

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar seluas lima puluh meter persegi itu. Dimas Mahendra Atmaja menggeliat, meregangkan tubuhnya yang atletis. Dengan tinggi badan 185 cm dan bahu yang lebar, tempat tidur ukuran king size itu pun terasa pas untuknya.
Dimas menghela napas lega. Hari ini adalah hari pertama libur panjangnya setelah melewati pekan ujian yang melelahkan di Universitas Pelita Bangsa. Sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Bisnis semester empat, ia memang dipersiapkan untuk meneruskan takhta bisnis keluarganya, meski pikirannya saat ini sedang tidak tertuju pada buku-buku tebal atau laporan keuangan.
Setelah membasuh wajah, Dimas turun ke lantai bawah hanya dengan mengenakan kaus oblong hitam yang melekat ketat di tubuh tegapnya. Di ruang makan, aroma kopi mahal dan sarapan lezat sudah tercium.
"Nah, ini dia jagoan Papa sudah bangun," sapa seorang pria paruh baya dengan nada riang.
Pria itu adalah Bimo Argantara Atmaja. Di luar sana, dia dikenal sebagai CEO bertangan dingin yang memimpin perusahaan properti besar di Surabaya. Namun di rumah, ia adalah sosok ayah yang hangat dan sangat menyayangi putra tunggalnya.
"Gimana ujiannya, Dim? Aman? Atau ada dosen yang perlu Papa 'ajak ngopi' biar nilaimu A semua?" canda Bimo sambil terkekeh, meletakkan koran digitalnya.
Dimas tertawa kecil sambil menarik kursi di depan ayahnya. "Aman, Pa. Papa tenang saja, otak Dimas ini turunan Papa, nggak mungkin jeblok."
"Sombongnya kumat. Tapi bagus, laki-laki harus percaya diri," Bimo menepuk bahu Dimas dengan bangga. "Mumpung libur, nikmati waktumu. Mau jalan-jalan atau butuh tambahan saldo buat 'jajan', bilang Papa."
Tak lama kemudian, langkah kaki yang anggun terdengar mendekat. Sosok wanita cantik muncul dari arah dapur dengan membawa sepiring buah potong. Dia adalah Nadira Lestari, ibu Dimas yang berusia 38 tahun.
Mengenakan gaun rumah berbahan satin yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna, Nadira sama sekali tidak terlihat seperti ibu dari anak berusia 20 tahun. Parasnya yang awet muda dan kulitnya yang terawat membuat siapapun akan menyangka dia adalah kakak Dimas.
"Pagi, Sayang. Sudah bangun?" tanya Nadira lembut, jemarinya yang lentik mengusap rambut Dimas dengan penuh kasih sayang.
Dimas mendongak, menatap wajah ibunya. Wangi parfum floral yang elegan dari tubuh Nadira langsung memenuhi indra penciumannya.Ada sesuatu dalam diri Dimas yang selalu bergejolak setiap kali ia berdekatan dengan wanita dewasa seperti ibunya—wanita yang memancarkan aura kematangan, ketenangan, dan kecantikan yang tidak dimiliki gadis-gadis di kampusnya.
"Pagi, Ma," jawab Dimas singkat, namun matanya sempat tertuju pada bagaimana gaun itu jatuh di tubuh ibunya sebelum ia kembali fokus pada piring sarapannya.
"Mama hari ini mau ke butik agak siang. Ada koleksi baru dari Paris yang sampai. Kamu kalau bosan di rumah, mampir ya ke butik?" ajak Nadira sambil tersenyum manis.
Dimas mengangguk pelan. Pikirannya mulai berkelana. Libur kali ini tampaknya tidak akan membosankan. Di kota besar seperti Surabaya, dengan statusnya sebagai putra keluarga Atmaja, Dimas tahu betul bahwa ada banyak wanita dewasa di lingkaran sosial orang tuanya yang sedang menanti perhatian dari pemuda seperti dirinya.
"Boleh, Ma. Kebetulan Dimas juga lagi nggak ada agenda hari ini," jawab Dimas sembari menyuap sepotong omelet.
Bimo yang sedang menyesap kopinya mengangguk setuju. "Bagus itu. Temani Mamamu, kasihan kalau dia harus cek stok barang sendirian. Masih banyak yang harus diurus sebelum kita makan malam di luar nanti."
"Mas juga mau ikut ke butik?" tanya Nadira sembari menoleh ke arah suaminya dengan tatapan lembut.
Bimo tertawa kecil sambil menggeleng. "Mas ada meeting mendadak sama kontraktor di kantor pusat, Sayang. Jadi biar Dimas saja yang jadi pengawal pribadimu hari ini. Lagipula, Dimas kan tinggi besar begini, pasti para sosialita pelangganmu itu betah berlama-lama belanja kalau lihat patung hidup di sana," canda Bimo yang disambut cubitan kecil dari Nadira di lengannya.
"Mas ini bisa saja," ujar Nadira tersipu.
Satu jam kemudian, mereka bersiap-siap. Dimas memilih mengenakan kemeja linen berwarna navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah serta otot lengannya yang terbentuk dari hobi olahraga. Nadira sendiri tampak sangat memukau dengan dress terusan selutut yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang tetap kencang dan proporsional di usia kepala tiga.
Mereka berangkat menggunakan mobil sedan mewah milik keluarga. Di sepanjang perjalanan menyusuri jalanan Surabaya yang mulai padat, Dimas duduk di kursi penumpang depan, sementara Nadira yang menyetir karena ingin menikmati waktu santai dengan putranya.
Aroma kabin mobil yang bercampur dengan wangi parfum mahal Nadira mulai memancing pikiran Dimas. Ia sesekali melirik ke arah samping,memperhatikan bagaimana jemari ibunya yang terawat dengan kuku merah marun memegang kemudi dengan luwes.
Ia selalu mengagumi wanita seperti Nadira wanita yang tahu cara merawat diri, berbicara dengan elegan, dan memiliki aura berkelas.
"Kenapa, Dim? Ada yang aneh di wajah Mama?" tanya Nadira tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, menyadari putra tunggalnya itu terus memperhatikannya.
Dimas tersenyum tipis, sebuah senyum nakal yang terselubung. "Enggak, Ma. Cuma mikir saja, kalau orang nggak tahu, mereka pasti mengira kita ini sedang berkencan, bukan ibu dan anak."
Nadira tertawa renyah, suara tawanya terdengar merdu di telinga Dimas. "Kamu ini paling bisa merayu. Jangan sampai klien-klien Mama nanti kamu rayu juga ya di butik. Mereka itu wanita-wanita yang haus pujian, bisa-bisa mereka nggak mau pulang kalau kamu goda sedikit saja."
Dimas hanya mengangkat bahu, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Kita lihat saja nanti, Ma."
Mobil akhirnya memasuki area parkir khusus di sebuah kawasan elit di Surabaya Barat, tempat butik eksklusif bernama 'Lestari Couture' berada. Begitu mereka turun, beberapa pasang mata wanita yang sedang melintas langsung tertuju pada sosok Dimas. Tubuhnya yang tinggi tegap dan wajahnya yang maskulin namun tampak 'muda' menjadi daya tarik yang tak terelakkan bagi kaum hawa di sana.
Dimas membukakan pintu butik untuk ibunya dengan gerakan sopan. Saat mereka masuk, lonceng di atas pintu berdentang pelan, menandakan dimulainya hari yang mungkin akan memberikan Dimas hiburan lebih dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Begitu memasuki butik, suasana tenang dengan aroma aromaterapi yang menenangkan langsung menyambut mereka. Para pegawai butik segera membungkuk hormat saat melihat sang pemilik datang bersama putra tampannya.
"Selamat pagi, Bu Nadira. Selamat pagi, Mas Dimas," sapa para staf dengan ramah.
Nadira membalas dengan senyuman anggun."Selamat pagi semua. Dimas, kamu duduk di ruang tunggu dulu atau mau langsung ke atas? Mama harus cek laporan barang yang baru masuk dari Paris tadi malam," ucap Nadira sambil merapikan tas tangannya.
"Dimas ikut ke atas saja, Ma. Di bawah terlalu ramai," jawab Dimas singkat.
Mereka pun melangkah menuju tangga menuju lantai dua, di mana ruangan pribadi Nadira berada. Saat menaiki anak tangga, Dimas berjalan tepat di belakang ibunya. Dari posisi ini, pandangannya tak terhindar kan tertuju pada gerak-gerik tubuh Nadira.
Setiap langkah sang ibu membuat bemper belakang yang terbalut dress ketat itu bergoyang dengan ritme yang sangat menggoda. Siluet tubuh Nadira benar-benar membentuk jam pasir yang sempurna, sebuah pemandangan yang membuat jakun Dimas naik turun.
Begitu sampai di lantai dua, mereka memasuki ruangan kantor yang luas dan mewah dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Surabaya.Nadira segera meletakkan tasnya dan berjalan menuju meja kerja.
Saat ia membungkuk sedikit untuk mengambil tumpukan berkas, gunung kembar yang padat dan berisi tampak menyembul malu-malu dari balik kerah dressnya yang sedikit rendah.
"Aduh, banyak sekali laporannya," keluh Nadira pelan sembari duduk di kursi kebesarannya.
Dimas memilih untuk duduk di sofa kulit yang berada tepat di depan meja kerja ibunya. Dari posisi duduknya yang rendah, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana sang ibu mulai serius berkutat dengan dokumen-dokumen itu.
"Ma, perlu Dimas bantu cek? Kan Dimas kuliah Manajemen Bisnis, hitung-hitung latihan," tawar Dimas, meski sebenarnya matanya lebih fokus pada cara ibunya sesekali membasahi bibir bawahnya saat sedang berpikir keras.
Nadira mendongak, matanya beradu dengan tatapan tajam putranya. "Boleh juga. Sini, duduk di sebelah Mama. Kamu cek daftar stok ini, cocokkan dengan manifes pengirimannya."
Dimas bangkit dari sofa dan berjalan mendekat. Alih-alih mengambil kursi lain, ia berdiri tepat di samping kursi ibunya, membungkuk untuk meraih berkas tersebut. Posisi ini membuat wajah Dimas hanya berjarak beberapa sentimeter dari leher jenjang Nadira.
Aroma parfum floral yang bercampur dengan kehangatan tubuh wanita matang itu menyerang saraf-saraf sensorik Dimas, membuatnya merasa panas menjalar di seluruh tubuhnya.
"Yang ini, Ma?" tanya Dimas dengan suara yang sedikit lebih berat dari biasanya.
Nadira yang merasa kehadiran fisik putranya begitu dekat, sempat tertegun sejenak. Ia mendongak, menatap wajah Dimas yang kini terlihat sangat maskulin dari jarak sedekat ini. "iya, yang itu, Dimas."
Tepat saat itu, terdengar ketukan pintu. Seorang karyawan masuk membawakan dua cangkir kopi, memecah ketegangan yang mulai terbangun di antara ibu dan anak itu. Namun bagi Dimas, ini barulah permulaan dari liburan panjangnya yang sangat menjanjikan.
Karyawan itu meletakkan baki berisi dua cangkir kopi yang masih mengepul serta piring kecil berisi macarons warna-warni di atas meja kerja. Setelah meletakkan pesanan tersebut, ia membungkuk sopan dan segera beranjak keluar, menutup pintu kayu jati itu dengan rapat, meninggalkan Dimas dan Nadira kembali dalam keheningan ruangan yang sejuk oleh AC.
Dimas menarik napas dalam, berusaha mengendalikan debar jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Ia kemudian menarik kursi tambahan dan duduk tepat di sebelah ibunya. Fokusnya kini beralih sepenuhnya pada tumpukan kertas laporan yang ada di hadapannya.
"Coba Dimas lihat, Ma. Kalau yang ini laporan pengiriman dari butik pusat di Paris, biasanya ada selisih di biaya cukai," ujar Dimas dengan nada serius,menunjuk kan sisi cerdasnya sebagai mahasiswa Manajemen Bisnis.
Nadira tampak terkesan. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Dimas agar bisa melihat dokumen yang ditunjuk putranya.Gerakan itu tanpa sengaja membuat lengan mereka bersentuhan, kulit ke kulit. Dimas bisa merasakan betapa halusnya kulit sang ibu, namun ia tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan profesional.
"Ah,kamu benar.Mama hampir melewatkan bagian pajak ini. Untung ada calon bos besar yang bantu," puji Nadira sambil tersenyum lebar. Ia merasa bangga melihat putra tunggalnya begitu cekatan dan fokus.
Selama hampir satu jam, suasana di ruangan itu dipenuhi dengan diskusi ringan mengenai stok barang dan strategi penjualan.Dimas benar-benar menunjukkan kemampuannya,membantu Nadira merapikan data yang cukup rumit. Namun, meskipun matanya menatap angka-angka, sesekali sudut mata Dimas tetap tidak bisa beralih dari pesona wanita di sampingnya.
Setiap kali Nadira bergerak untuk menandatangani berkas, gunung kembar di balik dress-nya ikut bergerak mengikuti irama tangannya, menciptakan pemandangan yang terus menguji daya tahan Dimas. Sementara itu, Nadira yang merasa sangat terbantu, berkali-kali memberikan perhatian kecil seperti mengusap bahu Dimas atau sekadar memuji ketelitiannya.
"Selesai! Wah, kalau dibantu kamu, pekerjaan Mama jadi jauh lebih cepat," seru Nadira sambil menyandarkan punggung nya ke kursi empuknya, meregangkan kedua tangannya ke atas.
Gerakan meregangkan tubuh itu membuat siluet tubuhnya semakin menonjol, terutama bagian dada yang membusung kencang. Dimas yang melihat itu hanya bisa menelan ludah, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas di depannya agar ibunya tidak menyadari gejolak yang sedang ia rasakan.
"Sama-sama, Ma. Kan Dimas juga harus belajar banyak dari Mama," jawab Dimas dengan suara yang tetap terjaga.
Nadira menyesap kopinya yang sudah tidak terlalu panas, lalu menatap Dimas dengan tatapan sayang. "Ya sudah, sekarang kita istirahat sebentar. Habis ini Mama dengar ada pelanggan VIP yang mau datang untuk fitting koleksi terbaru. Kamu temani Mama di sini sebentar lagi, ya?"
Dimas mengangguk pelan. Ia tahu, di balik pintu ruangan ini, dunia wanita dewasa yang ia dambakan sedang menanti, dan ia siap untuk menjadi 'kesayangan' di antara mereka semua.