

Sejak kecil, Indra sudah terbiasa hidup dengan satu kata. “jangan.”
“Jangan lari terlalu kencang.”
“Jangan ikut kegiatan sekolah.”
“Jangan menarik perhatian.”
“Jangan marah.”
“Jangan nunjukin apa pun.”
Kata itu diulang terus. Terlalu sering sampai akhirnya tidak perlu lagi dijelaskan lagi artinya. Indra Wardana, merupakan anak sulung dari keluarga Wardana. Ia dan adiknya, Dita, terlahir prematur.
“Kalau kalian lahirnya enggak kecepatan—-” kalimat itu dulu pernah ia dengar, sampai akhirnya ia tahu apa artinya. Indra tahu kelanjutannya. Sejak hari itu, rumah mereka kehilangan satu hal penting. Bukan barang. Bukan suara.
PERAYAAN.
Tidak ada ulang tahun.
Tidak ada kue.
Tidak ada lilin.
Kalau tanggal itu datang, rumah akan tetap sunyi.
Dita pernah bertanya waktu kecil, “Kak, kenapa kita enggak pernah ngerayain ulang tahun?”
Indra terdiam, lalu menjawab dengan nada pelan, “Karena itu bukan hari yang pantas dirayakan.”
Semenjak itu Dita tidak bertanya lagi.
Indra sendiri tidak pernah benar-benar merasa kehilangan. Ia tidak punya ingatan apa pun tentang ibu mereka. Tidak ada wajah yang ia lihat, tidak ada suara yang ia dengar.
Yang ia tahu hanya satu:
Sejak hari kelahiran mereka, hidup mereka berubah drastis.
Wardana Wijaya, ayah dari Indra Wardana dan Dita Wardana yang memutuskan untuk pensiun dini.
Saat Indra masih kecil, ia mendengar ayahnya berbicara dengannya dan Dita.
“Ayah pensiun, mari kita hidup normal,” katanya singkat suatu malam.
Indra kecil hanya tertawa girang, karena ia akan bersama ayahnya dengan waktu yang sangat lama.
Namun. Indra menyadari hal yang tak biasa, ia memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di rumahnya, dan tentang pekerjaan ayahnya terdahulu.
Panggilan telepon yang selalu singkat, Nada suara yang berubah saat menyebut nama atau angka tertentu. Tatapan waspada yang tidak pernah benar-benar hilang. Ayahnya terlalu siaga untuk ukuran orang tua biasa. Ia ingin bertanya langsung, namun ia selalu urungkan.
Suatu hari, ayahnya menyadari sesuatu yang terlambat. Indra masih kecil, saat itu ia berumur 6 tahun, terlalu kecil untuk mengerti kenapa wajah ayahnya mendadak pucat.
“Indra…. kamu barusan di mana?” ucap Wardana dengan nada kebingungan
Indra menoleh bingung, dan hanya tersenyum sambil memegang mobil mainan, “Di sini.”
Padahal sedetik sebelumnya, ia berdiri di seberang ruangan. Wardana berlutut di depan anaknya, mencengkram bahu Indra kecil terlalu keras.
“Kamu ngapain?” tanya Wardana dengan nada sedikit bergetar.
“Aku cuma…. pengen ke sini.” jawab Indra ketakutan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada marah.
Yang ada hanya ketakutan.
“Kamu enggak boleh ikut basket.”
“Enggak boleh pulang telat.”
“Enggak boleh paskibra.”
“Kenapa?” tanya Indra suatu kali, karena ia merasa jengkel semua hanya larangan yang tak berujung.
Wardana menatapnya lama sebelum menjawab.
“Demi kebaikanmu.”
Kalimat itu selalu berhasil.
****
“KAK!!!”
Suara Dita menarik Indra kembali ke masa kini.
Ia menoleh. Adiknya menatapnya serius.
“Udah bilang ke ayah belum?” tanyanya sembari mengupil.
“Belum,” jawab Indra singkat.
“Emang harus bilang sekarang?” tanyanya
Dita mendengus.
“Kamu selalu bilang gitu, mending juga bilang dari sekarang,”
Indra refleks menoyor kepalanya pelan.
“Aku udah gede tau!!! jangan noyor-noyor” protes Dita sembari melempar bantal ke arah Indra.
Indra tersenyum kecil. Senyum yang sudah lama ia latih, senyum aman.
****
Di halaman, Wardana berdiri diam. Tatapannya tajam, penuh dengan kekhawatiran. Ia selalu melihat jam yang membuat Indra mendengus saat melihat ayahnya begitu.
Indra ingin bicara, ingin bilang kalau ia baik-baik saja. Ingin sekali hidup normal.
Tapi kata-kata itu selalu berhenti di tenggorokan. Ia selalu mengabaikan lagi dan lagi.
Ia cuma melangkah pergi.
****
Di mobil Indra memasang earphone.
Musik pelan menemani perjalanannya menuju sekolah. Jendela terbuka sedikit, Angin pagi menyibakkan rambutnya.
“Kenapa harus aku?”
Pertanyaan itu muncul lagi
Kenapa aku?
Ia memperlambat laju mobil saat perasaannya berubah. Ada sesuatu yang salah. Indra melirik jam di pergelangan tangannya.
Ia teringat pesan ayahnya.
“Kalau ada yang aneh, tekan ini,”
Indra kemudian menekan tombol GPS itu. Lalu segera mengabaikan perasaan buruknya. Ia hanya perlu menyelesaikan hari ini seperti biasa.
Indra menutup kaca mobil, dan kembali mengencangkan sabuk pengaman, ia tahu sepertinya ada yang tak beres, tapi instingnya belum sepenuhnya bagus. Ia tahu apa pun yang terjadi, ia tidak boleh lengah.
Namun, tiba-tiba ia teringat Dita yang pagi ini berangkat seorang diri, tidak ingin diantar ayah mau pun semobil dengannya.
Ia segera memacu mobilnya dengan cepat.
“Halo, Dit, di mana?” Suara Indra sedikit panik di telepon.
“Halo… haloooo…. Kak…,” suara Dita terdengar putus-putus.
“Dit? Kenapa suaramu—-” tanya Indra dengan panik.
“Aku—-”
Suaranya terhenti
Detik berikutnya, ledakan mengguncang telinga Indra
BUMMMMMMM!
“DITA?!”
Tidak ada jawaban.
Hanya bunyi statis.
“Dit, jawab! Dit!” Indra memukul setir. Tanganya gemetar.
Ia langsung membuka layar GPS. Titik milik Dita berkedip merah, lalu berhenti.
“Nggak…… nggak, jangan mati sekarang…..” gumamnya.
Indra menekan pedal gas tanpa pikir panjang. Lampu merah ia terobos. Klakson bersahutan, tapi semuanya terdengar jauh.
Di kepalanya, hanya ada Dita.
Telepon berdering, layar ponsel Indra menyala.
“Ayah,” ucap Indra begitu sambungan tersambung. Napasnya terengah.
“Dita yah….”
“Indra,” suara Ayahnya terdengar tegang.
“Kamu ke mana?”
“Ayah Dita dalam bahaya, tadi aku denger suara ledakan, dan,” Indra terbata-bata saat ingin menjelaskan ke ayahnya.
Hening beberapa detik.
“Indra,” suara itu lebih pelan, lebih dingin.
“Jangan lakukan apa pun sendirian, lanjutkan perjalananmu ke sekolah.”
Indra tertawa kecil. Suara itu bahkan terdengar asing ditelinganya sendiri.
“Ayah selalu bilang ‘jangan’,” katanya lirih.
“Di saat seperti ini pun masih begini,”
“Maaf yah, aku nggak bisa.”
Ia menutup telepon.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Indra tidak mematuhi larangan itu.
“Dit bertahanlah.”