Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kekuatan Supranatural Menjadikanku Dokter Terkaya

Kekuatan Supranatural Menjadikanku Dokter Terkaya

FM_Kwok | Bersambung
Jumlah kata
77.5K
Popular
193
Subscribe
105
Novel / Kekuatan Supranatural Menjadikanku Dokter Terkaya
Kekuatan Supranatural Menjadikanku Dokter Terkaya

Kekuatan Supranatural Menjadikanku Dokter Terkaya

FM_Kwok| Bersambung
Jumlah Kata
77.5K
Popular
193
Subscribe
105
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSpiritualDokterMiliarder
Adrian Kusuma , seorang dokter miskin dengan wajah buruk rupa, menjalani hidup yang penuh hinaan dan penolakan. Tak ada klinik yang mau menerimanya, tak ada wanita yang sudi menatapnya. Setiap langkahnya adalah luka, setiap harapan berujung pada cemooh. Hingga suatu malam, dalam keputusasaan, motornya meluncur tanpa kendali ke jurang.Dua hari kemudian, di antara reruntuhan dan darah yang mengucur deras di sekitar kepalanya, tubuhnya yang nyaris tak bernyawa tiba-tiba disusupi oleh kekuatan supranatural, sebuah kekuatan misterius yang mengubah takdirnya. Luka-lukanya lenyap, wajahnya yang dulu menyeramkan penuh luka bakar, mengerikan, berubah menjadi bersih tampan luar biasa, dan kemampuan medisnya meningkat ribuan kali lipat.Dari seorang dokter miskin yang dipandang hina, Adrian bangkit menjadi dokter paling tampan dan terkaya di dunia, pria yang kini digandrungi para wanita, ditakuti para pesaing, dan dicari oleh semua rumah sakit ternama. Namun di balik ketampanan dan kejayaan itu, tersembunyi satu misteri besar: siapa sebenarnya yang menanamkan kekuatan supranatural itu ke dalam tubuhnya?
Bab.1 Penolakkan Dan Penghinaan

Seorang pria berjaket usang berjalan cepat menembus hujan, wajahnya tersembunyi di balik helm murahan yang sudah berkarat di sisi-sisinya.

Dialah Dokter Adrian Kusuma, seorang pria yang namanya nyaris tak pernah terdengar di dunia medis.

Bukan karena dia tak memiliki kemampuan, tapi karena dunia menolaknya, bahkan sebelum sempat menilai keahliannya.

Hari itu, Adrian baru saja keluar dari klinik keempat yang menolaknya minggu ini. Di tangan kanannya, ia menggenggam map lusuh berisi ijazah kedokteran dan sertifikat praktik, basah oleh air hujan yang menetes dari atap seng klinik.

“Maaf, Dokter Adrian,” suara manajer klinik tadi masih terngiang di kepalanya. “Kami... tidak bisa menerima Anda. Kami butuh dokter yang bisa memberi rasa nyaman bagi pasien. Penampilan itu... hmm, maaf, bukan standar kami.”

Penampilan itu.

Kalimat itu selalu jadi alasan.

Bukan karena ia bodoh, bukan karena tak kompeten, tapi karena wajahnya.

Adrian menatap bayangan dirinya di kaca etalase toko yang dilewatinya. Wajah penuh bekas luka lama, kulit kusam terbakar matahari, rahang yang tampak bengkok akibat kecelakaan kecil di masa lalu. Mata kirinya sedikit menurun, menambah kesan menyeramkan. Setiap anak kecil yang lewat menatapnya ngeri, dan ibu-ibu spontan menarik anak mereka menjauh.

Ia mendesah panjang. “Mereka tidak pernah lihat isi kepalaku, hanya kulitku,” gumamnya getir.

Motor tuanya, Suzuki Thunder tahun entah kapan, terparkir di depan warung kopi. Ia duduk sebentar di kursi kayu, memesan segelas kopi hitam yang ia bayar dengan sisa uang di kantong jaket. Uap panas dari cangkir menembus udara dingin malam itu, tapi tak mampu menghangatkan hatinya yang beku.

Tiga tahun sudah ia berjuang. Sejak lulus dari fakultas kedokteran, Adrian hidup berpindah - pindah dari satu kota ke kota lain. Tak ada rumah sakit yang mau menerimanya. Beberapa teman kuliahnya kini sudah memiliki klinik sendiri, sebagian bahkan tampil di televisi sebagai “dokter selebriti.”

Sementara dia?

Ia bahkan tak punya tempat tinggal tetap.

Kadang ia tidur di rumah kos murahan, kadang di dalam pos ronda, saat dia terjebak hujan. Tabungannya menipis, dan masa depan terasa semakin kabur.

Ia mencoba menenangkan diri, menatap langit yang mulai gelap. Hujan mereda, tapi jalanan masih licin. Di kejauhan, lampu kendaraan berkelebat cepat, menorehkan garis-garis cahaya di aspal basah.

Adrian berdiri, menyalakan motor tuanya, dan melaju perlahan. Jalan menanjak menuju pegunungan kecil di pinggiran kota menjadi rute pulangnya malam itu. Namun, di dalam pikirannya, suara-suara penolakan tadi terus bergema menyatu, berdengung, menyayat.

“Maaf, kami tak bisa menerima dokter sepertimu.”

“Pasien akan takut.”

“Penampilanmu tidak profesional.”

Satu demi satu kata itu menumpuk di kepalanya seperti batu besar yang menghancurkan kepercayaannya.

Setelah beberapa kilometer, hujan kembali turun. Kabut tipis menyelimuti jalan yang berliku. Lampu motor tuanya redup, nyaris padam. Ia menurunkan kecepatan, tapi pikirannya sudah terlalu kusut untuk fokus.

Dalam hati, Adrian berbisik pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh langit.

“Mungkin dunia memang tak pernah disiapkan untuk orang sepertiku.”

Angin malam menampar wajahnya, dingin dan tajam. Hatinya semakin berat. Ia teringat ibunya seorang wanita renta yang tinggal di desa kecil. Wanita yang dulu selalu berkata, ‘Nak, jangan pernah menyerah. Tuhan pasti punya rencana.’

Namun malam ini, kata-kata itu terasa jauh... seperti doa yang tak pernah sampai.

Motor tuanya melaju menuruni tikungan curam. Dari arah berlawanan, sebuah truk besar melintas cepat, menyiramkan air ke arah Adrian. Ia refleks mengerem, terlambat. Ban motornya terpeleset di atas lumpur yang terbawa air hujan.

“Brak!”

Motor oleng keras. Adrian kehilangan kendali. Dalam sepersekian detik, ia melihat dunia berputar, lampu, kabut, dan jurang yang menganga lebar di sisi jalan.

“Tidak...!” teriaknya, tapi suara itu lenyap ditelan gemuruh petir.

Motor dan tubuhnya terlempar. Suara logam beradu dengan batu, dentuman keras memecah kesunyian malam. Kemudian, semuanya gelap.

Hujan turun sepanjang malam itu. Tidak ada yang melihat tubuh Adrian jatuh. Tidak ada yang tahu bahwa di dasar jurang, seorang dokter miskin tergeletak di antara puing besi dan tanah basah, darahnya mengalir pelan di tanah dingin.

Dunia di atas terus berjalan seperti biasa, lampu kota menyala, orang-orang tertawa, hidup terus bergulir tanpa sadar bahwa satu jiwa sedang perlahan kehilangan nyawa.

Namun di bawah sana, di antara rimbunan pohon dan batu, sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Hujan berhenti mendadak. Angin yang tadi menderu berubah menjadi diam, seolah dunia menahan napas. Dari langit, seberkas cahaya biru redup turun perlahan, seperti kabut bercahaya yang menembus awan dan jatuh tepat di tempat tubuh Adrian yang sedang terbaring dengan lumuran darah dan luka luka serius di kepalanya.

Cahaya itu berdenyut pelan, seperti detak jantung raksasa yang berpadu dengan gemuruh bumi.

Tubuh Adrian yang nyaris tak bernyawa bergetar. Luka-lukanya menyala samar, urat-uratnya berubah menjadi jalur bercahaya, menjalar dari dada ke seluruh tubuh. Darah yang mengalir berhenti, luka-luka menutup dengan kecepatan tak wajar.

Lalu, sesuatu memasuki tubuhnya. Sebuah suara, dalam dan asing, berbisik di telinganya.

"Pilihan telah dibuat."

"Kehidupan lama berakhir di sini."

"Bangkitlah, pembawa Cahaya Biru."

Cahaya biru itu meledak dalam sekejap, menyelimuti seluruh lembah. Burung-burung malam terbang panik dari sarangnya. Hujan kembali turun, tapi kali ini membawa hawa hangat yang aneh.

Adrian membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, tapi sesuatu terasa berbeda. Ia mengangkat tangannya, tidak ada darah, tidak ada luka. Kulitnya bersih, bahkan lebih halus dari sebelumnya. Ia menyentuh wajahnya, permukaan kulitnya rata, rahangnya tegak, dan bekas luka yang selama ini menghantui hidupnya... lenyap.

“...Apa yang terjadi padaku?” bisiknya lemah.

Namun tak ada jawaban. Hanya hembusan angin yang terasa seolah memanggilnya.

Adrian berusaha berdiri. Motor tuanya hancur berantakan, terlipat di antara bebatuan. Tapi tubuhnya sendiri, tak ada rasa sakit sedikit pun. Ia menatap kedua tangannya, dan sejenak ia melihat kilatan cahaya biru samar menari di ujung jari-jarinya.

Dalam kebingungan, ia mencoba menyentuh batu di sampingnya. Seketika, batu itu bergetar halus dan retak, seolah merespons sentuhan itu.

Jantung Adrian berdegup cepat. “Apa ini… kekuatan?”

Namun belum sempat ia memahami, suara asing tadi bergema lagi di dalam pikirannya, kali ini lebih kuat, seperti gema di dalam dada.

"Kau telah dipilih, Adrian Kusuma. Cahaya Biru kini mengalir di nadimu. Gunakan, atau musnah bersama dunia lama."

Seketika, pandangan Adrian berkunang - kunang. Kilatan gambar melintas cepat di benaknya, rumah sakit besar, wajah-wajah manusia yang memuja, darah, kekuatan, dan kehancuran.

Ia jatuh berlutut, memegangi kepalanya, napasnya tersengal.

Malam itu, di dasar jurang yang sunyi, seorang dokter miskin dan buruk rupa mati bersama rasa putus asanya.

Namun dari tubuhnya yang remuk, lahir sosok baru, seorang pria yang akan mengubah dunia medis, dan dunia manusia.

Adrian bangkit perlahan, matanya kini berkilau biru redup. Ia menatap langit gelap yang menatap balik padanya.

“Baiklah,” gumamnya dengan suara dingin dan mantap. “Kalau dulu dunia menolakku… maka sekarang saatnya dunia yang akan bertekuk lutut padaku.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca