

Pagi yang sejuk d suatu desa terpencil pinggir hutan. Hiduplah seorang wanita paruh baya, bersama anak lelakinya yang berusia 15 tahun.
Minah, nama wanita setengah baya itu dan Jaka anak si mata wayangnya.
Mereka hidup dengan sederhana, semenjak di tinggal mati suaminya dua tahun lalu.
Untuk melangsungkan hidup, Minah bekerja pada tetangganya ikut membantu bertani. Sementara anaknya Jaka membantu mencari rumput untuk makan kambing juragan Karso majikan sang ibu.
Pagi itu Jaka berjalan menuju pinggir hutan untuk mencari rumput, dan juga untuk mencari ranting kayu. Tak terasa keringat membasahi tubuhnya, karena jarak desanya dengan hutan lumayan jauh.
Sambil berjalan Jaka berpikir. Bagaimana caranya agar dia bisa menyenangkan ibunya.
Tidak terasa Jaka sudah sampai di pinggir hutan. Di sana banyak di tumbuhi rumput liar.
Sambil berjalan Jaka berpikir, bagaimana caranya agar dia bisa menyenangkan ibunya, supaya ibunya tidak usah bekerja.
' kasihan ibu pergi pagi pulang sore, kadang malam suka di panggil lagi '
' Aku harus nyari pekerjaan yang lebih baik supaya ibu tidak usah bekerja '
' Biarlah aku yang bekerja sementara ibu di rumah saja ' gumam Jaka.
Tak terasa langkahnya sudah sampai di pinggir hutan tempat biasa mencari rumput.
Dengan cekatan dia mulai menyabit rumput - rumput yang ada di sekitar pinggir hutan.
' aah, akhirnya beres juga nyabitnya ' ucap Jaka.
' tinggal nyari ranting buat kayu bakar d rumah, tapi kayaknya harus masuk sedikit ke hutan, soalnya d sini tidak ada lagi ranting berjatuhan ' ucapnya.
Jaka pun mulai mengikat rumput yang sudah di sambit supaya mudah d bawa.
Jaka pun mulai berjalan masuk ke hutan untuk mencari kayu bakar. Tapi anehnya ranting - ranting belum ada yang d temukan Jaka.
' aneh...... Ko aku belum menemukan ranting - ranting, biasanya banyak yang tergeletak ' ucapnya pelan.
' mungkin aku harus lebih masuk ke dalam hutan, mungkin kalo lebih dalam banyak rantingnya '
Setelah menyimpan terlebih dulu rumput yang sudah di ikat, Jaka mulai berjalan ke dalam hutan semakin dalam.
Semakin jauh Jaka melangkah semakin tertera keanehan hutan yang dia rasakan. Jaka semakin merasa aneh dengan keadaan hutan yang tidak biasa.
Padahal selama dia sering ke hutan sekali - kali masuk agak dalam, belum pernah dia merasakan keanehan seperti yang sekarang ia rasakan.
' kenapa semakin terasa ada yang ganjil di sini.......... '
' tapi apa yaa........?.
Gumam Jaka. Semakin lama semakin merinding terasa, padahal sebelum - sebelumnya Jaka tidak pernah merasakan hal seperti yang sekarang dia rasakan.
Suasana hutan yang semakin remang - remang karena matahari sedikit bisa masuk menyinari hutan, yang semakin dalam semakin rimbun pepohonan yang ada.
Tiba - tiba,
wuuuuus.............suara seperti suara api yang terkena air. Terdengar oleh Jaka di sebelah kanan. Dengan cepat dia melirik ke arah pohon jati yang berada d sebelah kanannya.
Jaka terkaget melihat asap tipis di dekat akar pohon jati tersebut, selain itu dia juga melihat ada seberkas cahaya merah seperti memancar seperti bara api.
' ya tuhan.........itu apa seperti bara api yang mengeluarkan asap'
Gumamnya pelan.
Jaka diam sejenak dan ragu apa yang harus dia lakukan.
bagaimana ini...... '
Dengan penuh hati - hati Jaka mulai mendekati pohon jati tersebut, untuk memastikan apa yang dia lihat.
Dan setelah Jaka mendekat, asap itu hilang, terlihatlah sebuah batu akik yang memancarkan warna merah bara api. Sejenak dia tertegun memperhatikan batu akik yang berada di pinggir akar pohon jati .
Pelan - pelan Jaka mulai mendekati dan berjongkok untuk melihat lebih dekat, sambil berpikir benda apa ini, pikirnya. Karena penasaran Jaka mulai mencoba untuk memegang batu akik yang bentuknya setengah biji kelereng tersebut.
' ini.......apa ya, coba aku ambil. '
Gumamnya pelan.
Jaka pun mulai mengambilnya, setelah di ambil, dia bergumam. ' batu apa ini ya.......'
Tapi setelah ada d telapak tangannya, baru juga beberapa detik Jaka berteriak.
' aaaaaaahk................
Teriakan Jaka menggema di dalam hutan. Batu akik yang dia pegang mendadak panas membara dan tak bisa d lepas, terus nempel di telapak tangannya. Saking panasnya Jaka langsung pingsan.
Setelah beberapa jam Jaka mulai tersadar dari pingsannya.
' hah....hah...hah... Dimana ini.....?
Gumam Jaka dan bangkit duduk, sambil memegangi kepalanya yang terasa agak pusing. Jaka menoleh ke Kanan dan kiri, tapi tempat itu begitu asing baginya.
' aduh kepalaku kenapa pusing begini dan ini tempat apa ko Padang rumput. Perasaan aku tadi d hutan jati......... Terus batu akik tadi kemana ko menghilang......
Sambil duduk Jaka melihat telapak tangannya, karena di telapak tangannya ada bekas tanda merah berbentuk bulat sebesar kelereng. Sambil mengingat kejadian yang baru terjadi.
' kenapa telapak tanganku jadi ada tanda merahnya....??
Jaka mulai bangkit berdiri setelah rasa pusingnya mulai reda. Dia melihat sekeliling tempat itu yang asing baginya.
Tidak selang lama terdengar suara yang seseorang.
' Anak muda, berjalanlah lurus nanti kamu akan menemukan gubuk , aku tunggu kamu di sini '. Kata suara misterius itu.
Jaka pun perlahan mulai berjalan menyusuri Padang rumput mengikuti arahan suara misterius tersebut. Di kejauhan terlihat sebuah pondok bambu sederhana tapi terlihat bersih, di kelilingi taman bunga dan di sebelahnya ada kolam.
Sesampainya di depan gubuk Jaka termenung melihat begitu sejuknya pemandangan taman bunga dan kolam kecil yang berisi ikan - beraneka macam warna.
Di depan gubuk ada seorang sepuh duduk di kursi bambu, di depannya sebuah meja bambu. Terlihat sebuah teko dari tanah liat dan ada dua cangkir yang sama terbuat dari tanah liat.
' Mari duduk anak muda.........!
Orang tua itu mempersilahkan Jaka duduk sambil terkekeh.
Jaka pun duduk di depan orang tua misterius tersebut.
' Maaf kek saya ini mana, terus sampean siapa......... ? Tanya Jaka.
' perkenalkan nama kakek Antasena, panggil saja Ki Antasena. ' ujarnya
' Anak muda kamu sekarang berada d tempat ku, ini dimensi gaib. ' ucap Ki Antasena.
Jaka tersentak mendengar dirinya sekarang berada di dimensi gaib.
' Ke tapi aku masih hidup kan.... ? Belum mati.....' tanya Jaka sekenanya.
' hehehehe.....kamu belum mati anak muda, kalau sudah mati tidak akan bertemu sama kakek.
Dan kamu pasti bertemu sama malaikat penjaga kubur.....hehehe.....'. Kata Ki Antasena sambil terkekeh geli.
' syukur lah kalo saya masih hidup, berarti masih bisa pulang.' Ucap Jaka pelan.
' hehehe....tenang saja anak muda kamu masih bisa pulang, tapi kamu harus di sini dulu selama seminggu. '
Jaka tersentak kaget, dia berpikir kalo diam di sini seminggu bagaimana dengan ibunya.
' Tenang saja anak muda, di sini waktu berjalan berbeda dengan di dunia mu. '
' Maksud kakek gimana....? Tanya Jaka keheranan.
' Seminggu di sini kalo d dunia mu cuman satengah hari......hehehehe....'. Kata Ki Antasena sambil terkekeh.
' oooh begitu ya kek '
Ucap Jaka sambil tersenyum.
' Iya anak muda, ngomong - ngomong siapa nama kamu nak....?
' Saya Jaka kek '. Jawab Jaka.
' Oh namamu Jaka....emmm
' Kamu pasti heran kenapa bisa ada di sini kan.....?'
Tanya Ki Antasena.
Ki Antasena kembali berucap. ' Jaka kamu sudah d takdirkan untuk bertemu dengan ku, itu di karenakan, kau menemukan batu akik merah delima yang sudah berjodoh denganmu ' Ucap Ki Antasena pada Jaka.
' Maksud kakek batu akik yang aku temukan di akar pohon jati itu, yang membawaku masuk ke dunia gaib ini.....? Ucap Jaka. Sambil memperlihatkan tanda merah di telapak tangannya yang masih ada bekas merah tapi sudah mulai pudar.
' Betul sekali Jaka, batu itu sekarang bersemayam d tubuhmu.
Dan secara otomatis kau sudah berjodoh dengan batu itu karena batu itu yang memilihmu secara tidak langsung. Ujar Ki Antasena sambil tersenyum.
' Sebelum kita membahas semuanya lebih lanjut kita makan dulu, aku tahu kamu tadi belum makan semenjak keluar dari rumahmu kan....? Kamu tunggu di sini kakek bawa makanan dulu ke dalam.' ujar Ki Antasena sambil berjalan ke dalam pondoknya meninggalkan Jaka sendirian.
Selang beberapa menit, Ki Antasena kembali keluar sambil membawa makanan dan di letakan di atas meja depan Jaka sambil berkata. ' Silahkan di makan dulu nanti selesai kau makan kita lanjutkan perbincangan kita, sekalian ada sesuatu yang harus kakek bicarakan sama kamu Jaka.'
Tanpa banyak kata Jaka langsung melahap makanan yang telah di sediakan Ki Antasena tersebut dengan lahap, maklum memang benar semenjak dia pergi dari rumah dia belum makan sedikitpun, Karena makanannya dia bawa di kantong yang di simpan di tumpukan rumput yang tadi dia sambit. Rencananya setelah mengumpulkan rumput dia akan memakannya sambil beristirahat sebelum kembali ke rumahnya.
Sementara di desanya, Minah ibu Jaka kembali lagi kerumah dari rumah Juragan Karso di karenakan badannya kurang sehat. Minah meminta izin pulang ke juragan untuk beristirahat. Sesampainya di rumah Minah menuju kamar Jaka
' Jaka...Jaka...' Minah memanggil Jaka sambil mengetuk pintu kamar Jaka, pikirnya Jaka masih tertidur karena malam dia sehabis ronda dan baru pulang subuh. Minah membuka kamar Jaka melihat tempat tidur Jaka sudah rapih. " Hemmm.. berarti Jaka suda pergi ke hutan mencari rumput buat kambingnya juragan juga mencari ranting kayu untuk suluh ( suluh, bahan bakar untuk perapian di dapur ) maklum keluarga Jaka terbilang keluarga pas - Pasan, jadi untuk masak masih menggunakan kayu bakar atau suluh, belum mempunyai kompor. Minah berjalan keluar kamar dan ke dapur, sesampai di dapur dia melihat tidak ada piring bekas makan anaknya. ' Sepertinya Jaka tidak sarapan dulu.' ucap Minah sambil menghela nafasnya.
' Ya tuhan lindungilah anakku, sehatkan dia, berilah perlindungan dan juga mudah kan segala urusannya, kasihan Jaka dari kecil sampai sekarang hidupnya tidak seperti anak-anak lain, sekolah cuman lulus SMP tidak bisa di teruskan karena faktor biaya.' Ucap Minah sambil berdoa, mengingat kehidupannya yang serba pas-pasan, apalagi semenjak d tinggal suaminya, Minah harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dan itu semua hanya bisa untuk menyambung hidupnya Sehari-hari untuk makan saja. Karena sebagai pembantu keluarga juragan Karso gajinya tidak seberapa karena di desa.
Kembali ke Jaka yang saat ini masih di dimensi gaib di pondoknya Ki Antasena, dia sudah menyelesaikan makannya.
' Kakek sebenarnya aku heran, kenapa aku harus tinggal dulu di sini selama seminggu...? Tanya Jaka pada Ki Antasena.
' Baik lah Jaka kakek akan mulai memberitahu mu, kenapa kakek menyuruhmu tinggal seminggu di alam ini terlebih dulu. Jawabannya karena kamu sudah berjodoh dengan batu merah delima, berarti kamu adalah pewaris semua ilmu ku ' jawab Ki Antasena pada Jaka.
' maksud kakek gimana....? Tanya Jaka dengan nada masih bingung.
Begini Jaka, kakek akan menurunkan semua ilmu yang kakek punya kepadamu. Tapi, dengan perlahan tidak langsung. Makanya kamu cuma seminggu di sini dan nanti sesudah kakek mengajari dasar-dasarnya dulu, baru bertahap ke pengajaran selanjutnya dan terus selanjutnya. Tapi kakek juga tidak memaksamu, kalau seandainya kamu tidak mau.' ucap Ki Antasena kepada Jaka.
Kalau aku boleh tahu ilmu apakah yang akan kakek turunkan ke Jaka...? Tanya Jaka.
' Pertama-tama kakek akan mengajari latihan pernapasan dan fisik, itu sebagai dasar ilmu yang akan kakek turunkan kepadamu. Karena pernapasan dan fisik adalah faktor utama dasar yang harus kamu kuasai sebelum ke tahap selanjutnya. Apakah kamu mau Jaka...? Tanya Ki Antasena. kepada Jaka.
' Baiklah kek Jaka mau '
' Hehehe.....bagus Jaka, sekarang beristirahatlah dulu besok kita mulai pelatihan dasar fisik. Siapkan mental dan semangatmu, karena latihan fisik butuh energi dan semangat yang kuat.' Ucap Ki Antasena pada Jaka. ' Dan kamarmu ada di pojok kiri pondok ini.
' Baik kek ' jawab Jaka sambil masuk ke pondok Ki Antasena untuk beristirahat. Di karenakan hari di dimensi itu sudah mulai gelap.
' Hehehe..pemuda yang menarik, terlihat aura tegas dan berwibawa terpancar dari wajahnya, aah... semoga dia bisa menyerap semua ilmu ku dengan lancar.' Ucap Ki Antasena bergumam pelan sambil masuk ke pondoknya untuk beristirahat.
Pagi yang masih sedikit gelap Jaka terbangun dari tidurnya, dia segera ke belakang. Ada pancuran yang airnya sangat jernih di tutup oleh bilik-bilik sekelilingnya. Tempat itu biasa d gunakan untuk mandi. Setelah mandi Jaka ke Pawon ( nama dapur kalo di desa ). Terlihat Ki Antasena sedang merebus umbi-umbian, Ki Antasena melirik ke Jaka seulas senyum di bibirnya sambil berkata. ' Jaka sebelum latihan fisik kamu isi dulu perutmu, nanti kalau siang kita ngambil buah-buahan di sebelah dekat kolam untuk makan siang, nanti kalau untuk makan malam kamu mau ngambil ikan di kolam atau mau berburu ayam di Padang rumput terserah kamu saja.' Ucap Ki Antasena kepada Jaka.
' Baik kek, saya sudah siap untuk mulai latihannya kek.' Ucap Jaka kepada Ki Antasena.
' Baik kalau begitu ayo kita ke halaman depan. Dan sekarang kamu pejamkan matamu jangan di buka sebelum kakek suruh ya.'
Jaka mulai berdiri dan memejamkan matanya, sementara itu Ki Antasena memegang bahu Jaka dan. wus.. Mereka menghilang dari halaman depan pondok, berpindah ke tempat seperti sebuah bukit batu.
Sekarang buka matamu Jaka. ' Jaka kemudian membuka matanya perlahan dan alangkah terkejutnya Jaka, karena dia sudah berada di tempat berbeda. Yang tadinya berada di halaman depan pondok Ki Antasena, sekarang dia sudah berada di sebuah perbukitan dengan pemandangan tebing-tebing batu dan batu-batu dari mulai yang kecil sampai yang sebesar rumah.
' Ini di mana kek...? Tanya Jaka kepada Ki Antasena.
' Ini bernama bukit Tunggul tempat kamu sekarang akan mulai berlatih Jaka. Sekarang kamu mulai pemanasan, kamu lari dari sini ke atas bukit lalu balik lagi kesini lima kali bolak-balik.' Perintah Ki Antasena dengan tegas. Jaka termenung sebentar lalu mengangguk siapa melaksanakan perintah Ki Antasena.
' Baik kek saya akan mulai.' Ucap Jaka dan mulai berlari menaiki bukit batu, pertama tidak terlalu susah karena jalan yang dia lewati tidak terlalu menanjak, tapi setelah tiga perempat jarak jalan semakin lama semakin menanjak dan terjal.
Tapi dengan penuh semangat Jaka terus berlari dengan gigih, tak terasa waktu mulai merambat siang Jaka pun sudah menyelesaikan perintah Ki Antasena, berlari naik turun bukit sebanyak lima kali. Sementara Ki Antasena menunggunya sambil duduk di sebuah batu berukuran sebesar kerbau, sambil sesekali mengelus janggut putihnya sambil tersenyum memperhatikan Jaka yang sedang menuruni bukit, mendekati Ki Antasena yang sedang duduk.
Jaka yang sudah sampai di dekat Ki Antasena lalu membungkuk hormat, terlihat keringat yang bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya, tetapi terlihat juga semangat yang tidak menurun.
Ki Antasena tersenyum sambil berucap, ' Jaka kamu istirahat dulu sebentar, di bawah bukit ini ada aliran sungai yang jernih dan ada air terjun, kamu bisa mencari ikan atau mencari buah-buahan di sekitar pinggir sungai itu. Karena di situ banyak pohon buah-buahan.' Ucap Ki Antasena kepada Jaka sambil mengelus janggut putihnya.
' Baik kek saya akan kebawah dulu sebentar, aku rasa saya mau ambil buah-buahan saja karena kalau ikan kan harus d pancing, sementara aku tidak punya pancingan.' Ucap Jaka sambil tersenyum.
Hehehehe....iya..iya, terserah kamu saja.' Ucap Ki Antasena sambil terkekeh. Nanti setelah istirahat dan makan di sana kamu kembali lagi kesini untuk melanjutkan latihan lagi, tapi nanti latihannya bukan latihan fisik lagi melainkan latihan olah nafas atau bisa di sebut pernafasan.' Ucap Ki Antasena kepada Jaka.
' Baik kek Jaka pamit dulu ke bawah untuk istirahat dan memetik beberapa buah-buahan untuk di makan, setelah selesai istirahat di bawah nanti Jaka kembali lagi ke sini melanjutkan latihan lagi.' Ucap Jaka kepada Ki Antasena dan di jawab dengan anggukan Ki Antasena sambil tersenyum. Jaka pun mulai menuruni perbukitan menuju sungai yang ada air terjunnya tersebut, sambil mau mencari buah-buahan yang bisa dia makan, dan di lanjutkan dengan istirahat sejenak sebelum kembali memulai pelatihan yang akan di jalaninya sesuai perintah ki Antasena, yang secara tidak langsung sudah menjadi gurunya.
Setelah mendapatkan buah-buahan Jaka duduk di pinggir sungai sambil melihat air terjun, sesekali pikirannya menerawang ke desanya, memikirkan keadaan ibunya.