

Di tepi sebuah sungai, seorang pemuda sedang memandang jernihnya air sungai untuk menenangkan pikirannya. Dia adalah Aris, pemuda berusia 20 tahun yang memiliki kemampuan beladiri cukup tinggi. Pandangannya lurus, pendengarannya fokus mendengar setiap suara aliran air yang menjadi suara favoritnya.
“Kakek sekarang sering sakit-sakitan, kondisi kampung juga sudah mulai gak aman,” batin Aris, memikirkan kondisi gurunya yang berimbas kepada kondisi kampung.
Sudah sekitar setengah jam Aris berdiam diri di tepi sungai itu, tempat yang sangat sering ia kunjungi. Kini, ia pun berdiri dan kemudian tersenyum ke arah sungai itu.
Aris pun langsung berbalik, berjalan melangkah meninggalkan sungai itu dengan langkah kaki yang agak lambat. Kepalanya menunduk, kini beban besar untuk menjaga keamanan kampung berada di pundaknya. Tadi malam, sang guru memberikan amanah itu kepadanya.
FLASHBACK ON
Aris terdiam sambil menunduk di hadapan gurunya yang terbaring di atas tempat tidurnya, sudah dua hari kakek Anwar jatuh sakit dan hanya berdiam di rumah.
Dengan tubuhnya yang terasa semakin lemas, kakek Anwar memandangi Aris yang kini sedang menunduk di hadapannya. Ia tersenyum, sosok Aris selalu mengingatkannya terhadap sahabat masa kecilnya yang sudah meninggal.
“Aris?”
Mendengar sang guru memanggil namanya, Aris yang sedang menunduk langsung mengalihkan pandangannya kepada sang guru. “Iya, ada apa, kek?”
“Kakek kan saat ini sedang sakit, jadi kakek minta kamu jaga keamanan kampung kita ini. Jangan sampai kampung kita ada masalah atau terjadi sesuatu yang besar,” ucap kakek Anwar.
Aris terkejut, ia bahkan seolah tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh sang guru. “Tapi... kan masih ada bang Udin, kek. Dia juga yang paling senior di antara murid-murid kakek.”
Kakek Anwar tersenyum, ia paham dengan apa yang dipikirkan oleh Aris. “Udah, kamu nurut aja. Udin juga bakal setuju, selama kakek sakit, kamu adalah pemimpin.”
Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah gurunya itu. “I-iya, kek. Kalau itu adalah sebuah perintah, aku siap!”
FLASHBACK OFF
“Aris? Apakah itu, kau?” tanya seseorang yang berpapasan dengan Aris.
Aris menoleh, ia berusaha untuk mengingat sosok yang kini ada di hadapannya itu. “Maaf, siapa, ya?”
Orang itu tersenyum, kemudian langsung memeluk Aris dengan erat. Tentu saja Aris semakin bingung, ia sama sekali tidak mengingat tentang siapa orang ini.
“Ini kakak, Ris. Kakak kandung kamu.” ucap orang itu sambil tetap memeluk Aris.
“Ka-kakak? I-ini kamu, kak?” tanya Aris.
“Iya, setelah 15 tahun berpisah, akhirnya kita bisa bertemu kembali.”
Aris tersenyum, ini seolah seperti sebuah mimpi indah yang tidak ingin berakhir. Ia masih tak percaya akan bertemu kembali dengan kakaknya setelah terpisah sekian lama akibat perceraian kedua orang tuanya.
“Aku seneng banget, kak. Akhirnya kakak kembali.” Aris sedikit mengeluarkan air matanya, sosok yang selalu ia rindukan itu akhirnya kembali.
Kedua kakak beradik ini harus berpisah karena perceraian kedua orang tuanya, Aris ikut dengan ibunya dan Satya ikut dengan ayahnya ke kota. Kini, keduanya bertemu ketika sudah dewasa dan mengobati kerinduan masing-masing terhadap saudaranya.
Satya pun melepas pelukannya. “Ibu sekarang dimana, Ris?”
Aris pun menundukkan kepalanya, ia bingung mau menjawab apa dihadapan sang kakak yang datang dari suatu tempat yang jauh untuk bertemu dengan ibu kandungnya.
“Aris? Kok malah diem? Kalian masih tinggal di tempat kita yang dulu, kan?” tanya Satya, perasaannya mulai tak enak setelah melihat reaksi Aris.
“Ibu udah meninggal, kak.” Jawab Aris dengan posisi yang masih menunduk.
Degh!
Satya sangat terkejut ketika mendengar jawaban Aris, jantungnya seolah berhenti untuk sejenak. Ia yang datang dengan penuh kegembiraan untuk bertemu sang ibu, tapi kenyataan malah membuatnya seolah kehilangan segalanya dalam sekejap.
“Ka-kamu lagi bercanda kan, Ris? Kamu gak serius, kan?” Satya masih tidak percaya, ia berharap kalau itu hanyalah sekedar candaan.
Aris menggelengkan kepalanya, memberikan jawaban jika ia tidak sedang bercanda.
“Berarti kamu serius? Ibu sudah meninggal? Pertemuanku dengan ibu ketika 15 tahun yang lalu berarti menjadi yang terakhir kalinya dan tak pernah terulang lagi?” suara Satya yang biasanya lantang dan jelas, kini seolah kehilangan tenaga.
“Ibu sakit-sakitan, kak. Dia meninggal satu tahun yang lalu.”
Satu tahun yang lalu? Dan Satya sangat tidak mengetahui hal ini saking sibuknya dengan berbagai urusan pekerjaan. Ia sangat merasa berdosa sekali kepada sang ibu, dia merasa kalah dengan Aris dalam memperhatikan sang ibu.
“Ibu meninggal satu tahun yang lalu, terus gimana dengan kamu, Ris? Kamu sendirian?” kedua bola mata Satya mulai berkaca-kaca, membayangkan sang adik yang hidup tanpa adanya orang tua.
“Aku gak sendiri, kak. Ada kakek Anwar, bang Udin dan masih banyak lagi yang selalu menemani aku dalam segala kondisi. Mereka sudah seperti saudara bagiku, bahkan mungkin lebih karena mereka lah yang selalu mendukung dan bersama denganku.”
“Alhamdulillah, kakak bersyukur kalau kamu tidak kesepian disini. Tapi, kakak juga minta maaf sama kamu, kamu dan ibu disini harus bekerja keras dan kakak sendiri malah enak-enakan di Jakarta.”
Aris menggelengkan kepalanya, Satya tidak seharusnya menyalahkan dirinya sendiri karena ini semua bukanlah keinginannya. “Gak boleh kayak gitu, kak! Apa yang terjadi sama keluarga kita bukanlah keinginan kaka sendiri.”
Satya tersenyum, dia bangga dengan adiknya itu. Awalnya dia mengira kalau Aris akan dendam kepadanya dan juga ayah mereka. “Makasih, kamu masih nerima kakak sebagai kakak kandung kamu.”
“Iya, kak. Kakak mau ke makam ibu? Yuk biar aku antar, kebetulan gak jauh dari sini,” ajak Aris.
Satya pun mengangguk, tentu saja ia ingin mengunjungi makam sang ibu. Ia ingin mengobati rindu kepada sosok yang telah melahirkannya.
Mereka pun berjalan menuju makam sang ibunda, dengan Aris di depan sebagai petunjuk arah. Dalam perjalanan, tak banyak warga kampung yang mengenali Satya, penampilannya memang jauh berbeda di banding ketika masih kecil dulu. Saat ini, ia mengenakan setelan jas hitam dan terlihat sepeti bukan orang asli kampung atau yang lahir di kampung itu.
“Kamu sekarang kerja dimana, Ris?” tanya Satya ketika sedang dalam perjalanan menuju makam sang ibu.
“Aku gak kerja tetap, kak. Paling apa pun aku kerjakan kalau ada yang nyuruh kerja, biasanya kakek Anwar yang sering nyuruh aku kerja buat ngurus sapinya,” jawab Aris.
Satya yang ada di belakang adiknya itu semakin prihatin dengan kondisi Aris saat ini, rasa bersalahnya menjadi semakin besar kepada adik kesayangannya itu.
“Kalau kamu mau, ikut aja sama kakak ke Jakarta. Nanti biar kamu kerja di kantor kakak, alhamdulillah kakak lagi ngejalanin bisnis kecil-kecilan disana.”
Aris seketika langsung berhenti, kemudian membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Satya. “Maaf, kak! Aku gak bisa ikut sama kakak ke kota, ada sesuatu yang harus aku kerjakan disini.”
“Sesuatu yang harus dikerjakan? Apa maksudmu, Ris?”
Aris menunduk. “Maaf, kak! Aku gak bisa ngejelasin secara rinci sama kakak, ini rahasia yang diamanahi sama kakek Anwar.”
Satya tersenyum, ia bangga ketika mendengar adiknya yang tetap menjaga amanah yang diberikan oleh orang lain. “Gak papa, kakak ngerti.”
Aris pun tersenyum, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke makam sang ibunda.
Sesampainya di tempat pemakaman di kampung, Aris langsung masuk ke dalam dan mendekat ke makam ibunya. Ketika kedua kakak beradik itu tiba di makam sang ibu, kedua mata mereka langsung berkaca-kaca. Apalagi Satya yang sudah lama tidak melihat wajah ibunya, dan ketika ia datang ke kampung halaman untuk menemuinya, sang ibu sudah pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali.
Kini, Satya duduk di dekat makam sang ibu sambil membaca doa sebagai hadiah untuk sang ibu. Ketika lisannya mulai memanjatkan bait doa untuk sang ibu, kini kedua matanya tak lagi berkaca-kaca seperti tadi, melainkan tetesan air mata mulai keluar membasahi pipinya.