

Di Helios High School, kehidupan para muridnya dibalut oleh sistem kasta yang menentukan nasib setiap muridnya. Ruby adalah penguasa, Diamond si vokal, Gold si standar yang terjamin, dan Silver adalah bayang-bayang. Jika ditanya siapa yang menentukan kasta itu?
Jawabannya adalah para penguasa, Ruby.
Di masing-masing seragam para murid terdapat tanda pengenal dengan warna sesuai kasta mereka. Murid tingkat Ruby memakai tanda pengenal warna ungu, tingkat Diamond memakai tanda pengenal berwarna biru, tingkat Gold berwarna kuning, dan tingkat Silver berwarna silver sesuai namanya.
Di kantin sekolah, para murid tingkat Ruby duduk di pojok kantin dengan meja kursi yang berbeda dari meja kursi lainnya. Jika meja dan kursi untuk murid lainnya terbuat dari kayu jati, maka meja dan kursi milik tingkat Ruby terbuat dari besi yang mengkilap. Tidak ada murid tingkat di bawahnya yang berani memakai fasilitas khusus murid tingkat Ruby.
“Gimana balapanmu semalam? Menang nggak?”
“Yoi, bro! Lumayan dapat motor sport edisi terbaru.”
Obrolan itu berasal dari para murid tingkat Ruby. Sementara itu, beberapa siswa tingkat Silver disuruh untuk membelikan dan mengantar makanan untuk mereka.
“Ini ayam gorengnya,” ucap salah satu murid tingkat silver seraya menyajikan makanan di meja dengan sedikit gemetar.
“Ini upahnya!” Seorang murid tingkat Ruby melempar selembar uang.
Setelah para murid tingkat Silver menyelesaikan tugasnya dari tingkat Ruby, maka murid tingkat Diamond dan Gold akan bergantian menyuruh mereka.
“Hei, kalian kemarilah! Aku lapar, belikan seporsi mie goreng!”
“Aku juga! Belikan ayam pop dan nasi goreng!”
Sementara itu, Davin si murid tingkat Silver dengan hati-hati mengantarkan segelas es cokelat menuju meja tempat seorang murid tingkat Diamond yang menyuruhnya. Saat hendak sampai ke mejanya, Davin terjatuh ke ke depan dan es cokelat di tangannya tumpah mengenai seragam murid tingkat Diamond bernama Eros. Hal itu terjadi karena salah satu teman Eros sengaja menghalangi kaki Davin saat lewat hingga tersandung.
Eros yang marah langsung menampar Davin. “Dasar bodoh!” hardiknya.
Wajah Davin tertoleh dengan keras. Aktivitas di kantin terhenti sejenak. Semua mata mengarah pada Davin dan Eros.
Situasi memanas. Dari pojok, tingkat Ruby menonton hal itu seraya menikmati makanannya dengan senyum manis. Mereka sangat menikmati tontonan gratis yang mereka idam-idamkan setiap hari.
Tentu saja Davin membela diri. “Aku sudah membawa minumannya dengan hati-hati. Tadi Yordan yang menyandung kakiku.”
“Enak saja asal tuduh! Eros, dia sudah mulai kurang ajar,” sahut murid dengan rambut dicat pirang, Yordan.
“Jangan begitu tak tahu malu. Kamu sudah membuat masalah malah menambah masalah lagi,” sahut Raisa, seorang siswi tingkat Gold yang merupakan satu-satunya siswi di geng Eros. Ia juga gemar mengganggu Davin.
Emosi Davin terpancing. Ia pun berkata, “Kalian memang suka menindas. Tentu saja kalian tidak mau mengakui kesalahan satu sama lain. Jika aku benar-benar disandung, apakah aku yang tetap disalahkan?”
“Diam kamu, anak koruptor! Kamu tahu kenapa dirimu begitu hina? Ayah Ibumu yang telah mati itu sudah merugikan negara karena kasus korupsi yang mereka lakukan. Terus kenapa kau masih hidup? Kenapa kau tidak menyusul kedua orang tuamu?” lontar Eros di depan wajah Davin. Napas Davin memburu.
Murid-murid lain yang mendengarnya tampak terkejut dengan ucapan Eros. Mereka memang pernah mendengar desas-desus bahwa Davin adalah anak koruptor. Namun, kali ini mereka mendengar langsung Eros mengatakannya di depan Davin.
Raisa dan Yordan saling pandang lalu tersenyum puas.
Plak!
“Jangan pernah katakan itu lagi!” Davin yang sudah kepalang emosi lantas menampar Eros.
Seluruh murid bertambah terkejut. Bahkan suasana mendadak hening selama beberapa saat.
Eros menatap Davin dengan mata menyala-nyala. “Oh, berani sekarang kau, kepar*t!”
Eros yang marah lalu menyeret Davin keluar kantin diikuti oleh teman-temannya. Semuanya hanya menonton. Apalagi murid tingkat Ruby yang merupakan tingkat paling disegani di sekolah justru menganggap itu adalah pertunjukan yang seru.
Davin pun dibawa ke gudang belakang sekolah. Di sana, ia dipaksa duduk berlutut di atas lantai. Yordan kemudian mengambil sebuah pot bunga dan menaruhnya di atas kepada Davin. “Pegang ini!” titahnya.
Sementara itu, Eros dan teman-temannya berdiri mengelilingi Davin. Raisa mengambil sebuah sepatu yang tergeletak di lantai—sepertinya milik murid yang pernah menjadi korban bullying. Mereka lalu melempar sepatu ke arah pot bunga di atas kepada Davin secara bergantian.
Peraturannya adalah, Davin tidak boleh menjatuhkan pot bunganya atau ia akan mendapatkan hukuman. Akhirnya, wajah Davin terkena lemparan sepatu dari Eros dan teman-temannya. Bahkan Raisa merekamnya sambil tertawa dengan puas.
"Kok diam saja? Teriak dong, Davin. Nggak seru, ah!" ucap Eros.
"Sok kuat banget. Padahal kalau yang lainnya sudah menangis minta ampun," sahut Yordan, anak buah Eros.
Davin hanya diam. Ia menatap mereka dengan napas memburu. “Bisa berhenti? Aku tadi tidak sengaja menumpahkan minumanmu, Eros!”
“Apa aku menyuruhmu bicara? Aku hanya menyuruhmu berteriak kesakitan atau meminta tolong!” lontar Eros dengan kejam.
Pembullyan pun terus dilanjut. Wajah Davin menjadi kotor sekaligus mendapat beberapa bekas luka karena ulah Eros dan teman-temannya. Karena tak sanggup, ia memohon berkali-kali agar mereka berhenti.
“Sudah cukup … tolong berhenti!”
Namun, mereka tidak mau mendengar permohonan Davin. Salah satu teman Eros yang bernama Raisa menyiram Davin dengan seember air yang diambil dari toilet. Akhirnya Davin pun pingsan.
•••
Saat Davin sadar, ia sudah dalam kondisi yang mengenaskan dan ditinggal sendirian di gudang belakang sekolah. Kali ini, tatapannya berbeda. Ia memandang sekelilingnya dengan tatapan benci.
“Eros…”
Ingatan tentang tawa kepuasan Eros kembali muncul dibenaknya. Tangannya terkepal memendam rasa benci yang mendalam.
“Kalau saja aku punya kekuatan, aku akan buktikan kalau aku bukan sampah!”
Mendadak kepalanya terasa pusing. Ia merasa sesuatu mengalir dari hidungnya. Saat ia menyentuh hidungnya, terdapat cairan merah yang kental. “Darah?”
Cairan itu terus menetes hingga terkena tangan Davin. Tiba-tiba, sesuatu menyala di pergelangan tangan Davin. Ternyata cahaya itu berasal dari bandul berbentuk lingkaran berwarna putih di gelang hitam yang Davin pakai.
Gelang itu adalah pemberian kedua orang tuanya sejak kecil dan tidak pernah terlepas dari tangan Davin seolah sudah menjadi bagian dari hidupnya. Davin mengusap darah yang menetes pada gelang itu, tapi itu tidak menghentikan cahaya yang terus terpancar dari simbol lingkaran yang ada pada bandul gelang tersebut.
Tentu saja Davin kebingungan. Tiba-tiba, muncul suara yang terdengar samar dari pikirannya, “Tenanglah, Davin … rasa sakitmu tidak akan bertahan lama. Kamu telah dipilih….”
Davin terhenyak. Ia menoleh, tapi yang ada hanya kesunyian di antara dinding gudang yang remang.
“Siapa?” tanya Davin dengan jakun yang naik turun setelah menelan ludahnya.
“Apa kamu tidak ingin membalas perbuatan mereka?”
Suara itu lalu hilang. Davin mendadak merasa merinding. Davin lalu mengira bahwa ia mungkin sedang berada di dalam mimpi.
Namun, sayangnya Davin masih merasakan nyeri dari luka-luka memar yang ditimbulkan karena ulah Eros dan teman-temannya tadi. Rasa sakit itu terlalu nyata jika ia berada di sebuah mimpi. Ia kembali melihat ke gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Cahaya dari bandul itu perlahan hilang dan timbul.
Entah kenapa, Davin mulai merasakan adanya ikatan antara ia dan gelang tersebut. Ia memberanikan diri untuk menyentuh bandul gelang tersebut. Seketika itu juga dingin merayap ke jarinya.
“Gelang ini bukan gelang biasa…” ujar Davin. “Apa maksud dari cahaya yang muncul dari gelang ini?”
Mimisan Davin bertambah parah. Rasa nyeri semakin menekan kepalanya. Akhirnya dengan susah payah, ia memutuskan untuk bangun dan berjalan meninggalkan gudang.
Sekolah telah sepi. Sepertinya jam pelajaran telah berakhir. Hanya ada beberapa siswa yang mengikuti ekstrakulikuler sepulang sekolah.
Beberapa murid yang melihatnya hanya menatap lalu tertawa kecil bersama teman-temannya. Bagaimanapun murid tingkat Silver ditindas, tidak akan ada yang membela mereka. Davin lalu melepas tanda pengenal berwarna silver di dadanya dan membuangnya di tempat sampah.