

Tahun 1830 Saka
Trowulan yang dulu di hiasi langit biru dengan warna jingga keemasan saat senja tiba, kini telah berubah. Keindahan yang dulu membuat setiap pasang mata berhenti sejenak untuk menatap langit, kini tak lagi ada.
Tempat nya masih sama tapi keindahan nya memudar, langit Trowulan yang dulu terbakar oleh cahaya matahari murni. Kini matahari itu tidak lagi terlihat di atas cakrawala, namun terhalang oleh jelaga hitam yang di muntahkan cerobong-cerobong raksasa milik Benteng Vrijheid.
Negeri yang dulu damai kini penuh dengan ke putus asaan, dimana Legio Hitam sebuah organisasi dari seberang laut masuk dan mengacaukan kedamaian.
Dulu para pahlawan muncul dan membuat negeri kembali tenang, namun semua itu hanya sementara Legio hitam tidak sepenuhnya terusir, sisa Legio hitam diam-diam membuat organisasi Legio hitam semakin besar, hingga kini mereka hampir menguasai Nusantaria.
Kapal-kapal udara milik Legio hitam melayang rendah, mesin uap nya menderu seperti ribuan lebah raksasa yang sedang marah, dan menggetarkan atap-atap sirap candi yang mulai berkarat.
Kapal-kapal itu bukan di gerakan oleh mesin melain sebuah energi murni dari alam yang mereka sebut "Arka". Arka adalah nadi kehidupan spritual yang memiliki kekuatan sangat hebat. Bukan hanya kapal-kapal udara itu saja, tapi di kota-kota besar seperti kereta yang tidak menggunakan batu bara untuk menggerakkan nya dan rel-rel kereta nya yang melayang, lampu-lampu yang tidak memerlukan kabel untuk menyalakan nya, mereka hanya menggunakan Arka.
Saat orang-orang Legio hitam sedang berpesta pora merayakan yang mereka sebut kemajuan. Namun di bawah tanah Nusantaria sedang menjerit. Pipa-pipa tembaga sebesar tubuh naga menghujam masuk ke jantung gunung-gunung keramat, menyedot paksa Arka yang merupakan nadi kehidupan spiritual yang dulu di jaga oleh para raja. Di kota-kota besar para bangsawan telah menanggalkan keris mereka, menggantinya dengan pistol uap dan lencana emas dari seberang laut. Mereka menyebutnya sebuah kemajuan. Namun Rakyat menyebutnya kutukan.
Di sebuah rumah yang sangat berbeda dari rumah-rumah pada umumnya, saat semua rumah berdiri di atas bumi, maka rumah ini terdapat di sebuah pulau yang melayang di atas lautan. Rumah nya sangat mewah dan besar, dengan nuansa klasik sama seperti rumah Jawa pada umumnya namun di bangun di atas pulau melayang. Kapal-kapal milik Legio hitam satu persatu mendarat di atas pulau melayang tersebut, yang dimana di sana hanya ada satu rumah besar saja.
Beberapa orang turun dari kapal dan di sambut oleh para pelayan.
" Tuan-tuan, silahkan masuk. Jenderal Pandji menunggu di dalam."
seorang pria berkacamata sedang mengesap cerutu di tangan nya, dia melirik orang-orang yang baru datang dengan santai.
" Apa kalian sudah mendapatkan nya? " tanya pria itu dengan dingin.
Ketiga orang yang baru datang saling melirik seakan meminta yang lain nya untuk berbicara. namun tidak ada satupun dari mereka yang berani bicara.
" Aku rasa Gubernur Jenderal tidak ingin mendengar lagi kegagalan dari kalian."
" Jenderal Pandji, kami rasa kita masih satu kubu. Tidak perlu kau memberitahu yang atas untuk masalah ini. Kami memang Belum menemukan titik terang dimana energi Arka paling murni berada, tapi kami mendapatkan informasi tentang seseorang." ucap salah satu dari ketiga jenderal tersebut
" Katakan? "
" Kami menemukan keturunan dari Sang Empu Sebelas Langit, hanya dia yang tahu dimana pemilik keturunan murni Garis Darah Surya yang dapat membantu kita menemukan apa yang sedang Gubernur Jenderal cari." jawab nya dengan yakin.
" Dimana dia?"
" Di salah satu wilayah pinggir Trowulan, Dia bersembunyi dengan baik. Namun bawahan kami saat ini sedang pergi menangkap nya." ujarnya dengan sangat yakin bisa menangkap orang yang dia maksud.
" Bagus, ku harap kau tidak lagi gagal seperti sebelumnya." Jenderal Pandji pergi begitu saja sambil membuang cerutu nya yang sudah habis ke tong sampah.
" Sialan, Bocah bau kencur seperti nya malah berani mengancam kita."
" Sudahlah, kita tidak bisa berbuat macam-macam saat ini. Dia adalah orang paling di percaya oleh Gubernur Jenderal saat ini. "
" Kau benar."
........
Di pinggiran Trowulan, tepat nya di Lembah Karang Jati terdapat satu pandai besi yang mendirikan bengkel di sana adalah Bengkel tempa untuk alat-alat pertanian, karena mayoritas warga di sana adalah para petani. Lembah Karang Jati adalah sebuah desa tersembunyi yang di apit oleh dua tebing tinggi. Secara alami lembah ini sulit di jangkau oleh kendaraan berat penjajah.
Dari kejauhan, penduduk desa bisa melihat cerobong-cerobong asap raksasa milik ibukota Trowulan yang menyemburkan jelaga hitam ke langit, sangat kontras dengan sawah-sawah terasering yang masih hijau di sekitar lembah.
" Aksa, Garu milik paman apa sudah jadi? " seseorang dari luar masuk dan berteriak ke pemilik bengkel tersebut.
Garu adalah alat yang sering di gunakan untuk membajak sawah dengan bantuan sapi atau kerbau. jika di ibukota Trowulan mereka menggunakan mesin mesin canggih. Di lembah Karang Jati ini, mereka masih menggunakan alat sederhana.
Bengkel tempa itu bernama " Sela Arka" dan pemilik nya adalah peran utama dalam kisah kita ini. Dia adalah Aksa Mahija pemuda berusia 20 tahun, dia sudah menjadi pandai besi dari umur 10 tahun.
" Oy paman, sudah aku letakan di belakang, paman bisa langsung mengambil nya."
" Baiklah, ini bayaran mu." setelah memberikan beberapa lembar uang, paman tersebut tidak langsung pergi, namun memperhatikan Aksa yang sedang menempa sesuatu.
" Alat apalagi yang sedang kau tempa?"
" Oh ini, hanya beberapa alat biasa paman." Jawab nya dengan santai.
Paman tersebut hanya mengangguk " sebaiknya jangan membuat terlalu banyak, yang masih menggunakan alat tradisional seperti itu hanya desa kita dan beberapa desa kecil lain, dan bayaran nya pun tidak tinggi. sedangkan ibukota Trowulan sekarang menggunakan mesin mesin canggih untuk menanam dan memanen padi. Lihat saja keluar, uap dari cerobong-cerobong asap raksasa itu membuat langit indah Trowulan menjadi hitam pekat, matahari bahkan tidak ingin menampakkan lagi sinar nya. Untung nya desa kita tidak terlalu terpengaruh sehingga masih dapat panen dengan baik."
" hahaha... bukankah paman dan yang lain sering mematahkan alat tani kalian, aku harus menyiapkan nya, jangan sampai kalian menghancurkan bengkel ku saat tidak ada barang yang kalian cari." ucap nya sambil bercanda.
" Kau ini! baiklah paman pergi dulu. Kau sudah bekerja keras, jika kakek mu masih hidup dia pasti akan bangga pada mu."
Aksa tersenyum sampai paman tersebut pergi, setelah kepergian nya senyuman itu menghilang, dan hanya tersisa senyuman getir.