Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Nyonya Puas Sobri Lemas

Nyonya Puas Sobri Lemas

Itsmoore | Bersambung
Jumlah kata
43.8K
Popular
7.7K
Subscribe
872
Novel / Nyonya Puas Sobri Lemas
Nyonya Puas Sobri Lemas

Nyonya Puas Sobri Lemas

Itsmoore| Bersambung
Jumlah Kata
43.8K
Popular
7.7K
Subscribe
872
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+HaremBalas Dendam
Warning 21++ Pemuda yang selama ini dihina karena hanya bekerja sebagai sopir dan pelayan, ternyata mewarisi keberuntungan yang membuat dia dieluhkan.
Bab 1 Disuguhi Apel Kembar

"Sobri, dengar baik-baik. Mulai malam ini, kamu harus siapin energi banyak, biar nanti kamu kuat ngehadepin tiga anak gadisku!"

Suara Nyonya Nindy memecah keheningan yang sempat tercipta. Wanita paruh baya itu duduk anggun di sofa beludru merah marun.

Meskipun usianya tak lagi muda, Nyonya Nindy masih memiliki aura yang memikat, layaknya buah mangga matang pohon yang manis dan berair. Ia menatap Sobri dengan sorot mata menilai, seolah sedang memeriksa kualitas bibit padi sebelum disebar ke sawah.

"Kamu harus siap siaga 24 jam. Selain merawat kebun dan menjadi sopir, kamu juga harus menjaga keamanan tiga anak gadisku di rumah ini. Anggap saja kamu ini pagar hidup," lanjut Nyonya Nindy tegas.

Belum sempat bibir Sobri bergerak untuk menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara langkah kaki yang menghentak keras dari arah tangga memotong momen itu.

"Mama bercanda, 'kan?"

Seorang wanita muda menuruni tangga dengan wajah masam.

Itu Nona Rossa, putri sulung keluarga ini. Parasnya cantik luar biasa, dengan garis wajah tegas yang memancarkan dominasi. Namun, tatapan matanya setajam sabit yang baru diasah. Galaknya konon melebihi induk macan yang sedang menyusui anaknya.

Rossa baru saja pulang kerja. Ia masih mengenakan kemeja kantor berwarna putih yang pas membungkus tubuhnya.

Masalahnya, dua kancing teratas kemeja itu terbuka begitu saja, mungkin karena gerah atau lelah. Pemandangan itu membiarkan leher jenjang dan tulang selangkanya terekspos bebas. Sobri menelan ludah dengan susah payah.

Dari celah kain yang sedikit terbuka itu, ia bisa melihat sekilas dua buah pepaya mengkal yang tampak padat dan sesak, seolah protes ingin membebaskan diri dari lumbung kain yang mengekangnya.

"Ngapain Mama masukin orang udik ini ke dalam rumah utama?" Rossa melipat tangan di dada. Gerakan itu membuat kemejanya semakin tertarik ketat, mencetak siluet hasil panen yang melimpah di baliknya.

"Dia itu cuma sopir, Ma. Lihat tuh, kulitnya hitam legam kayak kena hama wereng, badannya dekil, bau matahari pula! Udah benar dia tidur di pos satpam atau garasi saja. Malah disuruh masuk, nanti lantai marmernya terkontaminasi bakteri kampung!"

Kepala Sobri menunduk semakin dalam. Telinganya terasa panas, seolah ada api unggun yang dinyalakan tepat di samping kepalanya.

Rasa malu menjalar cepat ke seluruh tubuh. Ia sadar betul posisinya. Ia hanyalah rumput liar yang tumbuh di sela-sela paving blok, sementara mereka adalah bunga anggrek bulan yang dirawat di dalam rumah kaca ber-AC.

"Rossa, jaga bicaramu," tegur Nyonya Nindy penuh penekanan. "Sobri ini rajin. Tadi siang Mama lihat dia kuat mengangkat pot-pot besar dan memindahkan lemari jati sendirian di gudang. Tenaganya besar, ototnya kuat. Lagi pula, paviliun belakang itu kosong melompong. Sayang kalau tidak dipakai."

"Terserah Mama, deh. Pokoknya, jangan sampai dia masuk ke areaku. Awas saja kalau dia berani macam-macam atau panjang tangan!" Rossa mendengus kasar. Ia mengibaskan rambut panjangnya, lalu berlalu menuju dapur tanpa menoleh lagi. Aroma parfum mahal tertinggal di udara, bercampur dengan aura intimidasi yang kuat.

Sepeninggal Rossa, Nyonya Nindy menghela napas panjang. "Jangan diambil hati, Sobri. Rossa memang begitu. Ladang hatinya sedang gersang karena tekanan pekerjaan kantor."

"Ba-baik, Nyonya. Terima kasih banyak sudah diizinkan tinggal di sini. Saya akan bekerja keras membajak... eh, maksudnya bekerja sebaik mungkin," jawab Sobri gugup, lidahnya hampir terpeleset.

"Ya sudah. Sekarang kamu ke belakang. Bersihkan dirimu dulu. Benar kata Rossa, kamu bau keringat. Di lemari dekat dapur ada seragam bersih. Pakai itu. Setelah mandi, pastikan semua pintu terkunci."

Sobri mengangguk cepat dan segera undur diri. Ia berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik menuju area belakang.

Sesampainya di kamar pelayan, sebuah ruangan kecil di dekat dapur kotor, Sobri melepaskan napas yang sejak tadi ditahannya. Kamar itu sempit bagi ukuran orang kaya, tapi bagi Sobri, ini sudah seperti kamar hotel bintang lima dibandingkan gubuknya di kampung.

Ia melempar tas bututnya ke dipan, lalu segera menuju kamar mandi khusus karyawan. Air dingin dari keran menyiram tubuhnya yang lelah. Sobri menggosok kulitnya kuat-kuat dengan sabun batangan, berusaha menghilangkan "bau matahari" dan "aroma tanah" yang melekat padanya seperti kata Nona Rossa tadi.

"Sabar, Sobri. Demi Emak. Demi biaya berobat Emak," gumamnya di bawah guyuran air. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang buram.

Tubuh Sobri memang kurus, tapi berotot kawat balung besi hasil mencangkul sawah bertahun-tahun. Kulitnya sawo matang terbakar matahari.

"Gatot, kamu juga harus sabar ya," bisiknya pada perkakas kebanggaannya di bawah sana. "Jangan gampang bangun kalau lihat majikan. Ingat, kita di sini jadi kuli, bukan jadi tukang bibit."

Selesai mandi dan berganti seragam—sebuah kemeja putih dan celana kain hitam yang agak ketat di bagian paha—Sobri merasa sedikit lebih percaya diri. Ia keluar dari kamar, berniat mengecek pintu dapur seperti perintah Nyonya Nindy.

Namun, ujian mentalnya belum berakhir.

Saat ia sedang mengepel sedikit jejak air hujan di dekat pintu penghubung ruang tengah, seorang gadis lain muncul. Kali ini, auranya berbeda dengan Rossa. Jika Rossa adalah api yang membakar, gadis ini adalah es serut yang dingin namun menusuk gigi.

Itu Nona Putri, anak kedua. Gadis yang dikenal fashionable dan paling gaul.

Putri berdiri di ambang pintu sambil memegang segelas jus jeruk. Ia menatap Sobri dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan jijik yang tidak ditutup-tutupi. Pakaiannya minim sekali. Ia hanya mengenakan atasan crop top berwarna neon yang memamerkan perut ratanya yang bertindik, serta celana pendek yang lebih mirip celana dalam.

"Heh, lo sopir baru itu, ya?" tanya Putri ketus.

Sobri segera menegakkan badan dan mengangguk sopan. "Iya, Non. Nama saya Sobri."

Putri menutup hidungnya dengan tangan yang lentik, kuku-kukunya dicat warna-warni. "Duh, pantesan udara di sini jadi apek. Lo habis mandi kembang tujuh rupa atau gimana? Kok baunya masih kayak pupuk kandang?"

Jantung Sobri mencelos. Padahal ia sudah menghabiskan setengah batang sabun tadi.

"Maaf, Non. Saya sudah mandi," jawab Sobri pelan.

"Mandi air kali, ya?" cibir Putri. Ia melangkah maju, sengaja menyenggol bahu Sobri saat lewat. "Minggir. Jangan halangin jalan gue. Dan satu lagi, jangan pernah natap gue lama-lama. Mata lo itu kotor. Gue nggak mau kulit gue jadi panuan gara-gara ditatap sama orang kampung."

Sobri buru-buru menunduk, tapi matanya yang nakal sempat menangkap pemandangan di depannya. Saat Putri berjalan melewatinya, crop top ketat itu memperlihatkan lekuk tubuh bagian atas yang meski tidak sebesar kakaknya, namun terlihat padat dan kencang. Seperti buah apel muda yang renyah dan segar.

"Gusti, cobaan apa lagi ini," batin Sobri. "Belum hilang bayangan pepaya Nona Rossa, sekarang disuguhi apel malang Nona Putri."

Lanjut membaca
Lanjut membaca