

Aroma ozon yang menusuk—sisa dari sambaran petir yang entah mengapa selalu mengenai satu pohon mati—bercampur dengan bau kopi paling pahit yang pernah ada. Kael Tyrus tidak yakin mana yang lebih buruk dari keduanya. Dia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju kulitnya yang kusam dan mengembuskan napas panjang.
“Sepertinya kau sudah selesai mengagumi keindahan sebatang pohon yang hangus, Kael. Atau kau sedang menghirup inspirasi untuk puisi kematian?” Suara Arvane, sang mentor, datang dari balik batu basal yang ditumbuhi lumut kuning. Nadanya datar, nyaris tanpa emosi, tapi Kael tahu itu adalah pertanyaan retoris yang meminta dirinya untuk kembali bekerja.
Kael membalikkan tubuh, tangannya memegang jubah linen Arvane yang sudah robek dan bernoda hijau. Ia baru saja selesai menjahitnya, pekerjaan yang sama membosankannya dengan mencari kayu bakar basah.
“Aku sedang merenungkan, Guru,” jawab Kael, berjalan pelan ke arah suara itu. “aku merenungkan mengapa kita harus berlatih di ‘Hutan Kematian’ yang baunya seperti kematian, alih-alih di ‘Lembah Senja’ yang baunya seperti vanilla dan masa depan yang cerah.”
Arvane, seorang pria dengan rambut abu-abu yang diikat rapi meskipun usianya diperkirakan sudah menembus angka setengah abad, tidak menoleh. Ia sibuk mengasah belati dengan gerakan yang presisi dan membosankan.
“Kematian adalah guru yang jujur, Kael. Vanilla hanya memberimu janji palsu tentang kenyamanan,” balas Arvane, tanpa menghentikan gerakannya. “lagi pula, belajarlah bersyukur. Setidaknya kau tidak kuajak berlatih di Lembah Pasir Kering. Di sana, kau harus menjahit tenda sambil dikejar Kalajengking Merah raksasa. Itu baru tantangan.”
Kael menggertakkan gigi. Lelucon Arvane selalu sama: mengancam kehidupan dengan suara yang sangat tenang. “Terima kasih atas inspirasinya, Guru. Aku merasa bersemangat untuk berlatih lebih keras sekarang. Sungguh. Setengah bersemangat.”
“Bagus. Ambil belatimu.” Arvane akhirnya menoleh. Ekspresinya yang tegas langsung berubah serius—seolah-olah tombol ‘mode lelucon’ telah dimatikan. “aku merasakan sesuatu. Bukan bahaya, tapi… sesuatu yang lama dan tidur.”
…
Hutan Kematian tidak dinamai karena banyaknya pohon mati, melainkan karena energinya yang menolak kehidupan, yang membuat semua tumbuhan di dalamnya tumbuh abnormal dan ganas. Daun-daunnya berwarna ungu gelap, dan akar-akar pohon seperti urat-urat yang bengkak, merayap di tanah basah.
Kael langsung memasang kuda-kuda bertarungnya. Ia mengerti nada bicara itu. Ketika Arvane mengatakan ‘sesuatu,’ itu berarti mereka harus segera bersiap. Kael meraih belati latihannya—kayu keras yang dicat hitam—dari sarungnya.
“Apa itu? Witchbear yang mabuk jamur? Aku dengar mereka sangat suka dengan jubah baru.” Kael mencoba meredakan ketegangan, tapi matanya fokus pada celah di antara pohon-pohon.
“Bukan, ini datang dari kedalaman. Tempat yang aku bilang tidak perlu kau kunjungi sampai kau tahu cara membuat kopi yang enak.” Arvane berjalan, melewati Kael, menuju ke arah tebing kecil yang tertutup lumut hitam. Di sana, tidak ada apa-apa selain bebatuan dan sedikit aliran air kotor.
Arvane meletakkan tangannya di permukaan tebing. Kael melihat kilatan kecil energi biru keluar dari telapak tangan Arvane, membuat beberapa urat akar pohon di dekatnya bergetar. Arvane adalah seorang Warden—penjaga gerbang rahasia.
“Ini adalah pintu, Kael. Pintu yang telah terkunci sejak… yah, sejak lama. Aku adalah orang yang menguncinya, dengan alasan yang sangat bagus. Sekarang, kuncinya bergetar,” jelas Arvane.
“Tunggu, kenapa kita di sini jika tugasmu adalah menjaganya tetap terkunci?” Kael melangkah maju, rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Ia menunjuk ke arahnya. “aku pikir kau mengasingkan diri di sini untuk menghindari urusanmu dengan seorang Duchess yang marah karena kau mencuri resep kue terbaiknya.”
Arvane mendesah, suara yang terdengar seperti gesekan dua lembar ampas kopi. “Aku mengasingkan diri, ya. Tapi bukan dari Duchess. Aku menjaganya tetap terkunci. Dan kau, Kael, adalah alasannya.”
…
“Aku? Kenapa aku? Aku hanya seorang anak malang yang mencoba menghindari pekerjaan rumah menjahit jubah, dan kau menjadikan aku penjaga pintu? Aku tidak punya skill untuk itu, Guru. Aku hanya bisa memanggil kelinci api yang panik, itupun hanya sesekali.”
Arvane akhirnya berpaling dari tebing. Ekspresinya kali ini adalah perpaduan antara kelelahan dan kewaspadaan. Ia memegang bahu Kael.
“Kau bukan hanya ‘anak malang’, Kael. Kau adalah keturunan terakhir dari garis keturunan Summoner. Dan di balik pintu ini, ada warisan yang mereka tinggalkan. Warisan yang terlalu kuat, terlalu besar, dan terlalu berbahaya bagi dunia saat ini.”
*Summoner di cerita ini adalah sebuah kelas atau klasifikasi untuk orang-orang yang bisa melakukan pemanggilan sebuah entitas dari dunia ini ataupun dunia yang jelas berbeda (dunia lain)
*Di dunia ini sebuah kelas biasanya akan di dapatkan secara acak yang diketahui ketika usia lima tahun. Namun tidak jarang sebuah kelas di dapatkan dari garis keturunan khusus yang sering terjadi pada keluarga-keluarga tertentu di dunia ini, salah satunya adalah keluarga Tyrus. Yang semua anggota keluarga adalah seorang Summoner.
Arvane menarik sebuah kalung sederhana dari balik jubahnya. Kalung perak dengan liontin batu safir kecil yang terlihat tidak mencolok. Ia meletakkannya di tangan Kael.
“Kalung ini, disebut Aether-Key, adalah kunci untuk memanggil kekuatan, tapi juga kunci untuk membuka pintu ini. Dan Aether-Key ini… ia selalu memilihmu, Kael. Bahkan sebelum kau lahir.”
Saat Kael menyentuh liontin itu, batu safir kecil itu tiba-tiba memancarkan cahaya biru samar. Kael merasakan desakan energi dingin di telapak tangannya—seperti memegang sepotong es yang berdenyut.
“Selamat datang, Kael Tyrus. Akhirnya, sang pewaris telah datang.”
Suara itu! Itu bukan suara Arvane, atau suara di kepalanya. Itu adalah suara berbisik, dalam, dan kuno yang terasa datang langsung dari batu safir itu sendiri, menggema di seluruh Hutan Kematian.
Kael terkejut, melompat mundur dan hampir menjatuhkan liontin itu. “Guru! Benda ini… Benda ini bicara padaku! Dia tahu namaku! Apakah dia akan meminta aku untuk mencoba resep kue yang dicuri olehmu?”
Arvane hanya tersenyum tipis—senyum yang langka dan tidak menyenangkan. “Tidak, Kael. Dia tidak peduli dengan resep kue. Dia ingin kau mengklaim warisanmu. Dia ingin kau membuka pintu ini.”
…
Kael masih menatap Aether-Key di telapak tangannya, yang kini telah berhenti bersinar namun terasa hangat. Bisikan dari liontin itu masih terasa nyata di udara, seolah Hutan Kematian menahan napas.
“Jadi, aku… Aku adalah Last Summoner?” tanya Kael, kali ini suaranya terdengar lebih hati-hati. Keangkuhannya yang biasa telah digantikan oleh rasa terkejut yang polos.
Arvane mengangguk, menyilangkan tangan di depan dada. “Summoner terakhir dari garis keturunanmu, Keluarga Tyrus, adalah yang pertama di dunia yang menjalin ikatan resmi dengan entitas-entitas di luar dimensi kita. Mereka bukan sekadar memanggil—mereka menarik dan mengikat. Itu kekuatan yang membuat takut para Raja dan para Imam Besar. Itulah mengapa mereka dihapuskan.”
“Dihapuskan?” Kael menelan ludah. “itu terdengar sangat dramatis. Apakah itu seperti ‘dihapuskan’ dari daftar tamu pesta ulang tahun, atau ‘dihapuskan’ dari muka bumi?”
“Yang kedua,” jawab Arvane singkat. “beberapa ratus tahun yang lalu, ada Pembantaian Summoner Besar. Mereka diburu karena dianggap terlalu berbahaya—kekuatan untuk memanggil dewa, setan, atau bahkan bentuk energi yang tak terdefinisikan, diyakini akan merusak keseimbangan. Aku, dengan bantuan beberapa sekutu tua, menyelamatkanmu saat kau masih bayi dan menyembunyikanmu di sini, di balik tirai energi Hutan Kematian.”
Kael memandang sekeliling, pada pohon-pohon ungu dan akar-akar bengkak. “Jadi, kau menyembunyikanku di tempat yang paling menakutkan, gelap, dan kotor, hanya karena aku bisa memanggil sesuatu yang mungkin membuat dunia berakhir? Terdengar seperti rencana yang buruk untuk seorang bayi.”
“Rencana terbaik di tengah krisis,” tegas Arvane, berjalan mendekati tebing sekali lagi. “warisan Summoner terletak di balik pintu ini. Mereka menyimpan semua pengetahuan, semua formula, dan mungkin, senjata terakhir. Jika Aether-Key bergetar, itu artinya ada kekuatan di dunia luar yang mencari tahu tentangmu, atau—lebih buruk lagi—mencari apa yang ada di sini.”
…
Tiba-tiba, Arvane menjentikkan jarinya. Sebuah lingkaran magis sederhana, terbuat dari pasir yang entah bagaimana ia bawa, muncul di tanah.
“Lupakan tentang pintu. Sekarang, kau akan membuktikan bahwa mereka salah memburumu,” perintah Arvane. “kau bilang kau hanya bisa memanggil kelinci api yang panik. Aku ingin kau memanggil kelinci api itu, sekarang. Gunakan Aether-Key sebagai fokusmu.”
Kael memutar bola mata, tetapi ia menyadari bahwa ini adalah cara Arvane menguji dan menenangkannya. Kael menarik napas, memegang liontin Aether-Key dengan erat.
“Baiklah, kelinci api panik. Aku berharap kau setidaknya tahu caranya berterima kasih,” gumam Kael pada dirinya sendiri.
Kael melangkah ke dalam lingkaran pasir. Ia memejamkan mata, memfokuskan energi yang terasa dingin dari liontin ke ujung jarinya, dan mulai mengucapkan mantra pemanggilan dasar yang telah ia hafal mati.
“O, energi primordial yang terikat oleh sumpah. Dengarkan panggilan dari Tyrus yang terakhir. Aku memohon kehadirannya, si penggigit yang berapi-api, sang pembawa pesan kepanikan—Kelincinus Ignitus!”
Energi mulai berputar di tengah lingkaran. Pasir di sekitarnya terangkat, membentuk pusaran mini yang memancarkan cahaya oranye cerah. Arvane mengamati, ekspresinya tidak bergerak.
Cahaya itu mencapai puncaknya… dan kemudian, dengan bunyi pop yang mengecewakan, semua energi menghilang. Di tengah lingkaran, hanya ada asap tipis dan seekor tupai normal yang menatap Kael dengan mata penuh kebingungan, seolah ia bertanya mengapa ia dipindahkan dari tengah makan kacangnya.
“Tupai. Bukan kelinci. Dan dia tidak berapi-api. Dia hanya marah karena makanannya diganggu,” komentar Arvane, nyaris tersenyum—sebuah kejadian yang lebih langka daripada komet.
Kael menunduk pada tupai yang kini sedang marah-marah dengan suara “cicit-cicit” yang agresif. Kael menatap tupai itu dengan nada menyalahkan.
“Aku tidak memanggilmu! Aku memanggil kelinci api!” Kael berteriak pada tupai itu. Tupai itu balas menembak dengan gigitan cepat ke arah jari Kael, yang berhasil ia tarik tepat waktu.
“Ah, lihatlah. Ternyata bakat pemanggilanmu menjadi Zero,” ejek Arvane. “dan ternyata, aku benar-benar harus mengunci warisan Summoner ini, karena pewarisnya bahkan tidak bisa memanggil kelinci yang benar.”
…
Tepat ketika Kael hendak berdebat dengan tupai dan memarahi Arvane karena komentarnya, bumi bergetar. Getaran kali ini jauh lebih kuat daripada ‘getaran kunci’ yang dirasakan Arvane sebelumnya. Pohon-pohon ungu bergoyang, dan beberapa batu kecil dari tebing jatuh.
Suara gemuruh itu datang dari kedalaman, dari balik tebing yang tertutup lumut hitam—tepatnya, dari belakang “Pintu” yang terkunci.
“Apa itu? Gempa bumi?” Kael segera memegang pinggiran Arvane untuk menjaga keseimbangan.
“Bukan gempa. Itu adalah… upaya paksa,” kata Arvane, matanya kini dipenuhi kekhawatiran yang nyata. Ia menoleh ke arah Kael. “seseorang di dunia luar baru saja mencoba mengganggu segel penahan di sini. Mereka tahu lokasinya, Kael. Mereka tahu kau ada di sini.”
Tupai kecil yang tadi marah-marah kini berdiri tegak, mengeluarkan suara jeritan ketakutan yang tinggi, dan berlari ke dalam hutan.
Tiba-tiba, dari tebing itu muncul retakan. Bukan retakan fisik di batu, melainkan retakan energi berwarna merah pekat, seperti luka yang menganga di dinding dimensi. Dari retakan itu, muncul bisikan yang bukan berasal dari Aether-Key, melainkan suara yang dingin, serak, dan penuh kebencian.
“Kami tahu kau ada di sana, Last Summoner.”
Kael merasakan hawa dingin yang nyata menjalar di tulang punggungnya. Ini adalah pertama kalinya ancaman itu terasa begitu dekat dan pribadi.
Arvane dengan cepat melompat di depan Kael, tangannya memegang belati yang kini memancarkan cahaya pelindung kebiruan. Ia tidak lagi terlihat seperti mentor yang menyebalkan, tetapi seperti seorang pelindung yang siap mati.
“Mereka datang. Ini akan jadi malam yang panjang, Kael. Ambil belatimu. Dan kali ini, coba panggil sesuatu yang lebih berguna dari tupai yang marah!”
…
Retakan merah di tebing melebar. Dari dalamnya, bukannya monster besar, melainkan sekumpulan makhluk kecil yang cepat dan mengerikan mulai merayap keluar. Mereka terlihat seperti serangga, namun terbuat dari bayangan dan asap merah, dengan mata kecil yang bersinar hijau.
“Shadow Grubs! Mereka adalah utusan kelas rendah, tapi gigitan mereka bisa melumpuhkan,” seru Arvane. Ia maju, belati di tangannya menari-nari dalam pola pertahanan yang presisi dan cepat, menebas makhluk-makhluk bayangan itu satu per satu.
Kael, dengan belati kayu latihannya, merasa lumpuh sesaat. Ini bukan latihan rutin mereka yang biasa.
“Mereka terlalu banyak, Guru!”
“Fokus, Kael! Gunakan Aether-Key! Ini bukan waktunya untuk memikirkan vanilla!” Arvane menendang satu Grub ke arah Kael. Kael reflek menebasnya, dan makhluk bayangan itu hancur menjadi asap.
Kael memejamkan mata. Ia memegang liontin Aether-Key di pergelangan tangannya. Ia ingat kata-kata Arvane: menarik dan mengikat. Ia tidak mencoba memanggil makhluk hidup kali ini. Ia mencoba memanggil energi, hanya energi murni.
Ia berteriak, “Aku tidak akan membuka pintu untukmu! Aku akan memanggil penghalang! Aku memanggil… Kejelasan!”
Dari Aether-Key keluar kilatan energi berwarna perak. Energi itu tidak berbentuk monster, melainkan sebuah gelombang kejut yang murni dan kuat. Gelombang itu menyebar, menghantam semua Shadow Grubs yang menyerang dan langsung menghancurkan mereka menjadi debu hitam. Gelombang itu juga menghantam tebing, dan retakan merah yang menganga itu tertutup rapat dengan bunyi bum yang menggema.
Kael terengah-engah, belati di tangannya bergetar. Tubuhnya terasa kosong, seolah semua energinya tersedot keluar.
Arvane, yang telah menghentikan pertarungannya, menatap Kael dengan mata terbelalak. Wajahnya yang biasa tanpa emosi, kini menunjukkan kejutan yang luar biasa.
“Itu… itu bukan formula yang kuajarkan padamu,” bisik Arvane, berjalan mendekati Kael yang hampir roboh.
Kael tersenyum lemah, mencondongkan tubuh ke belati kayunya. “Ya. Itu hanya kata-kata keren yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Untungnya, kekuatan Aether-Key tampaknya menyukai hal-hal yang dramatis. Bisakah kita pindah ke Lembah Senja sekarang? Aku lelah, dan aku butuh vanilla.”