Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Darah Di Atas Tahta Langit

Darah Di Atas Tahta Langit

Mawar merah | Bersambung
Jumlah kata
45.1K
Popular
100
Subscribe
20
Novel / Darah Di Atas Tahta Langit
Darah Di Atas Tahta Langit

Darah Di Atas Tahta Langit

Mawar merah| Bersambung
Jumlah Kata
45.1K
Popular
100
Subscribe
20
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangMisteriPerang
Sejak awal peradaban, umat manusia hidup di bawah bayang-bayang para dewa. Di antara mereka, satu sosok paling ditakuti sekaligus disembah: Varagath, Dewa Perang. Ia bukan pelindung, bukan pula penghancur semata, melainkan perwujudan keseimbangan antara hidup dan kematian. Selama Varagath ada, perang memiliki batas. Namun ketika Varagath mempertanyakan perang abadi dan menolak menjadi alat para dewa, ia dihukum. Jiwanya dijatuhkan ke dunia fana dan terkurung dalam tubuh seorang manusia bernama Arka, sementara para dewa membiarkan dunia terjerumus dalam kekacauan tanpa kendali. Ratusan tahun kemudian, Arka terbangun di medan perang tanpa ingatan, membawa pedang legendaris Kharon—bukti bahwa dirinya bukan manusia biasa. Saat kekuatan Varagath perlahan bangkit, Arka menyadari kebenaran mengerikan: perang yang melanda dunia bukan kehendak manusia semata, melainkan skema para dewa untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Dalam pelariannya, Arka bertemu Lyra, seorang tabib muda yang kehilangan keluarganya akibat perang. Di tengah kehancuran, Lyra menjadi pengingat akan kemanusiaan yang hampir hilang dari diri Varagath. Melalui hubungan mereka, Arka mulai mempertanyakan identitasnya: apakah ia dewa yang terikat takdir langit, atau manusia yang berhak memilih jalannya sendiri? Ketika Arka menghentikan perang besar dan menentang kehendak langit, para Dewa Tinggi turun tangan. Mereka menandainya sebagai pengkhianat, dan perang pun berubah wujud—bukan lagi antar kerajaan, melainkan antara langit dan bumi. Takdir manusia, para dewa, dan keseimbangan dunia kini berada di ambang kehancuran. Dalam perjalanan penuh darah, pengkhianatan, dan pengorbanan, Arka harus menghadapi pilihan yang tak terelakkan: merebut kembali takhta langit sebagai Dewa Perang, atau menghancurkan sistem para dewa demi membebaskan manusia—dengan risiko kehilangan segalanya, termasuk dirinya sendiri.
Bab 1 siapa aku

Langit di atas negeri Akrava selalu berwarna merah saat perang akan datang. Orang-orang percaya itu adalah pertanda murka para dewa, terutama satu nama yang tak pernah diucapkan dengan suara lantang: Varagath, Dewa Perang.

Ia bukan dewa yang lahir dari doa. Ia tercipta dari jeritan pertama manusia yang saling membunuh.

Konon, ketika dunia masih muda dan manusia baru mengenal api serta besi, pertumpahan darah pertama mengguncang langit. Dari darah yang membasahi tanah dan amarah yang membumbung ke angkasa, Varagath bangkit—berzirah hitam, bermata merah menyala, dan membawa pedang bernama Kharon, bilah yang tak pernah tumpul oleh waktu.

Varagath bukan pelindung. Ia bukan pula penghancur semata. Ia adalah keseimbangan kejam antara hidup dan mati.

Namun selama ratusan tahun, Varagath menghilang.

Tanpa Dewa Perang, manusia berperang tanpa batas. Kota dibakar, anak-anak dijadikan prajurit, dan para raja membunuh atas nama kedamaian. Ironisnya, dunia justru tenggelam lebih dalam ke dalam kekacauan.

Di tengah kehancuran itu, seorang pemuda bernama Arka terbangun di medan perang.

Ia tidak ingat siapa dirinya.

Tubuhnya penuh luka, namun tak satu pun terasa sakit. Di sekelilingnya, mayat-mayat prajurit berserakan, darah masih hangat. Saat Arka mencoba berdiri, tanah bergetar pelan, seolah merespons langkahnya.

“Siapa… aku?” gumamnya.

Ketika ia menyentuh pedang yang tergeletak di dekatnya, kilatan cahaya hitam menyambar langit. Pedang itu berdenyut, seakan mengenali tuannya. Di bilahnya terukir satu nama kuno.

Kharon.

Kenangan menghantam pikiran Arka seperti badai. Jeritan, doa yang sia-sia, kota yang runtuh, dan takhta langit yang berlumuran darah. Ia melihat dirinya sendiri—bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sosok raksasa berzirah hitam.

“Aku… Varagath.”

Kesadaran itu membuat Arka jatuh berlutut.

Ia bukan manusia biasa. Ia adalah dewa yang jatuh ke dunia fana.

Namun ingatannya terpotong. Ia tak ingat mengapa ia turun. Atau mengapa kekuatannya terkunci dalam tubuh manusia rapuh ini.

Tak lama kemudian, pasukan kerajaan Akrava menemukan Arka. Melihat pedang hitam di tangannya, mereka langsung menyerang. Anak panah melesat, tombak diarahkan, namun setiap senjata yang menyentuh tubuh Arka hancur menjadi debu.

Dalam kepanikan, kekuatan Varagath bangkit setitik demi setitik. Dengan satu ayunan Kharon, tanah terbelah, dan pasukan itu terhempas seperti daun kering.

Arka berdiri di antara kehancuran, napasnya berat.

“Aku tidak ingin perang,” katanya lirih.

Namun dunia tak peduli pada keinginannya.

Kabar tentang “manusia dengan kekuatan dewa” menyebar cepat. Raja-raja ingin menguasainya. Pendeta ingin membunuhnya. Para jenderal ingin menjadikannya senjata.

Di perjalanan, Arka bertemu Lyra, seorang tabib yang kehilangan keluarganya akibat perang. Berbeda dari yang lain, Lyra tidak melihat Arka sebagai monster.

“Kau bukan perang itu sendiri,” kata Lyra suatu malam di dekat api unggun. “Kau hanya cermin dari apa yang ada di hati manusia.”

Kata-kata itu mengguncang Arka lebih dari ribuan pedang.

Sedikit demi sedikit, ingatan Varagath kembali. Ia mengingat alasan kejatuhannya: para dewa lain mengurungnya karena Varagath mulai mempertanyakan perang abadi. Ia lelah menjadi alasan manusia saling membunuh.

Para dewa takut. Tanpa Dewa Perang, keseimbangan akan runtuh. Maka mereka menghukumnya, mengurung jiwanya dalam tubuh manusia, membiarkan dunia membusuk tanpa kehadirannya.

Namun kini, perang terbesar akan datang.

Kerajaan-kerajaan bersatu untuk menghancurkan Akrava dan menguasai seluruh benua. Jutaan nyawa akan hilang. Doa-doa kembali menggema, memanggil satu nama.

Varagath.

Di puncak gunung tempat para dewa dulu mengikatnya, Arka berdiri. Langit merah menyala. Lyra berdiri di belakangnya, gemetar.

“Jika kau kembali menjadi dewa,” tanya Lyra pelan, “apakah kau akan meninggalkan sisi manusia?”

Arka menatap tangannya—tangan manusia yang bisa merasakan sakit, takut, dan cinta.

“Aku tidak ingin menjadi dewa yang hanya mengamati,” jawabnya. “Aku ingin menjadi dewa yang memilih.”

Saat pasukan gabungan menyerbu, Arka mengangkat Kharon. Tubuhnya diselimuti cahaya hitam dan merah. Sayap bayangan terbentang. Dewa Perang bangkit sepenuhnya.

Namun kali ini berbeda.

Varagath tidak memusnahkan. Ia tidak membakar dunia. Ia berdiri di antara dua pasukan, menghantam tanah dengan pedangnya. Dinding energi raksasa muncul, menghentikan perang.

Suara Varagath menggema ke seluruh penjuru.

“Perang bukan kehendakku. Perang adalah pilihan kalian. Dan mulai hari ini, setiap darah yang tumpah bukan atas namaku.”

Langit perlahan kembali biru.

Varagath menatap dunia—retak, rusak, namun masih hidup. Ia tahu perang tak akan pernah benar-benar hilang. Namun kini, ia memilih jalan baru.

Bukan sebagai dewa yang haus darah.

Melainkan sebagai penjaga yang mengingatkan manusia akan harga dari perang.

Dan di tanah yang dulu berlumur darah, benih harapan akhirnya tumbuh.

Lanjut membaca
Lanjut membaca