

Ardi, seorang supir muda berusia dua puluh lima tahun, baru saja selesai membersihkan mobil majikannya, dan berjalan ke dalam rumah untuk menyimpan kunci mobil.
Ia melihat majikannya tergesa-gesa melangkah naik tangga ke lantai atas. Namun di ujung tangga kayu yang berkilau, majikannya yang bernama Ratna Antika Monata, janda cantik berusia tiga puluh tahun, kehilangan keseimbangan. Tumitnya terpeleset, tubuhnya melayang ke belakang.
"Ardi tolong...!"
Dengan gerakan cepat, Ardi melesat menyelamatkan majikannya. Ia meraih tubuh majikannya sebelum sempat menghantam lantai. Pelukan itu begitu erat, seolah ia mempertaruhkan dirinya sendiri. Ardi menatap wajah majikannya yang pucat, nafasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang.
Jemari Ardi tanpa sengaja menyentuh bagian dada Ratna, yang terasa hangat, empuk dan kenyal. Sekejap, ada aliran listrik aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Getaran yang sudah lama padam di hati Ratna, bangkit kembali, membangunkan rasa yang selama ini ia kubur dalam kesunyian seorang janda.
Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan hanya karena ketakutan jatuh, melainkan karena kehangatan yang tiba-tiba menyusup. Ardi sendiri terpaku, menyadari kedekatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Suasana hening, hanya detak jantung mereka berdua yang terdengar. Tangga itu, yang semula menjadi ancaman, kini berubah menjadi saksi awal sebuah gairah yang tak terduga.
Ardi merasakan tubuhnya bergetar, bukan karena takut dirinya dipecat, melainkan karena keberanian yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Meski ragu, ia menatap majikannya dengan sorot mata yang tak lagi bisa disembunyikan. Sorot mata seorang lelaki muda yang haus akan cinta, namun juga penuh tatapan kasih sayang.
Pelukan itu tidak segera ia lepaskan. Jemarinya masih bertumpu di atas bukit kembar milik Ratna, seolah waktu berhenti di titik itu. Nafas Ratna tersengal, namun tatapannya justru membalas dengan kelembutan yang mengejutkan. Ada cahaya cinta yang lama padam, kini menyala kembali di matanya.
Ardi merasakan gejolak dalam dadanya, gairah seorang bujangan yang selama ini ia tekan, kini seakan meledak. Ratna pun tidak menghindar. Tatapan mereka bertaut, membentuk jembatan tak kasat mata yang menghubungkan dua jiwa yang sama-sama kesepian.
Hening menyelimuti ruang tengah. Hanya detak jantung mereka yang berpacu, semakin cepat, semakin dekat. Ratna akhirnya berbisik lirih, suaranya bergetar namun penuh kehangatan.
"Ardi… kau telah menyelamatkanku… tapi mengapa aku merasa hangat dalam pelukanmu?" Bisik Ratna lirih dengan nada bertanya.
Ardi terdiam, namun sorot matanya menjawab lebih dari seribu kata.
Ardi masih memeluk Ratna, tubuh mereka begitu dekat hingga setiap helaan napas terasa saling bersentuhan. Jemarinya tetap bertumpu di dada majikannya. Meski hatinya bergejolak, ia tak sanggup melepaskannya.
Ratna menatap Ardi dalam-dalam, mata yang biasanya dingin kini berkilau hangat. Ada cinta yang terpantul, cinta yang tak pernah ia bayangkan akan muncul dari seorang supir muda.
"Ardi…! Mengapa pelukanmu, membuatku merasa hidup kembali?" Tanya majikannya lirih dengan suara bergetar.
Ardi menelan ludah, jantungnya berdentum keras. Ia tahu batasan itu ada, batas antara supir dan majikan, antara bujangan yang sederhana dengan janda muda yang kaya raya. Namun keberanian yang lahir dari momen genting, membuatnya tak bisa mundur.
"Bu… aku… aku tak bisa berpura-pura lagi. Tatapanmu… membuatku ingin melindungi, sekaligus… mencintaimu," ucap Ardi dengan suara bergetar, kata-katanya terputus-putus, namun penuh ketulusan.
Ratna terdiam, hatinya berperang, antara menerima dan menolaknya. Ia menyadari, jika ia menerima cinta supirnya yang tampan dan gagah itu, dunia luar akan mencibir, bahkan akan mentertawakannya. Namun di dalam pelukan Ardi, ia merasakan kehangatan yang tak pernah dirinya temukan sejak bercerai dengan suaminya.
"Kita… tidak seharusnya begini," katanya, jemarinya justru menggenggam lengan Ardi lebih erat. "Tapi... mengapa aku ingin selamanya dalam pelukanmu."
Hening kembali menyelimuti ruang tengah. Dua jiwa itu terjebak dalam dilema, antara cinta yang mulai tumbuh, dan batas sosial yang mengikat.
Secara perlahan, Ardi menundukkan kepalanya. Nafasnya bergetar, seolah setiap detik adalah ujian keberanian. Ratna Antika Monata, dengan mata terpejam, membiarkan dirinya larut dalam momen yang tak pernah ia bayangkan. Bibir mereka akhirnya bertemu, hangat, lembut, namun penuh gejolak yang membakar jiwa.
Ciuman pertama bukan sekadar sentuhan fisik. Ada kerinduan yang lama terkubur dalam hati seorang janda muda, kini bangkit kembali. Ada keberanian seorang bujangan yang selama ini hanya bisa memendam rasa, kini meledak dalam pelukan.
Ardi merasakan dunia seakan berhenti. Jemarinya masih bertumpu di dada Ratna, dan setiap detak jantung wanita itu seolah menyatu dengan detaknya sendiri. Perlahan jemarinya bergerak lembut, menelusuri bukit kembar.
Aakkhh...!
Ratna merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar gairah, ada secercah kehidupan baru yang menyelinap di balik luka masa lalu.
Namun di balik kehangatannya itu, bayangan konflik di dalam diri majikannya mulai muncul. Majikannya seorang janda terpandang, ia harus menjaga kehormatannya. Sedangkan Ardi hanyalah supir muda yang sederhana, yang berani menembus batas. Dunia luar akan mencibir dan menghina majikannya.
Ciuman pertama perlahan berakhir, namun tatapan mereka tetap bertaut. Ratna membuka mata, menatap Ardi dengan campuran cinta dan kegelisahan.
"Ardi…! Meski apa yang baru saja kita lakukan… bisa menghancurkan kehormatan ku… tapi mengapa aku merasa tak menyesal?"
Ardi menatapnya dengan penuh keyakinan, meski hatinya bergetar.
"Bu... aku tak peduli apa kata orang. Yang ada dalam diriku… aku mencintaimu."
Ardi tidak melepaskan pelukannya. Bibir mereka kembali bersentuhan, dan setiap detik terasa seperti api yang menyulut jiwa. Ratna merasakan aliran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, bukan sekadar kenikmatan, melainkan kebangkitan rasa yang lama terkubur.
Jiwa mereka sama-sama bergejolak. Ardi, dengan keberanian seorang bujangan, merasakan dirinya seolah menemukan arti hidup yang baru. Ratna, yang selama ini tenggelam dalam kesepian, kini merasakan getaran cinta yang membuatnya kembali percaya bahwa ia masih bisa dicintai.
Sensasi itu bukan hanya fisik, melainkan batiniah. Ada kehangatan yang mengalir, ada rasa aman yang tumbuh, ada cinta yang perlahan menembus dinding kesunyian.
Tatapan mereka bertemu lagi setelah ciuman itu mereda. Ratna berbisik lirih, seolah takut kata-katanya menghilang dalam udara.
"Ardi… apa yang kita rasakan ini… terlalu indah untuk kuingkari."
Ardi menatapnya dengan penuh cinta, meski hatinya bergetar:
"Bu... biarlah dunia mentertawakan kita. Aku hanya ingin menjaga dan mencintaimu."
Malam itu, lampu ruang tengah menyala redup, menciptakan bayangan lembut di dinding. Ardi dan Ratna duduk berdampingan di sofa, jarak di antara mereka begitu dekat, hingga kehangatan tubuh terasa saling berpindah.
Ardi memberanikan diri membuka suara, suaranya bergetar penuh ketulusan.
"Bu... sejak pertama kali aku bekerja di sini, aku sudah menyimpan rasa pada Ibu. Meski aku tahu hanya seorang supir, tapi hatiku tak bisa berbohong. Aku… aku mencintaimu...!" Suara Ardi bergetar namun dalam.
Ratna terdiam, matanya berkaca-kaca. Kata-kata itu menembus dinding kesepiannya, dinding yang selama ini ia bangun setelah perceraian. Kesepian sering membuatnya gelisah, membuat malam terasa panjang dan dingin. Namun kini, ucapan Ardi seperti api kecil yang menyulut kembali gairah jiwanya.
"Ardi… aku tak pernah menyangka seorang lelaki muda sepertimu, bisa membuatku merasa hidup lagi. Setelah aku bercerai, aku pikir tak ada lagi yang bisa mengisi kekosongan ini. Tapi… pelukan, ciuman, sentuhan dan ucapanmu barusan… membuatku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang."
Tatapan mereka bertemu, penuh cinta dan kerinduan. Hati Ratna bergetar, bukan hanya karena pengakuan Ardi, tetapi karena ia sendiri merasakan hal yang sama.
Ardi menggenggam tangan Ratna, jemarinya hangat dan penuh kasih sayang.
"Aku tak ingin hanya menjadi supir bagimu. Aku ingin menjadi seseorang yang menjaga, mencintai dan membuatmu bahagia."
Ratna tersenyum tipis, air mata menetes di pipinya.
"Ardi… mungkin dunia akan menertawakan kita. Tapi malam ini… aku hanya ingin jujur. Aku pun… mencintaimu."
Sofa ruang tengah menjadi saksi bisu. Ardi duduk begitu dekat dengan Ratna, jemarinya masih menggenggam tangan majikannya dengan erat. Hangatnya genggaman itu membuat Ratna merasa aman, seolah semua kesepian yang selama ini menghantui lenyap begitu saja.
Ardi menatap Ratna dengan mata yang berkilau, penuh keberanian dan ketulusan.
"Aku tahu, aku hanya seorang supir yang tidak memiliki harta, tapi aku memiliki api cinta. Setiap kali melihatmu, aku merasa hidupku punya arti. Aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa cinta pada Ibu. Aku sangat mencintaimu, lebih dari sekadar hormat seorang bawahan."
Ratna terdiam, dadanya bergemuruh. Kata-kata itu menembus dinding hatinya yang rapuh. Sejak hidup menyendiri, ia sering merasa kosong, gelisah dan tak berdaya menghadapi malam-malam panjang. Kini, ucapan Ardi seakan meniupkan kehidupan baru ke dalam jiwanya.
"Ardi…, aku pun merasakan hal yang sama. Kesepian ini… terlalu lama mengikatku. Tapi kau datang dengan keberanianmu, dengan tatapanmu… dan aku merasa kembali menjadi seorang wanita yang dicintai."
Ardi mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari Ratna. Tatapan mereka bertaut, penuh gairah dan cinta yang tak lagi bisa disangkal. Ratna menutup matanya kembali, membiarkan kehangatan itu menyusup lebih dalam.
Pelukan mereka semakin erat. Jiwa yang lama terbelenggu kini bebas, mengalirkan sensasi yang bukan sekadar kenikmatan, melainkan kebangkitan cinta. Malam itu, mereka tidak hanya berbagi pelukan dan ciuman, tetapi juga berbagi luka, harapan dan janji yang tak terucap.
"Ardi… jangan lepaskan aku. Aku ingin kau ada di sisiku… bukan hanya malam ini, tapi selamanya."
"Aku berjanji, Bu. Aku akan selalu ada, apapun yang terjadi," balas Ardi dengan suara bergetar.
Bersambung.........