

Suasana di Kota Utama Klan Zenith—peradaban Elven yang menjulang tinggi dengan arsitektur elegan berwarna Putih Gading dan Hijau Giok—seketika terhenti. Ribuan mata Elven menatap ke satu titik di tengah alun-alun utama, tempat sebuah portal hitam-ungu berdenyut menghilang, meninggalkan seorang pria yang melayang santai di udara.
“Pergi kau dari Klan kami!”
Teriakan itu membahana, bukan dari prajurit biasa, melainkan dari Theron, salah satu dari Sepuluh Penguasa Zenith. Wajahnya yang dihiasi janggut dan rambut seputih salju nampak keruh oleh amarah yang membara.
“Kami tidak akan tunduk pada siapapun yang berasal dari luar! Kami tidak akan tunduk pada sesuatu dari luar dunia ini! Kami tidak sudi siapapun dari dimensi asing mengotori dunia suci kami!” Theron menekankan setiap kata, suaranya mengandung otoritas ribuan tahun.
Pria yang melayang itu, si penyusup, hanya tersenyum mengejek.
“Hei hei... ayolahhh,” ucapnya dengan nada santai, sorot mata yang penuh kebosanan. “Kalian tidak akan bisa mengalahkanku.”
Rhys, seorang Penguasa lain dengan aura yang lebih muda namun sama tajamnya, maju selangkah. Kilatan panahnya terlihat samar di punggungnya. “Apa lagi yang kau incar? Kau sudah mendapatkan semuanya... Kekuatan, Kekuasaan, dan Keabadian. Apakah kau masih haus, keparat!”
Pria tersebut tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan meremehkan memecah keheningan di antara gedung-gedung indah Zenith.
“Hmm... ya, kalau kalian tidak membiarkan aku menguasai klan ini, berarti aku belum mendapatkan semuanya, kan? Hahahaha.”
Tawa itu seketika memudar, digantikan oleh keheningan mematikan. Prajurit di darat, mengenakan zirah perak, serentak mengangkat tombak dan busur. Energi sihir mulai terakumulasi di ujung-ujung jari para penyihir Elven.
“Hei... ayolah, Elf,” ujarnya, membiarkan tubuhku turun perlahan hingga berjarak pandang dengan Sepuluh Penguasa yang berjajar. “Apakah kita tidak bisa lebih santai? Aku suka sekali dengan klan ini. Hanya di sini, peradaban dibangun dengan sangat baik, maju, dan ciri khas warna putih dan hijau pada setiap elemen arsitektur sungguh menarik untuk dilihat. Tempat seperti ini akan sangat sulit ditemukan di klan lain.”
“Aku sudah menduga kau akan muncul tepat di tengah kota seperti ini,” balas Theron, sorot matanya yang bijak membaca setiap gerakan yang tak terlihat.
“Ya, mau bagaimana lagi? Aku memang sengaja membuka Portal Antar-Klan di sini, haha.”
Seorang petinggi wanita yang memegang kapak perak besar—tampaknya dari kaum prajurit Elven—menimpali dengan suara penuh kebencian. “Tempat ini adalah tempat asal para Elf di seluruh dimensi Klan! Tempat ini hanya akan menjadi tempat berpulang para Elf, bukan Iblis Kotor sepertimu!”
Pria tersebut memiringkan kepala, pandanganku jatuh pada sang Penguasa wanita. “Yeah, apa salahnya, sih? Aku suka di sini. Banyak wanita cantik dan sexy di sini. Aku sungguh sangat menyukainya.”
“Hei, lancang sekali ucapanmu, dasar bedebah!” Theron meledak.
BUM!! BUM!!
Theron, yang dikenal sebagai Kepala Tertinggi Zenith dan seorang combatant jarak dekat yang ulung, telah melesat. Tubuhnya yang tinggi hampir tiga meter, meski sedikit membungkuk karena usia ribuan tahun, bergerak dengan kecepatan kilat yang menghancurkan. Pukulan pertamanya, dibalut oleh Zenith Gauntlet—sarung tangan legendaris yang konon dapat meratakan satu klan dengan satu hantaman—menghantamnya.
“Hei, seranganmu tidak akan mempan padaku, wahai Pak Tua,” balas pria tersebut santai, menahan pukulan dahsyat itu hanya dengan satu telapak tangan. Gelombang kejutnya saja cukup untuk merobohkan tiang-tiang di sekitar mereka.
Theron tidak gentar. “SEMUANYA SERANG!!!!”
Seribu komando serentak meneriakkan perintah. Ribuan prajurit Klan Zenith maju bersamaan, didukung oleh sembilan pemimpin lainnya. Semua senjata, semua sihir, dikeluarkan.
Namun, di hadapan Theron, harapan itu runtuh. Dalam sepersekian detik, aku menghancurkan Zenith Gauntlet yang dibanggakannya, meremukkan pergelangan tangannya hanya dengan cengkeraman cepat. Theron terhuyung, tapi dengan semangat yang tak kunjung padam, ia menyiapkan tangan kirinya.
“Keparat kau, terima ini!”
BUM!! BUM!! BUM!! BUM!!
Theron memukul bertubi-tubi dengan sisa kekuatannya. Dentuman memekakkan telinga. Setiap pukulan menciptakan gelombang kejut yang mengguncang seluruh Klan Zenith. Para prajurit dan Sembilan Penguasa lainnya hanya terpaku melihat mereka bertarung. Keputusasaan prajurit yang sebelumnya membayangi kini bercampur dengan duka dan secercah harapan.
“Ayo Ayahhhh! Kuatkan dirimu, aku yakin Ayah akan bisa mengalahkannya dan pulang ke rumahhhh, aku menunggumu Ayahhh!!”
Suara gadis kecil, suara komunikator internal di seluruh armada, memicu Theron. Pukulannya semakin cepat, semakin kuat, membuat Klan Zenith bergetar tak seimbang.
Sembilan Penguasa lain pun bergerak. Rhys dari kejauhan menarik busurnya, menciptakan Panah Alam yang berkilauan dengan energi Elven Pure. Penguasa wanita dengan kapak besar melesat ke belakang pria tersebut, siap menebas dengan kekuatan penuh, kekuatan yang dikabarkan sanggup membelah klan terapung menjadi dua. “Kau sudah keterlaluan dengan menghinaku, dasar Iblis!”
Penguasa lainnya maju: pembawa tombak, pemegang gear, semuanya dengan senjata berkekuatan tak masuk akal. Faelar, sang pemegang tameng, dan Lyriel, sang pemilik buku The Supreme of Healer, menciptakan formasi sempurna untuk serangan serentak, formasi yang tak seharusnya bisa ditembus.
Namun...
BUMMM!!!
Ledakan besar yang jauh melampaui dentuman Theron terdengar di titik pertempuran. Para prajurit tersentak, terdiam, seolah waktu telah berhenti. Debu tebal dan uap air yang disulut oleh energi dahsyat mengepul, menelan seluruh pemandangan.
“Hah? Apa yang terjadi barusan? Aku tak melihat apapun!” seru salah satu prajurit di barisan depan.
“Apa sudah bisa menembak laser, Komandan?!” tanya operator senjata berat dari pulau terapung jauh, suaranya dipenuhi ketegangan.
“Jangan! Terlalu beresiko saat ada para pemimpin di sana serta masih ada penduduk yang belum dievakuasi,” balas Komandan pulau terapung.
“A...a.a apa yang terjadi? Bagaimana mungkin!?” Suara Rhys terdengar lemah, hampir seperti ratapan, dari tengah kepulan debu.
Pukulan Theron telah berhenti. Suara dentuman yang sebelumnya menjadi simfoni kehancuran kini lenyap sepenuhnya. Dalam keheningan yang menyesakkan, prajurit mulai bersorak samar. Mereka menyangka kemenangan telah diraih.
Namun, sorakan itu mati di tenggorokan mereka.
Saat kabut debu perlahan dihembus angin sihir, pemandangan yang tersaji adalah keheningan yang paling menakutkan.
Para Penguasa telah tumbang.
Di antara sepuluh tubuh penguasa Klan Zenith yang kini tergeletak kaku, hanya sembilan yang terdiam selamanya.
Dalam detik-detik ketika semua serangan Penguasa mencapai puncaknya—ketika kapak besar nyaris membelah udara di belakangku, ketika panah Rhys hanya tinggal sepersekian detik lepas dari busurnya—pria tersebut mengaktifkan Lima Puluh Persen dari kekuatannya.
Itu bukanlah kecepatan. Itu adalah manipulasi waktu dalam skala mikro.
Ia menahan rentetan pukulan terakhir Theron, dan sebelum Zenith Gauntlet sempat retak sepenuhnya, aku menembus jantungnya. Jantung Theron sang penguasa mutlak itu berhenti berdetak bahkan sebelum kesadarannya sempat mendaftarkan rasa sakit.
Kemudian, ia bergerak.
Sebelum kapak Penguasa wanita itu menyentuh tubuhnya, aku telah berteleportasi ke depan Faelar. Tamengnya, simbol pertahanan Klan Zenith yang katanya tak tertembus, hancur berkeping-keping oleh sentuhan yang bahkan tidak bisa ia lihat. Dalam satu gerakan lancar, ia memutus kepala Faelar dan Lyriel—sang Healer tertinggi—leher mereka terpotong bersih oleh bilah tak kasat mata dari energi murni.
Sisanya dibantai olehnya dengan kilatan kecepatan. Sembilan pemimpin, yang kekuatannya sanggup menghancurkan sebuah klan maju, dilumpuhkan dalam waktu kurang dari satu tarikan napas Elven. Hanya menyisakan Rhys, yang kini terpaku di tempatnya, busurnya jatuh ke tanah.
Keheningan yang mencekik. Ribuan prajurit terdiam dalam kengerian, kekacauan yang terjadi di otak mereka berubah menjadi pengakuan tak terbantahkan. Mereka sadar, di hadapan mereka bukanlah sekadar penakluk, melainkan Entitas Mutlak yang jauh melampaui pemahaman mereka.
“Menaklukkan kalian bukanlah hal sulit bagiku,” ucapku, suaraku datar, resonansi kehancuran di dalamnya membuat Rhys gemetar. Ia melangkah melewati tubuh Theron, kakinya mendarat tanpa suara. “Kalian hanya... penghalang di jalan yang harus kuselesaikan.”
Rhys mendongak, matanya kosong. “Bagaimana dia bisa sekuat ini?... Bahkan Theron, bahkan formasi sempurna kami...” bisiknya, sorot mata yang kehilangan harapan itu kini dipenuhi keputusasaan total.
Pria tersebut berhenti, menatap langit. Senyum menyeringai kembali terukir, namun kali ini lebih gelap dan dingin.
“Sudah ribuan klan yang kutaklukkan, Rhys. Untuk mencapai titik ini bukanlah hal yang mudah,” aku menarik napas dalam, seolah menghirup keputusasaan mereka. Kata-kata selanjutnya kuucapkan dengan penekanan yang membuat setiap Elven yang mendengarnya merasakan ketakutan primitif.
“Apakah kalian tahu? Akulah yang akan menghancurkan The One!”
Seketika, perkataanku berfungsi seperti mantra penghancur. Uap air, awan tanah, dan seluruh Klan Zenith bergetar hebat, bukan karena ledakan, tetapi karena getaran dimensi yang melampaui batas fisik.
Di langit Elven yang indah, terbentuk sebuah retakan kosmik, Belahan Dimensi yang membelah ruang. Retakan itu bukan hanya celah, melainkan luka menganga yang mengalirkan kegelapan abadi.
Dari belahan itu, perlahan, muncul sosok yang sangat besar. Bukan fisik biasa, melainkan massa gelap yang tak berbentuk, entitas berwarna Hitam Pekat yang memancarkan aura kehampaan yang menguras semua warna dan kehidupan di sekitarnya. Kehadirannya saja sudah membuat ribuan prajurit Elven jatuh berlutut, diterpa rasa panik yang tak tertahankan.
“I... ii.. itu adalah...” Rhys berteriak, suaranya pecah, tercekat oleh teror.
Pria tersebut memandang entitas itu. Di tengah kehampaan yang dipancarkannya, ia merasakan familiaritas aneh, sebuah nuansa yang tak terjelaskan, seolah ia mengenalnya, namun dengan resonansi yang salah.
Tetapi, kepanikan total yang terpancar dari setiap Elf yang tersisa sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.
Sosok raksasa yang baru muncul, entitas yang membelah dimensi, adalah The One yang sesungguhnya.