Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pengawal Tampan Sang Aktris

Pengawal Tampan Sang Aktris

Feng Lian | Bersambung
Jumlah kata
24.0K
Popular
166
Subscribe
44
Novel / Pengawal Tampan Sang Aktris
Pengawal Tampan Sang Aktris

Pengawal Tampan Sang Aktris

Feng Lian| Bersambung
Jumlah Kata
24.0K
Popular
166
Subscribe
44
Sinopsis
PerkotaanAksiPengawalIdentitas TersembunyiKriminal
Kian Baskara —seorang pengawal profesional—tiba-tiba terjerat dalam dunia glamor yang berbahaya bersama Selina, seorang aktris popular yang dikenal sensasional. Tugasnya sederhana, melindungi Selina dari teror yang datang tanpa peringatan. Namun bagi Kian, tugas ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah misi yang membuatnya rela menempatkan diri di tengah bahaya sekaligus kebenciannya kepada sang aktris. Di balik ancaman misterius dan permainan tipu daya, Kian harus menjaga Selina, menyingkap misteri, dan menghadapi masa lalunya sendiri. Saat bahaya memuncak dan rahasia mulai terungkap, benih cinta tak terduga muncul di antara keduanya. Bisakah Kian bertahan sebagai pelindung, sekaligus menemukan kebenaran yang selama ini ia cari?
Bab 1 [Ancaman Bom]

29 Oktober

[9.35 A.M]

-

|Kawasan Industri Naracita Jaya|

“Unit dua, laporkan situasi!” ucap Kian Baskara pelan usai menyentuh earpiece di telinga. Tatapannya menyapu sekitar, mengawasi dengan penuh kehati-hatian.

Suara dari kanal komunikasinya terdengar nyaring di telinga, “Area depan, para pengunjuk rasa mulai berdatangan dari arah Jalan Yudayana, Pak.”

“Pantau terus situasi, laporkan jika ada hal mencurigakan!”

“Siap, Pak!”

“Overwatch, situasi?”

“Copy, situasi terkendali.”

“Unit satu standby .... Perhatikan perimeter panggung!” ucap Kian dengan suara lirih sambil menurunkan tangan, kemudian memperbaiki dasinya yang sebenarnya sudah rapi.

“Copy, parameter panggung clear.”

Seluruh area di kawasan ini sudah dijaga ketat. Bukan hanya oleh timnya saja, tapi juga dari tim gabungan polisi dan security kawasan industri ini. Meski begitu, perasaannya tak bisa lepas dari kegelisahan.

Dia yakin, jika hari ini pasti akan terjadi sesuatu.

Tiga hari yang lalu, Kian yang bekerja di sebuah perusahaan keamanan eksekutif mendapatkan tugas untuk mengawal seorang bupati yang mendapatkan sebuah ancaman pembunuhan melalui surat.

Sudah tiga hari Kian dan timnya menjalankan tugas, tapi masih belum juga ada pergerakan dari si pengirim surat ancaman.

Mereka telah menelusuri jejak surat itu untuk menemukan pengirimnya, tapi gagal. Si kurir pengirim surat rupanya hanya mendapatkan tugas melalui panggilan, kemudian mengambilnya di sebuah tempat tanpa tahu siapa pengirimnya.

Hari ini, di acara peresmian Kawasan Industri Naracita Jaya, Kian yakin jika orang itu besar kemungkinan akan bertindak dengan memanfaatkan situasi di saat sang bupati berada di area terbuka.

Bagaimanapun juga, dengan banyaknya orang yang datang di acara tersebut, ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi.

Sejauh ini Kian sudah memprediksi beberapa kemungkinan dan menempatkan orang-orangnya di area vital untuk berjaga dan mengamati situasi. Sementara dirinya, berada sangat dekat dengan VIP untuk menjaganya secara langsung.

Meski semuanya bisa dikatakan sudah berada dalam kendalinya, tapi dia tetap harus waspada, karena bukan tidak mungkin jika ada hal yang luput dari perhatiannya.

Bagaimanapun juga, sampai saat ini dirinya masih belum bisa menemukan sosok pengirim surat ancaman itu dan apa kemungkinan tindakan yang akan dilakukan orang itu.

Semuanya benar-benar terasa abu-abu, dan Kian tahu jika orang itu tampaknya bukanlah orang biasa.

“Bagaimana?” tanya Pak Rizal –Bupati Kota Tirtanusa—yang baru saja mendekat ke arahnya.

“Aman, Pak,” jawab Kian tegas, berusaha mendapatkan kepercayaan kliennya itu.

Pak Rizal membenarkan jasnya. Menatap ke depan dengan tatapan penuh percaya diri. Dia terlihat yakin jika orang yang ia sewa kali ini pasti akan melakukan apapun untuk melindunginya. Jadi, dia hanya perlu fokus untuk terlibat dalam jalannya acara ini tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.

Namun, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk ke ponsel Pak Rizal tepat sepuluh menit sebelum dirinya naik ke panggung.

Dia merogoh ponsel yang tersimpan di saku dalam jasnya. Melihat nama si penelpon, tapi hanya nomor tak dikenal yang ia temukan.

Dia melirik Kian, seolah meminta pendapat.

Kian mengerutkan alis, lalu mengisyaratkan agar Pak Rizal mengangkat panggilan itu.

“Halo?” tanya Pak Rizal gugup.

“Tampaknya Anda menganggap enteng peringatan dari saya,” ucap si penelpon. Suaranya terdengar serak dan berat.

“Apa maksudmu? Siapa kau sebenarnya?”

Kian mengamati Pak Rizal, memintanya agar tetap tenang.

Terdengar kekehan di ujung telepon. Pak Rizal sedikit cemas. “Anda tidak perlu tahu siapa saya, yang jelas ... jika Anda tidak ingin kejadian buruk menimpa Anda hari ini, segera hentikan acara peresmian sekarang juga!” tegasnya.

Dengan lirih dia berkata, “Siapa pun kamu, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik tanpa harus melibatkan kekerasan—”

“Bulshitt!!” tukas orang itu memotong ucapan sang bupati. “Sudah saya duga, Anda akan bilang seperti itu. Saya ... mengawasi Anda dari jauh, dan tahu jika Anda sudah menyewa pengawal untuk melindungi Anda. Tapi ...” Dia menggantung ucapannya sejenak.

“Sayang sekali ... saya baru saja mengaktifkan bom di kawasan ini. Kira-kira ... apa mereka benar-benar bisa diandalkan untuk melindungi Anda dan orang-orang yang datang?” tanya orang itu memberikan ancaman serius.

Mendengar hal itu, Pak Rizal terlihat cemas. Tangannya gemetar, dan raut wajahnya tak lagi bisa memperlihatkan sikap tenang seperti sebelumnya.

“Sekarang, Anda pilih ... apakah akan melanjutkan acara ... atau melakukan evakuasi. Waktu Anda hanya tiga puluh menit sebelum bom benar-benar meledak!” ucapnya kemudian menutup telepon.

“Halo ... halo ...??”

Terlambat. Si penelpon telah mematikan sambungan.

Kian buru-buru bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Pak Rizal.

Usai Pak Rizal menjelaskan semuanya, segera setelahnya Kian mengaktifkan pewaktu pada jam tangannya. Dengan sikap tenang, Kian kemudian menenangkan Pak Rizal. Memintanya agar tidak panik, yang nantinya malah akan membuat orang di sekitarnya tahu masalah yang terjadi.

Kondisi area ini sangatlah ramai dengan banyaknya orang yang datang. Dia harus memastikan agar tak ada seorang pun yang membocorkan hal ini sebelum bom benar-benar ditemukan.

“Anda harus tenang,” ucap Kian pelan kepada Pak Rizal. “Saya sudah berkali-kali menghadapi situasi semacam ini. Jadi, jangan khawatir! Percayakan semuanya kepada saya. Akan saya pastikan Anda bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat,” ucap Kian berusaha menenangkan sang bupati.

Pak Rizal mengangguk, meski saat ini tangannya masih gemetaran dan keringat dingin mulai membasahi dahi dan tubuhnya.

Orang-orang di sekitarnya terlihat curiga, tapi mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan untungnya, tak ada yang bertanya sehingga Pak Rizal tak perlu terlalu banyak berbohong.

“Semua unit dengarkan baik-baik!” suaranya rendah tapi tegas, menahan adrenalin yang mulai merambat naik. “Kita punya situasi darurat. Dugaan kuat sebuah bom telah ditanam di kawasan ini,” ucapnya lirih. Berusaha agar tak ada orang yang mendengar ucapannya. “VIP baru saja mendapatkan panggilan dari orang tak dikenal dan mendapatkan ancaman bom. Lokasi, belum diketahui. Waktu ....”

Kian mengangkat jam tangannya, kemudian melanjutkan, “sisa waktu 27 menit.”

Kian menatap sekeliling –tenda undangan, barikade warga, kendaraan logistik yang terparkir berderet. Ada terlalu banyak kemungkinan. Terlalu banyak titik buta di tempat ini.

“Apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya sebuah suara di telinganya.

Kian terdiam sebentar. Otaknya tengah fokus menyusun strategi agar dirinya bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus membuat keributan dengan melakukan evakuasi secara tiba-tiba.

Situasi terpenting saat ini adalah secepatnya menemukan lokasi bom. Namun, tak hanya itu. Dia juga harus memastikan agar sang bupati bisa menyelesaikan tugasnya dalam acara ini. Tujuh menit lagi, dia harus naik ke panggung untuk memberikan pidato singkat.

Kian harus memastikan acara berjalan normal, meski situasi sebenarnya penuh ketegangan.

“Listen! Unit dua segera lapor ke pihak kepolisian tentang dugaan adanya bom. Pastikan mereka dapat bekerja sama untuk sweeping lokasi tanpa membuat keributan. Unit satu, tetap awasi sekitar karena VIP sebentar lagi akan naik ke panggung.

“Unit tiga dan Overwatch, laporkan setiap pergerakan mencurigakan atau benda yang ditinggalkan tanpa pemilik. Pantau dan kirim sinyal ke kanal tiga. Unit empat, sebagian masuk ke tenda logistik dan area catering. Lakukan pengecekan, dengan alasan standar. Dan Control, tetap stand by di lokasi!”

“Roger.”

“Diterima.”

Satu persatu suara tanggapan terdengar di telinganya.

Kian menoleh ke arah Pak Rizal yang sedari tadi mengamatinya memberikan komando kepada timnya. Dia jelas tahu jika situasi saat ini cukup gawat. Dan meskipun ucapan pria di telepon itu masih belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, tapi jelas dia tidak bisa menganggap enteng masalah ini.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Pak Rizal cemas.

“Tetap lanjutkan kegiatan seperti yang seharusnya. Anda ...” Kian melihat ke arah jam tangannya. “Lima menit lagi naik ke panggung. Saya akan menjaga Anda dari dekat. Jadi, jangan khawatir!” katanya tegas dan penuh percaya diri.

“Bagaimana ... bagaimana jika saya tidak perlu naik?”

“Sekarang Anda sudah berada di sini, dan tentu tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan acara,” katanya sambil menyentuh lengan Pak Rizal.

Pak Rizal terlihat ragu, tapi kemudian mengangguk.

Tak lama setelahnya, suara pembawa acara yang mempersilakan sang bupati naik ke panggung terdengar nyaring.

Meski mendengar dengan jelas panggilan sang pembawa acara, Pak Rizal yang terlihat tegang masih terdiam di tempatnya. Mungkin berusaha mengumpulkan keberanian untuk naik ke panggung yang menurutnya adalah lokasi paling tidak aman.

Meskipun takut, pada akhirnya Pak Rizal berjalan perlahan menuju tangga di samping kiri. Senyuman yang tampak dipaksakan terlihat di wajahnya. Dia berusaha tenang, meski keringat menetes di pelipisnya.

Kian saat ini berjarak lima meter dari sang bupati, matanya fokus mengamati Pak Rizal dan juga area sekitar secara bergantian untuk memastikan semuanya aman.

Suara riuh tamu undangan dan juga masyarakat sekitar yang hadir menutupi desis pelan dari earpiece di telinganya.

Tiba-tiba tatapan Kian menangkap sesuatu yang janggal. Dia menyentuh earpiece di telinganya, kemudian berkata, “Ada orang mencurigakan. Jaket abu, topi hitam, posisi dua belas meter dari panggung. Overwatch, fokus visual sekarang!” ujar Kian.

“Target terpantau. Gerakannya tidak normal. Wajah tampak cemas dan tangan kanan tampak begitu melindungi tasnya.”

Kian mengamati lekat ke arah orang itu, “jangan kontak dulu,” ucapnya pelan. “Tunggu konfirmasi. Saya ingin tahu apa yang dia bawa.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca