

Ruangan ini hangat oleh bara di perapian dan hawa nafas. Wangian minyak mawar yang murah dan keringat memenuhi udara lembap.
Cahaya lilin memantul di kulit berkeringat perempuan di ranjang itu Alisa, namanya, atau setidaknya itu yang dia berikan padamu malam ini. Desahannya, yang tadi berirama, kini terhenti di tengah jalan.
Bukan karena Greywind, tapi karena bisikan yang mengiris kesadaran. Suara itu bukan di telinga, tapi langsung di dalam tengkorak dingin dan menusuk seperti jarum es.
"Lihatlah dia, Greywind... begitu lemah, begitu patuh pada keinginan tubuhnya sendiri. Dia akan tunduk pada otoritas apa pun yang memberinya koin atau kesenangan. Seperti tanah liat. Seperti mereka semua."
Iblis yang mengikatkan pada diri Greywind, Jannis, merasuk. Wujudnya tak kasat mata, tapi kehadirannya memenuhi sudut ruangan, sebuah tekanan psikis yang membuat lilin seakan berkedip.
Jannis berbentuk persis seperti Iblis perempuan, dengan kulit berwarna ungu pucat dan tanduk iblis hitam.
"Greywind bisa miliki lebih dari sekadar tubuhnya. Greywind bisa miliki jiwanya. Itu yang mereka tawarkan, bukan? Tapi Dirimu bisa ambil dengan... lebih elegan."
Tanpa berpikir, gumam Greywind meledak, suaramu lebih kasar dari yang dimaksud. "Diam kau, iblis!"
Alisa tersentak keras. Seluruh tubuhnya kaku, matanya yang tadi berkaca-kaca penuh gairah kini melebar penuh ketakutan. Dia menarik selimut hingga ke dagu, mundur hingga ke ujung ranjang. "A-Apa? Siapa yang...? Aku... aku tidak—"
"Lihat. Reaksi primal. Ketakutan. Dia mengira ancaman Greywind adalah untuknya. Manusia dan persepsi mereka yang begitu... dangkal." Bisikan Jannis lagi, terdengar hampir terhibur.
Greywind cepat menyadari kesalahan. Tidak ada yang bisa melihat atau mendengar Jannis kecuali dia. Di mata Alisa, Greywind baru saja membentak ke udara kosong, lalu menyapanya dengan sebutan "iblis". Dalam dunia ini, itu adalah tanda kegilaan atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Dengan cepat, Greywind berusaha meredakan. "Tenang. Bukan... bukan dirimu, sayang," kata Greywind, mencoba menenangkan, tapi mungkin nada itu masih terlalu kasar. "Aku... bicara pada sesuatu yang lain. Suara di kepalaku. Lupa minum ramuan."
Alisa tidak terlihat tenang. Dia memandangi Greywind seperti memandang seekor ular yang tiba-tiba berbicara. "Suara...?" napasnya pendek-pendek. "Kau... kau seorang penyihir?"
Dia melirik ke arah pintu, menghitung jarak. Di luar, suara tawa dan musik samar-samar masih terdengar. Tapi di dalam ruangan ini, hanya ada ketegangan yang menusuk. Greywind bisa merasakan energi magis Jannis berdenyut-denyut, Eldritch Blast terasa panas di ujung jarimu, siap jika diperlukan. Tapi bukan itu yang dibutuhkan sekarang.
Greywind mengambil napas dalam-dalam, berusaha menekan gelombang kekacauan yang dibawa oleh Jannis. Dia memandang Alisa, yang masih meringkuk di ujung ranjang seperti anak kucing yang ketakutan.
"Sayang, maafkan aku," ucapnya, suaranya sengaja dibuat lebih lembut dan lelah. "Bukan maksudku menakuti. Aku... kembali dari perbatasan timur. Perang melawan gerombolan goblin. Kadang... suara teriakan dan pedang masih berdengung di sini." Greywind menyentuh pelipisnya, ekspresinya pura-pura lelah penuh beban. "Kadang aku tak bisa membedakan mana masa lalu, mana sekarang. Kau tak pantas melihatku seperti ini."
Dia mengulurkan tangan perlahan, bukan untuk menyentuh, tapi sebagai isyarat damai. "Aku cuma butuh pelarian. Seperti kebanyakan orang di sini. Bukan untuk membawa teror."
Sementara itu, di dalam kepalanya, tekanan psikis Jannis mereda sedikit, digantikan oleh rasa penasaran yang dingin.
"Tipuan yang bagus. Menggunakan trauma perang sebagai tameng. Tapi dia tetap akan takut padamu, Greywind. Ketakutan yang berbeda... bukan pada kegilaan, tapi pada luka yang tak terlihat. Itu hampir lebih menarik."
Lilin berkedip lagi. Bayangan di dinding bergoyang seolah-olah ada wujud lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Alisa memandangi tangan Greywind yang terulur, lalu matanya yang cokelat itu menatap wajahnya. Ketakutan murni di wajahnya perlahan berubah menjadi campuran rasa kasihan dan kewaspadaan yang tajam. Napasnya masih tersengal-sengal.
"Perang..." gumamnya, suaranya serak. "Kau... kau veteran? Aku punya saudara yang tak pernah pulang dari perbatasan utara." Dia tidak maju, tapi tidak lagi mundur. "Tapi... 'suara' itu. Itu... itu terdengar nyata. Kau menyebut 'iblis'."
Dia melirik ke sekeliling ruangan, menggigil. "Tempat ini... kadang kedatangan orang aneh. Tapi yang dengan... suara... itu baru kau." Ada kesempatan di sini. Rasa takutnya mulai bercampur dengan keingintahuan, atau mungkin naluri untuk bertahan—jika dia bisa memahami bahayanya.
"Sepertinya ini saatnya kau mengambil nyawa perempuan ini greywind, selama ini kau hanya memberiku nyawa nyawa murah seperti goblin sesekali aku mau nyawa manusia ya sayang?"ujar Jannis menyentuh dagu Greywind.
tekanan psikis Jannis kini terasa seperti belitan dingin di sekitar leher greywind, bukan lagi sekadar bisikan. dia "menyentuh" dagu Greywind, sensasi ilusif yang membuat otot rahang Greywind berkedut.
"ah, Greywind.... kebohongan kecilmu bisa jadi pintu gerbang untuk sesuatu yang lebih... substansial. nyawa goblin itu hambar, seperti air keruh. tapi manusia... ada kompleksitas rasa di dalamnya. rasa takut, harapan, hasrat yang kau rasakan sendiri di sini. aku ingin merasakannya lagi. dan kau, sayangku, bisa memberikannya padaku. sekarang."
Desakan itu lebih kuat dari sebelumnya. Bukan permintaan, tapi tuntutan yang menggetarkan tulang. Greywind merasa Pact-nya berdenyut panas, seperti kontrak yang sedang diingatkan.
Dia melihat Alisa. Ketakutan dan rasa iba di mata perempuan itu adalah campuran yang sempurna untuk korban. Jannis benar, itu menarik.
"Err... Alisa, ya namamu?" ucap Greywind, mencoba menyamarkan suara yang hampir tercekat oleh tekanan psikis Jannis. "Tenang, jangan dipikirkan. Ayo kita lanjutkan. Sampai mana tadi? Tanggung sekali, aku kan sudah membayarmu di awal."
Greywind mencoba tersenyum, tetapi terasa kaku. Tindakannya ini bukan lagi tipuan murni untuk melarikan diri, tapi menjadi sebuah tipu muslihat memainkan peran seorang klien yang hanya ingin melanjutkan transaksi, sementara di dalam dirinya bergejolak niat yang jauh lebih gelap untuk memenuhi tuntutan patronnya.
Alisa memandangmu dengan tatapan yang dalam. Dia perlahan melepaskan cengkeramannya pada selimut, tapi tidak sepenuhnya rileks.
"Kau... yakin kau baik-baik saja?" tanyanya, lebih seperti pengamatan. "Suara itu... sudah hilang?"
Dia melihat mata Greywind, mencari tanda-tanda kegilaan atau sesuatu yang lain. Di dunia di mana sihir dan iblis ada, ketakutan terbesar seringkali adalah hal yang tidak diketahui.
"Ya, sudah hilang," ucap Greywind, suara rendah dan parau, penuh dengan kelelahan yang terasa nyata. Kau mengulurkan tangan lagi, kali ini lebih percaya diri. "Sekarang hanya ada kau, dan aku, dan keheningan malam ini."
Alisa memandang Greywind. Dalam tipu muslihat yang hampir sempurna ini, dia tidak melihat kegelapan Jannis, dia melihat luka. Naluri sebagai perempuan di tempat seperti ini, yang terbiasa dengan berbagai jenis pria terluka, mengambil alih. Kewaspadaan di matanya meleleh menjadi sebuah keputusan. Dia menghela napas, sedikit, lalu melepaskan cengkeraman selimutnya.
"Baiklah," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi... pelan-pelan, ya?"
Dia membiarkan dirinya ditarik perlahan. Prosesnya berlanjut. Sentuhan, desahan, kehangatan kulit. Erangan mereka di dalam ruangan itu, tubuh mereka bersatu dalam satu ritual yang penuh rasa. Greywind dengan rasa nafsu lelakinya, Alisa dengan rasa takut. Alisa berusaha, mencoba memberikannya kenyamanan yang dia kira Greywind butuhkan. Namun, ada jarak yang tak bisa dihilangkan. Ketakutannya tadi telah berubah menjadi sesuatu yang lebih mirip belas kasihan yang hati-hati.
Dan sementara tubuh Greywind terlibat, pikirannya terpisah. Dia hanya ingin ini cepat selesai, lalu pergi dari kamar ini, dari tekanan Jannis, dari segala sesuatu.
"Menyelesaikan dengan segera?" bisik Jannis di dalam kepalamu. Suaranya sekarang datar, seperti es yang retak. "Kau memilih untuk berpura-pura aku tidak ada? Untuk menyia-nyiakan momentum yang kau ciptakan dengan tipu muslihat luar biasa itu untuk... ini?"
Sensasi di dagu Greywind berubah dari sentuhan menjadi cengkraman yang dingin dan ilusif, membuat rahangnha bergemeretak. Lilin di ruangan itu padam seketika, membuat ruangan hanya diterangi oleh cahaya bulan pucat dari jendela kecil. Alisa menjerit kecil, tubuhnya kaku.
"Aku tidak senang, Greywind."
Dalam kegelapan, Greywind melihat mata Alisa yang membelalak ketakutan, tetapi kali ini bukan padamu. Dia memandang ke atas bahumu, seolah melihat sesuatu yang mengerikan. Mulutnya terbuka untuk berteriak, tapi hanya keluar desisan napas yang tercekat.
"Kau mengabaikanku untuk kesenangan daging yang remeh ini? Mari kita beri dia sesuatu yang benar-benar untuk ditakuti. Dan kau... kau akan ingat untuk siapa kau bekerja."
Di tengah hubungan intim yang tiba-tiba berubah menjadi horor, sebuah kekuatan gelap dari Jannis merembes keluar. Bukan untuk membunuh Alisa secara langsung, itu terlalu mudah dan tidak memuaskan rasa kesalnya tapi untuk mengubah momen ini menjadi mimpi buruk yang hidup.
Greywind mengerahkan segenap keinginan untuk tidak melawan secara frontal, tapi bernegosiasi. Di dalam pikiran, usul Greywind meluncur cepat, tajam, seperti pedagang yang menawar di pasar gelap.
"Baiklah, berhubung setelah ini ada misi berburu kultis, kita akan mencari manusia rendahan di sana. Banyak. Tapi jangan yang ini, oke? Dan jangan berada di sini terus. Tunggu di pintu depan."
Ada keheningan psikis yang menusuk. Tekanan di rahang Greywind berangsur berkurang. Kemudian, suara Jannis yang mendesis, penuh kekecewaan tapi juga terpancing oleh tawarannya.
"Kultis... ya, jiwa-jiwa yang sudah ternoda itu memang lezat. Baiklah. Dua menit. Kau membutuhkan waktu hanya dua menit kan untuk menyelesaikan urusan remeh ini? Aku tunggu di luar."
Tekanan itu menghilang sepenuhnya. Suasana horor di ruangan itu menguap, meskipun kegelapan dan hawa dingin yang ditinggalkannya masih menggantung. Lilin tidak menyala kembali.
Alisa menggigil, napasnya tersengal. "Dia... dia b-bicara dengan siapa? Apa yang terjadi?" matanya liar, melihat ke sekeliling kegelapan.
"Tidak apa-apa," ucapmu, kali ini suara Greywind datar, terburu-buru. Semua pretensi kelemahan dan keromantisan lenyap. Hanya ada misi tunggal yaitu menyelesaikan. "Ayo lanjutkan."
Apa yang terjadi berikutnya tidak bisa disebut bercinta. Itu adalah sebuah penuntasan fisik yang mekanis, agresif, dan didorong oleh tenggat waktu yang mengerikan. Alisa terpaku, lebih karena shock dan ketakutan daripada hasrat, membiarkan dirinya digerakkan seperti boneka. Greywind tidak memedulikan responsnya, hanya fokus pada penyelesaian biologis dari transaksi yang sudah dibayar.
Tepat seperti yang diperintahkan dalam dua menit semuanya berakhir. Greywind menarik diri, mengambil pakaiannya dengan gerakan cepat dan efisien.
Alisa hanya berbaring diam, terpana, menatap langit-langit gelap dengan mata berkaca-kaca. Dia bahkan tidak menangis. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu terlalu singkat.
Tanpa sepatah kata pun, Greywind melemparkan sekantong koin tambahan mungkin dua atau tiga keping emas ekstra di atas ranjang. Lalu dia berbalik dan membuka pintu.
Saat Greywind melangkah ke koridor yang diterangi lampu minyak, desakan itu langsung datang. Suara Jannis, keras dan penuh ejekan, menggema di kepalamu.
"DUA MENIT? AKU HANYA BERCANDA, GREYWIND! HAHAHA!" Tertawanya seperti palu godam di tengkorakmu, nyaring dan merendahkan. "Kau benar-benar melakukannya! Terburu-buru seperti anjing yang dipukuli! Oh, itu sangat... menghibur. Kurasa aku sudah mendapatkan hiburan malam ini, meski bukan nyawa yang kumau."
Tertawanya mereda menjadi cekikikan yang menusuk. "Jangan lupa janjimu. Kultis. Banyak. Aku akan menghitung."
Koridor Penginapan Lebah Madu terasa tiba-tiba sangat terang dan bising. Suara musik, tawa, dan gemerincing gelas dari lantai bawah terasa sangat vulgar dan jauh. Seorang pelayan lewat dengan membawa baki, melemparkan tatapan aneh pada Greywind yang baru keluar dengan tergesa-gesa.
Janji telah dibuat. Tekanan patron untuk sementara mereda, tapi digantikan oleh hutang yang lebih besar. Dan di dalam kamar nomor 5, Alisa mungkin akan punya cerita yang tak akan pernah sepenuhnya dia ceritakan atau mungkin, malah akan diceritakan pada orang yang salah.
Jannis berkata, "Ayo pergi Grey, walau kau lemah di ranjang, setidaknya buktikan kau masih bisa mempersembahkan ku beberapa nyawa."
Greywind hanya diam lalu membalas, "Aku hanya grogi, itu gara gara kau, aku harus memberikan uang ekstra agar dia diam atau reputasi-ku yang akan rusak" Jannis terkekeh di dalam pikiran Greywind, suaranya penuh dengan sikap merendahkan yang tulus.
"Ah, jadi sekarang salahku? Manis sekali. Kau yang memilih untuk berhenti berpura-pura dan "menyelesaikan" seperti terburu-buru. Uang ekstra? Reputasi? Kau yang memilih untuk datang ke tempat ini, kau yang kehilangan kendali. Jangan salahkan aku atas kegelisahanmu yang murahan."
Tekanan psikisnya kembali, kali ini lebih seperti godaan yang menusuk. "Tapi aku akan melupakan kegagalan ranjangmu... asalkan persembahan berikutnya mengesankan. Jiwa kultis yang penuh fanatisme dan kebencian... itu akan menghapus memalukan tadi. Sekarang, bergeraklah. Aroma ketakutan dan kesalahanmu sudah mulai membuatku bosan."
Greywind berdiri di koridor, terasa terasing di tengah keriuhan yang hanya berjarak beberapa langkah. Dia bisa turun ke bar, tapi tatapan pelayan tadi dan kemungkinan desas-desus dari Alisa membuatnya tidak nyaman. Atau, dia bisa langsung menyelam ke dalam malam, memulai pencariannya sekarang juga.