

Hujan turun sejak matahari tenggelam, mengubah Grimstreet menjadi labirin berkilauan yang berbahaya. Lampu neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang memanjang di dinding sempit gang-gang kusam itu. Bau goreng minyak bekas, rokok murahan, dan darah basah bercampur menjadi aroma khas distrik kumuh ini.
Di tengah suara hujan, langkah sepatu menghentak aspal. Tenang. Teratur. Tapi dengan ritme yang memberi tahu siapa pun yang mendengarnya: jangan coba-coba.
Itu langkah Xero Havok.
Hoodie hitamnya menempel di tubuh, rambut hitam agak panjangnya basah menutupi sebagian wajah. Dari balik rintik hujan, matanya yang tajam memantulkan cahaya merah signage toko senjata ilegal yang sudah tutup. Mata itu bukan mata orang biasa. Ada sesuatu yang gelap berdenyut jauh di dalamnya—seperti bara hitam yang menunggu ditiup menjadi api.
Xero tidak suka tempat ini.
Tapi Grimstreet adalah rumahnya.
Rumah yang memaksanya bertarung untuk bertahan.
Dan malam ini, sesuatu terasa… salah.
Suara dentuman logam memecah suara hujan. Lalu teriakan. Bukan teriakan panik—teriakan seseorang yang mencoba bertahan hidup.
Xero berhenti. Kepalanya sedikit menoleh.
Ia mengenali suara itu.
“…Kai?”
Tanpa menunggu, Xero berlari.
---
Gang itu sempit, dua meter lebarnya, diterangi lampu neon biru yang rusak. Dan di tengahnya, seorang pemuda kurus berusia belasan—Kai—dihimpit oleh tiga orang bertubuh besar dengan pisau dan rantai.
Kai adalah satu-satunya orang yang masih ia pedulikan. Anak orang yang pernah menyelamatkan Xero bertahun-tahun lalu. Satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya meski ia keluar dari geng.
Dan sekarang, Kai terpojok.
Perampok paling kiri meludah. “Eh, lihat. Anak cengengnya Havok datang.”
Xero tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya berjalan perlahan ke tengah gang. Gerakannya tenang, tapi ada aura tekanan yang membuat tiga pengacau itu spontan menegang.
“Havok, ya?” Yang memegang pisau maju. “Bagus. Kita memang nyari lo.”
Kai berusaha berdiri. “Xero… jangan—mereka bukan orang biasa. Mereka datang—”
“Anak ini kebanyakan ngomong.” Salah satu memukul Kai hingga jatuh.
Detik itu juga, sesuatu di mata Xero berubah.
Lamunan bayang hitam berdenyut.
Havok Surge.
Energi yang tinggal menunggu alasan untuk bangun.
Xero memberi peringatan terakhir.
“Pergi.”
Tiga detik hening.
Lalu si pemegang rantai tertawa. “Atau apa? Lo mau—”
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Dalam satu langkah ke depan, Xero menghantam hidungnya dengan siku keras. Crack! Suara tulang patah. Tubuhnya terjungkal menabrak dinding.
Si pemegang pisau menyerang lurus ke arah Xero. Gerakannya cepat, tapi Xero lebih cepat. Ia menangkap pergelangan pelaku, memutarnya, dan—CRACK—siku dan bahu pria itu patah sekaligus. Pisau jatuh, Xero memungutnya, lalu melemparkan gagangnya tepat mengenai pelipisnya hingga ia pingsan.
Pelaku ketiga, yang paling besar, maju sambil menerjang.
Xero tidak mundur.
Ia mencondongkan tubuh, menahan pukulan besar itu dengan lengan… dan hanya mencibir.
Benturan membuat lengan Xero berdarah sedikit.
Energi Havok Surge langsung merespons.
Ada getaran hitam samar muncul di sekitar bahunya. Tidak terlihat jelas, tapi cukup untuk membuat udara di gang terasa menegang.
Xero mengepalkan tangan.
Dan dalam satu pukulan pendek—WHAM!—rahang pria itu patah dan tubuhnya terpelanting menabrak kontainer hingga penyok.
Hening.
Hujan kembali mengambil alih suara malam.
Kai menatapnya dari tanah, mulutnya terbuka lebar. “Kau… kau melukai dirimu sendiri hanya untuk—”
Xero menghela napas. “Ayo pulang.”
Ia membantunya berdiri.
Namun sebelum mereka sempat melangkah keluar dari gang, tanah bergetar.
Getaran pelan—lalu semakin kuat.
Seakan sesuatu yang sangat besar mendekat dari bawah tanah.
Lampu neon berkedip.
Cahaya di gang meredup lalu mati.
“Hah… Xero… apa yang—” Kai menggenggam lengan Xero, ketakutan.
Di depan mereka, aspal mulai retak.
Retakan kecil… lalu memanjang puluhan sentimeter.
Bukan gempa.
Bukan ledakan.
Ini seperti… pintu.
Retakan itu membentuk lingkaran kasar, dan dari celah-celahnya, cahaya ungu gelap menyembur keluar seperti kabut beracun. Suara berdesis terdengar, seperti seribu bisikan yang saling bertindihan.
Kai mundur panik. “Xero! Kita harus—”
Sesuatu menyembul dari retakan itu.
Bukan tangan.
Bukan tentakel.
Tapi pusaran angin hitam, seperti tornado mini yang melilit padat, berputar semakin cepat hingga seluruh gang bergetar.
Xero mundur satu langkah. Tangannya otomatis mengepal. Havok Surge berdenyut, merespons ancaman yang belum ia pahami.
Kepala pusaran itu terbentuk menjadi wajah kabur—seperti topeng tanpa detail. Suaranya bergema dari segala arah.
“Xero Havok.”
Kai memucat. “Itu… itu memanggilmu.”
Xero tetap diam.
“Pertarunganmu di dunia ini sudah selesai.”
Angin makin kencang.
Tong sampah beterbangan.
Neon signage pecah.
“Dunia manusia hanya punya satu peluang terakhir. Dan kau—dipilih.”
“Dipilih apa?” Xero menggeram.
Suara itu menggema seperti ledakan petir.
“Untuk memasuki… VORTEX KOMBAT.”
Kabut ungu gelap menyembur ke segala arah, dan tanpa peringatan, pusaran itu menghantam Xero seperti palu raksasa. Kai berteriak, mencoba menarik Xero, tapi angin itu menolaknya.
“XEROOO—!”
Terlambat.
Dunia di sekitar Xero hancur, terurai seperti pecahan kaca hitam yang mengambang dalam kehampaan.
Ia ingin bergerak, tapi tubuhnya ditarik turun, masuk ke dalam lingkaran hitam menganga yang kini lebih besar dari mobil. Tidak ada udara. Tidak ada cahaya. Tidak ada apa pun. Hanya kegelapan pekat dan suara seribu bisikan yang terus mengulang namanya.
Sekali lagi…
Sekali lagi…
Seolah menakdirkannya.
Xero Havok… dipilih.
Dan dari kejauhan, dalam gelap, Xero mulai melihat sesuatu—arena raksasa, cahaya merah darah, dan bayangan ratusan makhluk berdiri menunggu.
Turnamen kematian.
Turnamen antar-dunia.
Dan ia… baru saja dilempar masuk.
---
Xero menyadari sesuatu saat tubuhnya terlempar ke lantai keras seperti batu.
Sesak napasnya hilang.
Pandangan gelapnya pulih.
Ia membuka mata.
Dan di depannya—bukan Grimstreet.
Bukan bumi.
Melainkan arena kolosal melayang di tengah ruang kosmik, dengan struktur batu hitam dan cahaya api biru. Tribun dipenuhi makhluk dari ratusan ras berbeda—sebagian mirip manusia, sebagian seperti iblis berkaki empat, sebagian lagi hanya gumpalan energi hidup.
Suara gong raksasa menggema.
DOOOMMMMM!
Seseorang berdiri di depan Xero.
Tinggi, berzirah hitam pekat, wajah tampak seperti patung batu hidup, matanya menyala merah.
“Sambutan hangat untuk petarung baru…” ia mengangkat suara.
“…dari dunia yang tinggal satu langkah menuju kehancuran.”
Makhluk itu menatap Xero tanpa ekspresi.
“XERO HAVOK.”
Sorakan menggema.
Suara makhluk-makhluk asing itu bergemuruh bagaikan ribuan drum perang.
Xero menggertakkan gigi. “Aku di mana… sebenarnya?”
Makhluk itu mengangkat tangan.
“Di sini… dunia menentukan siapa yang selamat, siapa yang hancur.”
“Selamat datang…”
Ia mengacungkan pedang kosmik raksasa ke langit.
“…di VORTEX KOMBAT.”
Gong kembali berbunyi.
Dan seseorang melompat dari arena seberang—makhluk humanoid bertubuh baja, wajahnya nyaris tak terlihat di balik helm raksasa, tangannya berubah menjadi bilah logam panas.
Pertarungan pertama telah dimulai.
Xero menarik napas.
Havok Surge berdenyut—lebih kuat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Baiklah…
Kalau dunia ingin aku bertarung—aku akan bertarung.
Tapi pastikan aku nggak bangun lagi kalau kalian ingin menghentikanku.
Malam ketika ia diculik dari Grimstreet adalah malam ketika segalanya berubah.
Dan darah pertama baru akan mengalir.