

Rexus tahu bau kematian. Ia mengenalnya dari asap knalpot motornya yang tersumbat, dari udara panas yang menyesakkan paru-paru, dan dari tanah yang retak di bawah ban-ban kokoh Juggernaut, motornya. Namun, kali ini, bau itu lebih tajam, lebih ironis, dan berbau karat. Itu adalah bau dirinya sendiri yang hampir mati.
Motornya meraung, bukan karena keperkasaan, melainkan karena paksaan. Setiap putaran roda adalah perjuangan melawan gravitasi dan kemiringan bibir jurang yang curam. Di belakangnya, tujuh motor lain, siluet hitam di bawah matahari yang membakar, menyusul dengan kecepatan iblis. Mereka adalah Vulture, sekelompok pemulung berandal yang mengklaim setiap tetes air dan setiap sisa besi di sektor ini. Dan hari ini, mereka mengklaim Rexus.
“Sialan!” Rexus memaki, helmnya yang retak bergetar. Kaca visornya buram oleh debu, tapi ia masih bisa melihat spion yang menunjukkan pemimpin Vulture, seorang pria bertubuh bongsor dengan tanduk kerbau yang diikat di helmnya, mendekat. Namanya Thorn. Thorn terkenal karena tidak pernah meninggalkan mangsa.
Angin gurun menderu, menerbangkan pasir seperti serpihan neraka. Rexus tahu ia terjebak. Kiri adalah dinding batu terjal yang tidak bisa didaki. Kanan adalah jurang tak berdasar, gelap seperti masa depan dunia ini. Ia hanya punya satu jalan: lurus. Tapi di ujung jalan itu, bibir jurang menanti, dengan lompatan yang mustahil untuk motor seberat Juggernaut.
"Tidak ada pilihan lain, Kawan," bisik Rexus pada motornya, seolah Juggernaut adalah makhluk hidup. Motor itu membalas dengan raungan mesin yang keras, seolah mengerti.
Ia mengecek tangki bahan bakar. Tinggal seperempat. Cukup untuk satu manuver gila. Rexus memutar gas, mendorong Juggernaut hingga batasnya. Mesin V-Twin kustomnya meraung, mengeluarkan asap hitam pekat dan percikan api dari knalpot yang dimodifikasi. Kecepatannya merangkak naik: 80 kph, 90, 100.
Di belakang, Thorn dan anak buahnya mengira Rexus sudah gila. “Dia mau bunuh diri!” teriak salah satu Vulture.
“Biar saja!” balas Thorn, senapan sawed-off di tangannya siap menyalak. “Kalau bukan kita yang bunuh dia, jurang itu yang akan melakukannya!”
Rexus merasakan jantungnya berdebar kencang, memukul rusuknya seperti palu godam. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi kematian. Di gurun ini, setiap matahari terbit adalah anugerah, setiap matahari terbenam adalah tanda peringatan. Tapi lompatan ini... ini berbeda. Ini adalah taruhan terakhir.
Ia mendekati tepi jurang. Bibir tebing itu tampak seperti gigi-gigi monster yang siap mengunyahnya. Mata Rexus menyipit di balik visor. Ia melihatnya. Sebuah retakan kecil di tebing seberang, mungkin bisa menjadi pijakan. Mustahil. Tapi Rexus hidup dari kemustahilan.
Juggernaut melaju kencang. Dalam hitungan detik, ia akan melayang di udara.
"Sekarang!" teriak Rexus, dan memutar gas hingga mentok.
Motor itu melonjak.
Udara dingin seketika menusuk, menggantikan hawa panas gurun yang menyengat. Rexus dan Juggernaut terbang. Di bawahnya, jurang menganga lebar, menunjukkan dasar yang penuh tulang-belulang kendaraan dan hewan-hewan malang. Jarak pandangannya terbatas, namun ia bisa melihat Thorn dan Vulture lainnya berhenti mendadak di tepi jurang, menatapnya dengan mulut terbuka.
Ini bukan kemenangan, setidaknya belum. Rexus harus mendarat. Ia mengarahkan ban depan Juggernaut ke arah retakan yang ia lihat tadi. Itu adalah pendaratan yang brutal.
BRAAAAKK!
Ban depan menghantam batu, motor oleng keras. Rexus nyaris terlempar dari joknya. Tapi ia mencengkeram stang, kakinya menendang pijakan, berusaha menstabilkan motor. Lengan kirinya terbentur keras ke tangki bensin, rasa sakit menjalar hingga bahu. Tapi motor itu masih berdiri. Motor itu masih bergerak.
Juggernaut berhasil mendarat, meski tidak sempurna. Namun, motor itu tidak mendapatkan cukup momentum untuk terus maju. Ban belakangnya mencengkeram tanah yang licin, berjuang untuk menanjak dari bibir jurang yang sempit itu.
"Sial!" gerutu Rexus. Ia terjebak di tebing curam.
Dari seberang, Thorn dan Vulture-nya mulai menembaki. Peluru-peluru berdesing di udara, memantul di batu dekat Rexus. Ia menunduk, mencari perlindungan di balik motornya yang besar.
"Pecundang! Kau pikir kau bisa lolos?!" teriak Thorn. "Kami akan datang menjemputmu, Rexus! Dan saat itu, kau akan menyesal dilahirkan!"
Rexus tahu mereka akan mencari jalan memutar. Itu berarti ia tidak punya banyak waktu. Ia harus menemukan cara untuk menanjak. Ia melihat sekeliling. Dinding tebing di belakangnya terlalu curam untuk didaki motor. Satu-satunya jalan adalah ke atas.
Ia mencoba lagi. Memutar gas, ban belakang Juggernaut berputar liar, menyemburkan kerikil dan debu. Motor itu merangkak naik beberapa inci, lalu tergelincir lagi.
Lengan kirinya mulai mati rasa. Ia harus cepat. Ia mengeluarkan sebilah pisau tajam dari sarung di betisnya. Pisau itu terbuat dari bilah pegas kendaraan tua, diasah hingga berkilat. Dengan pisau itu, ia mulai menancapkannya ke celah-celah batu, mencoba membuat pijakan. Namun, motor itu terlalu berat.
Tiba-tiba, ia melihatnya. Sebuah retakan besar di dinding batu, lebih tinggi dari jangkauannya. Di dalam retakan itu, ada semacam balok besi yang menonjol. Jika ia bisa mencapai itu, ia bisa mengikatkan tali dan menarik Juggernaut ke atas.
Risiko terlalu besar. Ia harus meninggalkan motornya.
"Tidak mungkin," Rexus menggelengkan kepala. Juggernaut bukan hanya sekadar motor. Itu adalah rumahnya, bentengnya, satu-satunya temannya di gurun ini. Ia tidak akan meninggalkannya.
Ia mendengar suara motor Vulture di kejauhan. Mereka sudah menemukan jalan memutar. Waktunya habis.
Rexus mengambil keputusan. Ia turun dari Juggernaut, lalu menopangnya agar tidak jatuh ke jurang. Ia mengambil seutas tali pengaman dari tas punggungnya—tali tebal yang biasa ia gunakan untuk mengamankan barang jarahan.
Dengan hati-hati, ia melompat ke celah-celah batu yang ia buat dengan pisaunya. Rasa sakit di lengan kirinya menusuk, tapi ia mengabaikannya. Ia menarik dirinya ke atas, otot-ototnya tegang. Satu lompatan lagi, satu cengkeraman pada balok besi itu.
GRIP!
Jari-jarinya mencengkeram balok besi tua itu. Dingin dan kasar. Rexus menarik dirinya ke atas, lalu mengaitkan tali di balok besi. Ia mengikat ujung tali yang lain ke rangka Juggernaut.
"Ini akan sulit, Kawan," gumamnya.
Ia menarik tali. Motor itu bergerak. Perlahan tapi pasti, Juggernaut mulai terangkat, sedikit demi sedikit, mendaki sisi tebing. Otot-otot Rexus menjerit. Keringat membasahi dahinya, mengalir ke matanya yang perih. Ia menariknya dengan kekuatan terakhir yang ia miliki, kakinya menendang batu untuk mendapatkan daya ungkit.
Suara motor Vulture semakin dekat. Mereka sudah melewati jalan memutar dan mulai menanjak di sisi tebing ini. Rexus melihat mereka di kejauhan, titik-titik hitam yang membesar dengan cepat.
"Hampir... hampir..."
Akhirnya, dengan jeritan terakhir dari otot-ototnya, Juggernaut berhasil naik. Ban depannya mencengkeram tanah datar di atas tebing. Rexus segera melompat ke jok, melepaskan tali, dan menyalakan mesin.
VROOOOOM!
Juggernaut meraung, hidup kembali. Rexus memutar gas, tanpa melihat ke belakang. Ia melaju kencang, meninggalkan bibir jurang dan para Vulture yang akan segera tiba.
Rexus melaju tanpa tujuan pasti. Ia hanya tahu ia harus menjauh. Beban tas punggungnya terasa berat, tapi bukan karena air atau makanan. Isinya adalah barang jarahan hari itu: beberapa sirkuit listrik tua yang masih berfungsi, sebungkus kaleng makanan busuk, dan yang paling penting, sebuah data-pad rusak yang ia temukan di reruntuhan sebuah kota kuno.
Kota-kota lama. Itu adalah makam peradaban yang disebut "Pra-Kiamat". Mereka yang selamat menyebutnya "Dunia Hijau" atau "Dunia Lama". Rexus tidak peduli dengan nama. Ia hanya tahu bahwa reruntuhan kota adalah tempat terbaik untuk mencari barang-barang berharga yang bisa ditukar di Outpost.
Outpost adalah satu-satunya tempat "beradab" di gurun ini. Sebuah benteng yang terbuat dari baja dan besi bekas, dikelilingi oleh tembok tinggi dan menara pengawas. Di sana, hukum yang berlaku adalah hukum besi: barter. Senjata, air, makanan, atau informasi. Semuanya punya harga. Dan di sana, ia bisa menjual sirkuit dan data-pad ini.
Tangannya masih gemetar, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga karena adrenalin yang mengalir deras. Ia memeriksa lengan kirinya. Memar besar mulai terlihat. Akan sakit selama beberapa hari.
Langit mulai berubah warna. Oranye, merah darah, lalu ungu pekat. Matahari yang ganas mulai tenggelam, mewariskan gurun kepada bayangan malam. Dan malam di gurun ini lebih berbahaya daripada siang. Predator gurun, geng-geng penjarah yang lebih licik dari Vulture, dan hantu-hantu yang katanya berkeliaran di antara reruntuhan.
Rexus harus mencari tempat berlindung.
Ia mengarahkan Juggernaut ke arah kumpulan batu-batu besar yang menjulang seperti menara. Itu adalah area yang ia kenal. Ada beberapa gua kecil di sana, cukup untuk menyembunyikan motornya dan dirinya dari bahaya.
Saat ia mendekat, ia melihat sesuatu. Sebuah cahaya redup di kejauhan, di balik batu-batu itu. Cahaya api. Dan siluet beberapa orang.
"Sial," Rexus mengumpat. Ini bukan gua yang kosong. Ada orang lain.
Ia melambatkan motornya, mesinnya berbisik pelan. Ia tidak ingin menarik perhatian. Juggernaut adalah mesin yang kuat, tapi kebisingannya bisa menarik masalah.
Dengan hati-hati, ia memarkir motornya di balik sebuah batu besar, menutupi jejaknya dengan dahan-dahan kering dan batu-batu kecil. Lalu, ia naik ke puncak batu, mengeluarkan teropong monokuler dari tasnya.
Melalui lensa buram teropongnya, ia melihat mereka. Tiga orang, duduk mengelilingi api unggun kecil. Mereka mengenakan jubah lusuh, wajah mereka tertutup tudung. Rexus tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas, tapi ia tahu siapa mereka.
*****
Para Pencari adalah sekte atau kelompok misterius yang berkeliaran di gurun. Mereka tidak mencari barang jarahan atau air. Mereka mencari sesuatu yang lain. Sesuatu yang tua. Sesuatu yang hilang. Mereka selalu membawa peta-peta kuno, terkadang peninggalan Pra-Kiamat. Dan mereka selalu berbisik tentang "Oasis Terakhir" atau "Kota Suci".
Rexus tidak pernah percaya pada cerita-cerita itu. Oasis? Kota Suci? Hanya dongeng untuk menakuti anak-anak atau menghibur orang-orang sekarat. Gurun ini hanya menawarkan kematian dan debu.
Namun, ia tertarik. Kenapa mereka di sini? Area ini adalah zona berbahaya, tidak ada apa-apa kecuali batu dan sisa-sisa reruntuhan.
Ia melihat salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah gulungan perkamen tua. Orang itu membentangkannya di atas pasir, lalu menunjuk-nunjuk dengan jarinya.
Rexus menggerakkan teropongnya, mencoba melihat lebih dekat. Itu adalah sebuah peta. Peta yang sangat tua, digambar dengan tangan, dengan simbol-simbol aneh yang Rexus tidak kenal.
Tapi ada satu bagian peta yang membuatnya terkejut. Sebuah tanda silang besar, dengan tulisan kecil di bawahnya: "O.T."
Jantung Rexus kembali berdebar, kali ini bukan karena takut atau adrenalin, tapi karena keheranan. Mungkinkah dongeng itu nyata?
Ia memfokuskan teropongnya pada data-pad yang ia temukan. Data-pad itu pecah di satu sisi, layarnya berkedip-kedip. Ia telah mencoba menyalakannya berkali-kali, tapi selalu gagal. Isinya pasti rusak.
Namun, ia ingat sesuatu. Ketika ia menemukannya di reruntuhan kota kuno, data-pad itu tergeletak di samping sebuah lempengan batu dengan ukiran yang sama persis dengan salah satu simbol di peta Para Pencari. Sebuah simbol yang tampak seperti matahari dengan tiga garis berombak di bawahnya.
Mungkinkah data-pad ini adalah petunjuk? Atau bagian dari peta yang lebih besar?
Rexus menyadari ia punya pilihan. Ia bisa diam saja, menunggu Para Pencari pergi, lalu melanjutkan perjalanannya ke Outpost untuk menukar barang jarahannya. Atau, ia bisa mengambil risiko. Mendekati mereka. Mengintip lebih dekat.
Rasa haus akan pengetahuan mulai tumbuh, sama kuatnya dengan rasa haus di tenggorokannya. Ia selalu menjadi seorang Rider yang pragmatis, hanya peduli pada survival. Tapi ini... ini terasa berbeda.
Ia melihat kembali ke api unggun. Salah satu Pencari berdiri, menunjuk ke arah timur. Mereka sepertinya akan bergerak saat fajar.
Rexus harus memutuskan. Ia ingin tahu. Ia selalu ingin tahu. Apa yang membuat orang-orang ini begitu terobsesi dengan Oasis itu? Apa yang ada di sana? Apakah itu benar-benar bisa mengubah hidupnya?
Keputusannya bulat. Ia akan mengikuti mereka. Tapi tidak sekarang. Ia akan menunggu hingga mereka tertidur.
Ia menyandarkan punggungnya ke batu, memejamkan mata. Otot-ototnya protes. Lengan kirinya berdenyut. Tapi pikirannya sudah sibuk menyusun rencana.
Mungkin, hanya mungkin, ada lebih banyak hal di gurun ini daripada hanya debu dan kematian. Mungkin, ada harapan.
Dan Rexus, The Wasteland Rider, akan menjadi orang yang menemukannya. Atau mati dalam prosesnya.