Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lembah Tanpa Suara

Lembah Tanpa Suara

Mongza | Bersambung
Jumlah kata
97.5K
Popular
224
Subscribe
38
Novel / Lembah Tanpa Suara
Lembah Tanpa Suara

Lembah Tanpa Suara

Mongza| Bersambung
Jumlah Kata
97.5K
Popular
224
Subscribe
38
Sinopsis
HorrorHorrorMisteri
Sekelompok lima sahabat memutuskan untuk berpetualang ke lembah terpencil yang terkenal angker, jauh dari peradaban. Konon, siapa pun yang memasuki lembah itu akan kehilangan suara mereka—dan tidak ada yang pernah kembali dengan selamat. Awalnya, mereka menganggap legenda itu hanya cerita rakyat. Namun, begitu kabut tebal menutupi lembah, mereka mulai merasakan keanehan: suara langkah kaki sendiri terdengar meniru mereka, bisikan tak dikenal menyusup ke telinga, dan satu per satu alat komunikasi mereka mati. Setiap malam terasa lebih panjang, dan ketegangan di antara mereka meningkat. Ketika salah satu dari mereka menghilang tanpa jejak, rasa takut berubah menjadi kepanikan. Lembah itu ternyata memiliki rahasia lebih gelap dari yang mereka bayangkan—sebuah entitas purba yang hidup di dalam kabut, memakan keberanian dan menahan jiwa para pengunjungnya. Mereka harus menemukan jalan keluar sebelum semua suara mereka hilang, bahkan sebelum lembah itu menelan mereka selamanya. Dengan ketegangan yang membungkus setiap sudut, Lembah Tanpa Suara adalah kisah horor tentang persahabatan, ketakutan primal, dan rahasia alam yang seharusnya tidak pernah diganggu.
persiapan petualangan

Hujan sore masih menetes pelan ketika lima sahabat berkumpul di rumah Raka, membahas rencana perjalanan mereka ke lembah yang terkenal angker di pinggiran kota. Lembah itu disebut “Lembah Tanpa Suara” tempat di mana siapa pun yang masuk seolah lenyap dari dunia ini.

“Benarkah kita mau ke tempat itu?” tanya Nisa, matanya menatap peta lusuh yang dibentangkan di meja. “Cerita orang-orang kan menyeramkan… banyak yang bilang mereka tidak pernah kembali.”

Arga mencondongkan badan, menatap teman-temannya satu per satu. “Kita bukan anak kecil lagi. Kita sudah dewasa. Ini cuma tantangan. Kita akan buktikan kalau semua cerita itu cuma mitos.”

Fajar menahan tawa getir. “Mitos atau bukan, kita tetap harus berhati-hati. Kabut tebal, hutan sepi, dan suara yang hilang… gue nggak mau salah langkah di sana.”

Lila diam sejenak, kemudian berbicara dengan tenang. “Kalau memang kita pergi, persiapkan semuanya. Ini bukan sekadar jalan-jalan. Kita harus siap secara fisik, mental, dan… emosional. Jangan sampai ketakutan menguasai kita nanti.”

Mereka mulai menata perlengkapan: tenda, senter, tali, obat-obatan, dan kamera. Arga juga membawa buku catatan tebal yang berisi cerita dari penduduk lokal, tentang bisikan, bayangan, dan misteri yang menyelimuti lembah.

“Yang penting, tetap bersama. Tidak ada yang berpisah, apa pun yang terjadi,” tegas Arga. “Kalau ada yang salah, kita hadapi bersama-sama.”

Raka mengangguk, meski hatinya berdegup cepat. Ada rasa waswas yang tak bisa ia jelaskan, seperti sesuatu sedang menunggu di luar sana.

Malam itu, hujan turun deras, menimbulkan suara gemericik di atap dan jendela. Setiap desiran angin terdengar seperti bisikan samar. Mereka memeriksa kembali peralatan, memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Kita berangkat sebelum fajar besok. Jangan ada yang mundur,” kata Arga.

Nisa menarik napas panjang. “Kalau ini benar-benar terjadi, jangan panik. Tetap tenang, tetap bersama. Dan kalau ada hal aneh… jangan panik dan jangan bicara sembarangan.”

Saat malam semakin larut, lima sahabat itu tidur dengan campuran rasa takut dan penasaran. Di luar, kabut mulai merayap dari hutan, menutupi

tanah dan pepohonan. Tanpa mereka sadari, lembar pertama dari cerita mereka yang paling menakutkan baru saja dimulai.

Malam semakin larut, tapi lima sahabat itu masih terjaga. Mereka duduk mengelilingi lampu minyak kecil, membicarakan strategi, rute perjalanan, dan kemungkinan bahaya.

“Kalau kabut tiba-tiba turun tebal, kita harus tetap bersama,” kata Arga, menatap wajah-wajah yang setengah tegang. “Jangan ada yang berjalan sendiri. Satu langkah salah, bisa jadi masalah besar.”

Fajar menggigit bibirnya, menatap jendela. “Dengar… suara hujan di luar itu terdengar… aneh. Seperti bukan cuma air yang jatuh, tapi ada desisan halus di antara rintiknya.”

Nisa menoleh, sedikit gemetar. “Aku juga dengar. Rasanya… ada yang mengintai di luar sana.”

Lila menghela napas, menenangkan diri. “Itu cuma bayangan dan suara hujan. Kita harus fokus pada rencana. Kita tidak boleh kalah sebelum perjalanan dimulai.”

Raka diam saja, tangannya memegang tali yang nanti akan mereka gunakan untuk mendaki. Hatinya campur aduk antara takut dan penasaran. Setiap kali lampu minyak bergetar karena angin, ia merasa ada bayangan bergerak di sudut matanya. Ia mengedip, tapi tidak ada siapa pun di sana.

Arga membuka buku catatan yang dibawanya, memperlihatkan gambar-gambar simbol aneh yang katanya muncul di dalam lembah. “Ini catatan dari penduduk setempat,” jelasnya. “Mereka bilang simbol-simbol ini muncul sebelum seseorang menghilang. Jangan sampai kita menginjaknya atau mengganggunya.”

Mereka saling bertukar pandang, rasa takut mulai merayapi pikiran masing-masing. Tapi rasa penasaran jauh lebih kuat. Semua sepakat: mereka akan tetap melanjutkan perjalanan besok pagi, sebelum fajar menyingsing.

Sebelum tidur, masing-masing memeriksa peralatan mereka satu kali lagi. Senter, kompas, kamera, dan beberapa perbekalan tambahan sudah siap. Mereka menaruh tali di dekat pintu, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Ketika lampu minyak terakhir padam, lima sahabat itu tidur dengan mimpi yang bercampur antara antisipasi dan ketakutan. Di luar rumah, angin malam berdesir melalui pepohonan. Sesekali terdengar suara gemerisik, seperti langkah kaki kecil yang berhenti tepat di tepi jendela… tapi ketika mereka menoleh, tidak ada apa-apa.

Malam itu, rasa penasaran dan takut berpadu menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Tanpa mereka sadar, malam pertama sebelum perjalanan itu sudah menanam benih ketegangan yang akan terus tumbuh sepanjang petualangan mereka di lembah yang benar-benar… tanpa suara.

Jam menunjukkan hampir tengah malam ketika hujan mulai reda, meninggalkan udara lembap yang menusuk tulang. Lima sahabat itu duduk terdiam di ruang tamu, masing-masing merenungi perjalanan yang akan mereka mulai besok.

“Besok kita masuk lembah, ya?” suara Nisa terdengar pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

“Ya… tapi ingat,” Arga menatap semua teman, “kita harus tetap bersama. Jangan ada yang panik, jangan ada yang berjalan sendiri. Lembah itu… tidak segan menjerat siapa pun yang lengah.”

Raka menelan ludah, menatap keluar jendela. Kabut tipis mulai naik dari hutan di kejauhan, meski malam belum benar-benar gelap. “Rasanya… kabut itu seolah menunggu kita,” gumamnya.

Fajar tertawa getir. “Ini semua cuma perasaan lo, Rak. Nggak mungkin ada apa-apa.” Tapi suaranya terdengar lebih tegang daripada yang ia maksudkan.

Lila menunduk, memeriksa tali dan senter. “Kalau ada sesuatu… jangan panik. Jangan teriak. Tetap tenang, tetap fokus. Kita cuma bisa selamat kalau tetap bersama-sama.”

Di luar, angin malam berdesir melalui pepohonan, membuat atap rumah berderit. Suara gemerisik muncul dari arah belakang rumah—sesuatu yang terdengar seperti langkah kaki kecil, tapi tidak ada siapa pun di sana ketika mereka menoleh.

Nisa menggigil. “Apa itu…?” bisiknya.

Arga mengangkat bahu. “Mungkin tikus atau ranting pohon yang jatuh. Tapi… tetap, kita harus waspada.”

Mereka pun kembali mengecek peralatan: kamera, senter, kompas, dan makanan cadangan. Setiap orang memastikan membawa perlengkapan darurat di tasnya. Tidak ada yang ingin gagal karena kelalaian sederhana.

Sebelum tidur, Arga menulis catatan terakhir di buku yang dibawanya. Catatan itu berisi daftar peringatan yang dikumpulkan dari penduduk setempat—segala hal yang harus mereka hindari di lembah: simbol di tanah, suara aneh, dan kabut yang menebal di malam hari.

Ketika lampu minyak terakhir dipadamkan, lima sahabat itu berbaring di kamar masing-masing, mencoba menenangkan diri. Namun, di luar rumah, angin malam membawa bisikan samar yang seolah menyebut nama mereka satu per satu. Tidak ada yang berani membuka jendela untuk melihat.

Malam itu, lima sahabat tidur dengan campuran rasa takut dan penasaran yang mendalam. Mereka tidak tahu bahwa malam sebelum perjalanan ini, hanya sebuah pengantar—lembar pertama dari petualangan yang akan menguji keberanian, persahabatan, dan bahkan kewarasan mereka di Lembah Tanpa Suara.

Lanjut membaca
Lanjut membaca