “Ikuti saja alurnya. Kau tidak akan menyesal, Dewa.”

​Dewangga menangkap intonasi yang bukan sekadar menggoda, melainkan perintah dari seseorang yang terbiasa dipatuhi.

​Dewangga menelan ludah. Ada bagian dalam dirinya yang ingin bangkit, membuka pintu, dan pergi sejauh mungkin. Namun, ia teringat betapa kosong dompetnya sekarang dan betapa kerasnya Jakarta bagi orang sepertinya.

​Tubuh Sandra yang kehilangan keseimbangan menekan Dewangga semakin ke sudut sandaran sofa. Ia terhuyung, punggungnya terdesak, dan napasnya tertahan. Sensasi yang menyesakkan sekaligus berbahaya menyergapnya saat aroma alkohol dan parfum itu kembali bercampur.

​“Sadar, Bu… kendalikan diri…” ulang Dewangga, lebih lirih.

​Ia berusaha menolak. Meski Dewangga bukan pria suci dan mengenal kerasnya kehidupan malam, masih ada sebentuk keraguan yang menghantam nuraninya. Situasi ini dirasakannya bukan sekadar godaan, melainkan tawaran untuk menjual bagian terakhir dari harga dirinya.

​Sandra mengabaikan ucapannya. Tawa seraknya kembali mengisi ruang.

​“Kau jangan malu-malu, Dewa,” ucap Sandra. “Aku akan memberikan imbalan yang besar. Uang bulanan, fasilitas, semua yang kau butuhkan untuk hidup nyaman di kota besar ini.”

​Janji itu terdengar tegas di telinga Dewangga, tanpa ruang negosiasi, layaknya sebuah kontrak sepihak.

​Dewangga merasakan dadanya mengencang. Ia berusaha mempertahankan batas tipis antara moral dan keputusasaan finansial.

​“Kau sudah mabuk. Mari aku antar pulang,” katanya.

​Namun kalimat itu tidak pernah benar-benar selesai.

​Jarak di antara mereka runtuh. Kehadiran Sandra terasa terlalu mendominasi bagi Dewangga, membuatnya kehilangan kendali atas situasi. Segala protes yang tersisa terhenti di tenggorokannya.

​Dewangga membeku.

​Keheningan ruang VVIP menelan suara apa pun yang tersisa. Detik-detik berikutnya terasa kabur bagi Dewangga, seolah waktu berjalan tidak beraturan. Ia hanya merasakan tekanan, kehangatan, dan kesadaran pahit bahwa garis yang ia pertahankan perlahan runtuh.

​Dewangga memejamkan mata.

​Gairah yang selama ini ia kubur di balik frustrasi hidup dan kemiskinan, bangkit dengan cara yang tidak ia kehendaki. Pikiran dan tubuhnya tidak lagi sejalan. Ia merasa ada perlawanan, namun juga kelelahan yang terlalu dalam untuk terus melawan.

​Gila… dunia macam apa yang akan kujalani ini, pikirnya. Sudah berbulan-bulan aku tidak merasakan sensasi ini… mungkin inilah harga yang harus dibayar.

​Sentuhan dan kedekatan itu berlanjut tanpa kata. Dewangga, sadar atau tidak, akhirnya membalas dengan respons yang sama rapuhnya. Untuk sesaat, ia merasa interaksi itu menjadi simetris terlepas dari perbedaan usia, kelas sosial, dan posisi kuasa yang timpang.

​Namun Dewangga tahu Sandra tetap memegang kendali.

​Sandra menghentikan ciuman itu sejenak, menatap Dewangga dengan pandangan yang keruh namun penuh penilaian.

​“Tenang saja,” bisik Sandra dengan nada yang kembali dingin dan dominan. “Ikuti aku. Aku akan me—”

​Dewangga tidak perlu diinstruksikan dua kali. Ia bergerak karena dorongan yang bercampur antara hasrat dan kebutuhan bertahan hidup.

​Mereka sama-sama tidak sabar, namun Dewangga menyadari motif mereka berbeda. Sandra oleh hasrat akan kekuasaan, sementara Dewangga oleh desakan untuk bertahan, meski harus mengorbankan dirinya sendiri.

​Pakaian mahal dan elegan dibiarkan teronggok di karpet beludru, menjadi simbol bagi Dewangga atas runtuhnya batas-batas norma yang baru saja mereka langgar.

​Hawa panas segera memenuhi ruangan yang sedari tadi dingin oleh AC. Apa pun yang terjadi setelah itu berlangsung tanpa perlu diuraikan. Bagi Dewangga, cukup jelas bahwa keputusan telah diambil, dan konsekuensinya tidak bisa ditarik kembali.

​Di luar VVIP, dentuman bass terdengar samar—menjadi iringan ironis bagi kontrak tak terucapkan yang ditandatangani Dewangga tanpa tinta di atas sofa mewah itu.

​Itu adalah momen ketika Dewangga secara resmi menyerahkan dirinya pada sisi gelap Jakarta.

​Keheningan datang tiba-tiba.

​Hawa panas di ruangan privat itu perlahan menguap di kulit Dewangga, digantikan dingin yang asing. Dewangga duduk terdiam dengan napas yang masih memburu. Ia melihat sofa beludru di bawahnya berantakan, menyisakan jarak canggung yang baru saja tercipta.

​Dewangga melihat Sandra kembali menjadi sosok yang berkuasa.

​Tatapan mata wanita itu, yang sebelumnya dipenuhi gairah, kini terlihat datar dan dingin di mata Dewangga. Sandra berdiri tegak dan merapikan diri, seolah momen sebelumnya hanyalah transaksi singkat bagi wanita itu.

​“Kau sangat memuaskan, Dewa. Sangat tangguh.”

​Pujian itu terdengar di telinga Dewangga bukan sebagai ungkapan perasaan, melainkan penilaian profesional. Ia memperhatikan Sandra meraih tas tangan kulit mahal di lantai, membukanya dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna krem.

​Amplop itu tidak disodorkan, melainkan diletakkan begitu saja di pangkuan Dewangga.

​“Itu untukmu,” kata Sandra singkat. “Deposit awal. Anggap saja signing fee.”

​Dewangga menatap amplop itu lama. Beratnya terasa nyata di tangannya—berat yang mungkin diinginkan banyak orang, namun terasa seperti beban di dada Dewangga.

​Baginya, uang itu menjadi simbol nyata dari harga diri yang baru saja ia gadaikan.

​Dewangga menyadari, sejak saat itu, ia bukan lagi pemuda desa yang datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ia telah resmi menjadi simpanan seorang wanita kaya, terperangkap dalam lingkaran emas yang berkilau—indah di luar, namun mencekik di dalam—dan ia tak lagi melihat jalan untuk kembali

Lanjut membaca
Lanjut membaca