Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rak Terakhir Elias Sagara

Rak Terakhir Elias Sagara

Mas Ares | Bersambung
Jumlah kata
80.5K
Popular
100
Subscribe
34
Novel / Rak Terakhir Elias Sagara
Rak Terakhir Elias Sagara

Rak Terakhir Elias Sagara

Mas Ares| Bersambung
Jumlah Kata
80.5K
Popular
100
Subscribe
34
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalMisteriIdentitas TersembunyiSupernatural
Di Kota Lindon yang diselimuti kabut, Elias Sagara adalah penjaga perpustakaan kota. Pakaiannya rapi, rutinitasnya sempurna, dan ia hampir tidak pernah berbicara. Bagi Elias, perpustakaan adalah benteng pertahanan terakhir: tempat ideal untuk mengawasi tanpa pernah berpartisipasi. Elias tahu segalanya. Bukan hanya isi buku yang ia sentuh, tetapi juga setiap detail kehidupan pengunjungnya: siapa yang mencuri buku langka, mengapa remaja itu berbohong pada ibunya, atau di mana letak dompet yang hilang. Ia memiliki Pengetahuan Absolut, tetapi ia menolak untuk menggunakannya secara aktif. Prinsipnya tegas: menjaga Keseimbangan dan membiarkan manusia menyelesaikan misteri mereka sendiri. Namun, kekacauan memiliki daya tarik. Dari balik konter, Elias sering mendengar bisikan tentang kejahatan tak terpecahkan, perselingkuhan yang menghancurkan, dan rahasia berbahaya. Meskipun ia menahan diri, ia kadang-kadang terpaksa melakukan intervensi minimal, hanya dengan menaruh sebuah buku acak di meja yang tepat, atau memberikan petunjuk yang terkesan kebetulan, agar riak kekacauan tidak membesar. Semua berubah ketika sebuah bisikan yang ia dengar di ruang baca—tentang sebuah organisasi rahasia yang melacak jejak pengetahuan kuno—mulai beresonansi dengan kenangan purba Elias. Ia menyadari bahwa ada pihak yang mencari Entitas sepertinya. Kini, Elias harus terus menyebarkan solusi untuk misteri kecil di Lindon, sambil berjuang untuk tetap menjadi titik nol yang tidak terdeteksi. Setiap petunjuk yang ia lepaskan adalah risiko, karena ia tahu bahwa semakin ia memecahkan misteri orang lain, semakin besar kemungkinan misteri dirinya sendiri akan terungkap.
Sepuluh Menit Kepalsuan (Part 1)

Detektif Rian Aditama tidak pernah suka kabut Kota Lindon.

Bukan karena dinginnya--ia terbiasa dengan dingin setelah resmi menjadi anggota Satuan Tugas Khusus di Lindon selama empat tahun. Tapi kabut di Lindon selalu terasa tebal dan berat, seperti halnya lapisan kebohongan yang menutupi segala sesuatu di kota ini. Kabut itu seolah menangkap aroma dua cangkir kopi ditangannya yang harusnya menyegarkan serta memadamkan suara teriakan dan canda tawa kanak-kanak yang bermain di taman.

Di seberang taman, berdiri kokoh sebuah bangunan tua Perpustakaan Kota Lindon, selimut kabut membuatnya mirip katedral yang dilupakan oleh waktu. Rian melangkahkan kaki melewati gerbang besi tempa, seragamnya yang disetrika sempurna bewarna biru malam terasa kontras dengan suasana lengang di sekelilingnya.

Rian, yang masih berumur 27 tahun, adalah kebanggaan satuan petugas kota Lindon. Tubuhnya yang jangkung, bahu yang lebar diperoleh dari rutin latihan gym, wajah tegas dengan rambut hitam yang selalu klimis, memancarkan aura yang maskulin. Rian adalah sosok pria yang logis dan yakin bahwa setiap masalah pasti bisa dibuktikan dengan akal sehat.

Rian berjalan langsung ke area arsip lama di belakang Perpustakaan, tempat yang berbau kertas tua dan debu halus. Di sana, dibalik konter kayu ek yang tinggi dan usang, duduklah temannya.

Meskipun Rian enggan mengakui, di tengah semua logika yang dia anut, ada satu rutinitas yang selalu Rian butuhkan ketika akal sehatnya mulai buntu: Elias Sagara.

Elias adalah anomali hidup Rian. Elias terlihat seperti pria yang dilahirkan dengan rompi sweater warna maroon dan kacamata berbingkai kawat. Ia mungkin berusia akhir 30-an atau awal 40-an--usianya tidak pernah diketahui secara jelas, dan Elias selalu menghindari topik itu, yang dia ketahui hanya tanggal lahinya, 3 Oktober. Postur tubuhnya Elias kekar, namun bungkuk, berusaha menyembunyikan tinggi aslinya, seperti halnya Superman dengan identitas Clark Kent. Rambut Elias adalah cokelat gelap, selalu disisir rapi tanpa cela. Wajah Elias seperti patung pahatan yunani kuno dengan lapisan jambang tipis yang selalu dia cukur setiap bulan.

Bagi Rian, Elias adalah kebalikan total dari dirinya: tenang, apatis, dan tertutup. Rian selalu senang bergaul dan melakukan aktifitas sosial, sedangkan Elias, dia akan berusaha mati-matian agar selalu tidak mencolok dan menghilang dikeramaian.

Saat Rian mendekat, Elias sedang memperbaiki punggung buku kuno yang rapuh, tangannya bergerak dengan ketelitian yang hampir menakjubkan. Rian tahu, bagi Elias tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain mengembalikan wujud buku itu ke wujud sempurnanya.

"Pagi, El. Liburanmu berakhir," sapa Rian, suaranya memecah keheningan yang tebal di area arsip.

Elias mengangkat kepalanya, lambat dan enggan. Matanya--ah, matanya. Matanya bewarna abu-abu gelap, tidak terlalu cerah, namun tidak terlalu gelap, seperti tumpukan salju ditengah awan yang mendung. Ketika kedua mata itu terkunci menatap Rian, selalu ada sensasi seolah Elias melihat dirinya sampai menembus belakang tengkoraknya. Tatapan Elias selalu terlihat jauh, seolah jiwanya melakukan perjalanan miliaran tahun cahaya.

"Pagi, Rian," jawab Elias, suaranya dalam, rendah dan merata, tanpa ada nada pertanyaan atau sapaan yang hangat. "Kau selalu sukses mengganggu liburan kencanku bersama buku-buku ini."

Rian terkekeh dan menyandarkan tubuhnya yang berat di konter, menarik nafas dalam. "Sayang sekali, kuharap kencannya tidak mengecewakan. Bagaimana kalau kau campakkan buku itu dan terima tawaran kencanku dulu?"

"Enyahlah."

Rian tertawa keras. Tawanya yang berat membuat konter dan beberapa buku bergetar akibat ketenangan area arsip itu terganggu oleh sikap periang Rian.

Terbiasa dengan tingkah absurd temannya, Elias hanya menggeleng-gelengkan kepala dan memutar bola matanya. Perhatian Elias kembali terfokus kepada buku yang harus dia perbaiki. Dengan nada malas, dia berkata kepada Rian. "Ceritakan. Singkat, padat dan hanya fakta yang tidak bisa kau pahami."

Rian tersenyum, meletakkan salah satu kopi ditangannya di konter Elias. "Aku butuh bantuanmu. Kasus ini lumayan membingungkan, membuatku sulit tidur dengan nyenyak malam tadi."

Elias hanya diam, tangannya masih sibuk memperbaiki punggung buku yang rusak. Seolah itu isyarat lampu hijau, Rian melanjutkan kisahnya.

"Ini tentang dompet," Rian memulai, menurunkan suaranya. "Seorang petugas pemerintahan bernama Nyonya Winda kehilangan dompetnya di Ruang Baca Rumah Sakit Umum Daerah Lindon kemarin sore. Isinya penting--ID, kartu kredit, dan sebuah flash drive dengan data yang tak-bisa-disebut."

"Kau tahu betul, kota kita memiliki kamera keamanan yang canggih dan terbaik," lanjut Rian. "Kamera di Ruang Baca juga tak terkecuali."

Rian mengeluarkan handphone miliknya. Tangan Elias berhenti mengurus punggung buku yang beharga dan menoleh, menonton video yang ditunjukkan Rian.

"Seperti yang bisa kau lihat," Rian mendeskripsikan video dari saringan rekaman cctv itu kepada temannya. "Nyonya Winda mengeluarkan tas untuk mengambil uang di dompetnya untuk membeli makanan kecil di kantin Rumah Sakit. Nyonya Winda meninggalkan tas yang berisi dompet di meja Ruang Baca dan pergi ke kantin pada pukul 15:05. Ia kembali pukul 15:15. Dompetnya sudah hilang. Interval sepuluh menit itu adalah titik buta kami!"

Elias mengambil kopi pemberian Rian dan menyesapnya dengan nikmat. Tatapan Elias masih terfokus dengan video yang ditunjukkan Rian.

"Kami menyaring semua rekaman antara jam 15:05 hingga 15:15," Rian melanjutkan. "Tidak ada orang yang masuk atau keluar di area itu. Di Ruang Baca hanya ada dua orang di dekat meja Nyonya Winda: seorang laki-laki yang fokus kepada laptopnya, dan seorang pria tua yang sibuk membaca koran. Sepanjang video, mereka tidak pernah mendekati dompet ataupun melihat ke arah dompet. Anehnya dompet itu menghilang dalam sekejap tanpa didekati atau disentuh siapa pun!"

"Dua orang yang ada di sana?" tanya Elias.

"Mereka sudah diinterogasi. Alibi mereka kuat dan tidak ada bukti fisik. Remaja itu bersumpah tidak melihat apa-apa, dan pria tua itu bahkan memakai alat bantu dengar dan penglihatan yang buruk." Rian terlihat frustasi. "Dompet itu benar-benar menghilang seperti gelembung yang pecah. Kami harus menemukan flash drive itu sebelum datanya bocor."

Elias mengangguk dan kembali menyesap kopinya.

"Remaja laki-laki itu," kata Elias, suaranya tenang, tangannya kembali melanjutkan memperbaiki punggung buku yang rusak. "Namanya Arnold. Dia bukan pencuri. Dia mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas praktik kedokteran. Pria tua, namanya Benny, membaca koran sambil menunggu cucunya. Mereka tidak bersalah."

Mengabaikan fakta bagaimana makhluk tertutup seperti Elias mengetahui nama kedua orang yang ada di video rekaman cctv, Rian mengerutkan kening dan bertanya, "lalu?"

"Dompet itu tidak pernah meninggalkan tas Nyonya Winda sampai jam 15:15. Rekaman kamera canggih kota kita pun tidak berbohong. Matamu sedang ditipu, Rian."

Rian menatap temannya seakan mengkhawatirkan kewarasannya. "Lalu bagaimana dompet itu bisa menghilang?"

Elias selesai memperbaiki bukunya, menutup sampul buku yang bertuliskan IT karya Stephen King dan mengembalikannya ke rak yang ada dibelakang konternya.

Elias kembali duduk, menyesap habis kopinya yang sudah hampir dingin. Mata abu-abunya beralih dari cangkir kopi, matanya menatap lurus ke arah Rian Aditama. Suaranya rendah dan merata, membunuh semua misteri yang dibangun selama ini, menghancurkan semua kesimpulan buntu Rian terhadap sepuluh menit kepalsuan itu.

"Tidak ada yang mengambilnya, Rian," jawab Elias, tanpa jeda. "Nyonya Winda sendiri yang mengambilnya."

(Bersambung)

Lanjut membaca
Lanjut membaca