Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Budak Ledang Sang Penakluk Cinta

Budak Ledang Sang Penakluk Cinta

Ahmad Tarmizi Khamis | Bersambung
Jumlah kata
31.6K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / Budak Ledang Sang Penakluk Cinta
Budak Ledang Sang Penakluk Cinta

Budak Ledang Sang Penakluk Cinta

Ahmad Tarmizi Khamis| Bersambung
Jumlah Kata
31.6K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
18+FantasiIsekaiCinta SekolahHaremPertualangan
Di dalam kegelapan itu, ia menyadari satu hal: kemiskinan bukan hanya tentang tidak punya makanan. Ia tentang rasa tidak berdaya. Dan Dahlan membenci rasa itu. Di luar rumah, angin malam berembus lebih kencang dari biasanya. Sungai bergelombang kecil. Dahlan keluar dan berdiri di bawah langit penuh bintang. Ia menatap jauh, ke arah hilir. Ke arah dunia yang belum pernah ia sentuh. “Aku akan pergi,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku akan kembali… dan tak akan ada lagi singkong sebagai satu-satunya pilihan.” Di kejauhan, lampu kapal kecil terlihat bergerak perlahan. Seolah memanggilnya. Dan tanpa ia sadari, malam itu adalah awal dari perjalanan panjang seorang anak desa terpencil yang kelak akan dikenal sebagai Budak Ledang sang penakluk cinta. Bukan hanya cinta seorang perempuan. Tapi cinta pada kehidupan yang ia tolak untuk menyerah.
Anak Singkong dari Sei Pakning

Angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang menempel di dinding-dinding papan rumah panggung itu. Rumah yang berdiri di atas tanah gambut, bergetar pelan setiap kali kapal kayu melintas jauh di Sungai Siak. Desa itu bernama Sei Pakning sebuah desa kecil di pedalaman Kabupaten Bengkalis, Riau. Tahun 1978.

Sei Pakning bukan sekadar desa. Ia adalah keterasingan.

Untuk keluar dari sana, orang harus naik kapal kayu berjam-jam lamanya menyusuri sungai yang lebar dan keruh. Tidak ada jalan aspal. Tidak ada kendaraan darat. Hanya air, lumpur, dan sunyi.

Di desa itulah Dahlan dilahirkan.

Dahlan, anak kedua dari tiga bersaudara, lahir di rumah papan sederhana dengan atap rumbia yang bocor bila hujan turun terlalu deras. Ia tidak lahir dengan kemewahan. Ia tidak lahir dengan takdir yang mudah.

Ia lahir dari rahim seorang ibu yang setiap hari menanak singkong.

Di Sei Pakning, saat itu, beras adalah kemewahan. Sesuatu yang hanya bisa dinikmati ketika ada hajatan besar atau ketika kapal dari kota datang membawa sembako dengan harga yang hampir tak terjangkau. Harga beras melonjak seperti barang langka. Dan keluarga Dahlan? Mereka bahkan tidak berani berharap.

Makanan pokok mereka adalah ubi kayu. Singkong.

Direbus di kuali hitam yang jelaganya sudah menempel seperti sejarah panjang kemiskinan. Singkong itu lalu dimakan bersama gulai ikan lomek, ikan kecil dari sungai yang dagingnya lembut dan sedikit amis, tapi bagi mereka, itulah rasa surga.

Dahlan kecil sering duduk memandangi piringnya. Bukan karena ia tidak mau makan. Tapi karena ia tahu, jika ia mengambil terlalu banyak, keluarga nya akan kekurangan.

Ibunya, Mak Suri, selalu tersenyum walau wajahnya dipenuhi garis lelah.

"Lahaplah, Lan. Kau harus kuat. Kau laki-laki."

Dahlan mengangguk. Tapi dalam hatinya, ia bertanya: kuat untuk apa?

Ayahnya, Pak Karim, adalah buruh angkut kayu di pelabuhan kecil desa. Pekerjaan yang tidak menentu. Jika kapal datang, ia bekerja. Jika tidak, ia pulang dengan tangan kosong. Upahnya seringkali hanya cukup untuk membeli garam dan sedikit minyak tanah.

Malam di Sei Pakning sunyi. Lampu hanya dari pelita. Nyamuk berdengung seperti irama takdir yang tak kunjung berubah.

Di usia tujuh tahun, Dahlan sudah paham satu hal: hidup tidak pernah berjanji akan mudah.

Suatu pagi, ketika kabut sungai masih tebal, Dahlan ikut ayahnya ke dermaga.

Ia melihat kapal kayu besar merapat. Orang-orang kota turun dengan pakaian bersih. Mereka membawa karung beras. Dahlan memandangi karung itu seperti melihat emas.

Ia belum pernah makan nasi putih sampai kenyang.

Sekali waktu, ketika Lebaran tiba, Mak Suri memasak sedikit nasi. Hanya satu periuk kecil. Dahlan ingat betul bagaimana harum nasi itu memenuhi rumah. Ia ingat bagaimana ia memakan perlahan-lahan, takut rasa itu cepat habis.

Dan pagi itu, di dermaga, ia melihat bertumpuk-tumpuk karung nasi.

"Yah," bisiknya pelan, "orang kota itu… apa mereka makan nasi setiap hari?"

Pak Karim diam lama. Wajahnya menegang.

"Iya, Lan."

"Kenapa kita tidak?"

Ayahnya memalingkan wajah ke sungai.

"Karena hidup kita bukan di kota."

Jawaban itu sederhana. Tapi di dada Dahlan, sesuatu tumbuh.

Keinginan.

Sekolah dasar di Sei Pakning hanya bangunan kayu sederhana. Lantainya papan yang renggang. Jika hujan turun, air masuk dari sela-sela dinding. Guru hanya dua orang. Buku pelajaran terbatas. Tapi Dahlan mencintai sekolah.

Ia mencintai huruf.

Ia mencintai cerita tentang dunia luar.

Ia mencintai peta Indonesia yang tergantung di dinding kelas, walau warnanya sudah pudar.

Setiap kali guru bercerita tentang Jakarta, tentang gedung tinggi dan jalan raya, Dahlan merasa seperti ada dunia lain yang memanggilnya.

Tapi setiap pulang sekolah, ia kembali ke kenyataan: singkong rebus.

Suatu malam, Mak Suri menangis diam-diam di dapur.

Dahlan yang terbangun untuk buang air mendengar suara itu. Ia mengintip dari balik tirai kain.

Ibunya duduk di depan tungku yang sudah padam. Di tangannya ada sepotong singkong yang belum dimakan.

Pak Karim berkata pelan, "Besok mungkin aku tak dapat kerja. Kapal tak datang."

Mak Suri mengangguk. "Anak-anak…?"

"Kita bagi saja yang ada."

Dahlan kembali ke tikarnya dengan mata basah.

Ia tidak menangis keras. Ia hanya menatap atap rumah yang hitam dan berjanji dalam hati: suatu hari, Mak tak akan makan sisa lagi.

Namun hidup di desa terpencil bukan hanya tentang lapar.

Ia juga tentang mimpi yang terasa terlalu jauh.

Di usia 7 tahun, Dahlan mulai membantu ayahnya di pelabuhan sepulang sekolah. Tangannya yang kecil memanggul kayu. Bahunya sering lebam. Tapi ia tak pernah mengeluh.

Suatu sore, saat matahari tenggelam di ufuk sungai, Dahlan duduk di ujung dermaga sendirian. Air sungai berwarna jingga.

Di sana, ia melihat seorang gadis berdiri tak jauh darinya.

Gadis itu berbeda.

Pakaiannya bersih. Rambutnya panjang dan terikat rapi. Wajahnya cerah seperti bukan bagian dari desa ini.

Namanya Ramlah.

Anak seorang pedagang yang baru pindah dari kota kecil Dumai.

Pertemuan pertama mereka sederhana. Tapi bagi Dahlan, itu seperti pintu dunia lain terbuka.

Ramlah tersenyum ketika melihat Dahlan menatap air.

"Kau sering di sini?"

Dahlan gugup. "Iya… bantu ayah."

"Kau sekolah?"

"Iya."

Ramlah mengangguk. "Aku juga."

Itu percakapan singkat. Tapi malam itu, Dahlan tidak bisa tidur.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar bertahan hidup.

Ia ingin menjadi seseorang.

Bukan hanya anak singkong.

Waktu berjalan. Ramlah sering datang ke dermaga. Mereka mulai berbicara lebih banyak. Tentang sekolah. Tentang mimpi.

Ramlah ingin menjadi guru.

"Kalau kau, Lan?" tanyanya suatu sore.

Dahlan terdiam lama.

Ia tidak pernah benar-benar memikirkan itu.

"Aku… ingin bisa beli beras sebanyak yang aku mau."

Ramlah tersenyum lembut.

"Itu bukan mimpi. Itu kebutuhan."

Dahlan menunduk. Ia malu.

Tapi Ramlah tidak menertawakan.

"Kalau begitu, kau harus keluar dari sini suatu hari nanti."

Kalimat itu sederhana. Tapi di dada Dahlan, ia seperti petir yang menyambar.

Keluar dari sini.

Apakah mungkin?

Namun takdir sering menguji sebelum memberi jalan.

Suatu hari, Pak Karim jatuh sakit. Tubuhnya melemah karena terlalu sering bekerja tanpa makan cukup. Tidak ada dokter di desa. Hanya mantri kesehatan yang datang sebulan sekali.

Dahlan melihat ayahnya terbaring lemah.

Mak Suri menjual satu-satunya gelang emas pemberian orang tuanya untuk membeli obat di kota.

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidak makan.

Tidak ada singkong. Tidak ada ikan lomek.

Hanya air putih.

Dahlan memeluk adiknya yang menangis kelaparan.

Di dalam kegelapan itu, ia menyadari satu hal: kemiskinan bukan hanya tentang tidak punya makanan. Ia tentang rasa tidak berdaya.

Dan Dahlan membenci rasa itu.

Di luar rumah, angin malam berembus lebih kencang dari biasanya. Sungai bergelombang kecil.

Dahlan keluar dan berdiri di bawah langit penuh bintang.

Ia menatap jauh, ke arah hilir.

Ke arah dunia yang belum pernah ia sentuh.

"Aku akan pergi," bisiknya pada dirinya sendiri.

"Aku akan kembali… dan tak akan ada lagi singkong sebagai satu-satunya pilihan."

Di kejauhan, lampu kapal kecil terlihat bergerak perlahan.

Seolah memanggilnya.

Dan tanpa ia sadari, malam itu adalah awal dari perjalanan panjang seorang anak desa terpencil yang kelak akan dikenal sebagai Budak Ledang sang penakluk cinta.

Bukan hanya cinta seorang perempuan.

Tapi cinta pada kehidupan yang ia tolak untuk menyerah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca