Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Guntur Putera Petir

Guntur Putera Petir

Lebah Ganteng | Bersambung
Jumlah kata
194.2K
Popular
31.7K
Subscribe
1.8K
Novel / Guntur Putera Petir
Guntur Putera Petir

Guntur Putera Petir

Lebah Ganteng| Bersambung
Jumlah Kata
194.2K
Popular
31.7K
Subscribe
1.8K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremKekuatan Super21+
Guntur yang selama ini hidup tanpa orang tua, kini harus kehilangan Neneknya. Sebatang kara Guntur dipaksa menghadapi kerasnya dunia, mulai dari dihina karena miskin hingga bingung besok harus makan apa. Guntur pikir maut akan menutup kisah hidupnya yang menyedihkan, tapi takdir berkata lain. Guntur selamat dari maut dan kembali dengan kemampuan tak terduga. Guntur bisa mendengar suara hati manusia, terutama wanita, Guntur bisa mendengar hasrat terdalam mereka. Sebagai satu-satunya yang bisa mengerti dan memuaskan keinginan para wanita di Desa Pesisir, membuat Guntur menjadi rebutan di antara mereka!
1. GUNTUR

Guntur adalah anak Nenek. Sejak ditinggal ibunya untuk menjadi TKW di Malaysia, Guntur hanya tinggal berdua bersama ayahnya.

Namun setelah dua tahun tanpa kabar dari Malaysia, Ayahnya patah hati. Maka berangkatlah Toni, ayah Guntur, ke desa pesisir tempat mertuanya tinggal sebatang kara.

"Aku titip Guntur gapapa ya, Bu? Aku mau cari kerjaan baru biar bisa ajak Marni pulang. Sejak Bapak meninggal juga Ibu ga ada temennya toh?" ucap Toni meyakinkan.

"Gapapa toh. Ibu juga seneng bisa ditemenin cucu," ucap Nenek dengan girang. "Iya kan, Guntur? Mau tinggal sama Nenek? Iya?"

"Mau!" sahut Guntur bersemangat.

Nenek maupun Guntur waktu itu tidak tahu, kalau ini adalah kali terakhir mereka bertemu Toni. Toni tidak akan kembali ke sini, untuk waktu yang sangat lama.

Guntur adalah anak yang serba bisa. Sejak kecil, mainan kesukaannya adalah alat-alat pertukangan peninggalan kakek. Guntur mempelajari semuanya sendiri, sehingga ketika menginjak usia remaja, Guntur sudah mahir memperbaiki genteng hingga membetulkan mesin kapal.

"Hebat sekali kamu nak," ucap Nenek ketika menyambut Guntur yang menuruni tangga setelah memperbaiki genteng. "Persis seperti Kakek," gumam Nenek, ada bulir air mata di ujung matanya.

"Nenek kenapa nangis?" tanya Guntur panik.

"Gapapa nak, ini air mata bahagia," jawab nenek sambil memeluk Guntur.

Dunia Guntur isinya hanya Nenek. Guntur ranking 1 dari SD sampai SMA, untuk Nenek. Guntur ikut melaut bersama bapak-bapak nelayan, untuk Nenek. Bahkan Guntur tidak pernah sekalipun menanyakan soal ayah dan ibunya, agar Nenek tidak bersedih.

"Guntur berangkat dulu, Nek," sahut Guntur, salim ke Nenek.

"Kamu langsung pulang ya nak. Nenek sudah masak enak buat merayakan kelulusan kamu," ucap Nenek dengan bersemangat.

"Iya Nek, habis upacara kelulusan Guntur langsung pulang," jawab Guntur sambil melangkah keluar rumah.

Guntur berjalan ke sekolah sambil berpikir, minggu depan usianya akan menginjak 19 tahun, dia punya rencana yang tersusun rapi dalam kepalanya.

"Habis pelulusan, aku bakal bisa melaut tiap hari, terus nabung biar bisa ajak Nenek ke kota," gumam Guntur sambil melanjutkan berjalan.

Dalam upacara kelulusan, nama Guntur diumumkan sebagai juara umum, semua siswa dan guru bertepuk tangan dengan kagum. Tapi bagi Guntur itu hal yang biasa saja. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang.

Tiba-tiba seorang gadis berlari ke arah Guntur.

"Selamat ya, Guntur!" sahut Nina sambil memeluk Guntur dengan erat.

"Oh, eh, iya Nin, makasih ya," jawab Guntur terbata, kaget.

Nina adalah sahabat Guntur sejak kecil, mereka sebaya. Dia tinggal dengan ibunya tepat di sebelah rumah Nenek, karena Ayahnya sudah tiada, meninggal tenggelam ketika melaut.

Nina adalah gadis cantik dengan suara yang lembut dan bentuk tubuh yang menawan.

Namun semua hal itu tidak pernah disadari Guntur hingga detik ini, saat dia merasakan dada Nina yang besar menempel di lengannya!

"Gun, nanti pulang bareng ya! Aku ketemu teman-teman yang lain dulu," jawab Nina setelahmelepaskan pelukannya.

"I … iya … oke," ucap Guntur sambil melirik ke arah celananya yang mulai terasa ketat.

Guntur belum pernah ngaceng karena Nina, tapi kali ini berbeda. Entah kenapa dia bisa merasakan lekuk tubuh gadis itu yang ternyata begitu menggoda.

Dia lalu buru-buru menggeleng, mencoba menjernihkan pikiran.

Sepulang sekolah, saat sedang menunggu Nina di depan gerbang, tiba-tiba beberapa orang merangkul Guntur dengan kasar hingga sampai ke belakang sekolah.

Eko menunggu di sana.

Eko sang kepala geng, cucu Kepala Sekolah, yang juga anak dari juragan kapal di pulau pesisir. Hampir tidak ada yang berlayar ke laut tanpa memakai kapal milik ayahnya Eko.

Eko menyukai Nina, Guntur dekat dengan Nina, Eko tidak suka.

"Asik banget peluk-pelukan di tengah sekolah kayak gitu, mau pamer lo?" sahut Eko dengan aksen gaul hasil dari seringnya main ke kota bersama ayahnya.

"Saya gak pelukan, saya juga kaget dipeluk Nina," jawab Guntur mengelak.

"Bacot!" teriak Eko sambil menghujamkan pukulan ke perut Guntur.

"Hoekk ... Uhuk," Guntur terbatuk menerima pukulan dari Eko.

"Pake nyalahin Nina lagi. Cowok macam apa lo?" sahut Eko lagi.

"Saya gak nyalahin ... bhak ... uhuk," ucap Guntur, yang terpotong karena Eko lanjut memukul dengan tidak sabar.

Beberapa pukulan dari Eko yang tubuhnya lebih bongsor darinya cukup untuk membuat Guntur jatuh tersungkur ke tanah. Matanya berkunang-kunang, perut dan rahangnya sakit. Tapi Eko masih belum puas.

"Habis ini lo jangan berani-berani lagi deket ama Nina! Atau gue pukul lebih kenceng dari ini! Cuih!" sahut Eko, yang kemudian menarik rambut Guntur lalu meludahi wajahnya.

Guntur sudah cukup mengumpulkan keberanian, ia mengepalkan tangan, siap membalas pukulan Eko, tapi dihentikan suara teriakan seseorang.

"Tolong! Tolong ada yang berkelahi!" teriak Nina sambil berlari ke arah Guntur.

"Kabur! Kabur!" Eko dan komplotannya langsung berhamburan melarikan diri ke segala arah, takut ketahuan Kepala Sekolah.

"Kamu gapapa Tur?" tanya Nina sambil membantu Guntur berdiri.

"Iya ... Uhuk! Gapapa Nin. Aman." Guntur berdiri dengan terhuyung, pandangannya kabur.

"Maaf ya kamu jadi kelamaan nunggu. Harusnya aku keluar lebih cepat," ucap Nina sambil terisak kecil.

"Kamu gak salah, Nin. Aku juga gapapa, gak terlalu sakit kok," ujar Guntur sok kuat.

"Kita pulang yuk. Aku bersihin lukamu di rumah," ucap Nina menggandeng tangan Guntur.

Di sepanjang jalan pulang, Guntur mengusap wajahnya yang kotor dengan lengan bajunya, berharap mengurangi babak belur di wajahnya, takut Nenek sedih.

"Habis ini kamu mau ngapain Tur? Mau kuliah? Kerja?" tanya Nina, sambil berjalan pelan di sebelah Guntur.

"Aku gak mungkin kuliah, Nin. Gak mau ninggalin Nenek. Aku mau di sini aja, kerja," jawab guntur sambil menepuk-nepuk tanah yang menempel pada pakaiannya.

"Aku juga sama. Pengen ngeliat kota, tapi ga mau ninggalin Ibu sendiri," ujar Nina dengan nada sedih.

"Gapapa toh, biar aku sama Nenek yang nemenin Ibumu. Kamu kuliah aja ke kota, sayang loh, kamu kan pintar," ucap Guntur serius.

"Lah kamu kan lebih pintar! Kamu dong yang harusnya pergi! Aku yang jagain Nenekmu," jawab Nina ngotot.

Nina memasang tampang cemberut yang menurut Guntur sangat imut. Guntur tidak pernah menyadari betapa imutnya Nina. Celananya terasa ketat lagi.

"Hahahah ... kita makan dulu lah. Udah kenyang baru lanjut debatnya," kata Guntur sambil mencoba mengalihkan pikirannya.

Sesampainya di halaman rumah Nenek, Guntur celingak celinguk mencari ember yang biasanya dipakai menadah air hujan.  Ia ingin mencuci muka dulu sebelum bertemu Nenek, agar tidak ketahuan habis dipukuli.

"Aku ganti baju dulu ya, sekalian manggil Ibu," pamit Nina, setengah berlari ke arah rumahnya.

Setelah mencuci muka, Guntur berjalan masuk ke rumah, memanggil Nenek.

"Nenek! Nek? Guntur pulang!" teriak Guntur, tapi tidak ada jawaban.

Guntur terus berjalan masuk ke dalam rumah, lalu ke dapur, ia menyadari ada pecahan piring yang berhamburan di lantai dapur.

Guntur terus melangkah masuk, sampai akhirnya pandangan matanya menemukan tubuh Neneknya terbaring di sana, menatap langit-langit, tidak bernyawa.

"Nenek …!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca