Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
THE SCARY GAMES

THE SCARY GAMES

Song Atthapan | Tamat
Jumlah kata
25.5K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / THE SCARY GAMES
THE SCARY GAMES

THE SCARY GAMES

Song Atthapan| Tamat
Jumlah Kata
25.5K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
HorrorHorrorSpiritualMisteriDunia Gaib
Sebuah permainan papan tua ditemukan di rumah kosong yang telah lama ditinggalkan. Awalnya tampak seperti permainan biasa dadu, kartu, dan papan kayu yang usang. Namun saat tiga remaja menyalakan senter dan melempar dadu pertama, mereka tidak sadar bahwa permainan itu bukan diciptakan untuk dimainkan…melainkan untuk memburu. Setiap giliran membuka pintu menuju ruangan gelap yang dipenuhi teror boneka bermata merah yang tersenyum tanpa jiwa, badut iblis yang berbisik dari balik bayangan, tayangan televisi berisik yang menampilkan potongan kematian masa lalu, dan sosok tergantung yang menunggu pemain berikutnya gagal. Aturan permainan berubah setiap saat, dan hukuman bagi yang kalah bukan sekadar kekalahan melainkan kehilangan akal, tubuh, bahkan nyawa. Semakin lama permainan berlangsung, mereka menyadari bahwa makhluk-makhluk mengerikan itu bukan sekadar monster, tetapi jelmaan ketakutan, dosa, dan rahasia kelam para pemain sendiri. Permainan ini memilih korbannya dengan kejam, memaksa mereka menghadapi masa lalu yang ingin dilupakan. Tidak ada tombol berhenti. Tidak ada jalan keluar. Satu-satunya cara selamat adalah menyelesaikan permainan atau menjadi bagian dari teror yang menunggu pemain berikutnya. THE SCARY GAMES adalah kisah horor psikologis tentang keberanian, ketakutan, dan harga mahal dari sebuah rasa ingin tahu.
PROLOG

Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa sebuah permainan bisa membunuh.

Sampai malam itu datang.

Hujan turun tanpa irama, memukul atap rumah tua di ujung gang seperti jari-jari kurus yang mengetuk peti mati. Lampu jalan berkedip, satu-satunya saksi bisu dari bangunan reyot yang telah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya retak, dan pintu kayunya menggantung miring seakan enggan terbuka atau justru menolak siapa pun yang ingin keluar.

Zidan berdiri di depan rumah itu dengan napas tertahan.

Entah mengapa, sejak pertama kali melihat bangunan tersebut, dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang salah. Bukan karena rumah itu angker ia sudah sering memasuki tempat-tempat serupa melainkan karena rumah ini terasa… sadar. Seakan memperhatikan mereka.

“Lo yakin ini tempatnya?” Rendy memecah keheningan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Tangannya menggenggam senter, meski cahaya kecil itu gemetar.

“Rumah ini kosong sejak lima belas tahun lalu,” jawab Shifa pelan. “Orang-orang bilang, siapa pun yang masuk malam-malam, nggak pernah keluar dengan utuh.”

Zidan menoleh. “Cerita lama.”

Namun kalimat itu terasa hambar bahkan di telinganya sendiri.

Pintu rumah berderit saat didorong. Bau apek dan debu langsung menyergap, bercampur aroma besi berkarat yang menusuk hidung. Cahaya senter menari di dinding, memperlihatkan bekas goresan panjang seperti cakar yang menghiasi hampir setiap sudut.

Langkah mereka menggema di lantai kayu yang rapuh. Di ruang tengah, ada sebuah meja rendah. Di atasnya tergeletak sebuah papan permainan.

Bukan papan biasa.

Warnanya kusam, kayunya retak, dan di permukaannya terukir simbol-simbol aneh yang tidak pernah Zidan lihat sebelumnya. Angka-angka tercetak tak beraturan, seolah sengaja dibuat membingungkan. Di sudut papan itu, ada tulisan kecil yang hampir terhapus:

THE SCARY GAMES

“Ini…mainan?” Rendy mendekat, ragu.

Zidan mengulurkan tangan, menyentuh papan itu. Saat jari-jarinya menyentuh permukaannya, hawa dingin menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Bukan dingin biasa melainkan dingin yang terasa hidup, berdenyut.

Shifa menelan ludah. “Zidan… mungkin kita harus pergi.”

Namun sebelum ia bisa menjawab, terdengar suara klik pelan.

Pintu rumah tertutup sendiri.

Senter Rendy berkedip, lalu mati seketika. Hanya satu cahaya yang tersisa lampu televisi tua di sudut ruangan yang tiba-tiba menyala dengan bunyi desis statis. Layar menampilkan bayangan hitam, tinggi dan kurus, berdiri tepat di balik mereka.

“Zidan...” bisik Shifa, suaranya bergetar.

Zidan berbalik.

Bayangan itu tidak bergerak. Namun perlahan, wajahnya muncul di layar wajah tanpa mata, hanya lubang hitam yang menatap langsung ke arah mereka.

Lalu suara terdengar.

Dalam. Serak. Tidak berasal dari televisi, melainkan dari segala arah.

“Permainan telah dimulai.”

Papan di meja bergetar. Dadu yang semula terdiam kini berguling sendiri, berhenti tepat di tengah. Angka enam.

Seketika, lantai di bawah kaki mereka berubah. Kayu rapuh itu seakan mencair, digantikan lorong panjang yang gelap. Dindingnya basah, berlumut, dan dipenuhi wajah-wajah yang terperangkap di dalamnya mulut mereka terbuka lebar dalam jeritan bisu.

“Ini…mimpi, kan?” Rendy mundur, punggungnya menabrak sesuatu.

Ia menoleh. Sebuah boneka berdiri di sana.

Boneka anak kecil, dengan pakaian compang-camping dan mata merah menyala. Bibirnya tersenyum terlalu lebar, memperlihatkan gigi yang tidak seharusnya dimiliki oleh mainan.

“Giliran pertama,” suara itu kembali terdengar. “Aturannya sederhana.”

Televisi menyala lagi. Kini menampilkan

tulisan:

MENANG = HIDUP

KALAH = MENJADI BAGIAN DARI PERMAINAN

Zidan mengepalkan tangan. Jantungnya berdegup keras, namun pikirannya justru menjadi jernih. Ini bukan mimpi. Terlalu nyata. Terlalu…terstruktur.

Permainan ini punya aturan.

Dan sesuatu atau seseorang menginginkan mereka untuk memainkannya.

“Dengar gue,” kata Zidan tegas, menatap Shifa dan Rendy. “Apa pun yang terjadi, jangan terpisah. Jangan percaya apa pun yang kalian lihat. Dan jangan”

Boneka itu bergerak.

Kepalanya terpuntir perlahan, tulangnya berbunyi krek saat tubuh kecilnya melompat mundur ke kegelapan lorong.

Lampu padam.

Jeritan menggema.

Dan di atas papan permainan, sebuah pion kecil bertuliskan nama ZIDAN maju satu langkah dengan sendirinya.

Di sudut papan, muncul tiga ukiran baru.

Zidan — Pemain Utama

Shifa — Pendamping

Rendy — Pendamping

Permainan telah memilih mereka.

Dan rumah itu, akhirnya, tersenyum.

Udara menjadi semakin dingin. Napas Zidan terlihat seperti asap tipis, melayang lalu menghilang ditelan kegelapan. Lorong yang tadi muncul kini memanjang, seakan tidak memiliki ujung. Setiap langkah yang mereka ambil menimbulkan gema aneh bukan gema kaki mereka sendiri, melainkan suara langkah lain yang mengikuti, tertunda setengah detik.

“Zidan…” suara Shifa nyaris tak terdengar. “Aku merasa… kita diawasi.”

Zidan tidak menjawab. Matanya terpaku pada dinding lorong. Wajah-wajah yang terperangkap di sana kini bergerak. Mata mereka terbuka perlahan, menatap lurus ke arah Zidan, seolah mengenalnya. Salah satu wajah itu berbisik, suaranya parau dan penuh kebencian.

“Kau yang terpilih…”

Zidan menutup telinganya, namun suara itu tetap masuk ke kepalanya, bergaung seperti gema di dalam tulang. Ingatan lama tiba-tiba menyeruak malam ketika ia memilih diam, saat seharusnya ia berbicara. Saat satu keputusan pengecut mengubah segalanya.

Ia tersentak.

“Ini bukan cuma permainan,” gumamnya. “Ini…menyerang pikiran.”

Rendy terengah. “Gue nggak peduli ini apa! Kita harus keluar sekarang!”

Ia berlari ke arah lorong belakang. Namun lantai di bawah kakinya ambruk. Dalam sekejap, tubuh Rendy terjatuh, tapi tangannya berhasil diraih Zidan. Urat di lengan Zidan menegang saat ia menahan berat tubuh temannya.

Dari bawah, kegelapan bergerak. Tangan-tangan hitam bermunculan, meraih kaki Rendy, mencengkeram dengan kuat.

“ZIDAN! LEPASIN!” teriak Rendy panik.

“DIAM!” Zidan menggeram, menarik sekuat tenaga.

Shifa ikut membantu, air mata mengalir di pipinya. Dengan jeritan panjang, Rendy akhirnya berhasil ditarik kembali. Namun saat mereka terjatuh ke lantai, Zidan melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Di pergelangan kaki Rendy, muncul simbol yang sama dengan ukiran di papan permainan.

“Kenapa...kenapa ada ini di gue?” Rendy gemetar.

Televisi menyala lagi.

KESALAHAN PERTAMA TERCATAT.

SATU PEMAIN TELAH DITANDAI.

Boneka bermata merah muncul di ujung lorong, kini lebih dekat. Senyumnya semakin lebar. Dari balik bayangannya, muncul sosok lain badut dengan wajah retak, darah menetes dari sudut matanya, dan lehernya terpuntir tidak wajar.

“Permainan menyukai ketakutan,” suara itu berbisik lagi. “Dan ketakutan kalian…sangat lezat.”

Zidan berdiri. Lututnya gemetar, tapi tatapannya mengeras. Ia menatap lurus ke arah boneka itu.

“Kalau ini permainan,” katanya dengan suara bergetar namun tegas, “maka setiap permainan bisa dikalahkan.”

Untuk sesaat, rumah itu terdiam.

Kemudian, papan permainan kembali bergetar. Sebuah kartu muncul di atasnya, terbakar di ujung-ujungnya.

TANTANGAN PERTAMA

HANYA SATU YANG BOLEH MELIHAT KEBENARAN

Zidan menelan ludah.

Ia tahu, sejak pion bertuliskan namanya bergerak pertama kali, permainan ini tidak akan membiarkan dirinya sekadar menjadi pemain.

Ia adalah kunci.

Atau korban terakhir.

Dan di luar rumah itu, hujan terus turun seolah berusaha menghapus jeritan yang sebentar lagi akan lahir dari dalam.

Lanjut membaca
Lanjut membaca