

Hawa dingin begitu menusuk. Mira mengejabkan matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. Sakit dan ngilu dia rasakan diseluruh tubuh indahnya. Terutama dibagian bawah. Entah berapa kali mereka menggagahi Mira malam itu, seolah tak pernah puas menumpahkan cairan kental mereka di setiap lekuk tubuh Mira.
Terutama dua orangi suruhan Jhon, mereka seperti binatang buas yang tak henti hentinya mempermainkan tubuhnya dengan kasar. Mira ingin menangis, ingin menangis dan menjerit sepuasnya untuk meluapkan segala amarah dan dendam dalam. hatinya. Namun dia sadar, itu bukan jalan keluar.
Dia berusaha bangkit, entah berapa lama dia pingsan. Gaun hitamnya yang mahal terkoyak, ceceran sprem* kering menempel dimana mana. Bau khas cairan nafsu itu membuat Mira mual dan ingin muntah. Malam jahanam itu membuat dirinya seperti wanita yang lebih rendah dari pelacur.
Tertatih dia bangkit, tangannya gemetar meraih bantalan tangan sofa yang menjadi saksi bisu tragedi yang menimpa dirinya. Entah kekuatan dan firasat darimana, dia mendongak keatas.
Dan alangkah terkejutnya melihat Raymond, lelaki kecil belahan hatinya bersama Ben duduk lemas bersandar kan pegangan tangga. Matanya berkaca kaca menahan tangis yang entah sejak kapan dia duduk mematung disana.
Mira mencoba tersenyum kepada bocah ganteng diatas, dan memberikan kode agar dia turun membantunya berdiri.
Segera Raymond kecil berlari menuruni tangga, dan pecah suara tangisnya lalu dengan erat memeluk tubuh mamanya.
Mira membelai rambut anak kecil itu dengan lembut.
"Jangan menangis sayang, Ray cowok yang kuat kan? Ga boleh nangis ya." Hibur Mira yang dadanya tiba tiba merasa sesak sedang sudut matanya menahan sesuatu agar tak keluar.
"Bantu mama ke kamar sayang. " Ucap Mira lembut.
Ray mengangguk dan menggandeng erat jemari mamanya itu untuk kuat terus berjalan menuju kamar. Suara heels yang masih terpakai dikaki Mira membuat gema yang penuh dengan kesedihan dalam. rumah yang megah itu.
Ditengah guyuran shower, Mira hanya bisa menangis tertahan. Dia berulang kali menggosok tubuhnya dengan busa sabun seolah ingin menghapus jejak jamahan tangan dan cairan durjana yang menempel ditubuhnya.
Tubuh telanja** nya terkulai dilantai kamar mandi. Guyuran air hangat dari shower seolah tak bisa menghangatkan hatinya yang kini menjadi dingin sedingis es di Kutub Utara.
Hampir setengah jam Mira membasuh dirinya dikamar mandi. Meratapi, menagisi dan seolah merasa bersalah kepada mendiang suaminya atas kejadian tadi malam.
Mira melihat Ray kecil yang meringkuk didalam bad cover kamarnya. Hanya dia yang menjadi kekuatan internal Mira untuk membalas semua perlakuan. arema malam ini.
Lembut dia membelai kepala putra semata wayangnya utu dan menciumnya.
"Mereka jahat ma. " Ucap Ray yang ternyata juga tak bisa memejamkan matanya.
"Ya sayang, mereka jahat, mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal. Ingat lah Ray, jika mama tak bisa membalas mereka, maka kau lakukan hal itu." Ucap Mira yang kini tak kuasa menahan butiran air mata yang menetes dan membasahi pipi mulusnya.
"Kalau Ray sudah besar, Ray akan membalas mereka ma. Mama tenang saja Ray akan tepati janji Ray. " Kalimat yang keluar dari mulut Ray seolah bukan kalimat yang biasa diucapkan oleh anak usia lima tahun.
Mira seketika merasa bersalah memberikan beban yang begitu berat pada seorang bocah. Masa depan Ray sangat lah panjang, tak pantas baginya untuk menumbuhkan dendam dalam hatinya. Tapi saat ini hanya Ray yang bisa diajak bicara. Jiwa Mira terbang entah kemana.
Dendam yang begitu ingin dipupuk dengan subur dalam hatinya membawanya memikirkan banyak cara untuk melampiaskan semua kepada orang orang yang tak tahu diri itu.
Dada Mira terasa sesak, dunia seolah berakhir baginya. Kalau saja tidak ada Ray kecil disisinya tentu dia akan menjerit keras dan menangis sampai airmatanya kering. Namun demi melihat sang buah hati tumbuh, dia memutuskan untuk kuat. Membuang harga diri, mengikuti permainan Jhon, Rangga dan Roman. Membuat mereka menerima ganjaran yang setimpal, bukan, bukan lagi setimpal, tapi berkali kali lipat lebih menyakitkan.
Mira merebahkan tubuh sambil memeluk badan Ray kecil. Mencobai merangkai lagi serpihan serpihan kekuatan yang sudah berkeping-keping.
****
"Rayyyyyy!!!! Udah siang!!! Bangunnnnnn!!! "
Sebuah teriakan menggelegar menggema di kamar Ray. Hanya mendengus, Ray menarik bad covernya makin rapat.
Lalu dia merasakan tubuhnya di goyang, makin lama makin keras.
"Bocah malasssss, ayo bangun! Telat berangkat sekolah. " Suara keras kembali memekakkan telinga Ray.
Setengah menggeliat, dia membuka matanya. Didepan Ray terlihat wanita muda berusia dua puluh lima tahun melotot tajam kearah Ray sambil berkacak pinggang.
"Ngantuk tante. " Jawab Ray dengan ogah.
"Ayo bangun! " Kata nya lagi sambil menarik selimut Ray.
Dan dengan terpaksa Ray pun membuka mata, tapi masih enggan bangun.
"Jangan bertele tele Ray! Cepat bangun! " Kata wanita itu sambil menarik dua tangan Ray hingga terbangun dari ranjangnya.
"Iya iya tante, berisik banget tau gak" Timpal. Ray sambil terduduk lemas dipinggir ranjangnya, matanya masih terasa lengket. Semalam dia pulang terlalu larut, nongkrong dengan kawan kawannya sampai lupa waktu.
Wanita itu, lalu berjalan keluar dari kamar besar Ray. Dan Ray hanya mendengus.
"Setiap pagi kenapa Tante Sella berisik banget sih." Gerutu Ray, dia melirik jam di ponselnya. Jam enam lebih sepuluh menit.
"Gawat! Bisa terlambat lagi, anjingggg. " Ray pun seolah mendapat kekuatan internal segera beranjak dari tempat tidur dan melesat menuju kamar mandi.
Mandi Bebek, yang penting basah dan gosok gigi. Itu lah yang jadi andalan Ray ketika mode buru buru.
Sambil menyambar tas sekolah Ray menuruni tangga dia melihat tante Sella sudah berada di.meja makan dan sudah tersaji sarapan untuk mereka.
Ray duduk sambil. mencomot roti bakar dan buru buru menenggak susu sapi hangat di depannya.
"Ray, bulan depan ulang tahunmu yang ke tujuh belas lho. Kamu mau kado apa dari tante? " Tanya Tante Sella sambil mengoleskan mentega di roti tawar untuk sarapan nya.
"Alllaaahhhh, te, apa bedanya ulang tahun ketujuh belas atau ke lima puluh. Sama aja. Aku ga minta apa apa. " Jawab Ray sambil. mengunyah roti bakar di mulutnya.
Lalu dengan buru buru dia bangkit, dan mencangklong tasnya.
"Berangkat dulu te. Telat pula nanti. "
Tante Sella hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala. Dia masih saja duduk santai di meja makan, pikirannya melayang sesaat.
"Mira, anak lelaki mu sudah dewasa. Kau dan suamimu tenanglah disana. Urusan yang belum selesai, kelak akan dituntaskan oleh Ray. " Gumam Sella lalu memasukkan roti tawar lapis mentega dan coklat ke mulutnya.