

Lampu-lampu lampion menggantung di setiap sudut rumah panggung, memantulkan cahaya kekuningan yang hangat. Wangi bunga melati masih melekat di udara, bercampur dengan aroma kemenyan sisa ritual adat. Para tamu telah pulang, meninggalkan keheningan yang sakral, sebuah keheningan yang hanya dimiliki oleh sepasang pengantin di malam pertama mereka.
Arka Mahendra setelah acara syukuran pesta pernikahannya selesai. Ia bersama kerabat dan teman-temannya masih mengobrol santai di beranda depan rumah panggung mertuanya. Ia tidak tergesa-gesa masuk menemani istrinya di dalam kamar, karena ia menghargai semua kerabat dan teman-temannya.
Terdengar candaan kerabat dan teman-temannya Arka, mereka pada tertawa ikut menyemangati malam pertama pengantin, yang akan bersiap membelah durian madu yang rasanya legit.
"Arka, kamu harus hati-hati, jangan sampai istrimu kesakitan. Kamu harus pelan-pelan dalam mengarahkan mata bornya, agar lubang sumur sempit milik istrimu tidak terluka parah. Gerakan mata bornya harus perlahan tapi pasti," ucap salah seorang temannya menggonjak Arka.
"Hahaha...! Benar... benar kawan. Kalau bisa, sumur sempit milik istrimu, jangan langsung di bor. Di ulasi dulu dengan minyak zaitun, agar air sumurnya harum, dan rasanya tambah gurih. Hahaha...!" Canda teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
Arka ikut tertawa bahagia, sambil ngopi bareng, dan hanya satu orang yang minum minuman keras, yaitu temannya yang bernama Arnold, seorang preman dari keluarga terpandang di kota kecil. Ia hanya tersenyum sinis ke arah Arka, seolah menyimpan rasa cemburu terhadapnya.
Sementara istrinya Arka, Lestari duduk di tepi ranjang, mengenakan kebaya putih dengan mahkota kecil bertatah emas di kepalanya. Tangannya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena harap-harap cemas, bahwa sebentar lagi ia akan merasakan kehangatan malam pertama pengantin.
Lalu ia melepas pakaian pengantinnya. Sedikitpun tidak ada sehelai benang yang menutupi tubuhnya. Tampak indah di dalam pandangan mata, tubuh Lestari mulus bagaikan sebuah patung giok putih. Di depan dadanya tergantung dua buah manggah arumanis yang masih ranum, yang sudah siap dipetik oleh sang pemiliknya.
Ia mengganti lampu kamar dengan lampu tidur, agar suasananya lebih romantis. Lalu ia terlentang di atas ranjang, menunggu sang pujaan hatinya yang akan melangsungkan acara ritual di malam pengantin.
"Aku akan menutupinya dengan selimut, untuk membuat surprise kepada Kak Arka," ucap batin Lestari sambil menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.
Di beranda rumah, Arka, masih ngobrol bersama kerabat dan teman-temannya. Namun secara diam-diam, Arnold dalam keadaan mabuk arak, perlahan beranjak dari tempat itu. Ia melangkah menuju kearah belakang rumah, lalu masuk lewat pintu belakang ke dalam rumah orangtuanya Lestari, yang kebetulan sudah pada tidur karena kelelahan.
Arnold berjalan perlahan di dalam rumah panggung, kemudian ia nekat membuka pintu kamar Lestari.
"Aku harus bisa merenggut perawannya, sebelum dinikmati oleh Arka," ucap batin Arnold sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
Sejenak Arnold menatap kearah tubuh Lestari yang bersembunyi dibalik selimut. Lalu ia mematikan lampu tidur hingga menjadi gelap gulita.
"Rasakan kau Arka...! Perawan istrimu, aku yang duluan mencicipinya. Hahaha...!" Kata Arnold tertawa di dalam batinnya, karena ia menaruh dendam kepada Lestari dan Arka.
Arnold memang mencintai Lestari, namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Cinta Arnold diabaikan, malah Lestari menerima lamaran dari Arka. Hatinya sangat sakit, hingga ia menaruh dendam kepada keduanya.
Malam itu, secara perlahan Arnold naik ke atas ranjang. Ia langsung menerkam tubuh Lestari, sambil membuka selimutnya.
"Sayang...! Kau... kau sudah tidak tahankah?" Tanya Lestari kaget, karena ia menyangka suaminya langsung menubruk tubuhnya dengan garang.
"Sayang...! Jangan tergesa-gesa begitu dong, perlahan-lahan saja. Kita bisa bermain-main dulu sebentar, agar kita sama-sama merasakan sensasi kenikmatannya," bisik Lestari lirih.
Namun Arnold tidak menjawabnya, ia takut ketahuan. Makanya ia tidak mencium bibirnya Lestari, sebab mulutnya bau minuman keras.
Sedangkan Arka tidak suka dengan minuman berbau alkohol.
Karena itulah Arnold langsung meremas dua buah manggah arumanis yang masih ranum. Ia terus bermain di sekitar wilayah dadanya. Dua buah manggah di diisap dan diremas. Tubuh Lestari menggelinjang merasakan sensasi rangsangan di dalam jiwanya.
"Aarrgghhh... Aoww...! Sayang... perlahan dong...!"
Erangan dan desahan halus meluncur dari bibir mungil Lestari. Ia tidak tahan dengan cumbuan kasar Arnold, namun ia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.
"Oohhh...! Sayang... Aarrgghhh...!"
Lestari terus menerus meracau, ketika jemari Arnold menelusuri hutan larangan yang ditumbuhi rumput halus dan lembut. Jemarinya bermain di mulut gua yang gelap dan sudah basah, mencari sesuatu yang membuat jiwa Lestari terbang melayang ke puncak impiannya.
Jemari Arnold berhenti di sebuah tempat, dimana ia menemukan sebuah batu kerikil kecil menempel di dinding mulut gua. Batu kecil itu dipermainkan, di pijat-pijat dengan kasar dan rasa gemas.
"Aarrgghhh...! Sakit... sayang...! Jangan dicubit dong...!" Teriak tertahan Lestari yang mulutnya segera dibungkam oleh tangan kanan Arnold, agar suara jeritannya tidak sampai ke beranda rumah.
Kemudian Arnold segera mengeluarkan senjata tumpulnya yang sudah keras dan besar. Tanpa ragu ia mengarahkan senjatanya ke mulut lubang gua yang masih sempit. Perlahan tapi pasti, dengan sekali gerakannya. Senjata pusaka milik Arnold amblas masuk ke dalam gua sempit dan gelap.
Bless...!
"Aarrgghhh...! Sakit... Sayang... Hik... Hik... Hik...!" Jerit Lestari menangis, suaranya tertahan karena mulutnya cepat dibungkam oleh tangan Arnold.
Sejenak senjata milik Arnold terbenam di dalam lubang gua. Ia merasakan denyut dinding gua, seirama dengan degup jantungnya.
Lalu perlahan ia mencabut setengah senjatanya. Kemudian ditancapkan lagi masuk sampai menembus dinding gua yang paling dalam.
Bless...!
"Aarrgghhh... Hik... Hik... Hik...!"
Jerit tertahan dibarengi tangisan Lestari terdengar memilukan, namun Arnold tidak perduli sama sekali. Ia terus menggenjotnya maju mundur, berpacu dengan suara rintihan rasa perih dan sakit di dalam lubang guanya.
Darah merah perawan mengalir keluar dari dalam mulut gua, seirama dengan gerakan lagu maju-mundur cantik, dan selaras dengan detak jantung serta desahan nafas mereka berdua.
Arnold benar-benar egois, ia ingin menang sendiri. Setelah ia merasakan kepuasan menyetubuhi istri temannya. Ia langsung bangkit, namun ia tak sadar bahwa mulutnya bau minuman keras. Ia berbisik di dekat mulutnya Lestari.
Tercium aroma alkohol yang sangat menyengat hidungnya.
"Kau... kau bukan suamiku...?! Tolong... tolong Kak Arka...!" Jerit Lestari berteriak minta tolong.
Tentu saja Arnold terkejut. Ia reflek meraih pistolnya dari balik pakaiannya, sambil mengenakan celana panjangnya kembali.
Lalu menembak Lestari tiga kali.
Dor... Dor... Dor...!
Suara tembakan itu terdengar oleh Arka, kerabat dan teman-temannya. Dengan cepat mereka masuk ke dalam rumah.
Kebetulan Arnold baru keluar dari dalam kamar Lestari. Ia berpapasan dengan Arka dan teman-temannya di ruang tengah rumah.
"Kau...! Apa yang kau lakukan di kamar istri ku?!" Teriak Arka bertanya dengan penuh curiga.
"Jangan salahkan aku, Arka. Ini semua karena perbuatanmu dan istrimu, yang menolak cintaku dan menerima lamaran mu," ucap Arnold tidak ada rasa takut.
"Kau... kau telah membunuh istriku...?! Tidak... tidak mungkin ini terjadi padaku. Kau telah tega mengkhianati temanmu sendiri...!" Teriak marah Arka, ia tidak percaya bahwa temannya sejahat itu terhadap dirinya.
Arka menatap Arnold dengan tatapan kebencian dan kemarahan.
"Sekarang, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" Kata Arka berteriak marah, sambil ia hendak mengambil sebuah parang berniat membunuh temannya. Namun Arnold bergerak cepat menarik pelatuk pistolnya.
Dor...!
Satu peluru menembus kaki kanannya Arka, hingga tubuh Arka langsung tersungkur jatuh ke lantai rumah panggung bersimbah darah.
Semua kerabat dan teman-temannya hanya bisa terdiam mematung, karena Arnold memegang senjata pistol, yang sewaktu-waktu bisa meletus tanpa terduga.
"Minggir kalian semua, jangan coba-coba kalian menghentikan ku!" Teriak Arnold sambil mengarahkan moncong pistolnya kepada mereka.
Satu orang temannya mencoba menyadarkan Arnold, dengan berkata halus agar Arnold menyadari kesalahannya. Namun ia juga sama ditembak kakinya.
Dor...!
"Ini peringatan kepada kalian semua. Jangan coba-coba menghalangiku lagi. Minggir semuanya...!"
Arnold segera keluar dari rumah orang tuanya Lestari. Ia menghampiri motor sportnya. Tak lama kemudian terdengar suara meraung keras. Ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi di malam berdarah itu.
Malam pengantin berakhir bukan dengan suka cita dan doa, melainkan dengan darah. Darah dan Cinta saling bertaut, menggetarkan jiwa Arka yang bergejolak marah.
Di dalam kamar, tubuh Lestari tergeletak bersimbah darah di atas ranjang. Matanya terpejam, wajahnya pucat namun masih menyisakan ketenangan yang menyayat hati. Arka menjerit, memeluk tubuh istrinya erat-erat, seolah dengan kekuatan pelukan itu ia bisa memanggil kembali nyawa yang telah pergi.
"Tidak...! Tari… Tari bangun...!" Suara Arka parau, pecah oleh tangis dan amarah yang tak tertahan.
Darah mengalir di sela tubuhnya yang terkena tembakan peluru, hangat, nyata dan menjadi bukti kejam bahwa malam bahagia mereka telah direnggut tanpa ampun. Nafas Arka memburu, dadanya naik turun, matanya merah menatap kosong ke arah dinding kamar yang masih dipenuhi hiasan pengantin.
Amarahnya meledak. "Arnold…!" Raungnya menggema penuh kebencian.
"Kau biadab! Kau hancurkan hidupku!”
Ia menundukkan wajah ke dada Lestari, lalu mengangkat kepalanya kembali, sorot matanya berubah gelap, bukan lagi mata seorang suami yang berduka, melainkan mata seorang pria yang bersumpah pada dendam.
"Tunggulah pembalasanku, Arnold...!" Gumam Arka, suara rendah namun menggetarkan.
"Aku akan mencarimu… ke mana pun kau bersembunyi. Tak ada tempat di dunia ini, untuk melindungi mu dari kejaran ku!" Teriak Arka penuh amarah.
Di luar kamar, angin malam berdesir membawa bau darah dan sisa bunga melati. Gonggongan anjing terdengar bersahutan, seolah alam pun meratapi tragedi itu. Lampu minyak bergoyang, nyalanya berkedip-kedip seperti nyawa harapan Arka yang nyaris padam.
Malam itu, sesuatu dalam diri Arka mati bersama Lestari, dan berganti dengan sesuatu yang lain, lebih dingin lagi, lebih gelap dan lahir menggantikannya, yaitu rasa kebencian dan kemarahan.
Bersambung..........