

"Aahhh ... sakit."
Seorang pria paruh baya meringis kesakitan. Dia memegangi tangannya yang membengkak seperti terkena sengatan bisa ular.
"Paman, kenapa dengan tangan, Paman?" tanya seorang remaja yang berusia sekitar tiga belas tahunan. Dia menatap pria di depannya dan tampak bungung, karena tiba-tiba pria itu meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa, tangan Paman baik-baik saja." Pria itu berbohong seraya menyembunyikan tangannya di belakang. Beberapa saat tadi dia menjabat tangan remaja itu, tapi saat tersentuh, tangannya tiba-tiba terasa remuk seperti ditekan palu.
Remaja itu bernama Ardyn, dia adalah pangeran dari Kerajaan Tirta Kencana. Kerajaan yang disegani dunia di era modern ini.
"Benar, tangan Paman tidak apa-apa?" tanya Ardyn dengan wajah polos.
Dia lupa, dirinya sangat berbeda dengan anak seusianya, bahkan dengan orang dewasa sekali pun tidak ada yang dapat bersentuhan dengannya kecuali Ayah dan Ibunya.
Tubuhnya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, dia pernah mencoba memukul gong dengan tangan kosong, gong yang terbuat dari logam tembaga itu langsung hancur berkeping-keping hanya dengan satu pukulan.
Ardyn memiliki kekuatan itu dari lahir. Dia tidak hanya lahir dengan kekuatan tubuh yang sangat dahsyat, tapi otak yang sangat jenius. Namun, kekuatan itu bukan membawa berkah baginya, justru menjadi petaka.
"Tuan Muda, sepertinya untuk pelajaran kali ini akan ditunda dulu. Paman lupa ada hal penting yang belum dikerjakan,” ucap pria yang biasa dipanggil Aji Mahendra, guru besar di Keraton.
"Iya, Paman. Tidak apa-apa, bisa lain kali," jawab Ardyn dengan tenang. Namun, tidak dengan hatinya. “Sial, ada apa dengan tubuhku ini? Gara-gara tubuhku yang aneh, aku harus belajar di luar kerajaan. Bahkan sekarang, menggenggam pulpen pun tidak bisa!" gerutunya, karena setiap dia memegang pulpen, pulpen itu langsung hancur menjadi serpihan kecil.
Dari jendela Istana bagian lantai atas, dua orang berdiri menatap Ardyn yang menunduk sedih di halaman. Mereka adalah Pandu Laksmana dan Ratu Annapura, orang tua Ardyn.
"Kanda, sepertinya kondisi anak kita semakin memburuk," ucap Ratu Annapura, wanita cantik dalam balutan sutra dengan corak emas dan mahkota yang di hiasi berlian. Ratu Annapura begitu sedih, putra satu-satunya, yang akan dinobatkan menjadi putra mahkota kondisinya semakin memburuk.
Pandu Laksmana mengangguk, wajahnya pun tampak gusar. "Kekuatan itu terus menggerogoti tubuh anak kita. Kanda sudah mencoba berdiskusi dengan tabib Istana, semuanya sepakat, Ardyn memiliki tubuh Dewa kuno. Sayang sekali, Kanda belum menemukan cara melatih tubuh itu dengan sempurna. Jadi kekuatan tubuh Dewa kuno memberontak, dan efeknya bisa kita lihat sendiri."
"Kanda, apakah tidak ada cara mengatasi itu?" tanya Ratu Annapura dengan cemas, dia tahu suaminya akhir-akhir ini terus berada di ruang perpustakaan, membuka setiap kitab-kitab peninggalan leluhur Kerajaan Tirta Kencana.
"Ada, Kanda menemukan catatan dari kitab-kitab para leluhur masalah Tubuh Dewa Kuno. Tapi itu beresiko."
"Resikonya apa, Kanda?" tanya Ratu Annapura yang sejak tadi menatap Ardyn dengan khawatir.
KRAK
"Sial, kenapa ini juga tidak bisa?" Ardyn memegang ranting pohon yang cukup besar, namun sesuai dugaan ranting itu pun langsung patah.
"Aku sudah tidak punya teman dari kecil, dan sekarang keadaan ini semakin parah! Apa semesta membenciku? Dosa apa aku, sampai semesta mengasingkan aku dengan cara seperti ini? AKU MUAAAKKK!!"
Ardyn berteriak marah ke atas langit, seperti sedang protes atas takdirnya. Dia memiliki otak yang sangat cerdas. Berbagai pelajaran yang dianggap sulit oleh orang lain, tapi baginya … semua sangat mudah. Dengan kecerdasan yang dia miliki, harusnya dia menjadi orang yang dikagumi banyak orang. Bukan hidup menyendiri, menjauh dari orang-orang.
Sudah banyak yang mengira bahwa Ardyn adalah pangeran yang angkuh dan tidak ingin bergaul dengan anak lain, tapi semua itu salah. Ardyn juga ingin bergaul dengan bebas dengan anak-anak lain di istana, ingin belajar seperti yang lain juga. Tapi karena titik yang ada di tengkuk lehernya, kekuatan yang tidak bisa di kendalikan, Ardyn memilih untuk menjauh.
Sang Ratu yang sejak tadi memperhatikan Ardyn, tiba-tiba mengalihkan pandangannya, menatap Pandu Laksmana dengan wajah memohon. “Kanda, resiko apa?” Dia masih penasaran dengan ucapan yang tidak dilanjutkan suaminya.
“Resikonya, ingatan putra kita juga akan tersegel. Walaupun sementara, apa Dinda sanggup?” Pandu Laksmana sangat memahami perasaan istrinya. Mungkin bagi dia anaknya hilang ingatan sementara bukan perkara besar, tapi bagi istrinya berbeda. Perasaan seorang ibu itu jauh lebih kuat daripada perasaan seorang ayah.
“Tuan Muda…”
Saat Ardyn masih termenung dengan wajah kusam, tiba-tiba suara seorang wanita terdengar. Wanita itu bernama Kinasih. Usianya sekitar 35 tahun, dia adalah orang yang mengurus Ardyn dari bayi.
“Kinasih, ada apa?” tanya Ardyn tanpa menoleh.
“Tuan Muda, kenapa murung begitu? Apakah hal seperti biasa terjadi lagi?” tanya Kinasih.
“Lebih buruk, sekarang jauh lebih buruk!”
Kinasih sudah memahami keanehan tubuh Ardyn, bagaimanapun dia yang mengurus Ardyn dari lahir.
“Daripada sedih bagaimana kalau kita ke pasar, jalan-jalan dan mencari jajanan enak. Bukannya Tuan Muda suka buah yang seperti gulali bentuk sate itu?”
“Maksud Kinasih, tang hulu?”
“Benar. Kinasih dengar di pasar sekarang ada festival jajanan. Ayo kita pergi, Tuan Muda. Di sana mungkin suasana hati Tuan Muda bisa membaik.”
“Baik, ayo kita pergi. Aku juga sedikit bosen terus berada di istana.”
Mereka pun bergegas ke pasar. Hanya menempuh beberapa menit, Ardyn dan Kinasih akhirnya tiba. Mata mereka takjub melihat lampion-lampion bwrwarna warni yang bergoyang tertiup angin. Aroma makanan menyeruak membuat mata Ardyn berbinar kesana kemari karena bingung memilih makanan apa yang akan dia beli.
“Tuan Muda, itu tang hulu nya.” Tunjuk Kinasih pada salah satu pedangang. Ardyn mengikuti telunjuk Kinasih, tampak beberapa orang sedang mengantri.
“Disana sangat ramai, Kinasih. Bagaimana kalau kita kesana saja. Disana!” seru Ardyn lalu berlari meninggalkan Kinasih.
“Tuan Muda. Tunggu!”
“Cepat Kinasih, nanti seseorang melampaui kita.” Karena pasar itu sangat ramai, Ardyn tidak suka menunggu lama makanan kesukaannya tersaji.
Kinasih yang mempunyai tubuh kecil berusaha berjalan di antara banyaknya pengunjung pasar, walaupun terhimpit.
“Loh, Tuan Muda?” Kinasih mulai celingak celinguk mencari keberadaan Ardyn. Tapi wanita itu sama sekali tidak melihat sang pangeran.
Kinasih mulai berlari kesana kemari dengan wajah yang khawatir. “Tuan Muda, anda dimana? Bagaimana ini?” Kinasih langsung mengambil jimat yang diberikan Pandu Laksmana untuk bisa merasakan keberadaan Ardyn saat Ardyn hilang dari pengawasannya.
Dia memegang jimat itu sambil memejamkan matanya, tapi suasana pasar sangat ramai. Itu membuat konsentrasinya sulit fokus untuk bisa merasakan keberadaan Ardyn.
Ketika Kinasih masih berusaha konsentrasi, Ardyn masih terus berlari. Namun dia berlari terlalu bersemangat dan mencari celah yang kosong agar tidak menabrak orang lain. Semakin jalan itu kosong, semakin dia berlari kencang.
Saat dia sadar, dan berhenti berlari. Ardyn kebingungan, karena saat ini dia berada di gang sempit yang tidak ada orang sama sekali.
“Sepertinya ada mangsa yang datang.”
“Hahaha, dari pakaiannya, dia tidak terlihat miskin. Pasti dia punya banyak uang.”
“Kita benar-benar beruntung, saat pasar dijaga ketat karena ada festival, eh ada bocah yang datang sendiri ke sarang kita.”
Ardyn membalikkan tubuhnya, dia melihat ada lima pria yang beusia sekitar 30 tahunan muncul. Rambut mereka acak-acakan, pakaian lusuh dan wajah yang gelap. Selain itu, lengan bahkan hingga leher mereka penuh dengan tato. Dari penampilannya, sudah bisa terbaca bahwa kelima orang itu adalah preman.
“Bocah, serahkan apa pun yang kamu miliki! Jika tidak…”
“Jika tidak apa?” potong Ardyn.
“Hahaha, jika tidak, kamu bisa melupakan untuk bisa meninggalkan tempat ini.”
Ardyn berdiri dengan wajah suram. “Sebaiknya kalian menjauh dariku, suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian.”
Lima pria itu saling lirik, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Bocah, kenapa aku yang minum tapi kamu yang mabuk?”
“Sudah jangan banyak bicara omong kosong, karena bajingan kecil ini tidak mau patuh, lebih baik langsung meringkusnya!”
Salah satu dari mereka berjalan santai, rokok yang masih menyala menempel di bibirnya, dan dia menghisapnya secara perlahan.
“Bocah, ada jalan yang mulus dengan menyerahkan semua hartamu, kamu justru memilih jalan yang menuju kehancuran!”
Orang itu mengulurkan tangannya, bermaksud meraih kerah baju Ardyn. Namun, sebelum tangan itu sampai, Ardyn sudah menggenggam pergelangan tangannya terlebih dahulu.
KRAAKK!!!
“Aahhh, tanganku!”
“Gio, kenapa kamu? Lebay banget sampai berpura-pura kesakitan digenggam anak kecil!” tanya keempat temannya yang masih berdiri di belakang.
“Sudah ku katakan suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Namun kalian tidak mau mendengar!”
Ardyn melemparkan pria itu seperti membuang sampah.
BAANG!!!
Pria itu terlempar menghantam keempat temannya sendiri. Mereka tidak sempat menghindar karena terpana melihat tangan mungil bisa melemparkan pria dewasa seperti tidak ada beban sama sekali.
“Mustahil, ini tidak mungkin!”
Orang yang paling memiliki tubuh besar bangun, karena tadi dia terjatuh akibat benturan temannya sendiri. Orang itu mengeluarkan belati dari pinggangnya dan memainkan gagang belati hingga belati itu berputar-putar seperti kincir angin.
“Bocah, aku tidak tahu sihir apa yang kamu gunakan. Tapi sekarang sudah saatnya kamu mati!”
Ardyn hanya mendengus ketika orang di hadapannya datang sambil memainkan belati.
Saat belati itu di arahkan untuk menusuk jantungnya, Ardyn mengepalkan tangannya dan memukul belati itu secara langsung.
BAANG!!!
KRAAKK!!!
Belati di tangan orang itu langsung pecah menjadi serpihan logam. Dia masih berdiri di situ, karena Ardyn hanya mematahkan belatinya tanpa melanjutkan pukulannya.
Namun, melihat belatinya hancur dengan pukulan tangan kosong, orang itu diam mematung. Dia sangat ketakutan, bahkan saking ketakutannya, dari selangkangannya mulai meneteskan air keruh dengan bau busuk yang menyengat. Orang itu ngompol di celana.
“Tuan Muda.”
Saat suasana sangat tegang, Ardyn mendengar suara Kinasih.
“Kalian harus berterima kasih karena pelayanku tiba. Jika tidak, orang-orang seperti kalian lebih baik mati daripada hidup meresahkan!”
Ardyn berjalan melintasi kelima orang itu, mereka yang memiliki tampang bringas, berubah menjadi kucing pemalu. Kelima orang itu menundukkan kepalanya tidak ada yang berani menghentikan langkah Ardyn untuk meninggalkan gang sempit itu.
Setelah berada di ujung gang, Ardan melihat bayangan tubuh Kinasih.
“Kinasih, aku di sini.”
“Tuan Muda, kenapa Tuan Muda bisa berada di…”
Namun, sebelum Kinasih berhasil menyelesaikan kata-katanya, dia melihat wajah Ardyn tiba-tiba sangat pucat. Dia memegangi dadanya karena menahan sakit.
“Tuan Muda, apa yang terjadi?”
Walaupun sangat panik, Kinasih langsung membopong Ardyn, dan membawanya kembali ke Keraton. Sesampainya di Istana, Kinasih langsung membawa Ardyn ke ruangan Pandu Laksmana.
“Yang Mulia, tolong. Cepat selamatkan Tuan Muda!” teriak Kinasih dengan suara cemas.
Pandu Laksmana dan Istrinya segera membalas menghampirii. Ketika dua pasang mata itu terjadi pada Ardyn, mereka langsung tidak berdaya.
“Kanda, cepat selamatkan putra kita! Jika dia selamat, aku tidak keberatan Ardyn harus kehilangan ingatannya sementara.”
Pandu Laksmana mengangguk. “Kanda mengerti. Kanda akan mulai menyegel Tubuh Dewa Kuno. Kekuatan ganas itu akan tersegel bersama ingatannya.” Pandu Laksmana menatap Ardyn dengan sedih. “Ardyn, maafkan Ayah, mulai sekarang kamu bisa bermain, kekuatan dalam tubuhmu akan tersegel selama sepuluh tahun. Ayah harap dalam rentang waktu itu, Ayah sudah berhasil menemukan solusi tanpa harus membuat ingatanmu hilang lagi!”
Ardyn mulai disegel, yang tersegel bukan hanya kekuatan Tubuh Dewa Kuno saja, tapi ingatannya pun ikut tersegel.
“Kinasih, aku percayakan dia padamu. Bawa dia ke kampungmu. Biarkan dia hidup tanpa kemewahan istana lagi. Kamu tidak perlu khawatir, sekarang dia normal. Kekuatannya sudah aku segel sehingga tidak akan membahayakan siapa pun.”