Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CATATAN GUILD TERKUTUK

CATATAN GUILD TERKUTUK

KH_88 | Bersambung
Jumlah kata
70.5K
Popular
1.6K
Subscribe
97
Novel / CATATAN GUILD TERKUTUK
CATATAN GUILD TERKUTUK

CATATAN GUILD TERKUTUK

KH_88| Bersambung
Jumlah Kata
70.5K
Popular
1.6K
Subscribe
97
Sinopsis
18+FantasiSci-FiMonsterKutukanPertualangan
"Ketika Iblis Terbangun Dalam Diri Seorang Manusia..."Aris, pelajar biasa, terlempar ke dunia sihir dan terikat kontrak jiwa dengan ratu elf. Kini, ia tahu rahasia gelap: dirinya adalah wadah bagi Malakarion, Raja Iblis pemakan jiwa!Dihadapkan pada kekuatan yang dituduh menghancurkan dunia, Aris harus berjuang mengendalikan iblis di dalam dirinya. Dengan ratu elf yang polos dan ratu manusia hewan yang memikat di sisinya, ia harus memilih: menyelamatkan dunia, atau memimpinnya dalam kehancuran?Satu-satunya pilihan adalah bertarung. Namun, siapa sebenarnya musuhnya? Dan bisakah ia menaklukkan takdirnya sendiri?
Evolusi Sihir

"Ris, lo masih mau latihan?"

"Pulang bareng aja deh," jawab Aris, suaranya terdengar lelah.

"Kirain kalau sudah timnas basket latihannya dobel," Gery menyahut, sedikit mengolok.

Aris mendengus. "Sialan lo. Capek juga, gue. Besok mau tanding."

Sandy terkekeh kecil. Ketiganya Aris, Sandy, dan Gery melangkah santai meninggalkan gedung olahraga, tas digendong sembarang di bahu. Suasana sore itu seharusnya biasa saja: langit kelabu tipis, angin hangat, dan suara kendaraan di kejauhan.

Namun langkah Aris melambat.

"Lo ngerasa nggak?" gumamnya.

"Apaan?" Sandy menoleh.

"Kayak… sunyi banget."

Gery hendak menimpali, tapi kata-katanya terhenti. Angin yang tadi berembus tiba-tiba mati. Suara jalanan lenyap, seolah dunia menahan napas.

Lalu langit berubah.

Bukan hujan air yang turun, melainkan butiran cahaya jatuh perlahan, berkilau lembut, seperti salju dari langit yang retak. Cahaya itu menyentuh tanah tanpa suara, namun menghadirkan rasa dingin yang asing di dada mereka.

Ketiganya terpaku.

Pemandangan itu begitu memukau, membuat banyak orang keluar rumah. Sebagian berdiri terpana di teras, mengangkat tangan seolah ingin menangkap cahaya yang turun perlahan. Anak-anak tertawa, berlari di bawah kilau itu, sementara beberapa orang dewasa mengabadikannya dengan ponsel, wajah mereka dipenuhi kekaguman.

Namun tidak semua larut dalam pesona.

Seorang ibu menarik anaknya mundur, berteriak agar mereka masuk ke dalam rumah. Beberapa pria tampak ragu, memilih berteduh di bawah kanopi toko, menatap langit dengan dahi berkerut. Ada pula yang berlari menjauh, seolah naluri mereka lebih cepat membaca bahaya.

Aris, Sandy, dan Gery termasuk yang terjebak di tengah keramaian. Awalnya mereka hanya tertawa kecil, membiarkan cahaya menyentuh jaket dan rambut mereka.

"Gila… kayak salju," gumam Sandy.

Gery mengangkat tangannya, membiarkan butiran cahaya menempel di telapak tangannya yang terbuka. "Dingin, tapi enak."

Keindahan itu tak bertahan lama.

Sebuah jeritan tiba-tiba memecah keheningan. Seorang pria roboh begitu saja, tubuhnya menghantam aspal dengan suara berat. Beberapa detik kemudian, jeritan lain menyusul. Satu orang jatuh, lalu dua, lalu semakin banyak.

Keramaian berubah menjadi kekacauan.

Orang-orang yang tadi tertawa kini berlarian panik. Ada yang mencoba menolong, ada yang justru mendorong orang lain demi menyelamatkan diri. Ketakutan merayapi udara, lebih dingin dari hujan cahaya itu sendiri.

"Gery!" teriak Aris.

Gery terhuyung, lalu tubuhnya ambruk ke tanah.

Tanpa pikir panjang, Aris dan Sandy bergerak. Mereka menarik orang-orang yang tak sadarkan diri ke pinggir jalan, mencoba menjauhkan mereka dari cahaya yang masih turun. Namun satu per satu, mereka yang membantu justru ikut terjatuh.

"Kenapa ini? Ada apa?" Aris panik, suaranya hampir tenggelam oleh jeritan di sekelilingnya.

Sandy tersungkur. Orang asing di dekatnya ikut roboh.

Dalam hitungan menit, jalanan dipenuhi tubuh-tubuh tak bergerak.

Gery tergeletak di samping Aris, tak sadarkan diri. Sandy juga tak bangun lagi.

Kini hanya Aris seorang yang masih berdiri, napasnya tersengal, matanya liar menatap sekeliling.

Sepuluh menit yang terasa seperti keabadian berlalu, dan hujan cahaya itu akhirnya mereda.

Detik berikutnya, sesuatu meledak di dalam tubuh Aris.

Bukan rasa sakit biasa—melainkan sensasi seperti seluruh tulangnya diremukkan bersamaan, lalu disusun ulang dengan cara yang salah. Ia menjerit, suaranya pecah dan serak, seolah tenggorokannya ikut robek dari dalam.

"AAAAA—!"

Matanya memerah pekat. Di bawah kulitnya, aliran darahnya berpendar, cahaya kemerahan merayap liar, berdenyut mengikuti detak jantungnya. Aris bisa merasakannya—seperti ada sesuatu yang menyusup ke pembuluh darahnya, berenang, mencakar, mencari tempat.

Ia terhuyung lalu berlutut.

Tangannya mencengkeram tanah keras hingga kuku-kukunya patah dan berdarah. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup api. Otot-ototnya menegang brutal, bergetar hebat, terasa seolah akan koyak dari tulangnya.

"Berhenti… tolong… berhenti…" gumamnya putus-putus, air mata mengalir tanpa ia sadari.

Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Pandangannya mengabur. Untuk sesaat, ia benar-benar yakin tubuhnya sedang gagal berfungsi bahwa ia akan mati di tempat itu, sendirian, tanpa sempat memahami apa yang terjadi.

Lalu, perlahan… rasa sakit itu surut.

Bukan menghilang, melainkan mundur, seperti binatang buas yang kenyang namun masih mengintai.

Aris tergeletak dengan napas tersengal, dada naik turun tak beraturan, tubuhnya gemetar tak terkendali.

"Apa… apa yang barusan…" bisiknya parau. "Ini… ini nggak normal…"

Tubuhnya terasa aneh. Terlalu ringan. Seolah ia tak sepenuhnya menapak di dunia yang sama.

Ia mengangkat tangannya dan jantungnya nyaris berhenti.

Di telapak tangannya, sebuah simbol aneh berpendar. Cahaya itu bergerak pelan, merayap di bawah kulit seperti tinta hidup. Aris refleks menarik tangannya, menekan simbol itu dengan tangan satunya, seolah ingin menghapusnya.

"Enggak… enggak…" kepalanya menggeleng panik. "Gue nggak mau ini. Ini halusinasi. Pasti halusinasi."

Namun saat ia meraih tasnya yang tergeletak di dekat Gery.

Tas itu melayang.

Tidak jatuh. Tidak terseret. Melayang, patuh, bergerak sendiri ke arahnya.

Aris mundur satu langkah. Lalu dua.

"Nggak… jangan…" suaranya bergetar. "Jangan gini."

Tas itu mendarat di kakinya.

"Gila…" bisiknya, napasnya memburu. "Gue gila."

Ia menatap sekeliling, jantungnya berdegup liar. Takut ada yang melihat. Takut seseorang menatapnya dengan ekspresi ngeri. Takut ia dianggap… sesuatu yang salah.

Dengan tangan gemetar, ia mencoba memindahkan tubuh orang-orang yang terkapar—bukan untuk bereksperimen, tapi karena panik ingin menjauh dari cahaya itu. Namun setiap kali ia fokus, tubuh-tubuh itu bergerak terlalu mudah.

Terlalu ringan.

"Berhenti… berhenti…" Aris memejamkan mata, mencoba menghentikannya. "Kalau gue bisa ngelakuin ini… gue bisa nyakitin orang."

Pikiran itu menghantamnya lebih keras dari rasa sakit tadi.

"Sihir?" gumamnya lirih, nyaris ketakutan pada kata itu sendiri. "Nggak. Ini nggak boleh. Ini nggak mungkin."

Namun tubuhnya tak mendengarkan.

Saat bayangan api melintas di pikirannya, panas menyala di ujung jarinya. Ia tersentak, buru-buru memadamkannya. Saat ia memikirkan angin, udara di sekitarnya bergetar. Air mengisi wadah tanpa ia sentuh. Tanah di depannya bergerak, hidup kembali.

Aris terduduk lemas.

Ini bukan rasa kagum.

Ini rasa takut.

"Ini salah," bisiknya, suara bergetar. "Ini… nggak seharusnya ada."

Tangannya mengepal keras, simbol di telapak itu berpendar lebih terang seolah merespons emosinya.

"Apa pun ini," katanya lirih, hampir memohon, "tolong… jangan bikin gue jadi monster."

Aris kebingungan, ketakutan, dan rasa sakit yang masih berdenyut pelan di setiap sel tubuhnya.

Dugaan Aris benar.

Rumah sakit penuh sesak.

Koridor dipadati tubuh-tubuh terbaring di lantai, di kursi roda, bahkan di atas tandu darurat yang dibuat dari bangku panjang. Tangisan bercampur teriakan, suara langkah tergesa, dan perintah tenaga medis yang nyaris tenggelam oleh kepanikan.

Aris berdiri kaku di dekat Sandy dan Gery yang masih tak sadarkan diri. Tangannya mengepal di saku jaket, menahan gemetar yang belum sepenuhnya hilang.

Ia merasa kecil. Tidak berguna.

Layar-layar televisi di ruang tunggu menayangkan siaran yang sama berulang-ulang. Gambar kota-kota di berbagai belahan dunia, langit yang sama, hujan cahaya yang sama.

"Fenomena Hujan Cahaya Misterius Melanda Seluruh Dunia!"

Tulisan besar itu memenuhi layar.

Aris menelan ludah.

Jadi bukan cuma di sini.

Bukan cuma dia.

Namun rasa lega itu tidak datang. Yang muncul justru ketakutan baru kalau semua orang bisa berubah, maka dunia akan jadi seperti apa?

Tak lama kemudian, sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Salah satu pasien di seberang ruangan bergerak. Lalu duduk. Beberapa menit kemudian, yang lain menyusul. Tidak ada suntikan. Tidak ada tindakan medis.

Mereka sadar begitu saja.

Aris nyaris tak bernapas saat melihat Gery mengerang pelan, lalu membuka mata.

"Ger…?" suaranya pecah.

"Pusing…" gumam Gery. "Kayak abis ditabrak truk."

Sandy menyusul bangun beberapa saat kemudian.

Aris menghela napas panjang, nyaris terduduk karena lututnya melemas. Ada rasa lega yang begitu besar sampai dadanya sakit.

Namun saat mereka bertanya apa yang terjadi,

Aris ragu.

Ia menceritakan semuanya, tapi tidak dengan nada gembira. Tentang hujan cahaya. Tentang rasa sakit yang seperti ingin membunuhnya. Tentang… hal lain.

"…terus," katanya pelan, "gue bisa ngelakuin hal-hal aneh."

Sandy mengerutkan kening. "Aneh gimana?"

Aris terdiam sejenak. "Nanti gue jelasin."

Ia sendiri belum yakin ingin mengatakannya keras-keras.

Di tengah kebingungan itu, layar televisi kembali berganti siaran. Pembawa berita tampak pucat, kaku, seolah membaca sesuatu yang bahkan ia sendiri belum siap terima.

"Fenomena ini kini secara resmi disebut sebagai Mana Sihir."

Ruangan mendadak sunyi.

"Para ahli menyebut Mana Sihir sebagai anugerah sekaligus bencana. Sejumlah korban dilaporkan meninggal, sementara sebagian lainnya mengalami perubahan ekstrem, termasuk mutasi berbahaya…"

Gambar berganti cepat. Siluet makhluk besar. Hewan yang bentuknya tak lagi normal.

"…dan sebagian kecil manusia dilaporkan menunjukkan kemampuan di luar nalar."

Aris merasakan perutnya melilit.

Jadi ini nyata.

Saat itulah seseorang berdiri terlalu dekat dengannya.

"Eh… maaf."

Aris refleks menoleh, waspada.

Seorang pemuda berdiri canggung di sampingnya. Seumuran. Wajahnya tegang, tapi bukan mengancam lebih seperti orang yang sedang mencari pegangan.

"Aku Ridho," katanya cepat, lalu ragu. "Aku cuma… kamu kelihatan kayak… ngerti."

"Ngerti apaan?" Aris menjawab defensif.

Ridho menghela napas, jelas gugup. "Maaf. Salah."

Ia terdiam beberapa detik, lalu berbisik, "Kamu ngerasain hal aneh juga, kan? Setelah hujan itu."

Aris menatapnya lama.

"…Lo juga?" balasnya pelan.

Ridho mengangguk cepat, ekspresinya berubah lega. "Oke. Syukurlah."

Aris mengernyit. "Syukurlah?"

"Soalnya aku pikir aku doang yang—" Ridho berhenti, menggeleng. "Nggak penting."

Hening canggung menyusul.

"Kamu bisa apa?" tanya Aris akhirnya, langsung menyesal karena terdengar terlalu tajam.

Ridho mengangkat bahu. "Angin. Kayaknya."

"Kayaknya?"

"Iya. Kadang jalan, kadang nggak. Barusan aku nyoba… hampir jatuhin alat infus." Ia meringis. "Sejak itu aku berhenti nyoba."

Aris mengangguk pelan. "Bagus."

Ridho meliriknya. "Kamu?"

Aris ragu. Lama. Lalu menjawab pelan, "Gue… nggak yakin mau nyebutinnya."

Ridho tidak mendesak.

"…Beberapa hal," lanjut Aris akhirnya. "Dan jujur aja, gue nggak senang."

Ridho terdiam. "Oh."

Aris menatap layar televisi lagi. "Kalau ini beneran menyebar ke mana-mana… bakal banyak yang nggak siap."

Ridho mengangguk. "Iya. Termasuk kita."

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

"…Kalau nanti semua orang mulai takut," kata Ridho hati-hati, "setidaknya kita tahu kita nggak sendirian."

Aris menoleh padanya. Tidak tersenyum, tapi juga tidak menolak.

"Iya," katanya. "Itu aja udah cukup buat sekarang."

Lanjut membaca
Lanjut membaca