

Tanah itu berwarna merah sebelum pedang pertama terangkat.
Bukan karena darah—belum—melainkan karena tanah liat yang kering dan retak di bawah matahari pagi. Angin membawa bau besi dari ribuan bilah yang saling beradu pelan, seakan baja itu sendiri gelisah menunggu ajal siapa yang akan ia minum hari ini.
Zarqan berdiri di barisan depan.
Tangannya menggenggam pedang panjang warisan ayahnya, bilahnya penuh goresan lama—bekas pertempuran yang telah menelan nama-nama manusia. Pedang itu berat, bukan hanya oleh baja, tapi oleh kenangan. Ayahnya mati dengan pedang ini tertancap di dadanya, dan hari ini Zarqan bersumpah pedang itu akan dibersihkan dengan darah musuh.
“Jangan mundur,” bisik kapten di sampingnya. “Tak ada jalan mundur,” jawab Zarqan pelan.
Di seberang lapangan, pasukan Kerajaan Utara berteriak, suara mereka seperti raungan binatang lapar. Helm besi mereka berkilat, tombak dan pedang terangkat tinggi. Tak ada wajah manusia di sana—hanya topeng kematian.
Terompet perang ditiup.
Dunia pecah.
Zarqan berlari bersama barisannya. Tanah bergetar oleh ribuan kaki. Benturan pertama seperti tabrakan dua gunung. Pedang menghantam perisai, tulang bertemu baja, jeritan langsung menggantikan teriakan perang.
Pedang Zarqan menebas ke samping—krak!—perisai kayu terbelah, dan wajah musuh di baliknya menyeringai sebelum mata itu membeku selamanya. Darah memercik hangat ke tangan Zarqan. Ia tidak berhenti.
Tidak ada waktu untuk berpikir.
Serangan datang dari kiri. Zarqan menangkis, baja beradu keras hingga lengannya mati rasa. Ia memutar tubuh, menusuk perut musuh lain, lalu menendang tubuh itu agar jatuh. Kakinya terpeleset darah. Ia hampir jatuh—nyawa hanya sejengkal dari hilang—namun ia bangkit lagi.
Di sekelilingnya, medan perang berubah menjadi neraka hidup.
Seorang prajurit muda berteriak memanggil ibunya sebelum kepalanya terbelah. Seorang veteran tertawa gila sambil menebas apa pun yang bergerak, sampai tombak menembus punggungnya. Tak ada keadilan di medan ini. Tak ada keberanian yang menjamin hidup.
Hanya bertahan—atau mati.
Zarqan berhadapan dengan seorang ksatria Utara. Helmnya hitam, pedangnya besar, dan matanya dingin tanpa ragu. Mereka saling menatap sepersekian detik—cukup lama untuk tahu bahwa salah satu dari mereka tak akan berjalan pergi.
Pedang bertemu.
Benturan mereka keras dan cepat. Tebasan demi tebasan, napas memburu, otot menjerit. Ksatria itu kuat, terlatih. Satu tebasan hampir merobek bahu Zarqan. Rasa panas menjalar, darah mengalir.
Namun Zarqan tersenyum.
Rasa sakit berarti ia masih hidup.
Ia memancing serangan, mundur setengah langkah, lalu memutar pedangnya ke arah leher. Baja menghantam baja, tapi momentum cukup—helm musuh terlempar, dan wajah terkejut itu hanya sempat bernapas sekali sebelum pedang Zarqan menyelesaikan sisanya.
Zarqan terdiam sekejap, dadanya naik turun. Tangannya gemetar, bukan karena takut—melainkan karena apa yang telah ia lakukan berkali-kali hari ini.
Ia melihat sekeliling.
Medan perang berubah menjadi lautan tubuh. Tanah merah kini hitam dan licin. Matahari berdiri tinggi, tak peduli pada jeritan manusia.
“MAJU!” teriak seseorang. “MUNDUR!” teriak yang lain.
Tak ada perintah yang jelas. Hanya kekacauan.
Zarqan mengangkat pedangnya sekali lagi.
Jika hari ini adalah hari terakhirnya, maka ia akan mati berdiri—dengan pedang terhunus, dan nama ayahnya di dalam doa terakhir.
Dan perang itu belum selesai.