

Angin malam berdesir pelan, membawa aroma lembap dari hutan Umbra yang telah lama ditinggalkan manusia. Di tengah antara pepohonan rimbun yang tumbuh rapat, seakan membentuk sebuah dinding gelap yang tak tertembus, bahkan bagi cahaya sekalipun. Berdiri sebuah bangunan kokoh, rumah mewah namun suram. Dinding retak, lantai berdebu bahkan perabotan yang sama sekali tak layak untuk dipakai.
Di sudut rumah,sebuah tempat yang terdapat cahaya remang dari lilin menerangi tubuh seorang anak lelaki yang tengah meringkuk ditengah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Pandangan kosong, namun pikiran berkecamuk.
'anakkuu'
'TIDAK! Kembalikan putraku!'
'kembalikan dia!'
samar, namun terngiang di telinganya. Apa ini? kenapa telinganya selalu berdenging disertai dengan bisikan bisikan itu. Perlahan ia mengangkat kedua tangan nya dan meletakkannya di telinga, alisnya menukik, matanya terpejam karena suara itu tak kunjung hilang. semakin di tekan pula jari jarinya untuk menutup lubang telinga.
Gubrak...
Spontan saja ia menoleh, matanya menangkap sesosok wanita yang berdiri di ambang pintu masuk kamarnya. Jubah hitam yang dikenakan berkibar terkena angin malam, tangannya membawa sebuah gelas. Ia yakin itu obat, seperti biasa yang wanita itu bawa untuknya.
Rasanya setiap kali ia melihat gelas itu rasanya muak tapi juga tak bisa menyangkal jika setelah meminumnya kepala yang tadinya berat menjadi ringan, seakan beban berat dari kepalanya langsung terangkat. Juga bisikan bisikan di telinganya berangsur menghilang.
Membuka tudung jubahnya, wanita itu kemudian mendekat. "datang lagi ya?" ucapnya bertanya.
Tanpa menjawab ia langsung saja mengambil gelas di tangan wanita itu dan langsung menenggaknya. Bahkan rasa pahit dari cairan itu tak berarti lagi baginya.
Tersenyum puas, wanita itu kemudian berbalik hendak meninggalkan kamar. Tapi sebelum benar benar keluar ia menoleh, "sebaiknya kau menutup jendela besarmu itu, atau kepalamu akan benar benar terasa hancur, bukan begitu Arelion?"
Gubrak...
lagi! wanita itu langsung menutup pintu dengan keras, bahkan tak mengindahkan lelaki yang bernama Arelion yang masih terkapar di tengah ruangan, menikmati gelombang rasa sakit yang berangsur angsur reda. Deru nafasnya kembali teratur, dengan keringat yang mengalir di pelipis. Lantai dingin kamar yang tadinya ia hiraukan kini perlahan terasa, Tapi ia abaikan sebab rasa lega di kepalanya.
malam semakin sunyi, tetesan air pun tak terdengar lagi bersamaan dengan kesadaran yang kian lama semakin menghilang membawa Arelion ke dalam sebuah dunia yang tak dapat dituliskan waktu.
...
"ibu?"
suaranya lembut, bagaikan senandung halus di pagi hari. sang Ibu yang mendengar itu pun tersenyum, bahkan tanpa menoleh ia tau kalau itu putrinya.
"mimpi buruk lagi, Serenya?" katanya sembari menoleh. Dengan lembut ia tatap putri kecilnya, kemudian di dekap lembut. mencoba mengusir rasa gundah yang menyeruak hadir pada sang putri. Sebenarnya ia sedikit menduga, tapi segera tepis karena suatu hal yang mustahil untuk terjadi.
"tapi aku merasa, ini benar benar nyata."
"benarkah?"
"rasa sesak ini kian melanda, aku harus bagimana ibu?"
...
Pagi manyingsing, gorden yang tadi malam dibiarkan terbuka membuat sinar matahari masuk melalui jendela membuat mata yang tadinya terpejam, kini perlahan terbuka. Mendapati dirinya yang terbaring di lantai, ia mengernyit bingung.
"apa aku terjatuh dari ranjang ya?" monolognya.
Tak ambil pusing, Arelion segera bangkit dan membersihkan diri. Segera setelah berganti pakaian ia menuju taman belakang, melihat beberapa buah apel yang masih tersisa di dahan yang kemudian segera ia petik. Lapar, tapi bahkan makanan pun tak ada di rumah. Jadi mau tak mau Arelion mengambil beberapa buah yang tumbuh di taman belakang ini, hingga saat ini tersisa beberapa buah apel saja.
"sepertinya aku harus mencari sumber makanan lain."
setelah beberapa saat menikmati waktu di bawah pohon apel juga memakannya, Arelion bangkit menuju sebuah perpustakaan di ujung rumah. ia memang tak mengingat apapun, jadi ia putuskan untuk sering membaca di perpustakaan entah hanya membaca atau mencari informasi.
memilah beberapa buku, akhirnya Arelion tertarik dengan buku yang berjudul "dua cahaya". Buku bersampul polos dan hanya ada tulisan "dua cahaya" itu ditarik pelan, berdebu memang karena tak ada seorang pun di rumah ini. Hanya sesekali orang akan wanita itu datang, oh ya bicara soal wanita itu...
"Aku Nara."
hanya itu yang Arelion tau, hanya sepenggal nama dan hanya datang saat ia tengah merasakan sakit kepala seperti malam tadi. Terkadang datang dengan membawa beberapa buah dan beberapa bahan makanan seperti roti dan sebagainya.
Menatap kembali buku yang ada di tangannya, ia beranjak menuju bangku di sudut ruang tepat di sebelah jendela lebar yang mengarah langsung ke pepohonan. Terlihat sangat rimbun dan rindang, bagaimana jika ia melihat lihat ke sana ya? akankah terdapat buah buahan segar yang melimpah? atau beberapa ekor ayam dan kelinci yang bisa ia santap?. Menepis apa yang dipikirkannya tadi, ia segera membuka buku yang berada di tangannya.
Lembar pertama terlihat, kosong.
tak seperti buku buku yang lain, buku ini tak ia dapati nama penulis juga asal buku ini dibuat. kemudian di lembar ke 4, tertulis "Bab 1 cahaya yang terpisah"
_Kedua cahaya yang terpisah, mereka akan berkilau jika salah satunya dikelilingi oleh aura._
hanya sepenggal kalimat, yang sukses membuat Arelion bingung. kemudian, ia balik lagi ke halaman selanjutnya.
_Jika salah satu cahaya berkilau, maka kilauannya akan meraih Kilauan yang lain._
Sepenggal kalimat, lagi. sedikit mencerna makan dari tulisan itu tapi tak kunjung menemukan jawabannya, ketika ia hendak membuka lembaran selanjutnya sebuah suara muncul.
Dengan segera ia letakkan buku itu di tempat yang sekiranya tak terlihat dari arah luar, ia letakkan beberapa buku untuk menutupinya. Entah mengapa, tapi ia rasa harus melanjutkan membaca buku itu nanti.
"darimana saja kau?"
di sana, di sebelah meja dapur berdirilah Nara. ia tak tau sejak kapan karena kedatangannya memang selalu tiba tiba, terkadang hanya suara beberapa benda jatuh yang bisa ia gunakan untuk menandai kedatangannya.
"dari taman belakang." Jawab Arelion singkat.
"hm... awas saja jika kau pergi dari rumah ini, kau bahkan mungkin tak akan pernah melihat hari esok dan dijadikan santapan hewan buas di sana." ucapnya sembari berjalan ke lantai atas, rumah mewah ini memang terdapat 2 lantai. Tapi bahkan ia tak pernah sekalipun melangkah ke sana, mungkin belum.
Tanpa menjawab Arelion mengambil beberapa bahan makanan yang terletak di atas meja, segera ia simpan di lemari karena hanya itu yang bisa ia makan untuk beberapa hari kedepan. Setidaknya sampai Nara kembali membawakannya makanan.
...
"semakin lama, semakin kuat juga energinya. Bahkan ingatan yang coba aku tutupi dengan ramuan itu, efeknya tak bertahan lama. Bagaimana jika nanti tiba tiba dia ingat? Hah! tidak boleh terjadi.. aku harus lebih sering memberikannya ramuan itu.. iya harus!"