

Matahari baru saja memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit GTS saat Lukas memarkirkan sedan hitamnya di area parkir eksekutif. Seperti biasa, ia tidak langsung menuju lift. Baginya, hari belum benar-benar dimulai sebelum aroma biji kopi panggang menyentuh indranya.
Lukas melangkah masuk ke lobi utama yang luas dan mewah. Di sudut lobi, terdapat sebuah kafe specialty coffee yang menjadi titik kumpul para pekerja elit.
"Satu Double Shot Espresso, tanpa gula," ucap Lukas kepada barista tanpa perlu melihat menu.
Saat ia sedang menunggu, sebuah aroma parfum mahal yang manis namun tajam tiba-tiba menyerang penciumannya. Belum sempat ia menoleh, sebuah tangan ramping dengan kuku yang dicat merah menyala merampas gelas kopi yang baru saja diletakkan di konter.
"Terima kasih kopinya, Manajer kesayangan!"
Itu Andrea. Dia berdiri di sana dengan gaun kerja yang sangat pas di badannya, terlihat sangat cantik seolah baru saja turun dari panggung catwalk, namun matanya berkilat dengan keceriaan yang agak "berbahaya".
"Andrea, itu kopi dosis tinggi. Kau sudah cukup 'ajaib' tanpa bantuan kafein," ujar Lukas sambil menghela napas, namun tetap memberikan senyum tipis.
"Oh, ayolah Lukas! Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan tenang," Andrea tertawa, tawa khasnya yang sedikit terlalu keras untuk ukuran lobi kantor yang formal. Ia menyerahkan kembali kopi itu setelah menyesapnya sedikit, menyisakan noda lipstik di pinggir gelas. "Ayo, naik bersamaku. Aku punya gosip tentang saham yang akan membuatmu ingin melompat dari lantai 40."
Mereka berjalan bersama menuju lift khusus eksekutif. Di dalam lift yang berdinding cermin, Andrea terus berceloteh tentang pesta yang ia datangi semalam, sementara Lukas hanya mendengarkan sambil sesekali menyesap kopinya.
Pintu lift terbuka di lantai 35—Divisi Legal dan Kepatuhan.
Seorang wanita keluar dari ruangan di dekat lift. Ia mengenakan hijab berbahan sutra berwarna pastel yang ditata sangat stylish, dipadukan dengan setelan blazer modern yang memancarkan aura profesional namun tetap modis. Itu Nayla. Tangannya penuh dengan map tebal, namun ia tetap berjalan dengan langkah yang anggun dan tenang.
"Pagi, Nayla. Kau terlihat sibuk lebih awal hari ini," sapa Lukas saat Nayla ikut masuk ke dalam lift.
Nayla menoleh, memberikan senyum yang menenangkan namun penuh wibawa. "Pagi, Lukas. Pagi, Andrea. Seseorang harus memastikan bahwa semua transaksi hari ini tidak berakhir di meja hijau, bukan?" Matanya melirik ke arah Andrea yang sedang asyik bercermin. "Dan Andrea, tolong kecilkan suaramu. Suara tawamu terdengar sampai ke ruang arsip."
"Ups, maaf, Nay-Nay sayang!" Andrea menjulurkan lidahnya jenaka.
Lift terus bergerak naik. Di dalam ruang sempit itu, kontras karakter mereka terlihat jelas: Lukas yang tenang sebagai penengah, Andrea yang liar dan penuh energi, serta Nayla yang anggun dan berpegang teguh pada aturan.
"Kalian berdua dipanggil Wendy ke lantai paling atas setelah ini," ucap Nayla sambil merapikan tumpukan dokumennya. "Sepertinya ada masalah besar dengan kargo di pelabuhan. Dan Lukas... Wendy terdengar sangat tidak sabar pagi ini."
Lukas menatap angka lantai yang terus bertambah. Hari yang panjang baru saja dimulai.
Lift berdenting saat mencapai Lantai 45, area strategis pusat data dan analisis. Di depan pintu lift yang terbuka, berdiri seorang wanita yang tampak sangat asing. Ia mengenakan kacamata berbingkai tipis dengan ekspresi wajah sedatar papan tulis. Pakaiannya sangat formal, terkancing rapi hingga ke leher.
"Oh, kamu pasti Nadine, ya? Analis baru yang dibanggakan Wendy?" Andrea langsung menyerobot keluar, mengamati Nadine dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Nadine hanya mengangguk singkat, matanya beralih ke Lukas dengan tatapan menyelidiki. "Nadine. Mulai hari ini saya bertanggung jawab atas manajemen risiko perdagangan. Dan Anda pasti Lukas, orang yang menurut laporan sering 'mengabaikan' protokol keamanan demi hasil cepat."
Lukas mengangkat sebelah alisnya. "Selamat datang di tim, Nadine. Senang tahu kau sudah membaca prestasiku."
Nadine tidak membalas candaan itu. Ia masuk ke lift untuk naik ke lantai paling atas bersama mereka. Sementara mereka naik, Nadine tetap diam, tangannya sibuk mengetik di tablet dengan kecepatan luar biasa.