Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Raja Gigolo

Raja Gigolo

C Marselino | Bersambung
Jumlah kata
34.4K
Popular
100
Subscribe
24
Novel / Raja Gigolo
Raja Gigolo

Raja Gigolo

C Marselino| Bersambung
Jumlah Kata
34.4K
Popular
100
Subscribe
24
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Pria MiskinHarem
Rian datang ke sebuah hotel mewah untuk melamar jadi Cleaning Service. Karena grogi dan kebelet pipi, dia salah masuk ke kamar Suite yang pintunya tidak terkunci rapat. Di dalam, ada seorang wanita karier yang baru selesai mandi dan hanya memakai handuk pendek. Dia sedang mabuk ringan karena baru dikhianati tunangannya. Maya mengira Rian adalah "pesanan" dari agensi pendamping yang dia telepon tadi. Kejadian yang mengubah hidup Rian pun dimulai…
Bab 1: Sial tapi Enak.

"Ayo Buka," perintahnya singkat.

Dengan jari yang masih sedikit gemetar, Rian menarik simpul itu. Handuk putih itu pun terlepas, menyingkap keindahan maha karya Tuhan yang selama ini cuma bisa Rian bayangkan lewat film-film dewasa yang dia tonton sembunyi-sembunyi di WC.

Rian menarik napas panjang. Dia tidak tahu apakah ini keberuntungan atau kutukan, tapi satu hal yang pasti: hidup Rian sebagai pemuda desa yang lugu, berakhir total di kamar nomor 1313 ini.

20 MENIT SEBELUMNYA...

Matahari Jakarta siang itu rasanya seperti sedang berada tepat di atas kepala. Panasnya minta ampun deh. Rian, dengan kemeja putih yang sudah mulai menguning di bagian ketiak, menyeka keringatnya berkali-kali.

"Sial banget Gue hari ini. Masa dompet bisa ilang di bus? Mana itu duit terakhir buat bayar kosan lagi," gumam Rian sambil menatap nanar gedung hotel mewah di depannya.

Gedung itu bernama The Grand Sapphire. Tempat yang biasanya cuma bisa Rian lihat dari kejauhan sambil membayangkan kapan dia bisa tidur di sana. Tapi hari ini, dia punya misi penting yaitu Melamar jadi tukang bersih-bersih alias cleaning service.

"Pokoknya hari ini Gue harus dapet kerjaan. Kalau nggak, gue bakal tidur di bawah jembatan malem ini," tekadnya dalam hati.

Rian melangkah masuk ke dalam lobi hotel. AC yang sangat dingin langsung menyambut kulitnya yang berkeringat. Wangi hotel itu harum sekali, campuran antara aroma melati dan jeruk yang mahal.

Rian melihat sekeliling dengan bingung. Orang-orang di sini pakai jas dan gaun mewah. Sementara dia? Sepatunya saja sudah mangap seperti mulut buaya yang lagi minta makan.

"Maaf, Mas. Kalau mau melamar kerja bagian operasional, lewat lift barang di belakang ya. Langsung ke lantai tiga aja," ucap seorang petugas keamanan dengan nada yang sebenarnya sopan, tapi matanya memandang rendah ke arah sepatu Rian.

Rian cuma bisa nyengir kuda. "Oh, iya, Pak. Makasih!"

Rian bergegas menuju lift. Namun, dasar nasib lagi apes (atau mungkin terlalu hoki), lift barang itu sedang diperbaiki. Dia pun nekat masuk ke lift tamu yang sedang terbuka lebar.

Di dalam lift, kepalanya mendadak pening. Efek belum sarapan dan panik jadi satu. Jari Rian gemetar saat mau menekan angka 3, tapi entah bagaimana, dia malah menekan angka 13.

Ting!

Pintu lift terbuka. Rian keluar dengan langkah terburu-buru. Dia melihat lorong yang sunyi dengan karpet tebal yang empuk sekali.

"Lantai tiga kok kayak gini ya? Mewah banget buat kantor admin," pikirnya.

Dia berjalan menyusuri lorong sampai melihat sebuah pintu kamar Suite yang sedikit terbuka. Di depannya ada papan kecil bertuliskan: Housekeeping Needed.

"Wah, ini dia! Pasti ini tesnya. Langsung disuruh bersih-bersih kamar," Rian langsung merasa percaya diri.

Dengan gaya plengernya, tanpa mengetuk pintu, Rian masuk ke dalam. Kamar itu luas sekali. Mungkin lebih luas daripada seluruh rumahnya di kampung. Tapi yang membuat Rian langsung mematung bukan karena kemewahan kamarnya.

Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi yang pintunya terbuat dari kaca buram. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka.

Uap panas keluar dari sana, dan bersamaan dengan itu, seorang wanita berjalan keluar.

Rian hampir saja menjatuhkan map lamarannya. Wanita itu hanya mengenakan handuk putih yang sangat pendek, bahkan saking pendeknya, paha putih mulusnya terlihat jelas sampai ke bagian yang paling sensitif, menonjolkan dua buah melon yang aduhai. Rambutnya yang hitam panjang masih basah, meneteskan air ke pundaknya yang mulus tanpa noda.

Wanita itu bernama Maya. Wajahnya cantik, tapi matanya terlihat merah seperti habis menangis, ditambah lagi ada aroma alkohol yang tercium samar dari arahnya.

Maya berhenti melangkah saat melihat Rian. Bukannya teriak, dia malah menatap Rian dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan lapar.

"Lama banget sih? Agensi 'Bintang Malam' bener-bener nggak profesional banget kirim orang," ucap Maya dengan suara serak yang seksi.

Rian gelagapan. "Anu... Mbak... saya..."

"Udah jangan banyak alasan. Kamu telat hampir setengah jam. Saya sudah nggak tahan mau istirahat," potong Maya.

Maya berjalan mendekati Rian. Wangi sabun mandi dan parfum mahal langsung menyerbu indra penciuman Rian. Rian merasa tenggorokannya mendadak kering kerontang.

"Mbak, kayaknya salah paham. Saya ini mau anuu..."

"Mau apa? Mau langsung main?" Maya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menggoda.

Dia berdiri tepat di depan Rian. Karena tubuh Maya lebih pendek, dia harus mendongak. Jarak mereka cuma beberapa senti. Rian bisa melihat butiran air yang masih menempel di buah melon bagian atas Maya yang menyembul dari balik handuk.

"Ganteng juga ya pilihan Madam Vina kali ini. Masih kelihatan... polos," tangan Maya yang halus mulai merayap ke dada Rian, membuka satu per satu kancing kemejanya.

Rian merinding gemetaran. Jantungnya berdegup kencang seperti mau copot. "M-Mbak... saya ini mau melamar..."

"Melamar jadi pacar saya semalam kan? Iya, saya tahu," Maya menarik kemeja Rian sampai lepas dari bahunya.

Rian baru mau protes lagi, tapi tiba-tiba Maya menarik kerah bajunya dan membungkam mulut Rian dengan ciuman yang sangat agresif. Mata Rian terbuka lebar seperti mau keluar. Ini adalah ciuman pertamanya seumur hidup!!

Rian awalnya ingin berontak, tapi rasa manis dari bibir Maya dan kelembutan tubuh wanita itu yang menempel erat ke badannya membuat akal sehat Rian sebagai laki-laki terbang hingga langit ketujuh.

Tangan Maya mulai nakal, dia menuntun tangan Rian untuk memegang pinggangnya yang bahenol. Rasanya sangat halus dan kenyal.

"Hmmp..." Rian cuma bisa mengerang pelan.

Maya melepaskan ciumannya sebentar, napasnya memburu. "Cepat bawa saya ke kasur. Kalau servis kamu bagus, saya kasih tips yang bikin kamu nggak perlu kerja sebulan."

Rian menelan ludah. Otaknya berputar cepat. Kalau gue jelasin sekarang, dia pasti marah dan laporin gue ke polisi karena masuk tanpa izin. Tapi kalau gue terusin... gue dapet duit, dan dapet kenikmatan surga dunia.

Logika Rian kalah telak oleh insting lelakinya. Terutama saat Maya dengan sengaja membiarkan handuknya melonggar sedikit demi sedikit.

"Mbak... jangan nyesel ya," bisik Rian dengan suara yang tiba-tiba jadi berat.

Maya tersenyum nakal. "Nggak akan. Justru saya yang bakal bikin kamu nggak bisa lupa sama malam ini."

Rian langsung membopong tubuh Maya. Ternyata wanita itu ringan sekali. Dia membaringkan Maya di atas ranjang king size yang sangat empuk. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat suasana makin panas.

Maya menatap Rian dengan tatapan menantang. Dia menarik tangan Rian untuk menyentuh simpul handuknya.

"Ayo Buka," perintahnya singkat.

Dengan jari yang masih sedikit gemetar, Rian menarik simpul itu. Handuk putih itu pun terlepas, menyingkap keindahan maha karya Tuhan yang selama ini cuma bisa Rian bayangkan lewat film-film dewasa yang dia tonton sembunyi-sembunyi di WC.

Rian menarik napas panjang. Dia tidak tahu apakah ini keberuntungan atau kutukan, tapi satu hal yang pasti: hidup Rian sebagai pemuda desa yang lugu, berakhir total di kamar nomor 1313 ini.

"Nikmaat mana lagi yang engkau dustakan, Rian," batinnya sambil mulai menundukkan kepala ke arah leher jenjang Maya.

Malam itu, hotel bintang lima itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang calon tukang sapu berubah menjadi "pahlawan" bagi seorang wanita yang kesepian. Dan bagi Rian, ini barulah permulaan dari petualangan panjang yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

….

Lanjut membaca
Lanjut membaca