

Raka sudah terbiasa berjalan dengan kepala tertunduk.
Bukan karena ia sopan, melainkan karena menatap lurus ke depan hanya akan memberinya masalah. Tatapan orang-orang di sekolah itu seperti lampu sorot—terlalu terang, terlalu kejam. Setiap langkahnya di lorong sekolah selalu diiringi bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar pelan.
“Eh, itu dia.”
“Yang kayak bayangan, kan?”
“Serius, dia tuh ada atau nggak sih?”
Raka mempercepat langkah. Tas ranselnya terasa berat, bukan karena buku-buku di dalamnya, tapi karena hari demi hari ia memikul hal yang sama: rasa ingin menghilang.
Berat itu bukan fisik, tapi akumulasi dari tatapan kosong guru, tawa yang sengaja dikeraskan di belakangnya, dan keheningan meja makan di rumah yang tak pernah diisi oleh pertanyaan, “Apa kabarmu, Nak?” Di rumah, ibunya jarang bicara. Kalau pun bicara, isinya cuma soal tagihan listrik atau kenapa Raka belum cuci piring. Tidak pernah soal perasaannya. Jadi, beban itu bukan di punggung—tapi di dada, seperti ada batu yang nempel di paru-paru.
Di kelas, namanya jarang dipanggil guru. Dan jika dipanggil, itu selalu disertai jeda canggung—seolah keberadaannya sendiri adalah kesalahan administrasi, nama yang nyempil di daftar absen tanpa alasan.
Di bangku paling belakang, dekat jendela yang kacanya retak, Raka duduk diam. Kadang ia menghitung retakan itu—satu, dua, tiga—sampai suara guru jadi dengungan jauh.
Ia tidak melawan. Tidak pernah.
Bukan karena ia lemah. Tapi karena setiap kali ia mencoba membuka mulut, kata-kata itu seperti membusuk sebelum sempat keluar—layu oleh rasa malu, takut, atau kelelahan batin yang terlalu dalam.
Ia tahu persis apa yang bakal terjadi kalau ia protes: tawa makin keras, dorongan di punggung, buku dilempar ke genangan air, sepatu disembunyikan di tempat sampah. Sudah terjadi berkali-kali. Jadi, lebih baik diam. Diam itu cara bertahan.
Hari itu tidak berbeda.
Saat bel istirahat berbunyi, seseorang menendang kursinya dari belakang. Raka hampir terjatuh. Tawa pecah seperti hujan batu.
“Eh, maaf. Kupikir itu bangku kosong.”
Raka bangkit perlahan, menunduk, merapikan buku-bukunya yang berserakan. Tangannya gemetar, tapi ia menahan napas. Jangan bereaksi. Itu satu-satunya cara bertahan.
Namun hari itu, dadanya terasa sesak. Lebih dari biasanya.
Seolah udara di paru-parunya diganti dengan pasir. Napasnya pendek-pendek, seperti habis lari tapi tidak bergerak sama sekali. Perutnya mual. Ia ingin muntah, tapi menahannya. Di toilet, mungkin. Tapi toilet sekolah juga tempat mereka suka nongkrong.
Saat jam terakhir berakhir, Raka tidak langsung pulang. Kakinya melangkah tanpa tujuan, melewati gerbang sekolah, menjauh dari jalan utama yang ramai oleh teman-teman yang berlarian, tertawa, saling menyapa.
Ia tidak mau pulang. Di rumah, dinding-dindingnya terasa seperti menatap balik. Dan di sekolah, setidaknya ia bisa berpura-pura sibuk. Tapi sekarang, ia butuh tempat yang benar-benar sepi. Tempat yang bahkan tidak peduli kalau ia ada atau tidak.
Langit mendung. Kota mulai gelap lebih cepat dari seharusnya.
Ia berjalan ke arah yang bahkan orang dewasa enggan datangi—sebuah kawasan terbengkalai di pinggir kota. Tempat itu dikenal dengan banyak nama: tanah terlarang, area kramat, gerbang mati. Tidak ada papan peringatan resmi. Hanya cerita. Dan ketakutan.
Raka berhenti di depan gerbang besi tua yang berkarat.
Gerbang itu miring, catnya mengelupas, dan rantainya tergantung longgar. Di sekitarnya, semak-semak tinggi menutupi jalan setapak. Tidak ada suara motor, tidak ada orang lewat. Bahkan anjing liar pun tidak mau masuk.
“Kalau aku hilang… mungkin tidak ada yang sadar,” gumamnya pelan.
Ia melangkah masuk.
Setiap langkah terasa seperti menembus lapisan tipis antara sadar dan mimpi.
Suara kota benar-benar hilang. Yang tersisa hanya desau angin di antara pepohonan dan bunyi sepatunya menginjak daun kering. Tidak ada suara lain. Tidak ada orang. Rasanya seperti masuk ke tempat yang sudah lama dilupakan.
Bayangannya di tanah tampak aneh—lebih panjang, lebih gelap dari seharusnya.
Bayangannya... entah kenapa, tidak mengikuti gerak kakinya dengan tepat. Saat ia berhenti, bayangannya masih bergerak sedikit. Ia mengucek matanya. Capek, mungkin. Atau memang tempat ini memang aneh.
Di tengah area itu, ia melihat sesuatu.
Seorang wanita.
Terikat.
Raka membeku.
Wanita itu bersandar pada batang pohon tua.
yang akarnya menjalar seperti cakar raksasa. Rambutnya panjang, hitam, basah oleh sesuatu yang bukan hujan—mungkin embun waktu, atau air mata yang tak sempat jatuh. Matanya tertutup, wajahnya pucat, namun… indah. Terlalu indah untuk tempat seperti ini. Seolah keindahannya adalah satu-satunya cahaya di tengah kegelapan yang membusuk.
Rambutnya basah, menempel di wajah pucatnya. Matanya tertutup rapat. Lengan dan pergelangannya diikat dengan tali hitam yang tampak seperti akar hidup. Raka tidak tahu apakah wanita itu masih bernapas—tapi dadanya naik-turun pelan. Masih hidup.
Di sekelilingnya, bayangan bergerak. Tidak berbentuk jelas.
Bayangan-bayangan itu merayap di tanah, kadang naik ke batang pohon, lalu turun lagi. Tidak ada suara, tapi Raka merasa mereka... menatapnya.
“Pergi…”
Suara itu lirih, tapi jelas.
Raka menelan ludah. Nalurinya berteriak untuk lari. Tapi kakinya tidak bergerak.
Ada sesuatu yang menahannya. Bukan rasa takut—melainkan kemarahan yang aneh, hangat, dan asing. Melihat wanita itu diperlakukan seperti… dirinya. Ia tiba-tiba ingat wajah-wajah di kelas yang tertawa saat bukunya jatuh. Wajah-wajah yang selalu membuatnya merasa tidak pantas ada. Dan sekarang, wanita ini—sendirian, terikat, ditinggalkan. Sama seperti dia.
Di tanah dekat kakinya, sesuatu berkilat. Sebuah belati tua.
Belati itu berkarat, tapi ujungnya masih tajam. Entah siapa yang meninggalkannya. Tapi Raka merasa... seperti benda itu memang menunggunya.
Bayangan-bayangan itu mendesis.
“Jangan,” bisik mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka mengangkat kepala.
Ia melangkah mendekat. Detak jantungnya kencang, tapi tangannya tidak gemetar lagi.
Saat belati menyentuh tali hitam yang mengikat wanita itu—
Krak...
Rantai itu retak. Bayangan menjerit, melarikan diri ke dalam tanah seperti tikus terbakar. Angin berputar liar, mengangkat daun-daun kering dan debu masa lalu. Cahaya gelap—bukan hitam, tapi ungu kebiruan—menyembur dari tubuh wanita itu, menyapu segala sesuatu di sekitarnya.
Tali itu putus begitu saja, seperti kertas basah. Bayangan-bayangan di sekitar langsung pergi, menghilang ke dalam tanah. Udara bergetar sebentar, lalu tenang. Terlalu tenang.
Raka terlempar ke belakang oleh dorongan tak terlihat.
Ketika ia membuka mata, segalanya terasa... beda.
Warna di sekitarnya berubah. Daun-daun tidak lagi hijau, tapi keunguan. Langit senja berubah jadi oranye gelap, seperti api yang hampir padam. Dan bayangannya—yang selama ini selalu mengikuti—kini berdiri sendiri, terpisah dari tubuhnya, menatapnya dengan mata yang tidak punya pupil.
Wanita itu berdiri. Matanya terbuka.
Matanya hitam pekat, tapi bukan karena warna—karena tidak ada putihnya sama sekali. Tapi anehnya, Raka tidak merasa takut.
“Namamu?” tanyanya.
Raka ingin jawab. Tapi suaranya macet.
Yang keluar hanya: “Raka.”
Wanita itu tersenyum.
Senyumnya kecil, tapi cukup membuat Raka merasa... dikenali. Bukan sebagai bayangan. Tapi sebagai Raka.
“Kalau begitu,” katanya, “ikut aku. Dunia ini tidak akan membiarkanmu pulang.”
Gerbang di belakang mereka menutup perlahan—tanpa suara, tanpa angin.
Dan bayangan Raka—yang selama ini tidak pernah dimiliki siapa pun—akhirnya menemukan tuannya.
Raka menoleh ke belakang. Tidak ada jalan pulang. Hanya hutan yang semakin gelap, dan langkah kaki wanita itu yang tidak menimbulkan suara. Ia ragu sebentar. Tapi lalu mengingat wajah-wajah di sekolah, keheningan di rumah, dan rasa seperti tidak pernah benar-benar ada.
Mungkin... menghilang bukan akhir.
Mungkin, ini awal dari sesuatu yang akhirnya membiarkannya pergi.
Ia mengikuti langkahnya.
Tanpa menoleh lagi.