Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Bayangan Uang Darah

Bayangan Uang Darah

Silvia Gustiyanti | Bersambung
Jumlah kata
55.5K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Bayangan Uang Darah
Bayangan Uang Darah

Bayangan Uang Darah

Silvia Gustiyanti| Bersambung
Jumlah Kata
55.5K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
HorrorHorrorTumbalPesugihanSiluman
Arga, seorang pengusaha muda yang ambisius, kehilangan segalanya dalam sekejap. Bisnisnya bangkrut, hutang menumpuk, dan tekanan hidup membuatnya merasa dunia ini tidak adil. Saat semua pintu tampak tertutup, ia mendengar kabar tentang ritual pesugihan kuno yang menjanjikan kekayaan instan. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, Arga melakukan ritual itu, mengikat dirinya pada kekuatan gaib yang tak kasat mata. Kekayaannya pun tiba-tiba melimpah, namun di balik setiap keberhasilan muncul bayangan mengerikan yang menuntut harga yang tak bisa ia hindari. Teman-teman mulai hilang, mimpi berubah menjadi mimpi buruk yang nyata, dan rahasia gelap masa lalu mengintai dari setiap sudut. Seiring ambisi dan keserakahan Arga bertambah, batas antara kenyataan dan teror supranatural semakin kabur. Apakah harga kekayaan sepadan dengan nyawa dan jiwa yang harus dibayar? Atau apakah Arga akan menjadi korban dari keinginannya sendiri?
Bab 1: Tekanan Hidup

Hujan turun deras di kota itu. Jalanan licin dan lampu jalan berkelap-kelip, menimbulkan bayangan panjang di antara gedung-gedung tinggi yang sepi. Di sebuah kantor tua yang tampak lebih seperti gudang, Arga menatap layar komputer dengan mata merah dan kantung hitam di bawah matanya. Spreadsheet terbuka di layar, angka-angka merah bergelombang, mengabarkan satu hal: kegagalan total.

“Gimana bisa setumpuk utang ini muncul begitu cepat?” gumamnya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan. Tangan Arga menepuk meja, seolah ingin menampar realitas yang terus menghimpitnya.

Dari luar, terdengar ketukan pelan di pintu. Arga menoleh. Raka, teman sekantornya, berdiri di ambang pintu dengan jaket basah kuyup. “Lo masih di sini? Hujan deras banget, Arga.”

Arga menatapnya sekilas. “Apa lo pikir gue bisa pulang sekarang? Semuanya berantakan, Raka.”

Raka masuk, mengguncang jaketnya dan duduk di kursi tua berdebu di seberang meja. “Gue nggak ngerti kenapa lo ambil semua ini sendiri. Lo harusnya panggil gue atau siapapun. Ini nggak cuma urusan lo.”

“Ini urusan gue, Raka. Gue yang memutuskan semuanya,” kata Arga tegas. Suaranya tinggi tapi ada getaran yang hampir tak terlihat. “Kalau gue nggak ambil resiko, siapa lagi?”

Raka menghela napas panjang. “Resiko? Lo udah nggak punya apa-apa. Rumah, bisnis, semua utang itu, lo mikir bisa bayar dari mana?”

Arga menatap ke layar lagi, matanya kosong. “Gue...Gue cuma butuh satu cara. Satu cara buat balikin semuanya. Cepat.”

Raka menunduk, wajahnya serius. “Cepat? Lo tahu maksud gue kan, jalan pintas itu? Jalan pintas selalu berbayar mahal. Kadang lebih mahal dari yang bisa lo tanggung.”

Arga tersenyum tipis, sinis. “Kau takut? Aku nggak.”

Raka menatapnya lama, lalu akhirnya menutup laptopnya dan berdiri. “Hati-hati, Arga. Gue cuma bilang, jangan sampai lo nyesel nanti.”

Hujan masih menimpa genting dengan ritme yang tak menentu. Arga tetap duduk di kursi, menatap spreadsheet yang kini terasa seperti makhluk hidup, menertawainya. Dia menatap ke luar jendela, ke hujan yang jatuh deras di trotoar kota, dan membayangkan uang yang hilang itu kembali. Semua orang bilang mustahil, tapi di benaknya, ada satu nama yang berulang kali muncul, dukun tua di pinggiran kota.

****

Malam itu, Arga menyusuri jalanan sempit yang gelap dan bau tanah basah. Lampu jalan setengah mati memantulkan bayangan pohon-pohon yang terbalik di genangan air. Di ujung gang, sebuah rumah tua berdiri, kusam dan retak di sana-sini. Seorang pria tua menunggui pintu, topi lusuh menutupi wajahnya sebagian.

“Arga, ya?” suara pria itu serak, terdengar seperti menggeram dari balik topi.

Arga mengangguk, menelan ludah. “Ya. Kau tahu aku datang.”

Pria tua itu tersenyum tipis, memperlihatkan gigi kuningnya. “Tahu, semua orang yang haus, pasti

datang. Masuk.”

Di dalam rumah, lampu minyak menggantung rendah, menebar bayangan bergetar di dinding penuh simbol aneh. Bau dupa dan tanah basah memenuhi udara. Pria tua itu menggerakkan tangannya, dan Arga duduk di kursi kayu tua yang berderit.

“Kau ingin cepat kaya,” kata pria tua itu, matanya menyelidik. “Cepat kaya selalu menarik, tapi tak ada yang gratis di dunia ini.”

Arga menatapnya, tanpa ragu. “Aku siap bayar harganya. Apapun itu.”

Dukun itu mencondongkan tubuh, suaranya menurun sampai nyaris berbisik. “Apa pun? Jangan kau kira ‘apa pun’ itu main-main. Setiap keberhasilan punya harga. Dan harga itu bisa nyawa, darah, atau sesuatu yang kau cintai.”

Arga mengerutkan dahi, tapi suara hatinya tetap berkata, Ini satu-satunya jalan.

“Aku nggak peduli. Aku cuma mau hasilnya. Cepat.”

Pria tua itu mengangguk perlahan. “Baik. Tapi ingat, setelah ritual ini, hidupmu tak akan sama. Bahkan bayanganmu sendiri bisa menuntutmu. Kau akan tahu harga sebenarnya ketika terlambat.”

Arga menelan ludah, tapi tak mundur. “Aku ngerti.”

Dukun itu kemudian menyiapkan sebuah lingkaran di lantai, diwarnai dengan simbol aneh dan tetesan darah dari seekor ayam hitam. Bau besi dan tanah menembus hidung Arga. Pria tua itu menyalakan lilin, dan bayangan menari-nari di dinding, seolah menyambut kedatangan sesuatu yang gelap.

“Kau harus fokus, Arga. Jangan takut. Bayangan itu hanya menunggu.”

Arga berdiri, menatap lingkaran, dan berkata dengan suara rendah tapi tegas: “Aku nggak takut.”

Dukun itu menggerakkan tangannya mengikuti mantra kuno, suara lirih bercampur desah angin malam yang masuk dari jendela. Lilin bergetar, bayangan di dinding berubah bentuk menjadi sosok tinggi dan hitam pekat, yang matanya kosong dan menatap lurus ke Arga.

Arga menelan ludah, jantungnya berdegup kencang, tapi langkahnya tetap mantap. “Aku siap.”

Sosok itu bergerak sedikit, seperti menilai, lalu kembali ke kegelapan. Dalam satu detik, Arga merasakan hawa dingin merayap dari ujung kaki sampai kepala. Aroma tanah basah bercampur besi memenuhi udara.

“Mulai sekarang, apa yang kau pegang, bukan lagi milikmu. Kau akan diberi, tapi kau juga akan diminta bayar. Setiap rupiah yang kau dapat, ada yang menunggu di balik bayangan.”

Arga menatap lurus ke sosok itu, tangan terkepal di sisi tubuhnya. “Aku nggak peduli. Aku ambil semua risikonya.”

Dari luar, hujan terus menimpa genting, dan malam kota itu terasa semakin gelap. Tak ada suara selain tetesan air, desah angin, dan suara mantra dukun tua yang menembus ke sudut-sudut ruangan. Malam itu, satu jalan baru terbuka untuk Arga. Jalan yang akan memberinya kekayaan, tapi juga bayangan yang akan menuntutnya dengan cara paling mengerikan.

Di luar lingkaran, bayangan hitam itu bergerak perlahan, diam, menunggu. Dan Arga, tanpa ragu, melangkah ke dalam kegelapan.

Arga menatap lilin yang bergetar, bayangan bayangan hitam yang menempel di dinding seakan hidup. Napasnya terdengar berat, tapi matanya tetap fokus. Di tangannya, pisau yang masih berlumuran darah ayam hitam itu berkilat samar dalam cahaya redup.

Dukun tua itu mengangkat tangannya, menyelesaikan mantra terakhirnya dengan suara lirih yang seram.

“Sekarang kau resmi terikat, dengan kekuatan yang kau panggil sendiri." katanya. “Ingat, Arga. Setiap langkah yang kau ambil, setiap keputusan yang kau buat, akan selalu diperhatikan.”

Sosok bayangan di pojok ruangan bergerak sedikit, seperti menelan udara. Tubuhnya besar, tak berbentuk jelas, hanya dua mata putih yang menembus kegelapan.

Arga merasakan hawa dingin menelusup ke tulang punggungnya, tapi dia tetap tegak. “Aku tak takut,” gumamnya sekali lagi, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.

Arga menatap sosok bayangan itu, matanya tak berkedip. Ruangan terasa semakin sempit, seolah udara sendiri menekan dadanya. Lilin di sekitar lingkaran bergetar hebat, cahaya kuningnya menari-nari di dinding, menciptakan bayangan yang bergerak liar. Bayangan hitam itu perlahan melangkah mendekat, tapi tetap tak bersuara, hanya menatap.

Dukun tua mengangkat tangan, menunjuk ke lingkaran darah di lantai. “Sentuh lingkaran itu, Arga. Ambil apa yang kau inginkan, tapi ingat. Setiap tetes yang kau ambil, ada yang menunggu di belakangmu.”

Arga mencondongkan tubuh, melihat darah ayam hitam yang mengering di lantai. Tangannya gemetar sebentar, tapi dia menarik napas panjang dan menempelkan tangannya ke lantai. Getaran aneh menyebar melalui tubuhnya, seperti listrik dingin yang menusuk ke setiap sendi.

“Rasakan kekuatan itu, tapi jangan takut. Kekayaan yang kau inginkan, sudah di depan mata. Tapi kau harus mengerti, bayangan itu bukan hanya pengawas, dia bagian dari harga yang kau bayar." ucap dukun tua, suaranya berat, penuh peringatan.

Arga menelan ludah, melihat bayangan itu bergerak perlahan ke arah lingkaran. Tubuhnya besar, seperti kabut hitam yang padat, dengan mata putih yang menusuk. Napasnya memburu, tapi dia tetap tegak.

“Aku bisa menghadapinya,” gumamnya pelan.

Sosok itu berhenti di tepi lingkaran, menatapnya, dan Arga merasakan hawa dingin menembus hingga ke tulang belakangnya. Tapi ada sesuatu yang lebih menakutkan: bayangan itu mencondongkan tubuhnya, dan seakan berkata tanpa suara. Bahwa apa pun yang Arga pegang sekarang, ada hutang yang menunggu untuk dibayar.

Arga menatap bayangan itu dengan tatapan penuh tantangan. “Aku tahu, aku siap." katanya.

Seketika, lilin-lilin di sekitar lingkaran berkedip cepat, dan suara mantra dukun tua berubah menjadi desah yang panjang, seperti hembusan angin yang membawa bau tanah basah dan darah.

Tiba-tiba, bayangan itu bergerak lebih dekat, dan Arga merasakan sebuah tekanan di dadanya, seperti ada tangan tak terlihat menekan jantungnya. Jantungnya berdetak kencang, tapi dia tidak mundur. Tangannya mengepal, pisau yang berlumuran darah ayam masih ia genggam erat.

Dukun tua menunduk, matanya menatap lingkaran. “Sekarang, kau telah menandatangani perjanjianmu. Tapi ingat, bayangan itu akan selalu mengintai. Ia akan mengikuti langkahmu. Setiap keberhasilan yang kau dapatkan, setiap keuntungan yang kau raih, akan ada yang menagih. Dan ia tidak akan memberi peringatan kedua.”

Arga menatap sosok bayangan itu, merasakan hawa panas dan dingin bercampur dalam tubuhnya. “Aku tidak peduli, aku akan bayar harganya. Apa pun itu,” gumamnya, suaranya terdengar lebih tegas daripada sebelumnya.

Sosok bayangan itu diam, hanya matanya yang tetap menembus, seolah menilai kesungguhan Arga. Ruangan kembali tenang, hanya suara hujan di luar yang terdengar, tapi Arga tahu. Malam itu, sesuatu telah berubah. Sesuatu yang akan selalu mengikuti langkahnya, bahkan saat ia tidur, bahkan saat ia tertawa.

Dukun tua menepuk bahu Arga, dengan suara serak tapi pasti. “Kau akan segera merasakan hasilnya. Tapi jangan pernah lupa, setiap langkah membawa konsekuensi. Dan bayangan itu menunggu.”

Arga menatap lilin yang berkedip pelan, bayangan bayangan hitam yang bergerak samar di dinding, dan merasakan sesuatu yang asing di dadanya.Jantungnya berdetak cepat, tapi ada rasa kemenangan yang aneh bercampur ketakutan.

Bayangan hitam itu kembali menempel di sudut ruangan, diam, menunggu. Arga menarik napas dalam, menatap ke lingkaran di lantai, dan dengan langkah pasti, meninggalkan rumah tua itu, sambil merasakan tatapan mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya mengikuti setiap gerakannya.

Hujan di luar masih turun deras, menutupi suara langkah kaki yang menjauh, tetapi Arga tahu. Bayangan itu akan selalu ada, menunggu, menilai, dan menagih setiap harga yang akan ia bayar kelak.

To be continued......

Lanjut membaca
Lanjut membaca