Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Warisan Tabib Berdarah Dewa

Warisan Tabib Berdarah Dewa

Xiao Ai | Bersambung
Jumlah kata
98.2K
Popular
2.5K
Subscribe
277
Novel / Warisan Tabib Berdarah Dewa
Warisan Tabib Berdarah Dewa

Warisan Tabib Berdarah Dewa

Xiao Ai| Bersambung
Jumlah Kata
98.2K
Popular
2.5K
Subscribe
277
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalBalas DendamKultivasiDokter Genius
Di usia 18 tahun, Ben Xaverius menyaksikan kematian mengenaskan orang-orang yang dia sayangi. Lahir di penjara Pulau Hantu dari seorang ibu tabib bernama Tissa Raya, Ben dibesarkan oleh para master beladiri yang kehilangan kekuatan mereka. Namun darah Tujuh Bintang yang mengalir dalam tubuhnya membuatnya menjadi kultivator genius yang ditakdirkan untuk bangkit. Ketika empat sekte penguasa Negara Truele memerintahkan pembantaian massal di Pulau Hantu, hanya Ben dan Paman Tino yang selamat. Dua tahun berlatih kultivasi, Ben mencapai tingkat Pembentukan Pondasi dan memiliki kekuatan melebihi ahli beladiri tingkat Dewa Perang. Kini dia kembali ke Negara Truele menyamar sebagai tabib pinggiran. Namun tujuan sebenarnya hanya satu, membalas dendam kepada siapa saja yang terlibat dalam pembantaian keluarganya. Perjalanan balas dendam seorang kultivator jenius baru saja dimulai.
BAB 1

BOOOOM!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Pulau Hantu, memecah keheningan malam yang telah menemani Ben Xaverius selama tiga hari berturut-turut dalam kultivasi tertutupnya.

Dinding batu goa terpencil di sisi timur pulau bergetar hebat, serpihan-serpihan batu berjatuhan seperti hujan kerikil.

Ben membuka matanya dengan cepat.

Cahaya emas samar masih mengalir di sekitar tubuhnya, tanda bahwa ia baru saja berhasil menerobos bottleneck yang telah menahannya selama berbulan-bulan. Ranah Pembentukan Pondasi.

Di usia delapan belas tahun, pencapaian ini melampaui ekspektasi bahkan untuk standar praktisi beladiri elit sekalipun.

Namun kebanggaan atas penerobosan tersebut sirna seketika ketika getaran kedua menghantam goa dengan kekuatan yang lebih brutal.

KRAAKKK!

Retakan-retakan panjang menyebar di langit-langit goa bagai jaring laba-laba raksasa. Ben langsung bangkit, naluri bertahan hidup mengalahkan kelelahan setelah kultivasi intensif.

Tidak ada waktu untuk menikmati perubahan energi spiritual dalam tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" gumamnya sambil bergerak cepat menuju mulut goa.

Begitu keluar, pemandangan yang menyambutnya membuat darah Ben seakan membeku.

Langit malam yang biasanya dipenuhi bintang kini berubah menjadi kanvas oranye-merah yang menyala.

Kobaran api membumbung tinggi dari arah pemukiman, tempat ibunya, Tissa Raya, dan para tahanan lain tinggal.

Wuuusshh... BOOOM!

Suara deru mesin jet memotong udara malam, diikuti ledakan yang membuat tanah bergetar di bawah kakinya.

Ben mendongak dan melihat siluet-siluet gelap pesawat tempur yang berputar-putar di udara seperti burung bangkai, menjatuhkan muatan maut ke setiap sudut pulau.

"Tidak... tidak mungkin..."

Jantung Ben berdebar kencang. Selama hidup di Pulau Hantu, tidak pernah ada serangan seperti ini.

Pulau terpencil di tengah Laut Gorgen ini memang dijadikan penjara bagi para penjahat elit yang memiliki keahlian bela diri tingkat tinggi, tapi tidak ada penjaga, justru karena tidak ada yang bisa melarikan diri dari sini.

Para tahanan diberi racun dan diturunkan dengan dijatuhkan dari ketinggian setidaknya lima meter, lalu dibiarkan mati perlahan dalam hitungan bulan.

Tapi semua berubah sejak Tissa Raya, ibunya, tiba dengan kemampuan medis yang luar biasa. Tidak ada lagi yang mati karena racun.

Mereka semua bertahan, hidup, bahkan membentuk keluarga tidak resmi dengan Ben sebagai pusat harapan mereka.

"Mereka melakukan pembersihan," bisik Ben, pikirannya bekerja cepat menganalisis situasi. "Pemerintah Truele tidak mau ada saksi hidup."

Teriakan memilukan dari arah pemukiman menusuk telinganya. Ben tersentak, kesadaran akan bahaya yang mengancam orang-orang terdekatnya membakar setiap saraf dalam tubuhnya.

Tanpa ragu lagi, ia meluncur turun dari goa dengan kecepatan yang memanfaatkan peningkatan kultivasi barunya.

Langkah Bayangan Malam, teknik gerakan yang diajarkan Master Widi, salah satu tahanan ahli assassin, mengalir natural dalam setiap lompatan dan gelinciran Ben di antara bebatuan dan semak belukar.

Wuussh...

Tubuhnya bergerak seperti hantu, hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Radar pesawat tempur yang masih berkeliling tidak menangkap keberadaannya.

Setiap langkah diperhitungkan, setiap bayangan dimanfaatkan untuk berlindung.

Tapi semakin dekat dengan pemukiman, semakin jelas aroma anyir darah dan asap tebal yang memenuhi udara.

Semakin keras pula jeritan-jeritan yang kini mulai melemah, tanda bahwa korban semakin sedikit yang tersisa.

"Bertahanlah... aku hampir sampai..."

Ben mempercepat laju, melompat dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

Bangunan-bangunan kayu sederhana yang selama ini menjadi rumah para tahanan kini tinggal puing-puing yang menyala.

Api melahap segalanya tanpa ampun, meninggalkan jejak kehancuran total.

Suara deru pesawat perlahan menjauh, misi pembersihan hampir selesai. Ben tiba di lokasi pemukiman tepat ketika pesawat terakhir menghilang di balik awan hitam.

Keheningan yang tertinggal lebih mencekam daripada ledakan-ledakan sebelumnya.

Ben berdiri di tengah reruntuhan, matanya menyapu setiap sudut yang dulunya begitu hangat, Rumah Master Boby yang selalu mengajarinya teknik pedang, hancur.

Pondok Master Lila yang mengajarkan ilmu pengobatan herbal, rata dengan tanah. Tempat berkumpul mereka setiap malam untuk berbagi cerita, tidak tersisa apa-apa.

"Ibu..." bisiknya tertahan.

Kaki-kakinya bergerak sendiri menuju reruntuhan rumah mereka.

Hatinya berdoa dengan putus asa, berharap keajaiban masih mungkin terjadi. Berharap Tissa Raya dengan kemampuan medisnya yang luar biasa entah bagaimana berhasil bertahan.

Tapi harapan itu hancur berkeping-keping ketika ia menemukan sosok yang sangat dikenalnya tergeletak di antara puing-puing kayu yang gosong.

Tissa Raya, wanita berusia empat puluh tahun dengan wajah lembut yang selalu memberikan kehangatan, kini diam tak bergerak.

Tubuhnya penuh luka-luka, tanda bahwa ia tidak menyerah begitu saja. Bahkan di saat-saat terakhir, ia masih melawan.

"IBBBBUUUU!"

Teriakan Ben menggema di seluruh pulau, mencampur kesedihan mendalam dengan kemarahan yang membara.

Energi spiritual dalam tubuhnya bergolak tidak terkendali, aura Pembentukan Pondasi yang baru saja dicapainya berdesir liar.

Ben jatuh berlutut di samping jenazah ibunya, tangannya gemetaran menyentuh wajah yang sudah dingin itu.

"Maafkan aku... maafkan aku tidak bisa melindungimu..." suaranya serak, air mata mengalir deras membasahi pipinya. "Aku berjanji akan membalas semua ini. Mereka akan membayar dengan darah untuk apa yang mereka lakukan!"

Amarah yang membakar dadanya perlahan mengkristal menjadi tekad yang kokoh.

Ben tidak mengenal dunia luar, selama delapan belas tahun hidupnya hanya Pulau Hantu yang ia kenal. Tapi ia tahu persis siapa yang bertanggung jawab, Pemerintah Negara Truele.

Dengan hati yang hancur tapi tekad yang membaja, Ben bangkit.

Ia mulai mencari korban lain di antara reruntuhan, mengumpulkan jenazah orang-orang yang telah menjadi keluarga baginya.

Master Widi, Master Boby, Master Lila, dan puluhan tahanan lain yang masing-masing mewariskan kemampuan unik mereka kepada Ben.

"Kalian tidak mati sia-sia," gumam Ben sambil mengangkat jenazah Master Widi yang tubuhnya penuh luka bakar. "Semua yang kalian ajarkan akan kugunakan untuk membalas dendam ini."

Darah para tahanan membasahi pakaiannya, tapi Ben tidak peduli.

Satu per satu ia kumpulkan, sebagian masih utuh meski penuh luka, sebagian lain sudah hangus terbakar hingga sulit dikenali.

Ketika hendak mulai menggali tanah untuk menguburkan keluarganya, pendengaran tajam Ben yang meningkat drastis setelah menerobos ke ranah Pembentukan Pondasi, menangkap sesuatu.

Uhuk... uhuk...

Suara batuk lemah dari arah timur.

Ben membeku. Di tingkat kultivasinya sekarang, pendengarannya bisa menangkap suara jarum jatuh dalam radius ratusan meter. Suara batuk itu nyata, dan itu berarti...

"Ada yang masih hidup!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ben berlari menuju sumber suara. Teknik Langkah Bayangan Malam membuatnya meluncur di antara reruntuhan dengan kecepatan fantastis.

Uhuk... uhuk...

Suara itu semakin jelas. Ben mengikuti jejaknya hingga tiba di ujung pemukiman yang berbatasan langsung dengan tebing.

Di sana, sebuah rumah telah runtuh total, balok-balok kayu tebal menumpuk membentuk gundukan puing.

Tapi dari celah-celah puing itu, Ben melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar kencang.

Sebuah tangan manusia menyembul keluar, jari-jarinya bergerak lemah mencoba meraih udara segar.

Api masih menyala di sekeliling reruntuhan, asap tebal mengepul menghalangi pandangan.

"Bertahanlah! Aku akan mengeluarkanmu dari sana!"

Ben tidak tahu siapa yang tertimbun di bawah sana, tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan satu orang pun lagi mati di hadapannya. Tidak lagi.

===

Lanjut membaca
Lanjut membaca