Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Nirwana : Pewaris Pedang Perak

Pendekar Nirwana : Pewaris Pedang Perak

Lilinreiin | Bersambung
Jumlah kata
86.0K
Popular
205
Subscribe
59
Novel / Pendekar Nirwana : Pewaris Pedang Perak
Pendekar Nirwana : Pewaris Pedang Perak

Pendekar Nirwana : Pewaris Pedang Perak

Lilinreiin| Bersambung
Jumlah Kata
86.0K
Popular
205
Subscribe
59
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangBalas DendamDewa Perang
Kaivan Byakta adalah yatim piatu yang diasuh oleh kakek tua, pendekar tingkat F dalam faksinya. Energi inti terbatas yang ia miliki membuat Kaivan harus berjuang untuk bertahan hidup, tapi dia bergantung pada satu kekuatannya yaitu Kutukan. Sampai perjuangannya semakin sulit saat Kitab Takdir yang diramalkan 800 tahun lalu benar-benar terjadi. Sosok Pemegang Takdir yang akan merubah tatanan tiga alam sekaligus, membuat alam kahyangan harus mengerahkan kuasa Bathara untuk kemungkinan terburuk. Sementara di alam fana, Kaivan ditugaskan dalam sebuah tim untuk membasmi siluman yang keluar dari portal gelap. Namun, sebuah insiden menyeret Kaivan pada rahasia gelap yang disembunyikan juga identitas orang-orang di sekitarnya. Dan satu pertarungan membuatnya harus menghadapi takdir baru, dari sini Kaivan berupaya mencari tahu tentang masa lalunya dan alasan Kehendak Nirwana memilihnya!
Kabut Hitam

Surai kain keemasan yang menutupi setiap sosok di baliknya tertiup oleh angin yang tiba-tiba muncul. Disertai suara kuno yang mampu membuat semuanya terdiam. Tempat ini adalah sebuah balai nirwana. Tempat di mana para petinggi kahyangan dan prabu nirwana mengadakan sebuah pertemuan.

Balai nirwana sendiri berbentuk melingkar, dengan sekat-sekat yang ditutupi oleh kain keemasan jatuh dari atap tak berujung. Di sanalah Tetua Agung menampakkan wujudnya, meskipun tidak ada yang bisa melihat bagaimana rupa mereka.

Sedangkan para petinggi kahyangan yang jumlahnya ada tiga orang, duduk bersila di bawah. Tangan mereka bersandar pada sandaran berlapis emas. Mahkota permata yang menghias ikat kepalanya menjadi penentu level mereka.

"Delapan ratus tahun sudah setelah ramalan takdir dibacakan. Kita tinggal menunggu apakah dia layak atau tidak. Apa yang telah dibacakan tidak ada yang bisa mengubahnya."

Dia adalah Prabu Nirwana. Wajahnya yang tertutup kain keemasan itu bahkan masih bisa membuat tiga petinggi kahyangan tidak berani mendongakkan kepala. Mereka hanya bisa mengepal tangan.

Sementara di sisi sang Prabu, ada seseorang dengan tangan sedikit keriput. Dia melambaikan kipas pelan di depan dadanya. "Takdir telah ditentukan! Hujan merah akan membasahi tiga alam!" katanya dengan suara berat yang bergema.

Setelah mengatakan itu, suara lelaki ini lenyap bersamaan bayangan tubuhnya di balik tirai kain. Hanya dia seorang yang bisa keluar-masuk balai nirwana sesukanya. Pemegang kuasa tertinggi bahkan di atas Prabu Nirwana sendiri, dialah Tetua Agung.

"Yang Mulia, bagaimana jika kelangsungan hidup alam kahyangan dan alam fana semakin di ujung tanduk?! Apa kita akan tetap diam melihat dua alam sekaligus jatuh dalam kerusakan?" tanya salah satu petinggi kahyangan. Dia berdiri dari duduknya.

"Lancang!" Prabu mengayunkan tangan ke depan, membuat angin yang cukup besar hingga hampir membuka tirai di depannya. "Kalian cukup diam selama Tetua Agung belum bertindak!"

Ketiga petinggi kahyangan segera berdiri tegap, lalu membungkukkan tubuh sebagai tanda menerima perintah dari Prabu Nirwana. Setelah itu, Prabu beserta empat kaki tangannya lenyap seketika.

Di sisi lain, dunia fana. Tempat manusia dan para pendekar yang berlomba supaya segera naik ke kahyangan. Menjadi eksistensi tersendiri bagi para pendekar hingga naik, dan mendapatkan gelar sebagai petinggi kahyangan.

Faksi Setra, faksi tertinggi dari dunia persilatan dan telah melahirkan pendekar berbakat sejak empat tahun terakhir. Faksi yang bersimbol Rajawali itu ada di atas gunung perbatasan antara kota mati dengan kabupaten depan.

Salah satu dari lima faksi terbesar yang mendiami daerah rawan iblis dan kekuatan hitam di kota mati. Termasuk kediaman master Naksatra yang bertugas melindungi kabupaten depan dari serangan iblis serta siluman.

Mereka semua sibuk melatih aliran energi inti dan memusatkannya. Ada yang bersila, tidak jarang dari mereka berlatih pedang.

Akan tetapi, berbeda dengan seseorang yang ada di dalam ruang baca kediaman Setra. Dia fokus membuka buku-buku kuno di rak buku yang menjulang itu..

Pakaiannya sedikit lusuh berwarna biru tua. Sesekali jubah lelaki ini bergoyang seirama dia melangkah. Dia membaca setiap detail tulisan di dalam buku.

Berharap ada yang menarik perhatiannya. Ini bukan pertama kalinya bagi Kaivan Byakta mencuri kesempatan ketika dia disuruh membersihkan area baca.

Lelaki baru menginjak 18 tahun dengan rambut hitam legam itu mengayunkan tangannya ke atas, sontak beberapa buku di rak barisan atas turun dengan sendirinya. Ditangkap oleh kedua tangan Kaivan. Dia duduk bersandar pada rak buku, membuka sampul buku berwarna cokelat untuk dilihat isinya. Kaivan menautkan kedua alis.

"Masih sama, tidak ada satu buku pun yang membahas tentang kenaikan pendekar ke alam kahyangan," gumamnya kemudian tersenyum miring.

“Rupanya petinggi alam kahyangan dan para pendekar itu memang benar berbohong. Jika saja kenaikan manusia fana seperti mereka ke alam immortal benar adanya, kenapa juga mereka masih ada di sini."

Kaivan mendengus pelan, dia berdiri lalu mengangkat tangannya untuk melayangkan buku-buku tadi pada tempat asal. Dia ambil kemoceng yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya.

Pemuda itu kemudian keluar ruangan, salah satu tangannya menenteng kaleng berisi air yang telah keruh. Tepat setelah kaki Kaivan berpijak pada lantai kayu depan ambang pintu. Seseorang menjegal kakinya hingga dia terjatuh.

"Ha ha ha! Dasar lemah! Pecundang, kau ini cuma jadi sampah faksi Setra! Lebih baik cepatlah enyah!" Dia menendang tubuh Kaivan yang masih tersungkur.

Diikuti oleh dua orang lainnya. Kini, Kaivan dikepung oleh tiga orang yang berbadan lebih besar dari tubuh ringkihnya. Keributan ini berhasil menyita perhatian murid-murid faksi Setra untuk mendekat.

Akan tetapi, tidak ada yang mau menolong. Mereka justru menyoraki, seolah bahagia melihat penderitaan Kaivan. Sampai salah satu dari tiga orang yang menendang Kaivan, mengucapkan mantra pelan.

Dia menunjuk ke arah air keruh yang telah tumpah dari kaleng tadi. Mengangkat tangannya kemudian, seketika itu juga genangan air kembali menyatu dan terangkat tinggi. Terbang hingga ke atas tubuh Kaivan.

Byur!

Tawa cekikikan menggelegar seirama dengan basahnya seluruh tubuh Kaivan. Mereka sungguh puas karena telah berhasil membuat Kaivan kalah telak seperti ini.

Bagi mereka, murid faksi Setra. Kaivan adalah benalu, seorang sampah yang terbuang. Tidak memiliki asal-usul, bahkan kedua orang tua Kaivan saja tidak pernah diketahui identitasnya.

Kaivan sendiri diasuh oleh seorang pendekar tingkat F, tingkat paling rendah di faksi Setra sejak usianya 4 tahun. Ketika Kalvan ditemukan di dekat sungai kota mati. Sejak saat itulah Kaivan Byakta dianggap sebagai jelmaan siluman.

Akhirnya dia tidak diajarkan ilmu bela diri maupun pemusatan energi inti karena hampir seluruh orang kediaman Setra membencinya. Syukurlah, pendekar tua yang mengasuh Kaivan mengajarkan secara diam-diam. Walaupun Kaivan selalu diwanti-wanti untuk tidak menampakkan kekuatannya.

Kaivan mengepalkan tangan erat, dia memperbaiki posisi dan berniat untuk menyambar kaleng air miliknya. Namun, belum merasa puas. Mereka kembali menjalankan aksi, dia mengangkat kaleng itu menjauh dengan energi inti.

Menjatuhkan tepat di atas kepala Kaivan, alhasil kepala Kaivan tertutupi oleh kaleng air. Dia mengusap jubah hijau miliknya lalu menengadah. Melihat langit berwarna sedikit kelabu di atas sana.

"Jika saja aku bisa segera menguasai bait bulan dan menuju energi inti abadi. Aku akan segera naik ke sana, bosan di sini terus-terusan melihat sampah seperti dia."

Tatapan mereka tertuju pada langit. Hampir semuanya menyeringai, di dalam hati mereka selalu mendambakan kenaikan menjadi master dan menuju alam kahyangan untuk bersanding dengan para Bathara.

Dalam dunia pendekar sendiri, terbagi menjadi enam tingkat. Ketika mereka berhasil menyelesaikan tingkat terakhir dan memasuki ranah bathara, para pendekar terpilih memiliki kesempatan naik ke kahyangan.

Sedangkan Kaivan Byakta hanya bisa pasrah, memiliki keinginan untuk melawan penindasan yang selama ini la terima pun lelaki Itu tidak mampu. Meskipun dia diajari pemusatan energi inti, tetapi Kaivan terlahir dengan energi inti yang terbatas.

Bahkan, bisa dibilang terlalu lemah. Dia hanya mampu menggunakan aliran energi inti untuk kegiatan yang terbilang ringan. Seperti mengambil dan menaruh kembali buku persis saat di ruang baca tadi.

"Apa yang kalian lakukan?" Suaranya terdengar dari ujung sana. Bangunan kayu di mana kelas para murid faksi Setra diadakan.

Jubah lelaki itu putih bersih, rambutnya menjuntai panjang dengan jenggot yang panjang pula. Ada lencana batu hijau yang menggantung di depan jubahnya. Dia adalah guru Setra Yuda, pendekar paling dihormati sekaligus ketua faksi Setra.

Semuanya mengunci pandangan melihat Setra Yuda, mereka menunduk dengan cepat. Tiga orang yang telah menendang Kaivan tadi juga sama, terlalu takut untuk menjawab pertanyaan dari guru besar.

Terlebih, Setra Yuda terlalu berbelas kasih pada Kaivan. Pria itu memiliki hubungan persahabatan dengan kakek tua yang telah mengasuh Kaivan cukup erat. Persahabatan antara Setra Yuda dan Chaka Brawita yang selama ini membantu Kaivan keluar dari penindasan teman-temannya.

"Guru Besar!" salam mereka seraya menunduk dan menyatukan kedua tangan di depan dada.

Beberapa detik setelahnya, Setra Yuda melayang dari balkon kelas menuju depan ruang baca. Seolah tubuh besar nan tinggi lelaki ini amat ringan hingga tertiup angin dan melayang di udara.

"Kalian semua kembali ke balai kelas! Tulis kitab Anala lima ratus kali!" titah Setra Yuda menatap tajam seluruh anak di depannya.

Akan tetapi, belum sempat mereka semua pergi dan Kaivan masih sibuk merapikan pakaiannya. Suara gemuruh di atas sana terdengar memekakkan telinga. Udara panas tiba-tiba meningkat drastis.

Langit mendadak gelap, disertai turunnya kabut hitam yang entah dari mana asalnya. Membuat gelap pandangan seluruh alam fana. Merebut paksa ketenangan manusia, tidak hanya manusia biasa. Melainkan para pendekar juga ikut bergidik ngeri.

Setra Yuda membelalakkan mata, dia membentangkan tangan ke kanan dan terbentuklah sebuah perisai raksasa di tanah. Sihir pelindung yang menjauhkan mereka dari tebalnya kabut hitam.

"Apa ini sudah saatnya? Ramalan delapan ratus tahun lalu benar-benar akan terjadi," gumamnya sedikit gusar.

Lanjut membaca
Lanjut membaca