Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Ksatria Naga Terakhir

Ksatria Naga Terakhir

lovelypurple | Bersambung
Jumlah kata
64.9K
Popular
707
Subscribe
190
Novel / Ksatria Naga Terakhir
Ksatria Naga Terakhir

Ksatria Naga Terakhir

lovelypurple| Bersambung
Jumlah Kata
64.9K
Popular
707
Subscribe
190
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPendekarKekuatan SuperPertualangan
Radu seorang pemuda yang tak memiliki bakat dalam persilatan. Suatu hari, ayahnya tewas dengan ditusuk oleh sebuah belati. Belati tersebut membawa Radu pada pembunuh ayahnya, yang merupakan orang-orang dari Padepokan Kapak Emas. Namun, orang-orang padepokan Kapak Emas itu hanyalah suruhan Damar, yang merupakan teman lama ayah Radu. Mereka pun mencoba membunuh Radu. Beruntung Radu ditolong oleh Kesatria Naga, pendekar tersakti di Desa Kertamukti. Sang kesatria Naga pun menerima Radu sebagai muridnya dan menurunkan semua ilmunya padanya. Dan memilihnya sebagai Kesatria Naga selanjutnya. Tiga tahun berlalu, Radu pun menjadi pendekar yang tak terkalahkan. Ketika Radu berhasil menuntut balas pada Damar, ia menemukah sebuah fakta baru. Ternyata Damar membunuh ayahnya atas perintah orang yang ia sebut sebagai bos besar. Radu pun bersumpah untuk balas dendam pada bos besar, orang yang menjadi dalang pembunuhan ayahnya. Nyawa harus dibayar Nyawa!
BAB 1

Sore itu, Desa Kertamukti tengah diguyur hujan yang cukup lebat.

Seorang pemuda nampak berlari menghindari guyuran hujan. Ia berlari menuju rumahnya dan mengetuk pintu.

Namun, tampak tak ada sahutan dari dalam. Ia pun kemudian mencoba masuk ke rumahnya. Tapi, sekilas ia melihat bercak darah di gagang pintu.

"Darah siapa ini?" batin pemuda itu.

Pemuda itu dengan segera memutar gagang pintu. Ternyata pintu rumah tak di kunci. Ia pun segera masuk kedalam rumahnya.

Saat sang pemuda masuk ke dalam rumah, sadal yang ia pakai terasa menginjak sesuatu

Saat matanya mendongak ke bawah, ia tampak kaget karena dilantai rumahnya ada genangan darah.

Sandal yang ia gunakan pun turut menginjak genangan darah tersebut.

Ia pun menjadi cemas, setelah melihat genangan darah yang bercecer di lantai.

"Apakah telah terjadi sesuatu?" gumam sang pemuda.

Pemuda itu pun menulusuri genangan darah yang tercecer tersebut. Darah tersebut tercecer mulai dari ruang depan hingga depan kamar ayahnya.

Pemuda itu bertambah cemas setelah melihat ada genangan darah di depan kamar ayahnya.

Radu takut telah terjadi sesuatu pada ayahnya.

Ia pun kemudian mencoba membuka pintu kamar ayahnya. Di Gagang pintu kamar tersebut juga terdapat bercak darah.

"Ayah...!" ujar sang pemuda berteriak kalut sesaat setelah ia membuka pintu kamar ayahnya.

Kini jasad ayahnya terbujur kaku dalam posisi duduk. Tampak di perut ayahnya tersebut tertancap sebuah belati, yang tertancap menusuk perutnya.

Jasad ayahnya tersebut di kelilingi oleh genangan darah yang memenuhi lantai hingga mengalir keluar kamar.

"Jangan tinggalkan Radu sendirian, ayah," jerit pemuda bernama Radu tersebut.

Radu berlutut disamping jasad ayahnya tersebut. Air matanya pun turun dari kedua sudut matanya. Ia tidak bisa menahan air matanya turun.

Air mata itu turun sebagai ungkapan rasa sedihnya yang mendalam. Baru saja 4 bulan yang lalu ia ditinggalkan ibunya yang menghadap sang pencipta.

Namun, kini ayahnya juga meninggalkannya menghadap sang pencipta juga. Belum lama lukanya hilang ditinggalkan ibunya, kini ia pun berduka kembali ditinggalkan ayahnya.

Dia tak tahu sekarang ia harus bagaimana. Di Desa Kertamukti ini, ia tak punya sanak saudara satupun.

Saudara-saudaranya kebanyakan tinggal di kota besar.

Lengkap sudah luka dalam hati Radu. Ia kini sudah genap menjadi anak yatim piatu. Kini usianya sudah 20 tahun, sudah tak pantas di sebut anak yatim piatu.

Yah, di usianya yang sudah 20 tahun itu, ia sudah bisa bekerja. Mungkin tak akan kesulitan baginya untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri.

Namun, tetap saja kematian ayahnya tersebut memberikan luka yang mendalam bagi dirinya. Ada rasa tak rela dalam hatinya.

Walaupun yang namanya kematian adalah suratan takdir dari sang pencipta, tapi tetap saja ada rasa tak rela dalam diri kita.

Yang kita tentang bukanlah kematiannya, tapi cara meninggal yang tak wajar yang membuat kita tak merelakan kematian orang tersebut.

Kematian pasti akan datang pada semua orang. Namun, jika cara meninggalnya tak wajar seperti yang menimpa ayah-nya Radu, tentu akan menimbulkan luka yang mendalam.

Seorang bapak yang terkenal ramah pada setiap orang, harus menjemput ajalnya dalam keadaan tragis. Jadi bagaimana bisa Radu merelakan kematian ayahnya dengan mudah?

Radu pun masih saja menitikkan air matanya. Menumpahkan rasa dukanya yang mendalam.

Satu-satunya petunjuk bagi Radu atas kematian ayahnya itu adalah belati yang tertancap di perut ayahnya.

Radu terus mengamati belati yang tertancam di perut ayahnya. Belati itu tampak memiliki logo gambar dua buah kapak dengan warna emas.

Mata Radu pun terus menelusuri gambar yang ada di gagang belati tetsebut. Di gambar tersebut juga terdapat tulisannya.

Tulisan dalam gambar tersebut tersemat identitas pelaku yang membunuh ayah-nya Radu.

Di sana tertulis padepokan kapak emas. Tepatnya di bawah gambar dua kapak yang tergambar di belati tetsebut.

Radu yang dibantu oleh warga desa Kertamukti pun mengurus penguburan jasad ayahnya.

Wajah Radu tampak sayu. Tak terlihat wajah ceria yang biasa ia tampakkan.

Semua kesedihannya tergambar jelas diwajahnya. Rasa kehilangannya yang mendalam itu membuat dirinya tak punya semangat lagi untuk melanjutkan hidupnya.

Radu sekarang hidup seorang diri di dunia ini. Ia sudah tak memiliki orang tua. Jadi bagaimanakah ia bisa melanjutkan hidupnya jika tak ada seorang pun di sisinya?

Setelah pemakaman selesai, warga Desa Kertamukti pun kembali ke rumahnya masing-masing.

Tinggalah Radu sendiri di rumah sederhana yang selama ini ia tinggali bersama ayahnya.

Kini matanya menatap belati yang ada ditangannya.

Belati yang menancap di tubuh ayahnya itu, kini telah dilepaskan dari jasadnya.

Dia masih saja memperhatikan belati tersebut.

Kemudian ia mengeja nama padepokan yang tertulis di gagang belati tersebut.

"Padepokan Kapak Emas," ucap Radu mengeja tulisan yang ada di belati tersebut.

"Jadi yang telah membunuh ayah adalah orang dari Padepokan Kapas Emas?" gumam Radu.

"Aku harus segera mencari mereka, menuntut balas atas kematian ayah!" ujar Radu sambil mengepalkan kedua tangannya.

Radu pun segera berjalan keluar rumahnya. Dia membawa serta belati yang digunakan orang dari Padepokan Kapak Emas untuk membunuh ayahnya.

Radu pun menuju bagian timur Desa Kertamukti.

Padepokan Kapak Emas tersebut terletak di sebelah timur Desa Kertamukti.

Setelah berjalan selama satu jam, Radu pun kini sampai di Padepokan Kapak Emas. Ia pun menyusup ke dalam padepokan tersebut.

Saat ia menelusuri Padepokan Kapas Emas, tiba-tiba langkahnya tertahan karena mendengarkan obrolan beberapa orang.

Ia melihat sekitar lima orang pria sedang berkumpul di sebuah ruangan, di salah satu sudut padepokan tersebut.

"Roki hari ini kau kuberikan libur, karena kau telah berhasil melenyapkan Sultan," ujar seorang pria tersenyum menyeringai.

Pria itu tampak berewokan. Sepertinya dia pimpinan kelompok tersebut.

Tangan Radu pun terkepal, saat mendengar nama ayah-nya Sultan disebut oleh pria berewokan tersebut.

Kini sudah jelas, mereka yang telah membunuh ayahnya Sultan.

"Jadi benar mereka yang telah membunuh ayah?" batin Radu.

"Terimakasih tuan Leon, aku akan menikmati hari liburku," sahut pria yang bernama Roki menanggapi ucapan Leon.

"Aku memang salut padamu Roki, kau selalu berhasil dalam menjalankan misi dariku," puji pria bernama Leo.

Lalu mereka berlima pun tertawa senang karena rencana mereka berhasil.

Sungguh orang-orang itu bukan manusia. Dengan mudahnya mereka menghabisi nyawa orang lain.

Tak bisa dipungkiri, emosi Radu saat ini tengah memuncak.

Radu tak bisa mengendalikan emosinya. Ia pun kemudian menyerang kelima pria tersebut.

Dia melompat dan menghanjar salah satu pria itu dengan kakinya.

Pria yang mendapatkan serangan yang mendadak pun jatuh tersungkur.

Teman-temannya pria itu pun kemudian membalas serangan Radu tersebut.

Mereka secara bergantian menyerang Radu. Dengan segera ia pun menyerang dan membalas serangan mereka.

Dia pun mengeluarkan belatinya dan melayangkannya ke salah satu orang Padepokan Kapak Emas tersebut.

Belati tersebut berhasil mengenai bahu salah satu dari mereka.

Radu pun memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari mereka.

Jika ia bekelahi sekarang, mungkin ia akan mati.

Jumlahnya tak sebanding. Yang ada dirinya malah di keroyok.

Ia pun terus berlari sampai hutan yang berada di sekitar Padepokan Kapak Emas.

Namun, Roki dan teman-temannya itu berhasil mengejarnya.

Kini Radu di kepung oleh mereka. Roki pun menyerang lagi dan berusaha merebut belati yang ada di tangan Radu.

Ilmu bela diri anggota Padepokan Kapak emas tersebut sangat bagus.

Mereka dengan mudah bisa merebut belati yang ada di tangan radu dengan mudah.

Bahkan saat Radu melayangkan belati padanya, orang- orang Padepokan emas itu dengan mudah menangkis serangan Radu, walaupun tanpa senjata.

Klak!

Belati yang di gunakan Radu pun terlepas dari tangan Radu.

Roki pun melayangkan tinjunya pada Radu berkali-kali hingga tubuhnya roboh, jatuh ke tanah.

Roki belum puas ia pun melayangkan tinjunya lagi ke wajah dan perut Radu. Hingga ia terkulai lemas, tak bisa melawannya.

Roki mengambil belati yang tadi terlepas dari tangan Radu.

Ia pun melayangkan belati tersebut ke tubuh Radu.

Jleb ! Satu tusukan mengenai perut Radu. Roki mencabut lagi belati tersebut, dan mencoba untuk menusuk perut Radu lagi.

Namun, saat Roki hendak akan menusuk kembali Radu.

Wush....

Sebuah bayangan hitam muncul dan dengan cepat membawa tubuh Radu dari hutan tersebut.

"Sial, siapa yang telah menyelamatkannya," geram Roki.

Lanjut membaca
Lanjut membaca