Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM PONSEL MISTERIUS

SISTEM PONSEL MISTERIUS

adicipto6 | Bersambung
Jumlah kata
124.8K
Popular
22.1K
Subscribe
1.4K
Novel / SISTEM PONSEL MISTERIUS
SISTEM PONSEL MISTERIUS

SISTEM PONSEL MISTERIUS

adicipto6| Bersambung
Jumlah Kata
124.8K
Popular
22.1K
Subscribe
1.4K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMisteriMiliarderSistem
Rian Arka, seorang pemuda pemulung yang tinggal di gubuk bersama ayahnya tidak sengaja menemukan sebuah Ponsel aneh yang misterius dan terlihat rusak. Namun Ponsel itu ternyata masih hidup, dan anehnya, Ponsel itu memberikan sebuah sistem kepada Rian sebagai balas jasa terima kasih karena telah mengisi daya baterai. Ponsel Misterius itu memberikan lima hadiah sistem, dan Rian yang mengira itu hanyalah aplikasi iseng, ia memilih pilihan hadiah ke 4, yaitu "​Sistem Perombak Nominal: Mengubah struktur nilai moneter global, menurunkan nominal uang tunai dan digital hingga 1.000 kali lipat ke bawah, namun tidak berpengaruh pada pemilik sistem." Sejak hari itu Hidup Rian berubah dan dia tidak sadar jika dirinya telah menjadi kaya dalam semalam.
Rian Arka

Rian menghentikan kayuhan sepedanya yang sudah tua dan berdecit setiap kali pedal dipaksa berputar.

Udara pagi masih dingin, namun bau menyengat dari tumpukan sampah sudah menguasai seluruh Tempat Pembuangan Akhir di pinggiran kota.

Para pemulung dewasa sudah sibuk sejak sebelum matahari terbit. Suara logam beradu, suara plastik diseret, dan pekikan burung pemakan bangkai membuat suasana pagi itu terasa hidup namun suram.

Rian menghela napas panjang, menurunkan kakinya dari pedal, lalu meraih tongkat besi andalannya.

Tongkat itu sudah bengkok di beberapa bagian, tapi sangat berguna untuk mengaduk sampah tanpa harus menyentuh langsung. Ia mengenakan sarung tangan lusuh yang sudah sobek di bagian ibu jari.

"Hari ini… paling tidak harus dapat lima puluh ribu," gumamnya sambil memijat lehernya yang pegal. "Kalau bisa tujuh puluh… lumayan, bisa masukin lima ratus perak lagi ke tabungan."

Di balik wajahnya yang tenang, tersimpan tekad yang tidak banyak orang tahu.

Rian, pemuda dua puluh tahun, bukan tipe yang gampang menyerah. Selama tiga tahun terakhir, ia punya kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan, setiap bulan ia harus menyetor tabungan minimal tiga ratus ribu ke bank. Jika rezeki sedang baik dan rongsokan yang ia temukan banyak, tabungannya bisa menyentuh satu juta perbulan.

Itu bukan jumlah kecil bagi seorang pemulung.

Semua uang itu ia kumpulkan dari menjual besi tua, tembaga, botol plastik, kabel, hingga barang elektronik rusak. Ia hafal suara logam ketika jatuh, mana aluminium, mana kuningan.

Tangannya bergerak cepat, terlatih, seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun melakukan pekerjaan ini… karena memang demikian adanya.

Namun hidup tak selalu ramah padanya.

Rian, memiliki nama lengkap Rian Arka sebenarnya cukup cerdas. Ia pernah bercita-cita melanjutkan sekolah, bahkan ingin kuliah seperti teman-temannya.

Nilai-nilainya dulu bagus, terutama pelajaran teknik. Guru SMK-nya sering memuji keterampilannya merakit alat elektronik sederhana.

Tapi takdir berjalan lain.

Ketika Rian duduk di kelas 3 SMK, ayahnya jatuh sakit berbulan-bulan. Tabungan habis untuk biaya berobat. Utang menumpuk. Pada akhirnya, keputusan pahit itu harus diambil, Rian berhenti sekolah.

Ia menanggalkan seragamnya untuk terakhir kali dan mulai memulung bersama ayahnya.

Sudah tiga tahun berlalu sejak itu.

Tiga tahun tanpa buku pelajaran.

Tiga tahun tanpa seragam sekolah.

Tiga tahun bergulat dengan bau sampah dan kerasnya kehidupan.

Namun tekadnya untuk mengubah nasib tak pernah surut.

"Yan, sudah datang?" suara berat seorang pria memanggil dari kejauhan.

Rian menoleh. Ayahnya, Pak Karta, berjalan terpincang-pincang sambil memanggul karung putih besar di punggungnya.

Tubuh tua itu semakin kurus, rambutnya memutih dengan cepat, dan batuknya makin sering kambuh di udara penuh debu ini.

"Iya, Pak," jawab Rian, berusaha tersenyum meski hatinya miris melihat kondisi ayahnya. "Ayo mulai. Tumpukan yang baru datang dari kota masih hangat tuh, siapa tahu ada kabel tembaga."

Pak Karta terkekeh kecil. "Kamu ini… kalau soal tembaga selalu semangat."

Rian hanya mengangguk. Ia tidak mau ayahnya tahu bahwa semangat itu bukan semata karena harga tembaga yang tinggi… tetapi karena tabungan. Impian kecil yang terus ia jaga diam-diam.

Sambil mulai mengaduk sampah dengan tongkat, Rian menarik napas dalam-dalam.

"Suatu hari nanti… mungkinkah nasib ku bisa berubah?" bisiknya.

—-

Matahari siang memancarkan panas yang menyengat, membuat udara di TPA bergetar seperti asap tipis.

Para pemulung mencari tempat berteduh sebentar, duduk di atas batu, ban bekas, atau bayangan truk sampah yang sudah berhenti beroperasi.

Rian dan ayahnya, Pak Karta, memilih duduk di sisi sebuah rongsokan mobil tua yang sudah tidak berbentuk.

Rian meletakkan karungnya, mengusap keringat di dahi, lalu merogoh saku baju kerjanya yang lusuh.

Ia mengeluarkan sebuah buku tabungan yang sampulnya agak mengelupas di tepi-tepinya, bukti benda itu sering sekali ia buka dan tutup, seolah menjadi sumber harapan yang tidak boleh hilang.

Dengan hati-hati, ia membuka halaman terakhir.

Saldo Akhir: 25.000.000

Rian menatap angka itu lama, seakan berharap dalam waktu dekat bisa berubah menjadi tiga kali lipat atau bahkan sepuluh kali lipat.

Namun kenyataan tetap kenyataan.

"Bekerja tiga tahun..." ia bergumam lirih. "Baru dua puluh lima juta…"

Ia meremas buku tabungan itu perlahan. Tiga tahun bekerja di bawah panas matahari, di bawah hujan yang menusuk, tiga tahun menghirup bau busuk sampah… semuanya baru menghasilkan angka itu.

Sementara rumah sederhana yang ia impikannya berharga tiga ratus juta rupiah, rumah kecil ukuran 6x10 meter, tapi cukup untuk mereka berdua hidup dengan tenang.

Di sampingnya, Pak Karta menyeka keringat di dahi dengan ujung kausnya. Pria itu usianya sudah mendekati lima puluh, namun tubuhnya tampak jauh lebih tua.

Kulitnya legam terbakar matahari, punggungnya sedikit bungkuk, dan tangannya penuh luka-luka kecil akibat memulung.

"Jangan mengeluh, Nak," ujarnya sambil tersenyum lembut. "Dua puluh lima juta itu hasil keringat dan kejujuran. Banyak orang kerja seumur hidup tapi tetap tidak punya simpanan apa-apa."

Rian menunduk. "Iya, Pak… cuma… tiga ratus juta itu jauh sekali." Suaranya terdengar serak. "Saya cuma ingin Bapak nggak tidur lagi di rumah yang kalau hujan, airnya masuk dari lima titik. Masak setiap malam harus pindahin ember terus…"

Pak Karta terkekeh pelan, mengusap kepala Rian dengan tangan kasarnya. "Kamu memang keras kepala dari kecil. Tapi ingat, Yan… rezeki itu ada jalannya sendiri. Jangan cuma kejar cepatnya, kejarlah berkahnya."

Rian menggigit bibirnya. Kata-kata itu sudah sering ia dengar, dari ayahnya maupun orang-orang tua disekitarnya. Tapi tetap saja, ada bagian dalam hatinya yang ingin berjuang lebih keras, lebih dari sekadar menunggu rezeki datang.

"Kalau saja aku bisa sekolah sampai tamat…" gumamnya tanpa sadar.

Pak Karta menatapnya penuh pengertian. "Kalau saja Bapak dulu lebih sehat, kamu pasti tetap sekolah. Maafkan Bapak, Nak…"

Rian buru-buru menggeleng. "Pak, jangan begitu. Saya yang pilih berhenti. Saya yang pilih bantu Bapak. Biar bagaimanapun, kita ini keluarga."

Ayah dan anak itu terdiam sejenak, hanya ditemani suara burung pemakan bangkai dan gemerisik plastik yang tertiup angin.

Lalu Rian menutup buku tabungan itu dan memasukkannya lagi ke dalam saku dalam tasnya. Baginya, buku itu bukan sekadar catatan bank itu, seperti kompas yang selalu mengingatkannya tujuan hidup.

Saat ia hendak berdiri, ponsel jadulnya itu bergetar di saku celana. Rian mengangkat Ponsel itu sudah sangat tua, model yang bahkan tidak lagi dijual.

Layarnya buram dan retak, baterainya cepat habis, dan satu-satunya fungsi yang masih bekerja dengan baik hanyalah menerima panggilan darurat.

"Ada apa?" ujar Rian bingung.

"Hanya suata alarm buat bapak untuk minum obat!" jawab Rian.

Pak karta mengangguk lalu keduanya makan siang bersama, setelah itu, Rian mengambilkan bungkus obat untuk sang ayah, obat murah tapi cukup mujarab menjaga kesehatan Pak Karta.

Lanjut membaca
Lanjut membaca