

Tidak ada yang benar-benar percaya bahwa sebuah permainan bisa membunuh.
Sampai malam itu datang.
Hujan turun tanpa irama, memukul atap rumah tua di ujung gang seperti jari-jari kurus yang mengetuk peti mati. Lampu jalan berkedip, satu-satunya saksi bisu dari bangunan reyot yang telah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya retak, dan pintu kayunya menggantung miring seakan enggan terbuka atau justru menolak siapa pun yang ingin keluar.
Zidan berdiri di depan rumah itu dengan napas tertahan.
Entah mengapa, sejak pertama kali melihat bangunan tersebut, dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang salah. Bukan karena rumah itu angker ia sudah sering memasuki tempat-tempat serupa melainkan karena rumah ini terasa… sadar. Seakan memperhatikan mereka.
“Lo yakin ini tempatnya?” Rendy memecah keheningan, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Tangannya menggenggam senter, meski cahaya kecil itu gemetar.
“Rumah ini kosong sejak lima belas tahun lalu,” jawab Shifa pelan. “Orang-orang bilang, siapa pun yang masuk malam-malam, nggak pernah keluar dengan utuh.”
Zidan menoleh. “Cerita lama.”
Namun kalimat itu terasa hambar bahkan di telinganya sendiri.
Pintu rumah berderit saat didorong. Bau apek dan debu langsung menyergap, bercampur aroma besi berkarat yang menusuk hidung. Cahaya senter menari di dinding, memperlihatkan bekas goresan panjang seperti cakar yang menghiasi hampir setiap sudut.
Langkah mereka menggema di lantai kayu yang rapuh. Di ruang tengah, ada sebuah meja rendah. Di atasnya tergeletak sebuah papan permainan.
Bukan papan biasa.
Warnanya kusam, kayunya retak, dan di permukaannya terukir simbol-simbol aneh yang tidak pernah Zidan lihat sebelumnya. Angka-angka tercetak tak beraturan, seolah sengaja dibuat membingungkan. Di sudut papan itu, ada tulisan kecil yang hampir terhapus:
THE SCARY GAMES
“Ini…mainan?” Rendy mendekat, ragu.
Zidan mengulurkan tangan, menyentuh papan itu. Saat jari-jarinya menyentuh permukaannya, hawa dingin menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Bukan dingin biasa melainkan dingin yang terasa hidup, berdenyut.
Shifa menelan ludah. “Zidan… mungkin kita harus pergi.”
Namun sebelum ia bisa menjawab, terdengar suara klik pelan.
Pintu rumah tertutup sendiri.
Senter Rendy berkedip, lalu mati seketika. Hanya satu cahaya yang tersisa lampu televisi tua di sudut ruangan yang tiba-tiba menyala dengan bunyi desis statis. Layar menampilkan bayangan hitam, tinggi dan kurus, berdiri tepat di balik mereka.
“Zidan...” bisik Shifa, suaranya bergetar.
Zidan berbalik.
Bayangan itu tidak bergerak. Namun perlahan, wajahnya muncul di layar wajah tanpa mata, hanya lubang hitam yang menatap langsung ke arah mereka.
Lalu suara terdengar.
Dalam. Serak. Tidak berasal dari televisi, melainkan dari segala arah.
“Permainan telah dimulai.”
Papan di meja bergetar. Dadu yang semula terdiam kini berguling sendiri, berhenti tepat di tengah. Angka enam.
Seketika, lantai di bawah kaki mereka berubah. Kayu rapuh itu seakan mencair, digantikan lorong panjang yang gelap. Dindingnya basah, berlumut, dan dipenuhi wajah-wajah yang terperangkap di dalamnya mulut mereka terbuka lebar dalam jeritan bisu.
“Ini…mimpi, kan?” Rendy mundur, punggungnya menabrak sesuatu.
Ia menoleh. Sebuah boneka berdiri di sana.
Boneka anak kecil, dengan pakaian compang-camping dan mata merah menyala. Bibirnya tersenyum terlalu lebar, memperlihatkan gigi yang tidak seharusnya dimiliki oleh mainan.
“Giliran pertama,” suara itu kembali terdengar. “Aturannya sederhana.”
Televisi menyala lagi. Kini menampilkan
tulisan:
MENANG = HIDUP
KALAH = MENJADI BAGIAN DARI PERMAINAN
Zidan mengepalkan tangan. Jantungnya berdegup keras, namun pikirannya justru menjadi jernih. Ini bukan mimpi. Terlalu nyata. Terlalu…terstruktur.
Permainan ini punya aturan.
Dan sesuatu atau seseorang menginginkan mereka untuk memainkannya.
“Dengar gue,” kata Zidan tegas, menatap Shifa dan Rendy. “Apa pun yang terjadi, jangan terpisah. Jangan percaya apa pun yang kalian lihat. Dan jangan”
Boneka itu bergerak.
Kepalanya terpuntir perlahan, tulangnya berbunyi krek saat tubuh kecilnya melompat mundur ke kegelapan lorong.
Lampu padam.
Jeritan menggema.
Dan di atas papan permainan, sebuah pion kecil bertuliskan nama ZIDAN maju satu langkah dengan sendirinya.
Di sudut papan, muncul tiga ukiran baru.
Zidan — Pemain Utama
Shifa — Pendamping
Rendy — Pendamping
Permainan telah memilih mereka.
Dan rumah itu, akhirnya, tersenyum.
Udara menjadi semakin dingin. Napas Zidan terlihat seperti asap tipis, melayang lalu menghilang ditelan kegelapan. Lorong yang tadi muncul kini memanjang, seakan tidak memiliki ujung. Setiap langkah yang mereka ambil menimbulkan gema aneh bukan gema kaki mereka sendiri, melainkan suara langkah lain yang mengikuti, tertunda setengah detik.
“Zidan…” suara Shifa nyaris tak terdengar. “Aku merasa… kita diawasi.”
Zidan tidak menjawab. Matanya terpaku pada dinding lorong. Wajah-wajah yang terperangkap di sana kini bergerak. Mata mereka terbuka perlahan, menatap lurus ke arah Zidan, seolah mengenalnya. Salah satu wajah itu berbisik, suaranya parau dan penuh kebencian.
“Kau yang terpilih…”
Zidan menutup telinganya, namun suara itu tetap masuk ke kepalanya, bergaung seperti gema di dalam tulang. Ingatan lama tiba-tiba menyeruak malam ketika ia memilih diam, saat seharusnya ia berbicara. Saat satu keputusan pengecut mengubah segalanya.
Ia tersentak.
“Ini bukan cuma permainan,” gumamnya. “Ini…menyerang pikiran.”
Rendy terengah. “Gue nggak peduli ini apa! Kita harus keluar sekarang!”
Ia berlari ke arah lorong belakang. Namun lantai di bawah kakinya ambruk. Dalam sekejap, tubuh Rendy terjatuh, tapi tangannya berhasil diraih Zidan. Urat di lengan Zidan menegang saat ia menahan berat tubuh temannya.
Dari bawah, kegelapan bergerak. Tangan-tangan hitam bermunculan, meraih kaki Rendy, mencengkeram dengan kuat.
“ZIDAN! LEPASIN!” teriak Rendy panik.
“DIAM!” Zidan menggeram, menarik sekuat tenaga.
Shifa ikut membantu, air mata mengalir di pipinya. Dengan jeritan panjang, Rendy akhirnya berhasil ditarik kembali. Namun saat mereka terjatuh ke lantai, Zidan melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di pergelangan kaki Rendy, muncul simbol yang sama dengan ukiran di papan permainan.
“Kenapa...kenapa ada ini di gue?” Rendy gemetar.
Televisi menyala lagi.
KESALAHAN PERTAMA TERCATAT.
SATU PEMAIN TELAH DITANDAI.
Boneka bermata merah muncul di ujung lorong, kini lebih dekat. Senyumnya semakin lebar. Dari balik bayangannya, muncul sosok lain badut dengan wajah retak, darah menetes dari sudut matanya, dan lehernya terpuntir tidak wajar.
“Permainan menyukai ketakutan,” suara itu berbisik lagi. “Dan ketakutan kalian…sangat lezat.”
Zidan berdiri. Lututnya gemetar, tapi tatapannya mengeras. Ia menatap lurus ke arah boneka itu.
“Kalau ini permainan,” katanya dengan suara bergetar namun tegas, “maka setiap permainan bisa dikalahkan.”
Untuk sesaat, rumah itu terdiam.
Kemudian, papan permainan kembali bergetar. Sebuah kartu muncul di atasnya, terbakar di ujung-ujungnya.
TANTANGAN PERTAMA
HANYA SATU YANG BOLEH MELIHAT KEBENARAN
Zidan menelan ludah.
Ia tahu, sejak pion bertuliskan namanya bergerak pertama kali, permainan ini tidak akan membiarkan dirinya sekadar menjadi pemain.
Ia adalah kunci.
Atau korban terakhir.
Dan di luar rumah itu, hujan terus turun seolah berusaha menghapus jeritan yang sebentar lagi akan lahir dari dalam.