Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Habiskan Uang Dapat Sistem

Habiskan Uang Dapat Sistem

Nathan Diamond | Bersambung
Jumlah kata
29.0K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / Habiskan Uang Dapat Sistem
Habiskan Uang Dapat Sistem

Habiskan Uang Dapat Sistem

Nathan Diamond| Bersambung
Jumlah Kata
29.0K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDokter GeniusHarem21+
Selama 2 tahun, Liam bekerja banting tulang dalam 3 pekerjaan, untuk biaya hidup dan kuliah Rachel, kekasihnya. Hingga suatu malam, Rachel datang ke cafe tempatnya bekerja untuk memamerkan kekasih baru Rachel. Liam sangat marah, hingga memukuli Brandon, kekasih baru Rachel yang kaya raya. Saat Liam dikeroyok Brandon dan teman-teman Brandon hingga hampir mati, Liam dipilih sistem. Mulai saat ini, setiap Liam membelanjakan uang yang diberikan sistem, Liam akan mendapatkan kemampuan dari sistem. Dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri, bisa sembuhkan orang lain, bisa jadi pembalap atau apapun yang Liam mau. Semua yang Liam mau, bisa terwujud di depannya.Bahkan dia bisa memiliki sistem untuk memuaskan para wanita.
1 Pengkhianatan Kekasih Tersayang

Aroma kopi yang pekat bercampur dengan asap rokok memenuhi ruangan cafe yang remang-remang. Lampu-lampu kuning redup menggantung di langit-langit seperti kunang-kunang yang terjebak dalam sangkar kaca, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di setiap sudut ruangan. Musik jazz mengalun pelan dari speaker tersembunyi di balik pot tanaman hias, melodinya nyaris tenggelam oleh dentingan gelas dan gumaman percakapan pengunjung yang datang dan pergi.

Midnight Blues Cafe. Tempat itu sudah menjadi rumah kedua bagi Liam selama enam bulan terakhir. Bukan karena dia menyukai tempatnya, bukan juga karena gajinya yang lumayan. Tapi karena cafe ini adalah satu-satunya tempat yang mau menerimanya untuk shift malam, dari jam sebelas malam hingga jam dua pagi.

Liam berdiri di balik counter kayu yang sudah mulai mengelupas catnya di beberapa bagian. Matanya yang lelah menyapu seluruh ruangan dengan pandangan yang sudah terlatih untuk menangkap setiap gerakan tangan pelanggan yang membutuhkan layanan. Jam di dinding, jam antik dengan pendulum yang berayun pelan, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.

Tubuhnya terasa berat. Sangat berat. Seperti ada batu sebesar kepalan tinju yang menggantung di setiap persendiannya. Otot-ototnya protes, menjerit dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah melampaui batas kelelahan manusia normal.

Pagi tadi, tepat pukul lima, dia sudah berada di perumahan elit Greenville Estate. Tangannya yang kapalan mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu taman keluarga Morrison. Kemudian memangkas tanaman pagar di rumah keluarga Chen. Lalu menyiram kebun mawar milik Nyonya Williams yang cerewet itu. Empat jam penuh di bawah terik matahari yang tidak mengenal ampun.

Siang hingga sore, kakinya mengayuh sepeda motor butut kesana kemari. Motor Honda beat keluaran tahun 2008 yang mesinnya sudah batuk-batuk setiap kali dipaksa menanjak. Dia mengantarkan makanan ke berbagai alamat. Nasi goreng ke apartemen mahasiswa. Pizza ke kantor di pusat kota. Bubble tea ke rumah gadis remaja yang bahkan tidak repot-repot mengucapkan terima kasih.

Dua puluh tiga pesanan. Dalam enam jam. Dengan waktu istirahat total tidak lebih dari tiga puluh menit.

Kemudian dia sempat tidur. Dua jam. Hanya dua jam di kamar kostnya yang pengap, dengan kipas angin yang berputar malas dan nyamuk-nyamuk yang seolah sudah membuat kontrak sewa tetap di tempat itu.

Dan sekarang dia di sini. Berdiri dengan seragam pelayan hitam-putih yang sudah dicuci terlalu sering hingga warnanya memudar. Mata merahnya dipaksa tetap terbuka. Kakinya dipaksa tetap tegak. Otaknya dipaksa tetap berfungsi.

‘Demi Rachel.’

Nama itu muncul di benaknya seperti mantra yang sudah dia ucapkan ribuan kali.

‘Semua ini demi Rachel.’

Dan seperti biasa, nama itu saja sudah cukup untuk membuatnya tersenyum tipis di tengah kelelahan yang mencekik. Gadis itu, gadis dengan rambut panjang dan senyum yang bisa melelehkan hati siapapun, sedang berjuang di bangku kuliah. Jurusan manajemen bisnis di universitas swasta terbaik di kota ini. Dan Liam, pemuda yang bahkan tidak lulus SMA karena harus merantau demi membantu ekonomi keluarga, bertekad memastikan Rachel tidak perlu memikirkan apapun selain studinya.

Biaya kuliah? Liam yang bayar.

Uang sewa asrama? Liam yang kirim setiap bulan.

Uang makan? Uang buku? Uang untuk membeli laptop baru semester lalu? Semua dari kantong Liam.

Kantong yang dia isi dengan tiga pekerjaan setiap hari. Kantong yang dia isi dengan keringat dan darah dan jam tidur yang dicuri.

Tapi tidak apa-apa. Semua akan terbayar ketika Rachel lulus. Ketika Rachel mendapat pekerjaan bagus. Ketika mereka berdua bisa membangun hidup bersama, jauh dari kemiskinan yang sudah mencekik keluarga mereka sejak lahir.

Setidaknya, itulah yang selalu Liam yakini.

Pintu cafe terbuka dengan bunyi lonceng kecil yang familiar. Angin malam menyusup masuk, membawa serta hawa dingin yang menggigit kulit. Bersama angin itu, sekelompok orang berjalan masuk dengan langkah-langkah yang penuh percaya diri. Langkah orang-orang yang terbiasa mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

Lima lelaki dan tiga perempuan. Pakaian mereka branded dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jam tangan yang berkilau. Tas-tas mahal yang harganya mungkin setara dengan penghasilan Liam selama setahun penuh. Tawa mereka keras dan tanpa beban, kontras dengan suasana cafe yang tenang.

Liam mengenali tipe orang-orang seperti ini. Anak-anak orang kaya yang menghabiskan malam dengan bersenang-senang, menghamburkan uang orang tua untuk kesenangan sesaat. Dia tidak membenci mereka. Dia bahkan tidak iri. Dia hanya... lelah. Terlalu lelah untuk merasakan apapun selain keinginan untuk menyelesaikan shift ini dan kembali ke kasur tipisnya.

Salah satu dari mereka mengangkat tangan, melambaikan jari dengan gaya yang merendahkan. Gestur universal untuk memanggil pelayan seperti memanggil anjing.

Liam menelan kekesalannya. Profesionalisme, dia mengingatkan diri sendiri. Kau butuh pekerjaan ini.

Dia mengambil buku kecil dan pulpen dari saku celemeknya. Punggungnya dia tegakkan, berusaha menyembunyikan kelelahan di balik senyum profesional yang sudah dia latih selama berbulan-bulan. Kemudian dia berjalan mendekat, langkahnya tenang dan terukur meski kakinya sudah memohon untuk istirahat.

Semakin dekat dia berjalan, semakin jelas suara-suara itu terdengar.

Tawa. Bukan tawa biasa. Ada sesuatu yang berbeda dalam tawa itu. Sesuatu yang jahat. Sesuatu yang anticipatif, seperti predator yang sudah mengendus mangsanya.

Dan ada sesuatu yang lain. Salah satu perempuan di kelompok itu menundukkan kepala dalam-dalam, rambutnya menutupi wajahnya seperti tirai, seolah ingin menyembunyikan identitasnya dari seluruh dunia.

Sesuatu yang janggal mulai menggelitik perut Liam. Perasaan yang tidak bisa dia jelaskan. Seperti firasat buruk yang datang tanpa alasan, tapi terlalu kuat untuk diabaikan.

Cahaya lampu meja akhirnya menerangi wajah-wajah mereka dengan jelas.

Langkah Liam terhenti seketika. Seperti ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram bahunya dan memaksanya berhenti.

Brandon Thompson.

Nama itu langsung muncul di benak Liam seperti kilat yang menyambar. Wajah itu sering dia lihat di foto-foto yang Rachel unggah di media sosial. Mahasiswa angkuh dari jurusan bisnis, satu angkatan dengan Rachel. Pewaris tunggal keluarga Thompson yang menguasai setengah bisnis properti di kota ini. Rahangnya tegas, rambutnya ditata rapi ke belakang dengan gel mahal, dan matanya memancarkan keangkuhan yang hanya dimiliki oleh mereka yang lahir dengan sendok emas di mulut.

Dan dia duduk di sana, lengannya melingkar di pinggang seorang gadis.

Gadis yang menunduk itu.

Gadis dengan rambut panjang yang sangat Liam kenal.

Brandon menyeringai lebar, seolah sudah menunggu momen ini sepanjang malam. Dengan gerakan lambat yang sangat disengaja, menikmati setiap detiknya, dia mengangkat dagu gadis itu dengan jari telunjuknya. Memaksa wajahnya terangkat ke arah Liam yang berdiri membeku.

Rachel.

Waktu seolah berhenti. Suara musik jazz menghilang. Gumaman pelanggan lain menjadi sunyi. Yang ada hanya wajah itu. Wajah yang sudah dia cintai selama dua tahun. Wajah yang membuatnya rela bekerja seperti kuda. Wajah yang selalu dia bayangkan ketika tubuhnya sudah tidak kuat lagi.

Wajah itu sekarang menatapnya. Dan Liam mencari, mencari dengan putus asa, sesuatu di mata itu. Penyesalan. Rasa bersalah. Penjelasan. Apapun.

Tapi yang dia temukan hanya... kekosongan. Mata itu kosong seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Dan di balik kekosongan itu, ada sedikit rasa malu yang buru-buru disembunyikan. Bukan malu karena ketahuan. Tapi malu karena harus berurusan dengan situasi yang tidak nyaman ini.

"Rachel..." nama itu keluar dari mulut Liam, nyaris berbisik, seperti doa yang sudah kehilangan kepercayaan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca