Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Duri Menuju Cahaya

Duri Menuju Cahaya

Nadhan26 | Bersambung
Jumlah kata
97.5K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / Duri Menuju Cahaya
Duri Menuju Cahaya

Duri Menuju Cahaya

Nadhan26| Bersambung
Jumlah Kata
97.5K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
PerkotaanAksiBadboyUrbanBalas Dendam
“Gue mungkin lupa siapa gue sebenarnya, tapi aspal Bandung nggak akan pernah lupa bau darah gue.” Muhammad Alhibyan Kausari Arzanda adalah santri paling bermasalah di Da'arul Kausar. Di balik sikap usil dan tengilnya, ia menyimpan insting liar yang bahkan ia sendiri tidak ingat dari mana asalnya—sebuah trauma besar yang melemparnya dari kerasnya jalanan Bandung ke balik tembok pesantren.Kehadiran Nazeera, santriwati lembut yang menyimpan teka-teki, menjadi satu-satunya alasan Hibyan untuk tetap bertahan. Namun, Hibyan tidak menyadari bahwa Nazeera adalah incaran dari sosok-sosok masa lalu yang selama ini memburunya. Nazeera adalah umpan, dan Hibyan adalah target utamanya. Saat keselamatan Nazeera terancam dan musuh mulai mengepung pesantren, Hibyan sadar: Doa saja tidak cukup untuk menghentikan peluru. Ia harus memanggil kembali 'iblis' dalam dirinya yang selama ini ia kunci rapat. Demi melindungi Nazeera, Hibyan terpaksa turun kembali ke jalanan. Kali ini, ia bukan lagi bocah yang lari dari kenyataan, melainkan predator yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh cahayanya. "Siapa pun yang membuat Nazeera menangis, berarti sudah memesan tempat di liang lahat terdalam."
BAB 1

PROLOG

Malam begitu indah dengan cahaya rembulan dan taburan bintang di langit, bahkan terlalu indah untuk mampu digapai.

Namun keindahan itu hanya terasa seperti ejekan bagi seseorang yang sedang hancur.

Sayangnya, malam indah itu kini hanya sebatas kenangan—kenangan yang setiap kali disentuh justru membuka luka lama.

Karena di sanalah, di bawah cahaya yang sama, sang rembulan menjadi saksi bisu atas segala yang telah terjadi.

Dan mirisnya, rembulan masih saja memancarkan cahaya lembutnya, seolah tidak pernah ada apa-apa.

Seolah tidak pernah ada yang hilang.

Seolah tidak pernah ada hati yang retak.

“Aku merindukanmu…”

lirih seorang laki-laki, hampir tidak terdengar. Langkahnya diseret berat, seperti seluruh tenaganya telah terkuras.

Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tetapi karena kenangan yang terus menghantuinya.

Ia menunduk, menahan air mata yang akhirnya pecah juga. Ia menangis pelan, berusaha menyembunyikan kesedihannya dari dunia yang tidak peduli.

Luka itu…

tidak pernah benar-benar sembuh.

Dan mungkin… memang tidak akan pernah bisa disembuhkan.

Tiba-tiba ia berhenti.

Napasnya terhenti, air matanya ia sapu dengan kasar seolah marah pada dirinya sendiri. Lalu perlahan ia mendongak, menatap rembulan dengan sorot penuh amarah, kepedihan, dan kehilangan yang dalam.

Tangannya mengepal kuat.

Begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

Dan dengan suara yang bergetar namun tegas, ia seakan berbicara pada seseorang yang tidak lagi ada.

“Aku berjanji… tidak akan pernah mengingkarinya.”

###

Mentari baru saja muncul, memancarkan cahaya hangat dan lembut yang menerangi sebuah pondok pesantren besar di Jakarta. Pesantren itu bernama Da’arul Al-Kausar, yang berarti tempat penuh berkah. Kompleksnya luas, bangunan-bangunannya megah dan elegan, dihiasi pepohonan yang ditanam rapi hingga suasananya terasa sejuk dan tenang. Di dalamnya terdapat taman luas, asrama putra dan putri, lapangan olahraga, taman kecil, serta beberapa ruang kelas tempat para santri mengaji.

Di sudut lain berdiri masjid besar serta aula yang digunakan untuk pengajian dan berbagai kegiatan. Ada pula sekolah di bawah yayasan yang sama, agar para santri dapat belajar sekaligus mengaji tanpa harus keluar dari lingkungan pondok.

Dari luar saja, bangunan yang belum lama selesai dibangun itu tampak megah—hasil kerja keras Ustad M. Hayyan Kausari dan istrinya, Ustadzah Dania Kausari.

Pasangan muda yang memiliki harapan besar agar generasi mendatang tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi dunia maupun akhirat.

Di bagian barat, berdiri asrama putra berlantai tiga dengan nuansa abu muda. Pohon-pohon kecil di sekitarnya membuat bangunan itu tampak hidup. Pagi itu, asrama terlihat ramai oleh santri yang berlalu-lalang ke sana kemari—kecuali lima santriwan yang justru berlari-larian tak jelas arah, saling mengejar sambil menutupi kepala dengan sarung.

Tawa mereka menggema memenuhi halaman.

Brugg!

Salah satu dari mereka tersungkur setelah menginjak sarungnya sendiri, membuat tawa yang lain pecah lebih keras.

“Jalan pakai mata dong!” ledek Hibyan, tertawa puas.Peci yang sengaja ia pasang miring seperti Kabayan ikut bergoyang-goyang.

Namanya M. Alhibyan Kausari Arzanda, santri yang terkenal dengan seribu kenakalannya. Hampir seluruh santri—termasuk santri putri—kenal dengan tingkahnya. Tak heran, dia adalah anak bungsu dari pimpinan pesantren, Ustad Hayyan.

Satu-satunya anak yang paling menguras tenaga kedua orang tuanya.

Bayangkan saja… cita-citanya saja ingin membuat geng motor berisi santri-santri ayahnya sendiri.

membuat Ustad Hayyan pusing tujuh keliling.

Syaqil mendengus kesal. Karena ulahnya sendiri, kini ia terjatuh dengan tragis dan bajunya kotor.

Wajah manis dan polosnya tidak membantu—walaupun satu komplotan dengan Hibyan, dia justru dikenal jago bela diri. Maka dari itu, teman-temannya—khususnya Hibyan—sering menjadikannya tameng hidup.

“Jalan pakai kaki, cuy…” gerutunya sambil berdiri dan membersihkan tanah basah dari bajunya.

“Aduh, gue harus mandi nih…”

Hibyan langsung merangkul pundaknya, wajahnya jelas menyimpan niat aneh.

“Gue juga belum mandi,” katanya santai.

Syaqil buru-buru menjauh. Temannya ini terlalu berbahaya.

“Gue trauma mandi bareng sama lo,” celetuknya spontan.

Tiga santri lainnya—Faridan, Arzhel, dan Ardan—langsung menatap Syaqil tidak percaya.

“Hah?”

“Mandi?”

“Bareng?!”

Mereka menatap Hibyan dan Syaqil bergantian. Hibyan justru santai.

“Malah sering,” jawab Hibyan enteng.

Arzhel langsung terhuyung nyaris pingsan.

“Busyet, lo gila, Yan?!” pekik Ardan.

Faridan bahkan menyentuh kening Hibyan, memastikan apakah temannya ini sakit atau sekadar gila.

“Yan…” rengek Syaqil seperti perempuan yang ketahuan ngomong hal memalukan.

Faridan menoyor Hibyan yang hanya duduk dengan wajah datar. Sikapnya selalu terlihat cuek, namun sebenarnya ia paling waspada di antara mereka.

Faridan adalah yang paling dewasa, paling bijak, sekaligus yang paling misterius.

Arzhel dan Ardan justru kebalikannya.

Arzhel, si ekstrovert yang tidak bisa diam—hobinya nyanyi dan beatbox di mana pun berada. Ardan adalah cowok tenang, percaya diri tinggi, punya banyak fans, tapi tetap saja gampang terseret oleh kelakuan Hibyan.

“Lo kenapa nggak ajak gue?” Ardan menoyor kepala Arzhel yang malah cengir.

“Ogah. Burung lo jelek,” sahut Hibyan santai.

Arzhel melongo. “Kapan lo liat burung gue, Yan?”

Hibyan menyeringai puas. Rencana isengnya sukses.

“Belum sih, Ar,” gumamnya pura-pura berpikir.

“Dasar mesum,” desis Ardan. Ia langsung

menarik Arzhel menjauh, khawatir temannya itu jadi korban keisengan Hibyan.

“ARDAN! GUE BELUM MULAI!” teriak Hibyan kesal.

“Cukup lo maluin temen lo sendiri!” balas Ardan sambil menyeret Arzhel masuk ke asrama.

Hibyan mendengus masam. Ia menatap Syaqil dengan senyum penuh niat jahat.

Syaqil langsung merinding.

“Apa?” tanyanya galak.

“Ayolah, Qil… satu kali lagi,” goda Hibyan.

“Ogah! Mandi sama lo nggak nafsu!”

Byurr!

Faridan yang sedang minum langsung menyemburkan airnya, menatap Syaqil tidak percaya.

Syaqil hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir.

“Bercanda kali, Bos…”

Faridan menatap Hibyan yang wajahnya kini basah.

“FARIDAN!!” teriaknya emosi sebelum

mengejar Faridan yang langsung kabur sekencang-kencangnya.

Sementara itu, Syaqil malah melompat-lompat kegirangan melihat keduanya saling kejar-kejaran seperti anak kecil.

Hibyan masih saja mengejar Faridan yang berlari lincah dan sulit ditangkap. Napasnya ngos-ngosan, wajahnya merah karena berlari. Cowok itu jelas marah—dia berniat membalas Faridan dengan cara yang lebih ekstrem.

Faridan berhenti di depan kantor santri putra. Ia menyender santai di pintu, mengangkat alis sambil mengejek Hibyan yang berdiri di bawah sambil mendongak.

“Licik lo!” geram Hibyan, frustrasi karena Faridan selalu lolos.

“Lo kira gue takut?” balas Faridan ringan.

“Yakin?”

“Lo—”

Hibyan terdiam mendadak ketika mendengar suara Abinya dari dalam kantor. Celaka. Dia bisa habis kalau ketahuan, apalagi kemarin dia sengaja tidak pulang agar tidak dijewer.

Faridan tersenyum menang. Dia tahu betul anak bandel itu paling menghindari ayahnya sendiri.

“Urusan kita belum selesai,” ucap Hibyan pelan namun menekan. Ia bersiap pergi dari tempat yang membuatnya merinding—tempat para kakaknya dan Abinya berkumpul.

“Ekh, adik kecilku.”

Tubuh Hibyan langsung kaku. Suara itu… suara laknat yang paling dia hindari.

Perlahan ia berbalik, memasang senyum manis yang memamerkan gingsulnya.

“Ekh, Abangku yang paling tua,” ucapnya meniru nada Deham.

Ardeham Maulana Syidiq—atau Deham—menyipitkan mata kesal.

Umurnya dua puluh delapan, ketua Rois Pesantren Da’arul Kausar, sekaligus putra pertama Ustad Hayyan.

Wajahnya mirip Hibyan, hanya saja versi rapi dan teratur, kebalikan total dari adiknya yang tampak seperti baru bangun tidur seumur hidup.

“Ekh, anak curut paling imut,” balas Deham tak mau kalah.

“Kalo gue anak curut, berarti lo anak apa?” sahut Hibyan santai.

Deham spontan melotot, ingin sekali menyobek mulut bocah itu. Faridan hanya mengamati, sudah biasa melihat dua kakak beradik ini saling menggoda setiap bertemu.

“Diem lo!” desis Deham.

“Kalah, nih…” Hibyan menirukan suara komentator, membuat Deham skakmat.

Ustad Hayyan keluar dari kantor. Melihatnya, Faridan langsung berdiri tegak dan menunduk sopan.

“Semua sudah beres, Dan?” tanya beliau.

“Na’am, Ustad. Semua santri sudah didata.

Tapi ada beberapa data yang belum lengkap,” jawab Faridan hormat.

Ustad Hayyan mengangguk, lalu matanya menangkap Hibyan yang mencoba melipir kabur.

“Hibyan,” panggilnya tegas namun hangat.

Hibyan menoleh sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Penampilannya kacau seperti biasa: rambut acak-acakan, peci dimiringkan sengaja, baju tidur yang belum diganti, sarung disampirkan seperti bapak-bapak mau ronda.

“Na’am, Abi,” sahutnya.

Ustad Hayyan hanya geleng-geleng kepala. Baru satu tahun tinggal di asrama, anak bungsunya itu sudah berubah seperti gembel kecil.

“Nanti kamu ke rumah, Yan. Abi mau bicara.”

“Tiga juta,” jawab Hibyan cepat, melipat tangan.

Deham mendecak. Pandai sekali adiknya memoroti ayah mereka.

“Boleh,” jawab Ustad Hayyan tanpa ragu.

Deham dan Faridan menatap tak percaya. Sebegitu mudahnya bapak itu mengeluarkan uang hanya untuk Hibyan?

Hibyan langsung meloncat-loncat kegirangan. Ustad Hayyan sampai ikut tertawa melihatnya.

“Boleh aja… asal kamu mau dakwah nanti siang,” lanjut beliau.

Wajah Hibyan mengkerut seketika. Semua kegembiraannya lenyap.

Ustad Hayyan berjalan turun, meninggalkan Hibyan yang menatapnya memelas. Deham dan Faridan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi polos itu.

“Rasain, lo. Kalo mau uang…” Deham melirik Faridan.

Mereka kompak berseru:

“YA KERJA!”*

###

Pagi ini terasa hangat—mungkin benar-benar awal baru bagi seseorang.

Di sebuah kamar, seorang perempuan berkerudung syar’i tampak antusias menyeret kopernya keluar.

“Kamu udah siap, Zee?” tanya ibunya, seorang perempuan paruh baya yang anggun.

“Udah, Bu,” jawab Nazeera sambil tersenyum lebar. Wajah bersihnya, mata indahnya, hidung mancungnya—semua membuatnya tampak menawan.

“Ayo, kita berangkat sekarang,” ucap ayahnya, Degra, sambil mengambil koper Nazeera.

Renata menggandeng kedua putrinya. Di sebelah kanan, Galia tampak lesu. Gadis cantik itu memandang kopernya dengan tak minat. Dia benci hidup seperti ini—apalagi harus masuk pesantren. Rambutnya baru disalon; hijab jelas musuh terbesarnya.

“Bu, Lia nggak mau…” rengeknya.

“Apa sih yang nggak mau? Mondok itu seru.

Nanti kamu bakal betah. Ada Nazeera juga kok,” ujar Renata lembut, mengusap kepala putrinya.

Galia mendengus. Hatinya iri melihat Nazeera selalu diprioritaskan. Nazeera bukan putri kandung, tapi selalu dianggap paling sempurna. Bahkan sekarang dapat beasiswa kampus ternama—sesuatu yang Galia tak pernah dapat.

“Ayo, mobil udah siap,” panggil Degra.

Nazeera masuk mobil dengan hati senang. Bukan pesantren pilihannya, tapi ia tetap bersyukur. Dia ingin memulai hidup baru, meninggalkan masa lalu yang penuh luka.

Namun kebahagiaannya tak bertahan lama.

“Enak ya, anak pungut seberuntung elo,” sindir Galia tiba-tiba.

Nazeera menatapnya, wajahnya langsung redup.

“Maaf, Li… aku nggak bermaksud—”

“Jangan sok baik. Lo sengaja bikin gue kayak gini biar lo kelihatan paling sempurna di mata Ibu.”

“Li, aku—”

“Gue benci lo, Zee.”

Nazeera terdiam, hatinya koyak. Dia hanya bisa menunduk, menahan air mata.

“Maaf…” lirihnya.

Galia memalingkan wajah, muak mendengar kata itu lagi.

Perjalanan tiga jam berlalu. Mobil berhenti di sebuah pesantren besar dan megah.

Nazeera terpukau melihat bangunannya yang elegan. Suasana tenang, rapi, penuh aktivitas santri.

“Zee, ayo,” panggil Renata.

Nazeera tersentak dari lamunannya dan segera mengikuti.

Mungkin… di tempat ini hidupnya bisa dimulai kembali.

Lanjut membaca
Lanjut membaca